
🌺
🌺
Vania tertegun demi melihat sosok yang baru saja tiba, saat dirinya tengah mengajak dua balita bermain di teras villa pada hampir magrib.
"Abang?"
Arya tersenyum sumringah, walau rasa lelah tampak jelas di wajahnya. Bagaimana tidak, sore itu dirinya harus melewati drama macet yang menyiksa terlebih dahulu untuk mencapai satu villa di kawasan Lembang tersebut, demi mengejar sang kekasih yang dibawa pergi oleh ketiga adiknya.
"Ayah!!" Dilan berteriak kegirangan, dan Arya langsung meraihnya kedalam pelukan.
"Abang tadi ke kedai, tapi tutup." pria itu berbicara.
"Iya, kan akunya ikut kesini." Vania dengan Alea dalam gendongan.
"Abang pikir kamu marah sama abang." Arya melanjutkan perkataannya.
"Marah?" Vania menjengit. "Kenapa harus marah?"
"Kamu tidak menjawab telfon dari abang, juga tidak membalas pesan." Arya berjalan mendekat.
"Tadi hapenya dipegang Dilan."
"Oh, ..."
"Lagian tumben abang nelfon?"
"Ng ... cuma ... mau tahu kabar."
"Oh ya?" Vania terkekeh. "Aneh, biasanya juga nggak ngasih kabar. Abang kan sibuk? aku mau chat aja ragu, takutnya ganggu kerjaan abang." Vania setengah menyindir.
Arya terdiam, dia baru menyadari memang mereka jarang sekali berkabar. Dalam kurun waktu sejak mereka menjalin hubungan, bisa dihitung dengan jari berapa kali dirinya menelfon ataupun mengirim pesan kepada Vania sekedar untuk menanyakan keadaan. Dia masih belum terbiasa.
"Abang ...?" Alena muncul dari dalam saat mendengar putranya berteriak. Dua orang itu menoleh bersamaan.
"Jadi nyusul juga? tadi bilangnya banyak kerjaan sampai malam?"
"Ng ... itu ...
"Terus bisa tahu juga kita disini?" lanjut Alena.
"Abang tadi ..."
"Aku yang ngasih tahu, pas tadi abang telfon." Hardi yeng juga muncul, kemudian meraih putrinya dari dekapan Vania.
"Oh, ... tanya kak Hardi ..." Alena meninggikan kedua alisnya dengan aneh. Sementara Arya mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Udah mau magrib, cepet masuk!" ucap Hardi yang kemudian bergegas kembali kedalam Villa.
*
*
"Kalian mau tidur di tenda?" Arya menghampiri ketiga adik iparnya yang tengah memasang tenda di halaman belakang villa, ketika malam sudah merangkak naik.
"Iya, kayaknya asik. Anggap aja kita lagi camping." jawab Hardi yang memastikan tendanya terpasang dengan benar.
Sementara dua adik perempuannya diikuti Vania datang membawa alat pembakaran. Dan mereka memulai acara malam itu. Diawali dengan menyalakan api unggun, memasang alat pembakaran untuk memanggang bahan makanan yang sudah tersedia.
__ADS_1
***
Asap pembakaran mengepul di udara, dan wangi aroma daging juga bahan olahan lainnya menguar di indra penciuman. Menghangatkan suasana malam tenang itu di villa sebuah kawasan penginapan berlatar alam bebas di daerah perbukitan Lembang.
Dua orang asik mengerjakan pembakaran makanan, dengan saling melemparkan gurauan juga kata-kata candaan yang hanya mereka saja yang mengerti. Sementara beberapa pasang mata memperhatikan dalam diam.
"Selesai, ... ayo makan?" ucap Vania setelah menyelesaikan pekerjaannya, diikuti Arya yang meletakan beberapa piring daging dan makanan lainnya di meja.
"Akelim! mau akelim!" Dilan berteriak kegirangan.
"Nggak ada eskrim, adanya sate, dan sosis." Vania menghampiri bocah itu. "Yayang mau?" dia meraih satu tusukan sate di piring.
"Nooo! mau akelim." Dilan menggelengkan kepala.
"Nggak ada, dingin-dingin begini nggak boleh maka es krim. Sosis aja ya?" tawar Vania, dan dia mengambil sosis dengan garpu setelah meletakan sate di tempatnya, kemudian menggigit setengahnya.
"Bisa aja kamu?" Arya bergumam sambil menatap gadis itu yang mengunyah makanan dengan imutnya.
"Apaan?" Vania menoleh.
"Bilang ke Dilan tidak boleh makan es krim karena dingin, kamu sendiri waktu itu hujan-hujan makan es krim. Apa bedanya?" Arya mengingat.
"Ya beda lah, dilan masih kecil, nah aku udah dewasa." sanggah Vania.
"Kamu bilang suka makan es krim sejak kecil, dan nggak apa-apa. Terus apa pengaruhnya sama Dilan?"
"Ish, abang! beda lah pokoknya. Kalau aku udah kebiasaan, kalau Dilan takutnya bikin dia sakit."
"Memang kamu pernah sakit gara-gara eskrim?" Arya meneruskan percakapan.
"Nggak. Cuma lebih ekspresif aja, kayak yang pernah abang bilang. Dan gara-gara es krim juga kita ..." mereka berdua saling pandang, dan entah kenapa suasana mendadak hening. Semua orang yang sudah siap menyantap makanan malah menyimak perdebatan dua orang tersebut.
"Ng ... " Arya dan Vania tersadar, dan mereka salah tingkah.
"Ayo makan, keburu dingin. Nanti nggak enak?" sahut Alena.
***
"Abang emangnya besok nggak ada kerjaan? kan katanya lagi sibuk?" Alena memulai percakapan setelah mereka makan dalam diam cukup lama.
"Sudah selesai." Arya menjawab.
"Beneran? kita pulangnya minggu sore lho."
"Tidak masalah, abang ikut."
"Yakin? nanti kerjaan abang terbengkalai."
"Tidak mungkin, sudah abang selesaikan minggu ini."
"Kamu Van?" Alena beralih kepada Vania yang masih sibuk dengan makanannya.
"Aku nyantai. Nggak terikat sama bos manapun, jadi bebas lah." jawab gadis yang duduk disamping Arya, dengan pipi menggembung karena dipenuhi makanan.
"Tante Melly?" Alena memiringkan kepala.
"Ibu nggak ada masalah, aku udah kasih tahu."
"Bagus kalau gitu." Alena menepukan kedua tangannya, merasa senang dengan hal yang di dengarnya. Itu artinya dia bisa mengawasi kakak laki-laki dan sahabatnya dengan leluasa, dan akan membuat mereka mau tidak mau mengakui hubungan yang telah mereka jalin.
__ADS_1
"Apanya yang bagus?" Arya memicingkan mata.
"Ya bagus aja, kita ngumpul." Alena meneguk minumannya hingga habis, kemudian seringaian muncul di bibirnya.
"Ngumpul?" sahut Vania, yang masih sibuk mengunyah makanannya.
"Kamu kalau bicara telan dulu makanannya, kalau tersedak bagaimana?" protes Arya yang meraih tisyu di tengah meja dan menyerahkannya kepada Vania.
"Kebiasaan bang, ..." gadis itu terkekeh.
"Hmm ..." Arya reflek mengusak kepalanya seperti yang sering dia lakukan ketika mereka sedang bersama.
"Ehm ..." Alya berdeham, dan hal tersebut kembali menyadarkan pasangan yang masih menyembunyikan hubungannya ini.
"Eee ..." keduanya kembali salah tingkah.
"Aku udah selesai. Kalian udah belum? sini, wadah kotornya aku cuci." Vania menelan makanannya dengan cepat, kemudian berusaha menghindar.
***
"Aku ngantuk, mau tidur." Anna bangkit dari duduknya dan keluar dari dalam tenda.
"Lho? kataya mau tidur disini?" protes Alena.
"Nggak ah, dinginnya nggak kuat. Mau nyusul kak Alya sama dedek bayi." Anna menarik lengan suaminya. "Ayo kang? kita bobo di dalam aja?"
Rendra pun mengikuti.
"Lho? terus aku? anak-anak udah tidur ini." Alena bereaksi.
"Bawa aja." ucap Anna yang dengan tergesa masuk kedalam Villa.
"Ah, ... kalian!" dengus Alena yang meraih tubuh putrinya bersama selimut kecilnya. "Kak, bawa Dilan. Kita mau pindah." dia memanggil suaminya yang tengah asyik mengobrol dengan kakak laki-lakinya.
"Katanya mau tidur di tenda?" teriak Hardi.
"Nggak jadi, semua orang udah pindah."
Pria itu menurut, meraup tubuh kecil Dilan yang sudah terlelap sejak tadi.
"Abang mau masuk juga? tapi mungkin tidurnya di sofa, soalnya kamar cuma ada empat. Yang satu udah diisi Vania, kecuali kalau tidurnya mau bareng Vania." Hardi berkelakar.
Arya mencebik, "Sana duluan lah, abang mau disini dulu. Mungkin sebentar lagi masuk." katanya.
"Ya udah, ..." Hardi pun turut memasuki Villa dengan Dilan dalam gendongan.
Arya kembali pada api unggun yang masih menyala, dan membenahi letak kayu yang sudah hampir habis terbakar. Menyesap kopi yang juga sudah dingin, kemudian berbalik ke dalam tenda.
Namun pria itu tertegun ketika mendapati Vania yang sudah terlelap bergulung selimut tebal di dalam tenda.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
sudah waktunya vote gaess, jangan lupa like komen sama hadiahnya.
__ADS_1
Abang mau bobo juga? 😁😁