
🌺
🌺
Vania segera naik ke lantai atas begitu mereka tiba dirumah, kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Kamu baik-baik saja?" Arya mendekatinya saat dia menangkap gelagat tak biasa pada wajah istrinya.
"Iya, ... cuma pinggang aku kok rasanya pegel ya?" Vania menyentuh pinggangnya sendiri.
"Sakit?" Arya duduk di sampingnya.
"Bukan sakit, tapi pegel, agak panas juga."
Arya mengusap-usapnya perlahan.
"Mau ke dokter?"
"Nggak usah, baru kemarin ke dokter."
"Terus abang harus apa?"
"Usap-usap aja, aku mau bobo." dia merebahkan kepalanya diatas bantal dengan posisi miring memunggungi suaminya.
"Baru jam delapan?"
"Bodo ah, ..aku capek ngejar-ngejar Alea seharian."
"Siapa suruh kamu kejar-kajar Alea?"
"Abisnya dia nggemesin. Kalau diijinin tadinya aku mau ajak dia pulang kesini."
"Hmm...
"Abang?" Vania hampir memejamkan mata.
"Ya?"
"Mandi dulu gih, abang bau." katanya.
"Apa?"
"Mandi dulu... abang bau. Nanti aku Bobonya nggak nyenyak."
Arya terdiam.
"Mandi abang!!!"
"Kamu juga tidak mandi? baju juga tidak kamu ganti?" pria itu bangkit.
"Aku nggak bau." ucap Vania, asal.
"Ayo kamu juga mandi." Arya menarik tangannya sehingga Vania bangkit.
"Nggak mau. Kan ibu hamil nggak boleh mandi malem-malem."
"Masa?"
"Iya, nanti masuk angin." perempuan itu terkikik.
"Ini juga sudah masuk angin." Arya menyentuh perutnya.
"Iya, angin sama sesuatu." dia tertawa lagi. "Udah ah, ... sana abang mandi. Kalau nggak mandi bobonya disana." Vania menunjuk sofa di ujung ranjang.
Arya memutar bola matanya.
"Kalau Bobonya masih siangan gini besok bisa bangun subuh."
"Memangnya mau kemana?"
"Mau jalan pagi."
"Jalan pagi?"
Vania menganggukan kepala.
"Kata dokter kalau hamilnya udah besar harus banyakin jalan kan? jalan pagi ke Gasibu kayaknya bagus?"
__ADS_1
"Ke Gasibu? yakin?"
"Iya, udah lama juga nggak kesana."
"Hmm...
"Cepetan ih mandi, biar bisa bobo!"
🌺
🌺
Arya merasakan tubuhnya berguncang keras dalam tidurnya. Lalu dia membuka matanya dengan terpaksa, meski rasa pening seketika menyerang akibat kekurangan tidur karena hampir semalaman dirinya terjaga untuk meladeni keluhan Vania soal sakit dan panas pada pinggangnya.
"Sebentar Van."
"Udah pagi abang." ucap Vania dan dia menunjuk ke arah jendela yang tirainya sudah dia buka.
"Hmm... perasaan abang tidur baru sebentar?" pria itu memaksakan diri untuk bangun.
"Ayo cepetan mandi, mumpung masih pagi." Vania dengan bersemangatnya. Namun Arya malah mengerutkan dahi ketika dilihatnya perempuan itu sudah siap dengan legging dan hoodienya.
Vania bahkan telah mengenakan sepatu olah raga yang sepertinya sudah lama sekali tidak dia pakai untuk pergi kemanapun.
"Kamu mau kemana?"
"Ish, ... abang lupa ya? kita ka mau lari pagi?"
Pria itu masih mengerutkan dahi lagi.
"Eh, ... jalan pagi maksudnya."
"Hah, ... abang masih ngantuk." Arya kembali menjatuhkan kepalanya diatas bantal.
"Ish, abaaaang... " Vania menarik lengannya agar dia bangun.
"Rasanya abang baru tidur dua jam, dan kepala abang terasa pusing sekarang ini." gumam pria itu.
"Bangun abang!!!" Vania terus menariknya, yang akhirnya dia berhasil juga memaksa suaminya turun dari tempat tidur dan mendorongnya ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vania menghentikan langkahnya kemudian tertawa.
"Mungkin sebaiknya kita pindah kamar lagi ke bawah." pria itu berujar.
"Kenapa?"
"Biar kamu tidak usah bolak-balik jalan di tangga. Bahaya. Abang ngeri melihatnya."
"Hmm... terserah abang aja."
"Iya, nanti sore kita pindah."
"Oke, ..." Vania menuruni tangga lebih dulu. Dia berusaha berjalan pelan meskipun hatinya merasa tidak sabar. Semakin hari dia merasa semakin bersemangat dan adrenalinnya selalu terpacu setiap kali melakukan sesuatu. Kehamilan nyatanya berefek sangat besar kepadanya.
"Pinggang kamu sembuh?" Arya mengikutinya dari belakang.
"Pinggang?"
"Semalam bukannya pinggang kamu pegal dan panas?" pria itu mengingatkan.
"Oh iya aku lupa." Vania berhenti berjalan di tengah-tengah tangga, kemudian berbalik. "Setelah semalaman abang usap-usap kayaknya sembuh deh."
"Oh ya?" pria itu mengulurkan tangannya. Dia merasa ngeri melihat posisi Vania yang berada di tengah tangga dengan posisi seperti itu.
"Serius. Jadi beneran nggak usah ke dokter kan?" dia tertawa, dan Vania hampir saja meraih uluran tangan Arya, ketika jari-jarinya gagal bertautan dan membuat keseimbangannya terganggu. Dia terhuyung ke belakang.
"Van!" Arya mencoba meraihnya.
Kakinya bergerak untuk mencari pijakan di belakangnya, dan tangan sebelahnya hampir saja meraih pegangan tangga namun gagal. Keseimbangannya menghilang dan dia bagai melayang di udara. Sekejap kemudian tubuhnya membentur tangga kemudian berguling hingga mencapai lantai paling bawah.
Arya merasakan napasnya tertahan dan jantungnya berhenti berdetak. Menatap kejadian di depannya yang berlangsung dalam kedipan mata.
"Vania!!" Arya berteriak, dan dalam sekejap saja perempuan itu sudah berada di bawah dalam posisi meringkuk.
"Tidak, Vania!!" dia melewati tangga dalam dua kali lompatan, dan segera meraup tubuh istrinya yang tampak tak ada pergerakan.
__ADS_1
"Vania!!" Arya mengusap wajahnya yang seketika memucat, namun matanya masih terbuka, dengan napas yang berhembus terputus-putus.
🌺
🌺
Melly menyongsong sang menantu yang terduduk di ruamg tunggu, dalam keadaan berantakan dan sebagian pakaiannya basah terkena darah. Di sampingnya, lampu darurat ruang UGD menyala tanda proses penanganan pasien tengah berlangsung.
"Apa yang terjadi?" dia bertanya, saat sebelumnya mendapat panggilan telfon dari pria itu yang terdengar panik.
Belum sempat Arya menjawab, pintu ruang gawat darurat tiba-tiba terbuka dan sang dokter muncul.
"Tindakan operasi persalinan harus segera dilakukan, Kondisinya benar-benar tidak baik untuk ibu dan bayinya, dan salah satunya tidak akan selamat." ucapnya, yang membuat orang-orang di depannya begitu terhenyak.
"Apa tidak bisa dua-duanya diselamatkan?" Harlan maju ke hadapan dokter.
"Tindakan harus segera dilakukan untuk menyelamatkan salah satunya." jawab dokter.
"Selamatkan mereka berdua." ucap Harlan dengan tegas.
"Suaminya?"
Pria itu menoleh ke arah menantunya yang sedang dalam keadaan kalut.
"Dia menginginkan mereka berdua selamat."
"Tapi... harus saya katakan dengan jujur kalau kemungkinannya kecil. Ibu, atau bayinya yang selamat." dokter ragu-ragu.
"Dokter!" Harlan sedikit berteriak. "Selamatkan mereka berdua, kami percaya kepadamu!" katanya.
Sang dokterpun terdiam.
"Aku mohon,... selamatkan mereka berdua." Arya setengah berbisik. Dia tak tahu apa yang harus diucapkan. Namun segala hal bertumpuk di kepalanya.
Tentang Vania, tentang bayinya, dan tentang mereka.
Bagaimana hal itu terjadi dengan cepat, dan bagaimana mereka akan menjalani hidup setelah ini.
"Aku mohon dokter."
Lalu sang dokter kembali masuk kedalam sana tanpa banyak bicara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vania tercenung dengan pikiran yang tidak menentu. Tubuhnya terasa begitu lemas, dirinya tak bisa menggerakan satupun jarinya, bahkan untuk sekedar memberi isyarat kepada seseorang di dekatnya bahwa dirinya merasa sangat kedinginan.
Hanya lampu besar diatasnya yang bersinar begitu terang yang terus membuatnya terjaga. Dia bahkan mendengar suara-suara orang berbicara dengan istilah yang tidak dia mengerti.
injeksi.
Anestesi.
Bius total.
Apa yang sedang mereka lakuka kepadaku? batinnya.
Dia mencoba melihat namun tak ada yamg dapat dia lihat. Pandamgannya terhalang sebuah kain berwarna hijau yang terpampang di depannya. Namun dia tahu, beberapa orang disana sedang melakukan sesuatu kepadanya.
Abang?? suara di kepalanya berteriak nyaring.
Abang mereka mau apa?
Abang dimana??
Lalu pandangannya terkunci pada sesuatu yang diangkat ke udara. Seperti sebuah boneka kecil berwarna merah yang dipenuhi cairan darah atau semacamnya.
Vania mengerutkan dahi, dan dia mengingat sesuatu.
Bayangan saat dirinya jatuh terguling di tangga berkelebat di pelupuk mata. Juga kepanikan Arya saat cairan darah mengalir dari pangkal pahanya.
Napasnya tertahan sejenak.
Anakku?!
🌺
🌺
__ADS_1
🌺
Bersambung ...