
🌺
🌺
Vania membuka pintu kamar mandi sedikit, melihat keluar dimana suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Dia berjalan pelan keluar dengan handuk yang membalut tubuh telanjangnya. Pagi itu dia lupa lagi tak membawa pakaian ganti kedalam kamar mandi, membuatnya lagi-lagi harus mengambilnya dari dalam lemari di dekat tempat tidur. Sama seperti hari-hari sebelumnya.
Ini bahkan sudah seminggu, dan aku masih lupa. Ck! dasar aku! batin Vania, dan dia tertawa dalam hati.
Untung masih tidur, kalau abang udah bangun kan malu? gumamnya lagi.
Sementara Arya memperhatikan dari balik selimut tebalnya seperti biasa, saat perempuan itu berjalan mengendap ke arah lemari di dekatnya, bersikap seperti pencuri yang takut tertangkap basah. Menarik pakaian, yang kemudian dia kenakan disana saat itu juga.
Melepaskan handuk, mengusap tubuh basahnya, lalu memakai satu-persatu pakaiannya, dan bertingkah seolah-olah hanya ada dirinya sendiri di ruangan itu.
Arya mengulum senyum, pemandangan di depan sana sungguh membuat hati berdebar tak karuan. Bagaimana tubuh basah nan tel*njang itu tampak menggoda dibawah cahaya temaram kamar mereka. Menampilkan siluet yang sungguh mempesona.
Kulit yang mulus, leher jenjang, punggung menggoda, dan kaki yang indah. Jangan lupakan juga dadanya yang ranum sempurna, membuatnya gemas sendiri dan hampir saja bangkit ingin menerjangnya. Apalagi ketika pandangannya turun kebawah, menatap area itu yang seketika membuat gairahnya terbakar.
Namun Arya kemudian ingat dengan kondisinya, yang akhirnya membuat dia mendengus menahan hasrat yang tiba-tiba saja menanjak.
Akan sangat aneh jika nanti terhenti di tengah-tengah karena aku merasa sakit. hatinya bermonolog.
Ah, Tuhan! godaannya sangat berat, padahal ini sudah sah.
"Abang?" Vania mendekat, ketika mendengar dengusan napas suaminya yang berhembus kasar.
Arya tertegun, namun tetap terdiam. Dia merasa hampir tertangkap basah karena telah mengintip istrinya sendiri.
"Abang udah bangun?"
Arya tak menjawab.
"Abang? mau bangun sekarang nggak?" Vania mendekat.
Pria itu bergeming.
"Ish, ... kirain udah bangun?" Vania bergumam.
Perempuan itu kemudian keluar dari kamar untuk memulai kegiatan paginya seperti biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arya tengah mengenakan celananya ketika Vania masuk kedalam kamar. Dan dia meraih kaus oblong yang telah tersedia di pinggir tempat tidur ketika perempuan itu bergegas menghampirinya.
Vania membantu Arya memakaikan kaus miliknya, seperti yang selalu dia lakukan akhir-akhir ini.
"Baru aja mau aku bangunin?" ucap perempuan itu, dan dia merapikan penampilan suaminya.
Arya hanya tersenyum.
"Abang udah mandi?" dia bertanya, padahal sudah jelas dengan aroma segar yang menguar dari tubuh pria itu. Juga rambut hitamnya yang masih sangat basah dengan titik-titik air yang menetes di pundaknya.
"Sudah." Arya menjawab.
"Kenapa nggak panggil aku? Abang malah mandi sendiri?" Vania meraih handuk, lalu naik ke tempat tidur. Dia kemudian merangsek ke belakang Arya.
"Biasanya juga abang kan mandi sendiri."
"Ah, ... aku lupa kalau abang terbiasa nggak ada yang ngurus." keluh Vania, lalu dia mengusak rambut Arya yang basah dengan handuk di tangannya.
"Hmm ..." pria itu mengulum senyum.
"Cuma hmmm ... aja jawabann?"
"Ya, apalagi?"
"Ya apa kek?"
"Abang sedang mencari topik pembicaraan sekarang ini."
Vania mencebik. Dia merasa pria ini seakan tengah membangun benteng pertahanannya, padahal sebelum menikah mereka tidak se kaku ini.
"Abang hanya belum terbiasa." Arya berujar.
"Belum terbiasa apa?"
"Ada orang di rumah ini selain abang dan adik-adik."
"Hmm ... udah seminggu lho?"
"Iya, abang tahu. Tapi tetap saja."
"Kok sikap abang jadi beda ya?" Vania mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat wajah sang suami.
"Beda apanya?"
"Waktu masih pacaran kita akrab bener? tapi kenapa sekarang rasanya agak canggung ya"
__ADS_1
Arya tergelak.
"Mungkin waktu masih pacaran kita masih terpisah, jadi ada jeda dalam intensitas pertemuannya. Beda dengan sekarang waktu kita sudah serumah."
"Bosen maksudnya?" Vania menghentikan kegiatannya.
"Bukan bosan."
"Terus apa? kayaknya abang merasa terganggu kalau ada aku? abang banyakan diemnya sekarang."
"Masa?" Arya menoleh.
"Iya. Abang sering cuekin aku seminggu ini?" aku nya, yang pada kenyataannya pria itu memang seperti agak mengacuhkannya, tidak seperti saat mereka belum terikat hukum pernikahan.
"Benarkah?"
"Hmm ..." perempuan itu mengangguk.
"Kenapa bisa begitu?"
"Nggak tahu, menurut abang sendiri kenapa?" Vania memutar pertanyaan.
"Abang tidak sedang mengacuhkan kamu, tapi ..." Arya mengerutkan dahi.
Benarkah dia mengacuhkan istrinya? sementara beberapa hari ini perasaannya sering kali dibuat tak karuan oleh perempuan itu. Apa yang diperbuatnya selalu membuatnya merasakan debaran menggila, apalagi ketika mereka berdekatan seperti ini.
Seperti beberapa hari ini ketika mereka berada dalam satu ruangan, dan tidur di satu ranjang yang sama. Arya mati-matian menaham keinginan untuk memeluknya, apalagi menyentuhnya. Walau jelas itu tidak dilarang.
"Nah kan, diem lagi?" ucap Vania setelah dia menyelesaikan apa yang dilakukannya pada rambut Arya.
"Kalau gini rasanya aku agak menyesal." Vania bermaksud turun dari tempat tidur.
"Me-menyesal?" Arya terperangah, dan dengan refleks pria itu meraih tangan Vania untuk menghentikannya.
"Kamu menyesal menikah dengan abang?" lanjutnya.
"Aku ...
"Kita baru satu minggu menikah, dan kamu sudah merasa menyesal? bukankah kamu sendiri yang bersikukuh untuk menikah scepatnya?" Arya meninggikan suaranya, tiba-tiba dia merasa panik, mendengar istrinya yang baru satu minggu dinikahinya merasakan penyesalan.
"Katakan! bagian mana yang telah membuat kamu menyesal?" pria itu memgguncangkan tangannya.
"Ng ...
"Aku menyesal, ... kenapa nggak mau waktu abang ajak nikah dulu, jauh sebelum kecelakaan, dan abang ... selalu bersikap hangat." Vania pun menjawab, yang seketika membungkam kata-kata yang hampir keluar lagi dari mulut Arya.
Pria itu menatapnya dengan dahi berkerut.
"Aku kangen abang yang suka bersikap konyol, obrolan absurd, dan abang yang ..." Vania balik memindai wajahnya yang masih terlihat datar-datar saja.
"Aku kangen abang yang suka tiba-tiba datang dan peluk aku. Dan aku ...
"Kemarilah, ..." des*h Arya, dan dia kembali menarik perempuan itu agar mereka semakin dekat. Dia menyadari kekeliruannya kini.
Kondisinya yang masih belum pulih pasca kecelakaan beberapa minggu yang lalu telah membuat rasa percaya dirinya hilang begitu saja. Terlebih lagi, hal itu malah berdampak lebih ketika dirinya malah membangun jarak diantara mereka. Yang membuat keadaan terasa tidak nyaman bagi keduanya.
Padahal dulu, sebelum pernikahan terjadi, dirinya menjadi pihak yang paling menggebu-gebu ingin memiliki Vania, namun entah mengapa sekarang keadaannya malah berubah.
"Maafkan abang." katanya, "Cedera ini membuat abang fokus pada hal tidak penting. Padahal kamu tidak pernah mempermasalahkan apapun yang terjadi dengan abang."
"Maaf." Arya terus menarik Vania hingga perempuan itu terduduk di pangkuannya.
"Padahal dulu abang yang sangat ingin menikah, tapi kenapa sekarang malah begini ya?"
"Nggak tahu." Vania meggendikan bahu.
"Bukankah harusnya kita bahagia dengan pernikahan ini? kita berdua sama menginginkannya." Arya berujar.
"Memang." perempuam di pangkuannya mendelik.
Arya terkekeh pelan.
"Abang cuma takut akan membuatmu kecewa."
"Kecewa karena apa?"
"Karena ... kita, belum bisa melakukannya."
"Melakukan apa?" Vania sedikit menjengit.
"Bukannya kamu sudah mengerti, kamu tahu, ... obrolan kita waktu itu?" Arya mengingatkan.
"Yang mana?" Vania berlagak lupa, dia mengetuk-ngetuk sisi keningnya dengan ujung telunjuk.
"Yang itu ... soal ...
"Oh, ... hubungan suami istri?" perempuan itu melonjak diatas pangkuan Arya, membuatnya agak terkejut.
__ADS_1
"Ish, ... kenapa harus selalu di jelaskan seperti itu?" keluh Arya, yang merasakan kaki bagian bawahnya sedikit sakit karena pergerakan diatas pangkuannya.
"Udah aku bilang, kalau ngobrol sama aku tuh jangan muter-muter. Yang jelas kenapa?"
"Ya kan waktu itu sudah kita bicarakan?"
"Hmm ... iya iya. Baiklah, bagian mana yang abang pikir akan membuat aku merasa kecewa.?"
"Iya, bagian itu."
"Berhubungan suami istri?" Vania dengan spontanitasnya.
"Eee, ... begitulah."
"Oh, ... aku kirain apa?"
Kini Arya yang menjengit.
"Kenapa laki-laki pikirannya selalu ke arah sana?"
"Sudah begitu adanya. Dan tidak cuma laki-laki, perempuan juga."
"Nggak."
"Iya."
"Nggak ish! contohnya aku."
"Masa?"
"Hmm ... aku nggak pernah mikirin soal itu, aku cuma berpikir kalau sekarang ini kita masih pacaran." Vania tergelak. "Pacaran yag bebas, dan halal. Boleh barengan terus, dan boleh ngapain aja." dia menutup mulut dengan tangannya. Namun kemudian dia menahan napasnya ketika merasakan sesuatu yang hangat merayap di bagian belakang tubuhnya.
"Ng ...
"Kamu yakin setelah ini tidak akan memikirkan soal itu?" Arya menatap dengan seringaian muncul di wajahnya.
"Ya-yakin." jawab Vania, dengan tubuh yang menegang ketika tangan hangat pria itu menyeusuri kulit tubuh dibalik pakaian rumahannya itu.
"Benarkah?" seringaian di wajah Arya semakin lebar.
"Hmm ..." perempuan itu menggumam, dan dia hampir mengerang ketika tangan Arya beralih ke depan. Mengusap perut ratanya, kemudian naik keatas dan menemukan gundukan kenyal miliknya.
Arya menggigit bibir bawahnya untuk menahan debaran di dada. Saat ini dirinya sudah benar-benar jauh menyentuh tubuh perempuan yang telah menjadi istrinya, dan dia bahkan ingin melakukan yang lebih jauh lagi.
"Abang." Vania mengerang kala tangan itu terus meremat buah dadanya secara bergantian, lalu dia melingkarkan kedua tangannya di leher Arya. Yang kemudian menariknya, dan membuat wajah mereka tak berjarak. Sehingga di detik berikutnya mereka berciuman dengan penuh semangat. Saling bertukar napas dan sentuhan yang seketika membuat keduanya hilang kesadaran.
Arya bahkan melepaskan kaus yang baru saja di pakainya beberapa saat yang lalu. Dan seketika hawa panas menguar dari tubuhnya.
Dia meneruskan cumbuan yang sempat terhenti dengan debaran menggelora di dada. Jantungnya berpacu cepat, dan hatinya meletup-letup tak karuan. Sentuhannya pun kini semakin meningkat saja.
Sebelah tangannya yang cedera menahan bagia belakang tubuh Vania dengan erat seakan perempuan itu akan terlepas jika dia tak melakukannya.
Sementara Vania, merasakan gelenyar-gelenyar yang aneh pada tubuhnya. Yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, dan tidak pernah dia alami sebelum hari itu. Ketika Arya menyentuh hampir seluruh tubuhnya, da dia melakukannya dengan penuh kelembutan dan penghargaan.
Cumbuannya terasa semakin memabukan, dan membuatnya hilang kendali. Ciumannya terasa mengesankan, dan kecupannya terasa penuh perasaan. Dan Vania menyukainya, bahkan dia sangat menyukainya.
Vania memeluk erat pundak Arya, dan membuat dada mereka saling menempel satu sama lainnya. Dengan detak jantung yang seirama. Debaran indah nan aneh juga menyenangkan itu segera menariknya dari kesadaran, dan dia menginginkan lebih.
Dia biarkan saja ketika pria itu menarik lepas kaus rumahannya, hingga hanya menyisakan bra berwarna maroon yang terlihat kontras dengan warna kulit tubuhnya yang cenderung kuning langsat, khas mojang priangan pada umumnya.
Napas mereka menderu-deru, dan suara decapan itu semakin kentara, kala mereka saling menyesap dan merasakan ciuman menggebu-gebu. Dengan tangan yang sudah menjelajah kemana-mana, seiring dengan pikiran keduanya yang telah berhamburan entah kemana.
Vania bahkan beberapa kali hampir mendesah ketika merasakan cumbuan dan sentuhan Arya di tubuhnya semakin menggila, dan dia semakin mengeratkan rangkulan tangannya di pundak pria itu ketika Arya menenggelamkan wajah di belahan dadanya, tanpa menghentikan rematan di pay*daranya.
Namun beberapa saat kemudian kegiatan itu terhenti dengan sendirinya ketika Arya merasakan nyeri pada lengan kirinya yang juga memeluk tubuh Vania tak kalah kencangnya, dan kesadaran segera kembali kepadanya.
Dengan napas yang sama terengah-engah mereka saling pandang untuk waktu yang cukup lama.
"Sepertinya kita harus berhenti dulu." pria itu berbisik.
"Hum??" Vania mengerutkan dahi. "Ke-kenapa?" tanya nya dengan nada kecewa.
"Tangan abang sakit." Arya terkekeh, sambil melepaskan rangkulannya, sementara perempuan di pangkuannya tertegun dengan perasaan teramat sangat kacau.
🌺
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀
takut ditimpukin emak-emak.😋😋😋
__ADS_1