Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Kata Hati


__ADS_3

🌺


🌺


"Abang serius?" Alena dan kedua kakak perempuannya jelas terkejut. Mendengar pengakuan Arya yang diluar dugaan.


"Serius." pria itu menjawab.


"Awas nyesel lho, nanti putus beneran nangis darah?" adik bungsunya memperingatkan.


"Kalau memang bukan jodoh kita bisa apa? jangankan baru mau tunangan, yang sudah menikah tahunan pun kalau memang jodohnya pendek ya selesai. Tidak ada yang bisa menghalangi. Apalagi abang, baru pacaran hitungan bulan, kalau Vania mau diajak nikah itu keajaiban. Mengingat Vania yang selalu menolak dari awal."


"Ya kan caranya nggak gitu juga." Anna menyela.


"Biar dia memikirkan sendiri perasaannya, apa benar-benar serius atau hanya sekedar perasaan sesaat." ucap Arya.


"Dan agar dia yakin juga, kalau sebuah hubungan itu bukan hanya tentang menerima keadaa baik, tapi juga bagaimana kita bersikap disaat-saat terburuk."


"Lagipula abang takut dia akan menyesal nantinya, tiba-tiba hidup bersama orang seperti abang. Mungkin akan banyak hal yang akan membatasi ruang geraknya, meskipun abang yakin tidak akan bersikap seperti itu. Tapi dia masih muda, memang banyak hal yang ingin dia capai. Dan hidup dengan abang mungkin saja akan menghambat semua keinginannya."


"Besok kalian bereskan hantarannya, terserah mau dibereskan ke kamar atau kemana. Asal jangan disini." Arya melirik tumpukan barang yang telah dia rencanakan sebagai hantaran pernikahan.


"Tapi bang, ..." Alena hampir saja berbicara, namun Anna seperti biasa menghentikannya.


"Ya udah, nanti kita beresin. Tapi habis ini abang terusin terapinya ya? biar cepet sembuh." ucap Anna, meredam perdebatan sore itu.


🌺


🌺


Melly mendapati anak gadisnya yang termenung di teras samping rumah mereka. Dia heran, karena tak biasanya Vania bersikap seperti itu.


"Tumben kamu ada dirumah jam segini?" Melly datang menghampiri.


"Iya, aku lagi males ke kedai bu." Vania menoleh.


"Kenapa? ada masalah?" perempuan itu bertanya.


"Nggak."


"Terus kenapa? tidak seperti biasanya kamu begini."


"Aku cuma ...." gadis itu teringat pembicaraan antara Alena dan Anna tentang rencana pernikahan kejutan Arya untuknya minggu lalu, yang ternyata sudah diketahui sang ibu.


"Ibu tahu, kalau bang Arya ternyata mau sekalian nikahin aku di hari pertunangan?" dia bertanya.


Melly tak langsung menjawab, namun dia menatap wajah putrinya untuk beberapa saat.


"Ibu tahu juga, kalau ternyata rencana itu dibatalkan karena Bang Arya kecelakaan?" Vania bertanya lagi.


"Ibu tahu." perempuan itu menjawab.


"Terus kenapa ibu nggak ngasih tahu aku soal itu?"


"Kenapa? seorang pria yang menyayangimu dan punya niat baik datang kepada ibu, dan dia meminta restu secara langsung. Itu cukup manis, apa kamu tidak suka?"


"Nggak gitu ...


"Kalau ibu mengatakannya kepadamu apa yang akan kamu lakukan? pasti menghindar dan menolak."


"Nggak gitu juga bu!"


"Lalu apa? untuk apa kamu buang-buang waktu yang tak pasti, sedangkan yang ibu tahu kalian saling mencintai, dan Arya dengan gentle nya mendatangi ibu untuk meminta restu. Orang tua mana yang tidak terharu melihat hal seperti itu, ketika seorang pria meminta ijin untuk menikahi anaknya. Belum terjadi pun ibu sudah merasa lega, karena akan ada seseorang yang menjagamu dan bertanggung jawab atas hidupmu. Walaupun pada awalnya ibu ragu dan sempat tidak setuju."


Vania terhenyak.


"Ibu sebenarnya tidak setuju, dia pria yang 15 tahun lebih tua darimu, terasa tak sebanding jika ibu harus merelakanmu kepadanya. Walaupun ibu tahu bagaimana dia, dan sebaik apa Arya seperti yang kita tahu. Tapi ibu sempat tak rela. Ibu ingin kamu bersama dengan pria yang setidaknya tak sedewasa Arya, tapi ... kita tidak tahu kalau jalan Tuhan itu selalu diluar perkiraan."


"Jadi ibu memutuskan untuk menerima pinangannya jauh sebelum kamu menyetujuinya. Karena apa? karena sejak saat itu ibu yakin kalau dia akan menjadi sosok yang melakukan hal terbaik untuk orang yang dicintainya. Buktinya, dia melakukan banyak hal untuk adik-adiknya hingga melupakan dirinya sendiri."


"Makanya hari itu ibu yakinkan Arya untuk sekalian menikahimu." Melly mengakhiri penjelasannya.


"Tapi minggu lalu Bang Arya ngajak putus. Dia bahkan sudah membatalkan semuanya, termasuk pertunangan yang sudah direncanakan." Vania dengan suara lirih.


Kini Melly yang terhenyak.


"Kenapa?"


"Nggak tahu." gadis itu menghempaskan tubuhnya pada sofa di sisi teras.


"Alasannya dia nggak mau repotin aku, nggak mau menghalangi aku. Apalagi dengan keadaanya yang sekarang ini. Dia merasa akan membuat aku terhambat."


Sang ibu menghela napasnya pelan, kemudian tersenyum lembut.


"Arya sedang ada di fase kehilangan kepercayaan diri. Kecelakaan itu pasti meninggalkan trauma, membuat dia memiliki pikiran negatif untuk apapun, termasuk hubungan kalian. Ditambah, kamu yang sering menghindar kalau dia membahas pernikahan."


Vania mendengarkan.


"Nyalinya menciut, dan dia memiliki ketakutam akan menjadi beban untuk orang terdekatnya."


"Arya itu pria matang yang terbiasa mandiri, dia melakukan segalanya sendiri sejak usia remaja. Dia tak pernah bergantung kepada orang lain, tapi tiba-tiba saja sekarang semua orang meperhatikannya, dan dalam sekejap dia harus bergantung kepada orang lain."


Vania masih terdiam.


"Seharusnya kamu mengerti."

__ADS_1


"Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan?" akhirnya dia bicara.


"Terserah kepadamu. Ikuti saja kata hatimu. Dan ketika kamu yakin, maka lakukanlah."


Gadis itu kembali menarik napas pelan.


"Ibu malu nggak, kalau bang Arya jadi menantu ibu?" dia kemudian melontarkan pertanyaan.


"Kenapa ibu harus malu?"


"Kalau misal dia cacat, da dia lebih tua dari aku."


"Pikiranmu terlalu jauh. Bukankah kamu bilang kakinya hanya retak? tidak putus kan? dan lagi soal usia sekarang tidak menjadi masalah untuk ibu."


"Soalnya itu yang aku tangkap dari sikapnya bang Arya. Dia kayaknya minder, padahal kondisinya nggak separah itu."


"Sudah ibu bilang, dia sedang kehilangan kepercayaan diri. Itu tugas kamu untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Itupun kalau kamu mau."


"Kalau aku jadi nikah sama bang Arya gimana?"


"Nggak gimana-gimana, toh kamu yang akan merasakan dan menjalaninya."


"Tapi semua yang aku kerjain akan terhambat."


"Untuk sekali saja kamu jangan memikirkan pekerjaan. Karena tidak akan ada habisnya selama kita hidup. Lakukanlah segala hal sesuai porsinya, jangan terlalu di forsir."


"Percayalah, ibu sudah merasakannya." dia merangkul pundak putrinya.


"Kalau aku nikahnya sekarang gimana?"


"Ibu akan merasa lega, karena ada yang akan menjaga kamu. Setidaknya ibu tidak akan selalu merasa khawatir karena kamu tidak akan berjuang sendirian lagi." Melly mengakhiri percakapan.


"Ya udah, ..." Vania bangkit dari sofa, kemudian berlari ke kamarnya. Menyambar jaket lalu mengenakannya begitu juga setelah meraih helm dan mengambil kunci motornya.


"Mau kemana?" Melly pun bertanya lagi.


"Mau jemput jodoh." gadis itu berlari keluar, kemudian pergi mengendarai motornya.


🌺


🌺


Arya tampak kelelahan setelah menjalani terapinya sore itu, dan dia tengah beristirahat di ruang belakang rumahnya bersama ketiga adiknya yang selalu datang dan menemani sepulangnya dia dari rumah sakit.


"Gimana sekarang?" Anna menatap kaki sang kakak.


"Lumayan." pria itu menggerak-gerakan tungkai kakinya.


"Tapi tetep harus hati-hati."


"Iya."


"Iyalah. Sebelum abang sembuh kita akan nginep terus."


"Jadi merepotkan kalian." Arya dengan suara pelan.


"Nggak repot. Sekalian ngumpul lagi, kan udah jarang kita kayak gini." Anna menjawab.


"Lagian kayaknya sekarang udah waktunya giliran kita yang ngurus abang." sahut Alena.


"Abang bukan bayi." Arya terkekeh.


"Iya, tapi tetep aja. Harus ada yang ngurus abang kan? masa kita biarin sendiri."


"Suami kalian juga perlu di urus."


Lalu mereka terdiam.


"Mm ... Vania kayaknya serius nurutin apa kata abang?" Alena mengalihkan pembicaraan.


"Soal apa?"


"Soal jangan temuin abang dulu."


"Oh, ... baguslah. Itu artinya dia sudah menentukan pilihannya." jawab Arya dengan cueknya seolah dia tak peduli. Walau pada kenyataannya, hatinya jelas kecewa karena gadis itu memilih untuk menjalani apa yang selama ini dia jalani sendiri.


"Terus habis ini apa?" Alya yang muncul setelah menidurkan bayinya di kamar.


"Tidak aka ada apa-apa." jawab Arya lagi.


"Hantarannya?"


"Biarkan saja seperti itu. Untuk kenang-kenangan." Arya tergelak, meski hatinya terasa ngilu.


Mereka terdiam lagi.


Namun sesaat kemudian perhatian semua orang teralihkan ketika mendengar suara pintu pagar yang terbuka lalu tertutup lagi, dan suara mesin berhenti di depan rumah.


Dua adik ipar melenggang ke ruang depan, dan mendapati seorang yang mereka kenal turun dari motornya sambil membuka helm. Kemudian berjalan ke arah rumah.


Hardi segera membukakan pintu.


"Bang Arya ada?" Vania langsung bertanya.


"Di belakang. Masuklah." jawab Hardi seraya bergeser untuk memberi jalan kepada gadis itu, dan diapun masuk.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ketiga adik perempuan dan pasangannya masing-masing memutuskan untuk meninggalkan teras belakang setelah menerima kedatangan tamu tak di duga itu. Menyisakan dua sejoli yang masih gamang dengan perasaan mereka.


"Abang gimana sekarang?" Vania akhirnya memulai.


"Baik." Arya menjawab.


"Syukurlah."


"Kamu ... dari mana?"


"Dari rumah."


"Tumben? hari ini tidak ke kedai?"


"Nggak."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa. Lagi malas aja."


"Malas kenapa?"


"Nggak ada yang bisa aku kerjain disana."


"Kedai biasanya ramai jam segini?"


"Memang."


"Terus kenapa kamu tidak ke kedai?"


"Percuma."


"Kok percuma?" Arya memiringkan kepalanya.


"Nggak ada pelanggan tetap yang biasa aku bikinin makanan."


Pria itu terdiam.


"Gimana kaki abang?" Vania bertanya lagi.


"Sudah mendingan, tapi belum sembuh. Setidaknya abang tidak boleh pergi kemanapun selama tiga bulan kedepan. Kalau tidak, retakannya tidak akan bisa sembuh."


"Sayang ya, padahal aku udah nunggu-nunggu."


"Tidak usah menunggu."


"Tapi aku mau nunggu."


"Jangan, ... waktu kamu akan terbuang sia-sia kalau terus menunggu."


"Siapa bilang?" gadis itu menoleh.


"Serius. Kamu aka kehilangan banyak hal kalau terus menunggu."


"Nggak, abang salah."


Pria itu menjengit.


"Aku nunggu abang selama beberapa tahun, dan lihat hasilnya? akhirnya kita sama-sama." Vania tersenyum lembut.


"Vania, sudah abang bilang kalau misalnya kita ...


"Stop! sekali-sekali dengerin aku kalau lagi ngomong kenapa sih? abang maunya di dengerin terus, tapi nggak mau dengerin aku." gadis itu memberanikan diri.


"Nggak usah menjelaskan apapun, karena aku udah tahu dan udah ngerti. Tapi sekarang aku juga mau ngomong sama abang. Dan aku harap sekarang aku nggak salah lagi, jadi nggak bikin abang berubah pikiran setelah aku selesai."


Arya terdiam, dan dia mengerutkan dahi.


"Abang nggak usah merasa kalau aku akan terbebani dengan apa yang lagi abang alami sekarang ini. Karena pada kenyataannya nggak gitu. Dan lagi, abang nggak usah merasa takut akan menghambat aku, karena aku udah terbiasa menabrak hambatan untuk mencapai apa yang aku mau, jadi nggak akan ada pengaruhnya buat aku. Tapi kalau misalnya dibutuhkan, aku akan berpaling sebentar untuk menangani apa yang harus aku tangani. Dan itu bukan beban untuk aku."


"Aku sayang sama abang sejak aku kenal kalian." dia melirik jendela yang tertutup tirai, namun Vania yakin saat ini ketiga adik Arya, dan mungkin juga suami-suami mereka tengah menyimak diam-diam.


"Dan itu nggak ada hubungannya dengan apapun. Aku sayang sama abang, nggak pake tapi ataupun mau."


Kerutan di kening Arya semakin kentara.


"Nggak ngerti ya, aku ngomong apa? sama aku juga nggak ngerti dengan apa yang lagi aku pikirin sekarang ini." Vania tergelak.


"Aku kehilangan kata-kata sekarang ini, tapi yang pasti aku mau bilag kalau ... aku sayang sama abang."


Vania menatap wajah pria yang kini juga sedang menatapnya.


"Jadi ... abang, ... ayo kita menikah?" dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


vote gaes vote!!

__ADS_1


cik atuh, hadiahnya kirim lagi yang banyak, buat nikahan mereka 😂😂😂



__ADS_2