
🌺
🌺
Arya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, dimana Vania sudah berbaring disana. Dengan televisi yang menyala menayangkan acara drama yang baru-baru ini disukainya.
"Ck! nonton sinetron." pria itu bergumam.
"Bukan, ini drama." Vania tanpa menoleh.
"Sama saja."
"Beda ih."
"Sama."
"Sinetron itu cerita yang kayak orang baik ditindas, pasrah dan selalu kalah. Sementara orang jahatnya nanti kena azab di akhir cerita. Tapi akhirnya bahagia karena orang baiknya tiba-tiba aja sukses." Vania tanpa mengalihkan mata dari layar televisi.
"Tidak jauh beda dengan drama."
"Udah aku bilangin beda juga?" perempuan itu bergeser ketika suaminya mengulurkan tangan, kemudian menyurukan kepala di dada bidangnya.
"Bedanya apa?"
"Apa ya? abang tonton aja deh, susah jelasinnya."
"Menurut abang sama saja."
"Ish, ... beda."
Arya hanya memutar bola matanya.
"Ini ceritanya tentang apa?"
"Tentang dua orang yang di jodohin dari kecil. Cowoknya kabur keluar negri karena benci ceweknya, pas udah dewasa balik lagi. Terus dinikahin sama orang tuanya, mau nggak mau nurut. Berantem terus setiap hari. Tapi si cewek pasrah karena emang cinta dari dulu."
"Dan ujungnya mereka tetap bersama karena akhirnya si laki-laki jatuh cinta?"
"Iya, Kok abang tahu?"
"Cerita klise, Dimana dua orang yang saling membenci akan berubah saling cinta karena seringnya mereka bertemu. Apalagi kalau dibiarkan serumah. otomatis terjadi sesuatu yang di inginkan. eh, yang tidak diinginkan maksudnya." Arya tertawa.
"Tapi bagus tahu, nggak ngebosenin alurnya. Banyak hal manis juga yang terjadi. Kisah klise juga bisa jadi bagus kalau pengemasannya baik."
"Iya iya."
"Kok aku jadi ingat sesuatu ya?"
"Apa?"
"Ceritanya mirip kita."
"Sebelah mananya?"
"Di bagian cowoknya yang benci, dan ceweknya yang cinta mati."
"Hah?"
"Dulu abang benci aku, sampai-sampai semua yang aku lakuin salah dimana abang. Jadinya abang ngomel melulu kalau aku bikin sesuatu. Ah, ... nyesek kalau ingat itu. Untung sayang, kalau nggak aku udah nyari cowok lain kali?" Vania berujar.
"Siapa bilang abang benci kamu?"
"Buktinya abang suka marah-marah kalau kita ketemu?" Vania mendongak lagi.
"Tidak seperti itu."
"Terus kenapa abang sukanya marah-marah? mana segala hal yang aku bikin kayaknya jelek terus dimana abang."
"Apa kamu pikir semua yang marah-marah itu berarti benci?"
"Ya kalau nggak benci nggak akan marah."
"Sok tahu!"
"Emangnya nggak ya?"
"Ya nggak lah...
"Terus kenapa abang suka marah kalau ketemu aku? ngomel-ngomel nggak jelas gitu?"
"Tidak apa-apa."
"Dih, nggak jelas."
"Memang tidak jelas. Makanya abamg marah-marah."
"Ish, ... abang bikin pusing."
"Kenapa harus pusing? Itukan dulu, sekarang apa pernah abang marah-marah? nggak kan? malah seringnya kamu yang marah-marah sama abang."
__ADS_1
"Iyakah?"
"Hmm..
"Gara-gara apa?"
"Coba ingat gara-gara apa?"
Vania terdiam untuk mengingat.
"Nggak ah, ... abang ngada-ngada aja." wajahnya memerah menahan malu ketika mengingat hal yang sering membuatnya kesal kepada pria itu.
"Tidak mau mengaku?"
"Wmang nggak ada, cuma abang kadang bikin kesel aja."
"Ish, ... tidak mau mengaku." Arya mengusak kepala perempuan itu sehingga rambutnya berantakan.
"Bagaimana ibu?" dia mengalihkan pembicaraan.
"Nggak gimana-gimana."
"Asuransinya?"
"Oh, ... dibagi dua sama tante Rahma."
"Dibagi dua?"
"Hmmm... " Vania menganggukan kepala. "Nggak ngerti deh sama cara berpikirnya ibu. Padahal yang udah tante Rahma lakukan itu bener-bener merugikan kita. Tapi ibu milih untuk ngasih tante Rahma bagiannya."
"Mungkin ibu punya pertimbangan lain."
"Memang."
"Ya sudah, kenapa kamu ambil pusing? selama itu datang dari niat ibu sendiri ya apa salahnya?"
"Aku nggak ambil pusing, cuma heran aja."
"Dalam hal ini ibu yang punya wewenang kan? dan selama itu baik, kenapa juga kita tidak mendukung?"
Vania menghembuskan napas, kemudian mendongak.
"Kenapa semua orang begitu baik ya hari ini? menganggap pemberian untuk orang jahat itu merupakan hal yang baik?"
"Karena berharap dengan begitu akan berdampak baik juga. Tidak ada ruginya."
"Tidak ada kalah atau menang dalam berbuat kebaikan, intinya kita berbuat hal yang benar, meskipun hasilnya tidak ada yang tahu."
"Iya iya, abang sama Om Harlan sama aja."
"Apa hubungannya?"
"Sama-sama mendukung ibu."
"Oh ya?"
"Iya. Dan hari ini Om Harlan nganter kami lagi ke kantor asuransi. Tadi malah ngobrol lama di kedai aku."
"Pak Harlan mengantar kalian lagi?"
"Iya, abis itu kita ngobrol banyak hal di kedai. Selain masalah kafe, ngobrol juga hal-hal lainnya."
"Misalnya apa?"
"Banyak lah,... dan ternyata Om Harlan enak juga diajak ngobrol. Aku kayak ketemu sama ayah kalau lagi ngobrol sama Om Harlan, soalnya sikap mereka hampir sama."
"Masa?"
"Iya. Mungkin itu yang bikin mereka sahabatan. Sama-sama baik dan suka nolongin orang. Dia juga bilang bakalan bantu ibu bangun kafenya dari nol."
"Oh ya? baik juga ya?"
"Hmm... sampai-samapai aku takut kalau ada orang sebaik itu."
"Kenapa takut?"
"Takut ada maunya."
"Maksudnya?"
"Kali dia lagi berusaha pedekate sama ibu, makanya kemana-mana nganterin terus. Kayak yang pernah ibu alamin dulu."
"Pernah ada yang seperti itu?"
"Pernah, tapi aku kerjain biar nggak jadi pedekatenya."
"Kenapa?"
"Aku nggak mau ada yang menggantikan ayah."
__ADS_1
"Dasar kamu, ...
"Om Harlan gitu nggak ya?"
"Memangnya kenapa? mereka sama-sama singel kan? tidak ada salahnya."
"Ya aneh aja."
"Anehnya sebelah mana?"
"Aku kenal Om Harlan sebagai temannya ayah, terus hampir aja jadi mertua aku kalau aku nggak nikah sama abang, tapi tahu-tahu misalnya deket sama ibu."
"Bagus juga kan kalau ibu dekat dengan Pak Harlan, terus misalnya mereka berjodoh."
"Dan dia jadi ayah tiri aku gitu?"
"Ya."
"Ish, bener-bener aneh kayaknya. Nggak jadi jodohin anaknya, malah dia yang berjodoh sama istri temannya."
"Memangnya kenapa?"
"Nggak." Vania terkekeh.
"Malah tertawa?"
"Jadi lucu kan, masa nanti aku jadi saudaraan sama kak Raja."
"Ya bagus."
"Hilih, ... abang dari tadi bagus- bagus melulu?"
"Ya memang bagus. Cerita cinta yang indah kan?"
"Dih, cerita cinta?" Vania tertawa lagi.
"Oh iya, abang lupa." Arya melepaskan rangkulan tangannya dan bangkit dari posisinya.
"Apaan?"
"Abang mau mengerjakan sesuatu." pria itu menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur.
"Apaan? udah malam lho?"
"Iya tapi kalau abang tidak kerjakan sekarang nanti lupa." pria itu hampir saja berdiri, namun Vania menariknya sehingga dia kembali terduduk di ranjang.
"Udah malam, waktunya istirahat."
"Tapi Van, ini harus abang kerjakan sekarang."
"Nggak. Daripada ngerjain itu, mending ngerjain aku aja."
"Hah?"
"Kan katanya kalau mau punya anak harus rajin ngerjainnya." Vania merangkul pundak pria itu, kemudian mendekatkan wajahnya.
"Eh, teori macam apa itu?" Arya sedikit menghindar.
"Teori biar punya anak."
"Dari mana kamu dapat teori semacam itu?"
"Semua orang juga tahu." Vania terus mendekat.
"Modus kamu ada-ada saja?"
"Kan udah aku bilang biar cepet punya anak?" perempuan itu merapatkan tubuh mereka hingga kini tak berjarak.
Arya awalnya menghindar, namun lama-lama dia kalah juga, dan seterusnya segalanya terjadi seperti biasa. Ketika gairah sudah menguasai, maka tak ada lagi yang mampu menolak, keduanya hanya pasrah menerima dan menikmati perasaan indah yang hadir disaat mereka bersentuhan dan saling menggoda. Dan berusaha untuk saling menyenangkan antara satu sama lainnya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung....
like komen sama hadiahnya masih terus aku tunggu. lope lope se gudang 😘😘😘
yang nolak tapi akhirnya pasrah juga 😂😂
oh iya, mampir juga di karya otor aduhai yang satu ini ya, biar nambah petualangan kalian di dunia halu. Dijamin asik dan seru.
Happy reading 😉😉
__ADS_1