
๐บ
๐บ
Arya tak pernah mampu menahan senyuman yang terus terbit di bibirnya sepanjang hari. Dan dia tampak lebih ramah dari biasanya. Pria itu bahkan sudah jarang mengomel ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Pak Arya sebentar lagi ulang tahun ya?" seorang karyawan bertanya kepada Cindy saat mereka bertemu di lorong.
"Nggak. Ulang tahunnya masih lama." jawab Cindy.
"Tapi kelihatan ceria gitu, tiap hari senyum melulu?"
"Ya bagus dong? biar nggak tegang terus."
"Ya kali, kirain kamu nggak tegang kalau kerja deket dia? kan tiap jam ketemu?"
"Sama aja, apalagi kalau ada kesalahan, kan aku yang pertama kena semprot." jawab Cindy, lalu tertawa.
"Iya ya, kuat ih kamu menghadapi dia yang seperti itu?"
"Tuntutan kerjaan."
Kemudian mereka berdua menoleh ketika seseorang berlari dari lorong.
"Pak Arya datang, ... standby!!" katanya, yang tentu saja membuat semua yang berada di area itu berhamburan seketika kembali ke meja kerja mereka.
"Siang Pak?" sapa Cindy yang selalu menjadi orang pertama yang menyapa ketika pria itu tiba. Dia mengekori Arya hingga masuk keruangannya.
"Siang." dia meletakan sketsa rancangan gedung yang dibawanya dari pertemuan beberapa saat yang lalu.
"Bagaimana pertemuan hari ini pak?" Cindy bertanya.
"Lancar." jawab arya.
"Dan hasilnya?"
"Tender pembangunan gedungnya kita menangkan."
"Selamat pak."
"Terimakasih, nanti kamu mulai hubungi pihak pengembang dan kontraktor ya? agar kita bisa percepat proses pembangunanya. Saya mau akhir bulan ini semuanya siap." Arya yang duduk di kursi kerjanya.
"Baik Pak, akan saya kerjakan sekarang."
"Terimakasih, Cindy." ucap Arya dengan ramah, dan hal tersebut tentu saja membuat Cindy mengerutkan dahi, karena memang tak biasanya atasannya tersebut bersikap seperti itu.
"Oh iya, makan siang sudah datang?" tanya Arya setelahnya.
"Belum Pak. Mungkin sedang dalam perjalanan." jawab Cindy seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah, nanti kalau sudah datang tolong suruh Vania kesini ya?" katanya.
"Baik Pak."
"Satu lagi, kamu sudah atur jadwal selama saya cuti untuk pernikahan adik saya minggu depan?"
"Sudah Pak. Semua jadwal selama tiga hari saya kosongkan."
"Begitu? baik terimakasih." katanya lagi.
"Ya Pak, sama-sama." ucap Cindy yang kemudian keluar dari ruangan tersebut ketika melihat atasannya sudah sibuk dengan ponselnya.
๐บ
๐บ
Dua orang ofice boy membantu Vania menurunkan makan siang pesanan dari gedung tersebut. Yang langsung mereka bawa ke bagian belakang untuk diatur pengirimannya ke masing-masing divisi.
Gadis itu berjalan semangat seperti biasa, dengan menenteng sebuah totebag berisi kotak makan siang khusus untuk Arya.
"Mbak, dipanggil Pak Arya keatas." Cindy datang menghampiri.
"Saya?" Vania menunjuk dirinya sendiri.
"Iya."
"Oh, ... oke." gadis itu segera melesat kedalam lift yang kebetulan pintunya terbuka, yang kemudian membawanya kelantai atas gedung tersebut.
***
Vania mengetuk pintu ruang kerja Arya yang tertutup rapat, kemudian perlahan membukanya.
"Abang manggil aku?" tanyanya, dengan kepala yang dia sembulkan dicelah pintu yang terbuka sedikit.
"Masuk Van." Arya memalingkan pandangan dari kertas gambarnya.
Gadis itu menurut, dan dengan langkah ringan dia memasuki ruangan tersebut.
"Kamu bawa makan? abang lapar." Arya duduk di sofa tak jauh darinya.
"Ini." Vania mengangkat totebag yang dibawanya untuk dia tunjukkan kepada Arya.
Arya tersenyum, kemudian menepuk sisi sofa yang kosong disampingnya. Dan Vania segera menghampirinya, seraya meletakan barang bawaannya di meja.
"Banyaknya?" gumam pria itu saat Vania membuka kota makanannya. Berisi nasi, sayuran hijau, dan beberapa potong daging berbumbu merah.
"Sengaja, kan abang bilang lapar?"
"Tidak sebanyak itu." Arya terkekeh.
"Kita makan sama-sama, aku juga belum makan siang." Vania terkekeh.
"Masa?" Arya memiringkan posisi, dan sedikit menyandarkan kepalanya pada tangan yang bertumpu pada kepala sofa.
"Hu'um."
"Langsung kesini?" tanya pria itu lagi.
"Manis sekali." ucapnya.
"Apaan?" Vania menoleh, seraya menyerahkan satu kotak makan kepada Arya.
"Kamu langsung antar makanan kesini begitu selesai memasak." dia menerima makanan tersebut.
"Kan biar cepat beres." ujar Vania, dan dia mulai melahap makanannya.
Arya tertegun.
"Dan biar cepet ketemu abang juga." lanjutnya, yang seketika memunculkan senyuman di bibir Arya.
"Tadinya mau suruh Mimi yang antar tapi ...
"Kalau suruh Mimi nanti kita nggak ketemu?" sahut Arya.
"Iya, gitu maksudnya." Vania tergelak.
"Seminggu ini abang pasti sibuk." Arya meneruskan percakapan.
"Bukannya setiap hari abang sibuk ya?" Vania mengunyah makanannya dengan cepat.
"Tapi minggu ini lebih sibuk. Kan Anna minggu depan mau menikah, jadi abang harus menyelesaikan beberapa hal sebelum ambil cuti." jelas Arya.
__ADS_1
"Oh, ... iya ya."
"Persiapannya sudah sampai mana?"
"Delapan puluh persen lah. Nanti sore aku cek ke kafe, dua hari sebelum hari H semuanya udah beres kok. Tenang aja."
"Pinter." Arya mengulurkan tangannya untuk mengacak kepala gadis itu.
"Ish, abaaangg!" Vania menghindar.
Arya tergelak, dia sangat menyukainya setiap kali gadis itu bereaksi demikian.
"Abang akan kangen saat-saat seperti ini." pria itu berucap.
"Abang kayak yang mau kemana aja pake bilang kangen?"
"Ya, memang. Minggu ini kita akan jarang bertemu."
"Iya gitu?"
"Hmm ..." Arya mengangguk.
"Nanti aku kan antar makanan kesini, atau abang bisa ke kedai."
"Nggak bisa. Abang tidak akan sempat keluar."
"Kenapa?"
"Sudah abang bilang seminggu ini banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."
"Oh, ... cuma buat makan aja nggak bisa?"
"Kalau diantar kesini bisa."
"Oke, aku usahain antar terus. Biar bisa ketemu juga." Vania terkekeh lagi.
"Hmm ...
"Makan Bang, jangan dilihatin terus." Vania yang menyadari pria disamping hanya terdiam menatapnya.
"Abang suka lihatnya."
"Nggak akan kenyang kalau dilihatin melulu Bang." ucap Vania.
"Hah, apa?"
"Nasinya makan," Vania menoleh. "Nggak akan kenyang kalau abang lihatin aku makan doang." katanya, sambil meneruskan makannya.
Lalu Arya melakukan hal yang sama, dan merekapun makan dalam diam.
***
"Aku pulang ya?" ujar Vania setelah mereka menuntaskan makan siangnya.
"Tidak bisa sebentar lagi?" Arya meneguk air minumnya hingga tandas.
"Ng ... jam segini kedai biasanya rame," gadis itu melirik jam dinding. "Lagian kalau kelamaan disini, orang-orang bisa curiga?"
"Curiga?"
"Hmm ..." Vania mengangguk. "Masa yang ngantar makanan sering mampir keruang kerja, mana lama lagi?" katanya.
"Makanya jangan rahasia-rahasiaan, biar nggak aneh kalau orang lihat kita sama-sama seperti ini." ucap Arya.
"Itu lagi." gumam Vania seraya menutar bola matanya.
Arya tertawa.
"Abang!!" pekiknya, dan dia terjatuh ke pelukan Arya.
"Tahu kita akan jarang bertemu sudah membuat abang rindu." bisiknya, dan dia memeluk tubuh Vania dengan erat.
"Abang ih, ..." Vania mencoba melepaskan diri, namun Arya memeluknya semakin erat.
"Jangan gini, nanti ada yang masuk!" gadis itu meronta.
Arya tergelak. "Cuma sebentar." dia setengah berbisik.
"Nanti juga ketemu lagi."
"Kapan?"
"Nanti sore? abang kan suka mampir ke kedai kalau pulang kerja?"
"Nanti lembur sampai malam. Ada gambar yang harus abang selesaikan. Mungkin kamu sudah tutup pas abang pulang?"
"Besok siang aku kesini lagi antar makan."
"Besok ada survey lokasi sampai sore."
"Ya udah, sorenya?"
Arya menarik napas lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Masih kerja sampai malam juga, sampai hari Jum'at." katanya.
"Dih, ... padat banget jadwalnya?"
"Kan mau cuti?"
"Ya udah, paling nanti ketemunya pas siraman kak Anna aja." Vania bangkit, setelah Arya melonggarkan rangkulan tangannya.
"Lama ya?" Arya pun membenahi posisi duduknya.
"Hmm ... aku juga soalnya sambil bolak-balik ke kafe buat periksa persiapannya kan?"
"Hmm ... sibuk bu?" goda Arya.
"Iya, lumayan Pak. Ngurusin kawinan orang." Vania menanggapi.
"Kawinan sendiri kapan?"
"Kapan-kapan aja."
"Setelah Anna, mau?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Ish, ... sulitnya ngajak kamu serius?" keluh Arya, lalu terkekeh.
"Abang terlalu serius."
"Ya ... apalagi?"
"Santai dulu kek?"
"Kamu terlalu santai."
__ADS_1
"Ya santai aja, emangnya mau kemana?"
"Mau ke pelaminan."
"Ish, ... beresin nikahan kak Anna dulu lah."
"Setelah itu?"
"Baru mikirin yang lain."
"Kita?"
"Ng ... lihat nanti ajalah, ..." Vania mengalihkan pandangan.
"Kapan?" Arya memiringkan kepala.
"Nanti."
"Nantinya kapan?"
"Ya nggak tahu, nanti aja." Vania dengan gemas.
"Karena abang mulai nggak sabar." Arya berujar.
"Nggak sabar soal apa?" Vania kembali menatap pria disampingnya.
"Hubungan ini."
"Maksudnya?"
"Nanti itu terlalu lama, dan lagi ...
"Aaaa ... jangan bahas dulu soal itu, ... aku pusing!" Vania mengacak kepalanya sendiri.
"Dengar Van, ..." Arya meraih kedua tangan gadis itu yang tengah memegangi kepaanya.
"Nggak mau, ..." Vania menggelengkan kepalanya.
"Kalau perasaan kita sama, lalu mau menunggu apa lagi? kita juga sudah kenal lama."
"Tapi aku belum siap kalau untuk nikah sekarang Bang. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan, dan itu butuh waktu ...
"Apa yang harus kamu kerjakan? bukankah sekarang kamu memang sedang mengerjakan sesuatu?"
"Bukan itu ish, ...
"Terus apa? Kamu selalu beralasan kalau abang bahas soal ini."
"Bisa nggak sih kalau kita jangan bahas soal nikah dulu? aku mau gini dulu. Menikmati masa-masa kayak gini, kayak orang lain gitu?"
"Kita tidak bisa menikmati hal ini, bahkan kita menjalani hubungan ini secara sembunyi-sembunyi. Seperti abege yang kucing-kucingan dengan orang tuanya. Atau seperti sedang berselingkuh dari pasangannya?"
"Abang tidak mengerti apa yang sedang kamu sembunyikan? kita sama-sama sudah dewasa, dan sama-sama singel, lalu apa yang mungkin menghalangi kita untuk melanjutkan hubungan ini ke hal yang lebih serius?"
Vania terdiam.
"Apa ada masalah dengan hubungan ini?" Arya menunduk untuk melihat wajah gadis itu lebih jelas.
"Ng ... ada yang harus aku selesaikan." Vania dengan suara pelan.
"Apa?"
"Ng ... aku ada janji ...
"Janji apa?"
"Itu, ... mmm ...
Arya menatapnya dengan serius.
"Aku belum bilang sama ibu soal hubungan kita."
"Kenapa?"
"Belum sempat."
"Kapan mau bilang?"
"Nanti."
"Kapan?"
"Setelah beres nikahannya kak Anna." dia terpaksa memberi jawaban, hanya supaya pria itu berhenti mendesaknya.
Arya terdiam, namun kemudian muncul senyuman di sudut bibirnya.
"Benar?"
"Bener."
"Abang pegang janji kamu."
"Lagian abang ngebet bener pengen serius?"
"Memangnya kamu tidak mau? hanya mau bermain-main?"
"Ya nggak juga."
"Terus kenapa kamu susah sekali diajak serius?"
"Kecepetan bang, aku kaget." Vania beralasan.
"Niat baik itu harus di segerakan tahu?"
"Abang rusuh deh!"
"Vania, kamu ..."
Tiba-tiba saja gadis itu menghambur kehadapan Arya sehingga jarak diantara mereka menghilang. Dan pertemuan bibir keduanya tak bisa di elakan, yang seketika membungkam mulut Arya yang hendak melontarkan perkataan.
"Ng ...
Vania menyesapnya sekilas seperti yang dilakukan pria itu kepadanya tempo hari, lalu mengecupnya beberapa kali. Persis seperti yang di lakukan Arya.
"Abang ngomong terus, berisik!" ucapnya setelah melepaskan bibirnya dari Arya.
"Pulang dulu lah, aku banyak kerjaan." dia bangkit, kemudian menghambur keluar dari ruangan itu dengan wajah yang memerah menahan malu.
Aku sudah gila! batinnya, dan Arya membeku di tempat duduknya.
๐บ
๐บ
๐บ
Bersambung ...
Omegat!! mulai pada berani ya? ๐คญ๐คญ๐คญ
like komen hadiahnya dooooongg๐๐๐
__ADS_1