
🌺
🌺
Arya menyandarkan pundaknya pada bingkai pintu, begitu dia selesai membersihkan diri. Masih dengan rambut basah dan kaus rumahannya seperti biasa. Memperhatikan Vania yang tengah menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Hari-harinya semakin ceria dan dia tampak selalu bersemangat. Sepertinya kehamilan berdampak sangat baik terhadapnya.
"Kopi?" suara perempuan itu membuyarkan lamunannya.
"Boleh, ..." Arya berjalan menghampirinya, kemudian meraup tubuh semampai itu dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya, kemudian mengusap perutnya yang masih rata.
"Tidak pusing?" tanyanya, dan dia menempelkan wajahnya pada tengkuk Vania.
"Nggak." dia menjawab dengan wajahnya yang merona dan hati berdebar.
"Mual?"
"Sedikit, tadi waktu bangun tidur."
"Hmm... sepertinya kamu sangat senang hari ini?" pria itu berbisik di telinganya.
"Biasa aja."
"Benarkah?"
"Begitulah... "
"Pembukaan hari ini dimulai jam berapa?" Arya melepaskannya saat Vania selesai dengan kopinya. Lalu dia membawanya ke meja makan, dan duduk di kursinya seperti biasa.
"Jam sembilan. Abang mau kesana juga?"
"Tentu saja, hari pertama itu penting kan?" Arya menyeruput kopi panasnya pelan-pelan.
"Iya. Tapi gimana kerjaan abang?" Vaia mendekat ke arahnya.
"Abang sudah Ijin."
"Ijin terus?"
"Tidak apa-apa. Pak Harlan dan Raja juga akan datang kan?"
"Oh ya?"
"Bukannya kamu yang undang?"
"Nggak. Undang mengundang bagian ibu. Kecuali sama adik-adik kita."
"Oh, ... abang kira kamu yang undang?"
Vania menggelengkan kepala, kemudian duduk di sampingnya.
"Tapi bagus juga. Mereka ikut investasi juga kan?"
"Iya." Vania menggeser piring sarapannya, kemudian menyuapkan potongan kecil dan mengunyahnya dengan perlahan.
"Kamu tidak mual waktu makan?" Arya bertanya lagi. Dan diapun melakukan hal yang sama.
"Nggak." Vania terus mengunyah makanannya.
"Bukankah biasanya perempuan hamil suka merasa mual dengan makanan?" pria itu berujar.
"Kata siapa?"
"Yang abang tahu begitu."
"Kok aku nggak? aku malah lebih sering merasa lapar. Kadang baru sepuluh menit makan udah lapar lagi. Dan semua makanan rasanya enak di lidah aku. Nggak tahu kenapa?" Vania berbicara dengan mulut penuh makanan, membuat kedua pipinya menggembung lucu.
"Apa itu normal?" ucapnya setelah menelan makanannya.
"Abang tidak tahu. Apa kamu merasa tidak enak atau merasa ada yang aneh?"
"Nggak. Aku biasa aja, selain badan aku yang kayaknya makin gendut." dia memegangi kedua lengannya sendiri.
"Terus ini, kayaknya tambah gede?" lalu dia memegangi kedua dadanya yang memang terlihat bertambah besar.
"Dan ****** aku... kayaknya tambah gede juga." dia memegangi bagian itu.
"Ngg...
"Aku jadi gendut." katanya lagi, lalu dia terkikik sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Arya mendengus sambil menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja otaknya memvisualisasikan bentuk tubuh perempuan disampingnya dalam keadaan tel*njang dengan sempurna.
"Abang mau makan rotinya nggak?" Vania kemudian bertanya, dia menatap wajah suaminya dengan mata berbinar, seperti tengah menanti hal istimewa.
"Kamu masih mau?" Arya menatap piring yang isinya sudah berpindah kedalam perut perempuan itu.
"Hu'um, ... masih lapar, harusnya aku tadi bikinnya agak banyakan ya? Ah, ... bikin lagi aja." Vania bangkit, bermaksud membuat kembali makanan yang sudah dilahapnya tadi.
"Eh, ...tidak usah." Arya menahan lengannya, kemudian menariknya agar kembali duduk di sampingnya.
"Kamu makan saja punya abang." pria itu menggeser piring miliknya.
"Beneran?"
Arya menngangguk.
"Terus abang gimana? nggak lapar emang?"
"Kamu saja yang makan, abang tidak tega."
"Ih, ... abaaangng... " Vania tersenyum lalu menyentuh wajahnya hingga kedua bagian pipi pria itu sedikit merona.
"Cepatlah makan, nanti abang berubah pikiran?" ucap Arya kemudian.
🌺
🌺
Para adik ipar sudah tiba terlebih dahulu di kafe yang sebentar lagi akan dibuka. Keramaian sudah tampak dari suasana tersebut. Ditambah kehadiran tiga anaknya balita yang sedang aktif-aktifnya tentu saja membuat kafe semakin ramai saja.
"Bundaaaa!!!!" Alea merentangkan kedua tangan mungilnya ke arah Vania begitu melihat perempuan itu tiba.
"Ish, ... sayangnya bunda, Kangen." Vania langsung meraup tubuh balita itu dari pelukan ibunya. Kemudian menciumi wajahnya dengan penuh kasih sayang.
"Hati-hati Van." Alena masih memegangi putrinya, dia takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu, mengingat kondisinya yang tengah hamil muda.
"Iya nih bundanya Alea suka sembrono. Harus hati-hati." Alya mendekat, kemudian mengusap perut kakak iparnya pelan-pelan.
"Nggak apa-apa kalau cuma gendong, asal jangan dibawa naik gunung sama lari keliling lapangan aja." perempuan itu tergelak.
"Tetep aja." sahut Anna yang kandungannya kini mulai terlihat.
"Bukan cerewet, cuma ngingetin." sergah Anna.
"Inget nggak waktu kehilangan nangisnya kayak gimana? sampai berhari-hari pula?" Alena menyela.
"Dan jangan sampai kebahagiaan yang baru di dapat lagi rusak gara-gara kecerobohan kamu." Alya menimpali.
"Ah, ... iya." Vania menepuk kepalanya pelan.
"Inget tuh!!" Alena melanjutkan.
"Iya adik-adik! aku ingat, aku akan hati-hati." Vania mengembalikan Alea kepada ibunya, kemudian tertawa lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Acaranya belum mau dimulai apa?" Alena menatap sekeliling kafe yang terlihat masih lengang. Hanya ada dia dan keluarganya juga Beberapa pegawai lama yang kembali bekerja setelah libur beberapa bulan karena perbaikan.
"Kita nunggu pengunjungnya datang dulu dong." jawab Vania sambil menatap jam di layar ponselnya, sama seperti ketiga adik iparnya.
"Tapi ini udah hampir jam sepuluh?" Anna menatap dengan cemas.
"Mungkin sebentar lagi." Alya menyahut.
Kemudian mereka mencoba mengisi waktu dengan bercakap-cakap, sebagian membereskan barang yang perlu di bereskan. Membenahi beberapa perabotan agar letaknya lebih tepat dan membuat suasana menjadi lebih nyaman.
"Selebarannya bener-bener di sebar nggak sih?" Vania melihat keluar jendela, dan tidak ada seorangpun pengunjung yang datang.
"Terus, gimana iklannya? bukannya di FB sama IG ramai yang komen ya?" sambung Anna.
"Mungkin penyebaran beritanya nggak maksimal. Jadi orang-orang nggak terlalu ngeuh sama pembukaannya." Hardi memalingkan perhatian dari dua anak balitanya.
"Nggak mungkin, beritanya sudah di sebar dari seminggu yang lalu, dan banyak pesan yang sebagian bertanya kapan pembukaannya akan dilangsungkan." sergah Rasya, yang dalam hal ini bertindak menangani bagian promosi bersama Rendra.
"Terus kenapa belum ada satu aja pengunjung yang datang? padahal kafe ini dulunya paling ramai di blok ini." Vania mulai kesal.
"Hmmm... mungkin belum. Bersabarlah." Arya melipat kedua tangannya di dada.
"Mungkin... karena keberadaan kafe baru di ujung jalan?" Rendra menatap layar ponselnya, yang menayangkan berita dari laman berita online lokal setempat. Tentang sebuah spot makan dan nongkrong anak muda yang sedang naik daun.
__ADS_1
"Mana?" Vania mendekat untuk melihat berita yang Rendra sebutkan.
"Oh, ... pantes aja?" gumamnya dengan kecewa. "Terus habis gini mesti gimana?"
"Kamu lupa ya, kalau kita sedang merintis lagi dari bawah? dan tidak ada hal yang mudah dilakukan di langkah pertama. Semuanya harus menjalani proses yang panjang, bahkan untuk kafe sekelas Rumah Kayu yang pernah jaya sekalipun." Arya merangkul pundaknya perlahan.
"Yang sekarang bisa kita lakukan hanyalah bersabar, dan menunggu. Setelah usaha keras yang kita laukan sebelumnya, pasti akan ada waktunya kafe ini ramai lagi." lanjut pria itu.
"Tapi...
Perhatian mereka kemudian teralihkan, ketika pintu dibuka dari luar dan ada dua orang yang muncul.
"Kafenya sudah buka?" tanya salah satunya, seorang pria dengan kemeja seragam sebuah dealer kendaraan bermotor yang cukup terkenal.
"Sudah, silahkan." sambut Melly, yang sejak tadi terdiam menyimak percakapan anak-anak muda di depannya.
"Ah, ... syukurlah. Sudah lama kami menunggu untuk berkunjung lagi ke kafe ini. Kami rindu suasananya." ucap perempuan yang datang bersama pria tersebut. Mereka kemudian masuk kedalam dengan wajah semringah.
"Iya, mari... menunya tetap sama, tapi ada beberapa menu baru sebagai tambahan, hasil dari food creator kami." Melly menegaskan posisi putrinya.
"Ah, ... senangnya. Kami tetap bisa menikmati cita rasa klasik tapi juga dapat menemukan hal-hal baru. Ini yang saya suka dari kafe ini, tetap mempertahankan apa yang sudah banyak ditinggalkan oleh tempat makan sejenis." perempuan itu berujar.
"Kalau begitu mari, saya tunjukan spot yang tepat untuk anda berdua? agar bisa menikmati produk pertama dari kami." Melly dengan ramahnya melayani pengunjung pertama mereka. Dan berjalan di depan untuk membimbing pasangan tersebut ke area lebih dalam kafe.
Beberpa saat kemudian pintu kembali terbuka, dan beberapa orang yag baru tiba pun masuk, dengan pertanyaan sama dan mereka sama-sama menanyakan banyak hal. Dan begitu seterusnya hingga lewat tengah hari, pengunjung lain terus berdatangan. Yang sebagian dari mereka adalah para pelanggan lama yang sudah terbiasa berkunjung ke tempat tersebut. Dan sebagiannya lagi merupakan pengunjung baru, yang telah melihat berita di media sosial, juga selebaran yang mereka dapatkan di jalan.
"Nah, kan ... hanya butuh sedikit bersabar sayang, ..." Arya kembali merangkul pundak istrinya, yang diam mengawasi keadaan kafe dari balik pantry.
"Abang bener." perempuan itu mendongak.
"Memang." Arya memutar bola mata dan sedikit menggendikan bahunya.
"Dih? abang kecentilan?"
"Apanya?"
"Muka abang begitu?" Vania menunjuk wajah suaminya.
"Masa cuma begini dibilang kecentilan?"
"Ya emang, ... abang jadi aneh."
"Aneh?"
"Iya, sejak aku hamil abang jadi berubah."
"Berubah apanya?"
"Berubah itunya."
"Apa?"
"Kelakuannya."
"Masa?"
"Hu'um, ... apa bawaan bayi?"
"Apa hubungannya?"
"Bisa jadi. Orang bilang kadang ada yang berubah kalau perempuan lagi hamil. Entah itu kelakuan suaminya, atau yang lainnya?"
"Benarkah?"
"Iya. Mungkin abang salah satunya?"
"Mungkin juga." kemudian Arya menarik perempuan itu masuk kedalam ruangan di belakang pantry. Sementara saudara-saudatanya dan pegawai lain juga Melly tengah sibuk melayani pengunjung yang membludak di hari pertama pembukaan kafe tersebut.
🌺
🌺
🌺
Berambung...
Hai reader tersayang, maaf up Hari Ini benar-benar telat. Maklum, emak lagi banyak kerjaan di dunia nyata yang nggak bisa di tunda sama sekali.
like komen dan hadiah masih selalu di tunggu ya, kalau vote kasih Didim aja 😁😁
__ADS_1
lope lope segudang. 😘😘😘