Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Hal Yang Baik


__ADS_3

🌺


🌺


Vania menjatuhkan tubuhnya di sofa. Perjalanan pulang hari itu terasa cukup melelahkan. Melalui drama macet yang membuat frustasi, juga karena cuaca tak bersahabat yang menyebabkan banjir dimana-mana.


Arya pun melakukan hal yang sama, dan dia bahkan menelungkupkan tubuh tingginya diatas perempuan itu.


"Berat abang!" Vania mendorong dada suaminya agar menjauh.


"Diamlah, abang capek." Arya bergumam.


"Ya aku juga sama." Vania terus berusaha menjauhkannya.


"Makanya diam, abang mau istirahat." ucap Arya, yang malah melingkarkan kedua tangannya di tubuh Vania, lalu memeluknya dengan erat.


"Dih, ... pakek peluk juga? gerah abang! " protesnya lagi.


Pria itu tak menjawab, dia bahkan sudah memejamkan matanya.


"Abang!" Vania merengek.


"Abang bangun dulu ish, ... aku mau mandi lah." Vania menggerakan tubuhnya untuk melepaskan diri.


"Hah?" pria itu membuka mata, kemudian sedikit mengangkat kepalanya, menyebabkan Vania yang berada dibawahnya bisa melepaskan diri.


"Mandi?" ucapnya kemudian.


Vania segera menghambur kelantai atas dimana kamar mereka berada.


"Ikutlah, ..." Arya turut bangkit dari posisinya.


"Katanya mau istirahat? mau sekalian pindah istirahatnya?"


"Bukan." Arya menggelengkan kepala.


"Terus ngapain?"


"Ikut mandi." dia tergelak.


"Dih? katanya capek?"


"Memangnya kalau capek tidak boleh mandi?" pria itu berujar.


"Mencurigakan." Vania bergumam, lalu setelah tiba di tangga paling atas, dia berlari kedalam kamar dan segera menghambur kedalam kamar mandi.


"Van!" Arya seketika mengejarnya.


"Aku mau mandi duluan." Vania berusaha menutup pintu.


"Kita mandinya barengan." namun Arya menahannya dengan sebelah kakinya.


"Nggak mau!!"


"Kemarin kamu ngikutin abang mandi terus, kenapa sekarang tidak mau?"


"Nanti mandinya plus-plus."


"Kan kamu yang mancing." Arya berusaha mendorong daun pintu agar terbuka.


"Ya abang aja yang gampang kepancing." ucap perempuan itu yang sekuat tenaga bertahan di belakang pintu.


"Apa?"


"Aku kan cuma ...


BRAAKK!!


Arya mendorong dengan sekali hentakan, dan pintu itu terbuka dengan mudahnya, sementara Vania terhenyak dengan punggungnya yang merapat pada dinding.


"Cuma memancing ya?" pria itu melepaskan kaus dari tubuh atletisnya, kemudian mengungkung tubuh kecil Vania diantara kedua tangannya. Sehingga perempuan itu semakin merapat ke tembok.


"Ng...


"Dan pancinganmu berhasil huh?" Arya berbisik, kemudian menggigit telinga Vania dengan gemas.

__ADS_1


"Sekarang, kalau abang yang memancing, kamu akan terpengaruh tidak?"


"Mmm... " Vania menggelengkan kepala dengan pelan.


"Yakin?"


Lalu perempuan itu mengangguk.


Arya menyeringai, kemudian dia melakukan apa yang sudah terlintas diotaknya sejak mengejar Vania kedalam kamar mandi.


🌺


🌺


"Hari ini mau pergi?" mereka sama-sama telah berpakaian rapi pada keesokan harinya. Arya dengan stelan kerja, dan Vania dengan skinny jeans dan jaket kulit yang seperti biasa dipakainya untuk mengendarai motor.


"Mau ketemu ibu. Tadi malam nelfon nyuruh kerumah." Vania mengaduk kopi hitam milik suaminya.


"Oh ya? kok abang tidak tahu?" pria itu mengerutkan dahi.


"Iyalah, abang tidur udah kayak orang pingsan. Nggak bangun-bangun lagi sampai pagi." perempuan itu mengunyah sarapannya.


"Abang capek tahu?"


"Ya... gimana nggak capek, abis perjalanan jauh, diterusin sama perjalanan nanjak?" cibir Vania, namun kedua pipinya jelas merona ketika mengingat kejadian semalam. Saat mereka kembali dalam pergumulan panas yang berulang-ulang, dan baru berhenti setelah pria itu memejamkan mata.


"Sayang, ... kan biar berhasil." Arya terkekeh.


"Berhasil apanya?"


"Berhasil punya anak."


"Dih, modus?" cibir Vania lagi.


"Modus apanya? kamu juga...


"Stop! lama-lama abang jadi mesum!" Vania meneguk susu coklatnya sampai habis, kemudian membersihkan mulutnya dengan tisyu.


"Iya, kan gara-gara kamu." Arya meneruskan ocehannya.


Pria itu kemudian tetawa terbahak-bahak.


"Udah ah, aku mau pergi. Abang mau pergi sekarang apa sebentar lagi?" perempuan itu bangkit dari kursinya, lalu mengenakan jaket kulitnya.


"Sekarang saja. Kamu mau bawa motor?" Arya kemudian bertanya.


"Iyalah. Biar pulangnya gampang. Nggak harus nunggu abang dulu."


"Memangnya sudah bisa?"


"Bisa."


"Tidak apa-apa?"


"Nggak. Di naikin abang aja udah nggak apa-apa, berarti udah bisa bawa motor." Vania dengan cueknya.


"Ish, ... kamu tuh?" dia merangkul pundak istrinya, dan sedikit meremat bahu perempuan itu dengan gemas.


"Nanti ke kedai dulu?" Arya kemudian bertanya.


"Sebentar kayaknya, terus langsung pulang." kini dia mengenakan helmnya.


"Tumben?"


"Udah nambah ini yang kerja, kenapa aku harus repot-repot?"


Arya kemudian tersenyum.


"Pergi ya?" katanya, setelah mengecup sudut bibir suaminya.


Arya terhenyak, dan dia hampir membuka mulutnya untuk berbicara.


"Nggak usah bilang makasih, aku seneng ngelakuinnya." Vania tergelak, kemudian menstarter motor maticknya, dan segera pergi dari hadapan suaminya.


🌺

__ADS_1


🌺


"Ibu bercanda nih?" Vania bereaksi saat Melly membicarakan tentang pembagian uang asuransi yang sudah dia terima hari itu. Sepulangnya mereka dari kantor asuransi bersama Harlan yang dengan setia mendampingi keduanya.


"Ibu tidak bercanda."


"Tante Rahma itu udah merugikan kita bu, terutama ibu. Dia sendiri yang bikin haknya pantas kita ambil untuk ganti rugi. Yang jumlahnya lebih besar daripada bagiannya."


"Ibu tidak memikirkan itu. Ibu hanya berpikir, inilah penyebab dia berbuat buruk seperti itu. Karena haknya yang tidak ibu berikan."


"Kan udah jelas, kenapa kita nggak ngasih bagiannya tante Rahma. Lagian dia juga udah dapat jatah bulanan dari hasil kafe kan?"


"Tapi bukan itu yang dia mau. Dia hanya ingin bagiannya. Itu saja. Dan seharusnya ibu berikan saja bagian Rahma, sehingga tidak menyebabkan dia salah sangka dan berbuat jahat. Ibu juga merasa punya andil untuk apa yang dia lakukan."


"Bu...


"Sudah ya, Van. Jangan berdebat lagi. Jangan juga khawatir, bagian kamu akan ibu berikan juga setelah ini."


"Bukan itu yang aku mau, tapi hak ibu. Aku nggak mikirin soal bagian aku, aku masih mampu menghidupi diri aku sendiri. Tapi hak ibu dan apa yang harus di pertanggungjawaban sama tante Rahma."


"Tante Rahma itu tantemu, adik dari ayahmu. Itu membuat dia menjadi bagian dari keluarga kita, yang tidak bisa kita rubah walau apapun yang terjadi."


"Jadi intinya?"


"Ibu akan tetap memberikan setengah dari apa yang kita dapat dari asuransi."


"Terus kafenya?"


"Masih bisa kita bangun dari bagian ibu."


"Emang cukup?"


"Kita akan mulai semampunya. Mungkin tidak bisa langsung sebesar dulu sebelum kebakaran, tapi dulu kita juga mulai dari warung makan kecil bukan? dan kita mampu sampai sejauh ini. Jadi, apa yang kita khawatirkan? kita pasti bisa."


Vania terdiam menatap wajah perempuan tangguh berhati lembut itu.


"Percayalah, kita pasti bisa." Melly meremat tangan putrinya.


"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran ibu." Vania berucap.


"Tidak usah mengerti, tapi percayalah, ini hal baik dan semoga akan berdampak baik juga kepada kita." ujar Melly, dengan senyum lembut di bibirnya.


Vania terdiam lagi.


"Bukankah jika kita berbuat hal baik itu akan berbalik juga kepada kita? Mungkin dengan hal yang lebih baik dari ini." Harlan buka suara, setelah menyimak percakapan ibu dan anak di depannya.


Vania menoleh.


"Apa yang akan dilakukan ibumu itu hal yang baik. Dan sepertinya hal baik juga untuk mendukungnya." lanjut pria itu.


"Dan semoga dengan begitu, tantemu akan berubah menjadi lebih baik juga. Setidaknya dia tahu, bahwa berbuat baik itu adalah hal yang bagus. Dan jika setelah dia mendapatkan haknya tetap tak membuatnya berubah juga, maka tanggung jawab kita terputus setelah itu. Urusan kita selesai dengannya."


Vania kemudian beralih lagi kepada ibunya.


"Baiklah, terserah ibu. Yang penting ibu senang melakukannya. Buka karena terpaksa." ujarnya.


"Tidak Van. Seperti yang pak Harlan katakan tadi, ini hal baik untuk dilakukan. Memberikan Rahma haknya yang memang seharusnya dia miliki."


Dan akhirnya Vania menyetujui ide sang ibu untuk menyerahkan sebagian yang mereka dapatkan kepada adik perempuan dari ayahnya itu.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Hmmm... terserah deh, yang penting Semuanya berakhir baik. oke gaess? 😁😁


Biasalah, like komen sama hadiahnya dikirim setelah baca, kalau vote sih kirim ke dede Dimitri aja ya biar popnya naik 😜😜


udah pada mampir belum? 😂😂😂


__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2