
🌺
🌺
Arya tak melepaskan pandangannya dari Vania yang tengah mengenakan kebayanya, sama seperti dirinya yang juga mengenakan kemeja batik di depan cermin.
Kebaya semi modern berwarna peach yang tampak pas dengan warna kulitnya, dengan belahan dada agak rendah dan sedikit menonjolkan lekuk tubuh perempuan itu yang kini terlihat sedikit berisi. Dipadukan dengan kain batik yang membungkus dari pinggang kebawah menutupi kaki jenjangnya. Yang bermotif sama dengan kemeja batik milik Arya.
Mereka terlihat begitu serasi.
"Abang?" panggil Vania.
"Ya?" pria itu cepat merespon.
"Pasangan ini dong? " sebuah aksesori berbentuk bunga diserahkan Vania kepadanya.
"Apa ini?"
"Jepit rambut."
"Oh, ..."
"Pasang disini." Vania menunjuk bagian rambutnya yang digulung indah.
Pria itu melakukan apa yang diminta, dia mendekat kebelakang tubuh Vania, dan menyematkan jepit berbentuk bunga itu dirambutnya. Menambah kesan manis pada penampilannya, dengan sapuan make up flawless di wajahnya.
"Apa... kebayanya tidak terlalu terbuka?" Arya tiba-tiba berujar.
"Apaan? "
"Kebayanya."
"Nggak. Biasa aja."
"Abang pikir ini terlalu terbuka. " Arya mengulurkan tangannya kedepan. Menyentuh dada bagian atas perempuan itu yang memang sedikit terekspos.
"Terus? masa aku harus tutupin kayak gitu? " Vania mendongak.
"Apa tidak bisa diganti? "
"Nggak bisa. Nggak ada lagi kan? aku belinya juga dadakan kemarin, mana sempat mau nuker-nuker lagi? Lagian kemarin juga abang bilang oke pas aku tanya? "
"Abang kira kebayanya tidak seperti ini."
"Ya udah kalau gitu, aku pakai baju lain aja. " Vania hampir melepaskan pakaian itu dengan gusar. Moodnya tiba-tiba saja menurun drastis.
Arya gelagapan melihat reaksi tersebut, membuatnya segera menghentikan perempuan itu dari apa yang akan dia lakukan.
"Tidak usah kalau begitu." dia menahan tangan Vania yang hampir melepaskan kancing kebayanya.
"Tadi abang nyuruh ganti?"
"Tidak "
"Tadi abang bilang gitu. Terlalu terbuka, terus...
"Abang cuma tanya. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa." dia merangkul tubuhnya dengan erat. Dirinya lupa, jika mood istrinya ini gampang naik turun dengan mudah, dan hal tersebut menjadi hal yang cukup menakutkan akhir-akhir ini.
Vania terdiam sambil menatap cermin di depan mereka.
"Beneran? "
"Iya."
"Nanti bilang aku jelek lagi? udah, aku mau ganti aja?" Vania mencoba melepaskan diri.
"Tidak usah, begini sudah cantik." bujuk Arya kepadanya.
"Abang bohong, ...
"Tidak. abang jujur."
"Bohong!"
"Tudak Van,... "
"Tapi Abang suka protes kalau aku pakai baju? "
"Abang cuma memberi saran."
"Saran abang bikin kesel."
"Benarkah?" Arya terkekeh.
"Iya, banyakan protesnya daripada ngasih sarannya." Vania dengan kejujurannya, membuat pria yang sedang memeluknya itu tertawa cukup keras.
__ADS_1
"Udah bang." ucap Vania.
"Apanya? "
"Ketawa sama meluknya. Nanti baju kita kusut. " jawab Vania yang kembali menatap pantulan mereka di cermin.
"Jangan jawab bisa dilarapihin lagi atau ganti sama yang lain, karena waktunya nggak akan cukup." lanjut Vania.
"Hmm...
"Udahan. Lepas. Kalau kelamaan meluk abang suka kebablasan." ucap Vania, yang membuat pria itu tersenyum lagi.
🌺
🌺
Acara ijab kabul hampir saja dimulai saat mereka tiba, dan Arya langsung ditarik ke dekat pengantin setelah Harlan memintanya menjadi saksi dari pihak keluarganya.
"SAH!" ucapan beberap orang ketika Raja berhasil mengucapkan ijab, dan ruangan itu terdengar riuh dengan tepuk tangan juga ucapan syukur dari khalayak yang hadir. Mereka kini telah sah menjadi suami istri, doa-doa pun segera mengalir mengiringi pasangan baru ini untuk bersanding di pelaminan.
"Selamat kak." mereka menyalami mempelai.
"Makasih." Raja memerima uluran tangan Vania, dan tentu saja wajahnya begitu ceria, pancaran kebahagiaannya pada hari itu, begitupun Cindy.
Keduanya kembali berbaur dengan tamu lainnya, menikmati suasana yang memang begitu syahdu.
"Dekorasinya bagus ya? kak Raja nggak main-main kalau soal beginian?" Vania melihat sekeliling kafe milik keluarganya yang disulap menjadi ruangan penuh bunga mawar yang begitu indah.
"Memang, dia tidak pernah setengah-setengah untuk urusan segala hal." Arya mengamini.
"Hu'um, cantik banget."
"Kamu yakin tidak mau pesta seperti ini?" Arya kembali berbicara.
"Nggak." jawab Vania, tegas seperti biasa.
"Ini sekali seumur hidup lho, apa kamu tidak akan menyesal?"
"Nyesel karena apa? karena kita nggak ngadain resepsi?"
"Iya, mungkin saja."
"Nggak akan, karena memang aku nggak mau."
"Aku tahu kok, kalau abang mampu bikin pesta kayak gini kalau aku minta, tapi pikiran aku nggak kesana. Serius, aku mikirinnya hal lain malah." Vania terkekeh.
"Apa?"
"Nambah usaha." perempuan itu tertawa.
"Modal yang kemarin?"
"Itu untuk kedai abang, ... nah yang lainnya aku mau juga."
"Apa?"
"Mm... nanti lah, aku masih pikirin." dia tertawa lagi.
"Dasar kamu mata duitan, apa-apa langsung dipikirkan intuk menambah penghasilan." Arya mencibir.
"Ya apalagi? hidup kita kan masih panjang, banyak yang harus kita kerjakan untuk mendapatkan apa yang kita mau."
"Hmmm... terserah kamulah, ...
"Lagian kalau resepsi kayak gini kita bisa nebeng sama kak Raja." ucap Vania kemudian.
"Apa? nebeng? "
"Iya, nebeng." perempuan itu bangkit dari kursinya, kemudian menarik Arya untuk bangkit pula.
"Ayo kita berfoto di pelaminan kak Raja? kayaknya aku pengen bikin foto pernikahan disana deh."
"Apa?"
Dan perempuan itu benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Dia meminta izin kepada pengantin untuk mengambil gambar mereka berdua di pelaminan, yang berpose seperti pengantin pada umumnya. Yang dituruti oleh Raja dan Cindy, walau sempat membuat acara ramah tamah kedua mempelai sedikit terhambat.
Dan acara pun berlangsung begitu meriahnya, mereka menikmati saat-saat kebersamaan seperti ini. Bertemu dengan teman-teman yang jarang dijumpai selain acara besar semacam ini. Semua orang berbaur menjadi satu, tak peduli latar belakang ataupun status mereka, semuanya jelas menikmati acara tersebut.
Lantunan musik dan suara merdu dari sang wedding singer membuat susana semakin meriah. Tentunya selain kelakuan pasangan pengantin yang membuat beberapa orang geleng-geleng kepala. Terutama Raja, yang selalu menunjukan kebahagiaannya secara terang-terangan. Yang kemudian membuat Cindy sang istri selalu tersipu-sipu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Titip Alea dulu, aku mau nemuin ibu." Vania menyerahkan balita yang sejak tadi menempel kepadanya itu ke pangkuan Arya.
Perempuan itu berjalan ke sisi lain dimana dia melihat Melly tengah berbincang dengan dua orang yang tampaknya dia kenal.
__ADS_1
Vania mempercepat langkahnya ketika dia melihat hal yang agak janggal. Ketiga orang tersebut tampak tengah berdebat.
"Bu? ada apa? " Vania mendekat, menghentikan perdebatan yang tengah berlangsung.
Mereka menoleh serentak, dan seketika ketiganya terdiam.
"Ya udah, aku harap Mbak ngerti, jadi kami nggak usah membahas soal ini lagi." Rahma mengakhiri percakapan, kemudian mereka pergi.
"Kenapa bu?" Vania kembali bertanya.
"Tidak apa-apa. Mereka seperti biasa meminta bagian hasil kafe bulan ini." jawab Melly.
"Ibu kasih?"
"Ya, ... ibu kasih. Apalagi mereka melihat kafe sedang ramai seperti ini, jadi ibu tidak punya alasan untuk menolak."
"Cuma itu?"
"Iya ..."
"Tapi kelihatannya tadi kayak lebih serius dari itu deh?"
"Ah, ... tidak. Cuma perasaan kamu saja mungkin. Mereka hanya meminta haknya seperti biasa." ucap Melly.
"Beneran?" Vania meyakinkan.
"Benar."
Vania menatap wajah teduh ibunya lekat-lekat, dia mencari kebohongan yang mungkin saja disembunyikan oleh perempuan tangguh tersebut. Tapi nihil, ucapan Melly tampak meyakinkan.
"Ibu nggak bohong kan?" tanya Vania lagi.
"Tidak, untuk apa ibu berbohong?"
"Ya kali aja, mereka bilang macam-macam, tapi ibu nggak bilang sama aku karena takut mungkin?"
"Kenapa ibu harus takut? kamu anak ibu kan? kalau ada apa-apa, kepada siapa lagi ibu mengadu?" perempuan itu berujar.
"Beneran ya? ibu akan bilang sama aku kalau ada apa-apa?"
"Iya." Melly menganggukan kepala.
"Mau bundaaaa!!" lengkingan suara anak kecil terdengar mendekat, dan mereka mendapati Arya dengan Alea dalam gendongan. Mengarahkan kedua telunjuknya ketika pandangannya menemukan perempuan itu.
"Kenapa?" Vania menunggu mereka menghampiri.
"Mau bunda." Arya mengulang kata-kata anak itu, dan membuat dua perempuan di depannya tersenyum.
"Ah, ... kalian sudah pantas kalau punya anak." Melly berujar.
"Maunya gitu, tapi belum." Vania meraih bocah itu dari dekapan suaminya.
"Kamu pakai kb?" tanya Melly.
"Nggak."
"Oh, ... mungkin hanya belum saja, nanti kalau sudah waktunya juga akan punya." ucap sang ibu, dengan penghiburannya.
"Iya."
"Ya, sementara mengasuh keponakan juga tidak apa-apa, agar nanti terbiasa." lanjut perempuan paruh baya itu.
"Hmm... saking terbiasanya, berasa ada yang kurang kalau mereka nggak datang kerumah." Vania mengamini, dan dia menciumi pipi temben Alea dengan gemas.
"Mau mamam." bocah itu berceloteh.
"Hum? kamu mau mamam?"
"Hu'um, mamam." Alea mengangguk sambil menunjuk ke arah dalam kafe.
"Oke, kita mamam. Ayah juga mau mamam?" perempuan itu menoleh ke arah suaminya yang hanya menyunggingkan senyum manisnya.
"Eh, tapi... kalau ayah mamamnya nanti." ucap Vania yang berjalan ke area dimana prasmanan dan stand camilan berada.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
Maaf hari Ini telat update, otor lagi ada kerjaan di RL... ayo terus dukung karya ini dengan selalu klik like, komen dan kirim hadiah setelah baca. Karena kontribusi kalian sangat berarti buat otor.
lope lope se Indonesia 😘😘
__ADS_1