Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Bawaan Bayi


__ADS_3

🌺


🌺


"Janinnya sehat, anggota tubuhnya sudah lengkap dan sempurna. Hanya beratnya yang kurang sedikit, tapi semuanya ada dalam keadaan baik. Semoga terus seperti itu sampai kelahiran nanti ya? hanya tinggal meningkatkan berat badan bayi." ucap dokter seraya mengalihkan perhatian dari layar monitor.


"Akhir-akhir ini Vania jarang makan, apa itu berpengaruh pada kandungannya?" Arya bertanya.


"Sejak kapan?"


"Sejak kandungannya empat bulan. Setiap pagi dia muntah hebat, apalagi setelah makan. Bukankah biasanya itu terjadi di awal kehamilan?"


"Hmm... mungkin itu yang menyebabkan berat badan bayinya kurang, tapi itu bisa saja terjadi, hanya saja satu diantara beberapa. Makanan tidak harus nasi dan lauknya, bisa juga berupa roti, biskuit atau apapun. Yang penting sehat dan bergizi. Dan minum susu untuk meningkatkan berat badan bayi agar tidak kekurangan nutrisi. "


"Aku nggak bisa makan dokter, baru mikirin makanan aja rasanya udah mual. Apalagi beneran di makan. Pasti muntah-muntah." Vania mengadu.


"Harus dipaksa ya, takutnya kalau tidak memaksakan makan akan lebih berpengaruh pada janin. Nanti saya beri obat untuk mengurangi mualnya."


"Baik."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu tidak dengar tadi dokter bilang apa?" Arya menunggu Vania menyuapkan makanannya.


Namun perempuan itu tampak enggan, dia malah menutup mulut dan hidung dengan kedua tangannya.


"Baunya nggak enak bang, terus makanannya kelihatannya gitu."


"Ini yang seperti biasanya ibu kirim. Malah tadi ibu tanya, besok mau bikin apa biar kamu bisa makan?"


"Tetap aja rasanya mual kalau lihat makanan begitu. Abang nggak ngerasain sih gimana mualnya ..." Vania bergidik seolah telah menemukan hal paling menjijikan di dunia.


"Tetap saja kamu harus memaksakan diri, tidak ingat apa kata dokter soal berat badan anak kita yang kurang? kamu tega membiarkan dia kekurangan nutrisi?" Arya mengingatkan.


"Ya nggak lah, masa gitu? nggak akan juga, dia kan menyerap makanan dari badan aku." jelas Vania.


"Tapi kalau kamu tidak makan, apa yang akan dia serap?" Arya membalikan perkataan.


Akhirnya dengan terpaksa Vania mengambil satu sendok nasi dan sayuran dari piringnya. Walau bau tidak enak menguar di indera penciumannya, dan rasa mual mulai menjalar ketika makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Yang akhirnya tetap membuat dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Arya mendengus keras, dan dia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Otaknya berputar cepat mencari cara.


***


"Sumpah, yang tadi itu nggak enak banget!" Vania bersungut-sungut sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangan, lalu dia kembali pada tempat duduknya.


"Nggak mau ah,... cari makanan lain kek. Nanti bilang sama ibu nggak usah kirim lagi makanan, sayang nggak akan aku makan. Kasihan juga ibu harus repot bikinin makanan, padahal sekarang ada yang harus di urus juga selain aku."


"Terus abang? kamu pikir abang tidak butuh makan?" Arya baru saja mengisi piringnya sendiri dengan nasi, sayuran dan sepotong ayam goreng yang dikirim Melly pagi-pagi sekali.


Vania tertegun, dan dia baru saja menyadarinya. Beberapa minggu ini dia memang tak membuatkan makanan untuk suaminya karena keadaannya yang tidak memungkinkan. Arya bahkan lebih sering mengalah untuk membuat makanannya sendiri dari pada menunggunya bangun dari tempat tidur.


"Abang harus beli diluar? atau makan di tempat ibu?" lanjutnya.


"Yah, ... aku lupa kalau selain anu, abang juga butuh makan?" ucap Vania dengan polosnya.

__ADS_1


"Anu?" Arya mengerutkan dahi.


Namun perempuan itu malah tertawa terbahak-bahak.


"Pikiran kamu itu... " kemudian Arya menyuapkan makanannya.


Vania menatapnya lekat-lekat, dan dia memperhatikan suaminya yang tengah melahap makanannya. Dan pria itu terlihat menikmatinya.


"Enak bang?" Vania bertanya.


"Enaklah, masakan ibu selalu enak." Arya kembali menyuapkan satu sendok makanannya.


"Enakan mana sama masakan aku?"


"Sama enaknya, apalagi masakan kamu... " pria itu terus mengunyah.


"Masa?"


"Hmm...


"Tapi makanan abang emang kelihatannya enak sih?" Vania menatap piring milik suaminya.


"Memang enak."


"Aku mau boleh?" tiba-tiba Vania mencondongkan tubuhnya ke arah Arya, dan dia membuka mulutnya lebar-lebar.


"Nanti kamu mual, terus muntah lagi." pria itu menghentikan kegiatannya.


"Coba, minta ..." Vania masih menunggu dengan posisi seperti itu.


Arya terdiam menatapnya, namun tak urung juga dia menuruti keinginan istrinya. Pria itu meraup nasi dan lauknya, kemudian dia sodorkan ke depan mulut Vania. Yang langsung disambut oleh perempuan itu, dan dikunyah dengan cepat lalu ditelannya tanpa drama.


"Hah?" Arya kembali mengerutkan dahi.


"Mau lagi!" Vania semakin mencondongkan tubuhnya, bahkan dia bangkit untuk mendekat kepada suaminya.


"Mau lagi bang." ulangnya, dan Arya kembali menuruti permintaannya. Dan hal itu berlangsung hingga beberapa suapan, sampai Vania merasa kekenyangan dan makanan yang dikirimkan oleh ibunya habis tak bersisa.


"Alhamdulillah, ... aku kenyang." perempuan itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sementara Arya terdiam dengan tatapan heran.


"Yang abang makan sama dengan yang kamu makan tadi lho, ..." dia melirik piring milik Vania yang makanannya baru tersentuh sedikit sebelum perempuan itu berlari ke kamar mandi untuk memindahkannya.


"Tapi kenapa punya abang kelihatan dan rasanya enak?" Vania berujar.


"Makanannya sama, wadahnya sama, dan itu sama-sama buatan ibu kamu."


Vania hanya tersenyum.


"Mungkin bayinya mau makanan punya ayahnya." dia kemudian bangkit, lalu meraih gelas milik Arya da meneguk isinya hingga hampir habis.


"Itu juga?"


"Airnya enak juga." dia meletakan kembali gelas tersebut di dekat tangan suaminya.


"Kamu aneh...

__ADS_1


"Abang yang udah bikin aku jadi aneh."


"Apa?"


"Aku kan lagi mengandung anak abang? jadi pasti gara-gara ini makanya aku jadi aneh?" dia mengelus perutnya yang mulai terlihat berbentuk, kemudian terkekeh.


"Kamu beralasan."


"Nggak ih, ... kayaknya ini bawaan bayi."


"Bawaan bayi?" Arya membeo.


Vania menganggukan kepala sambil tersenyum.


"Istilah apa lagi itu?"


"Bayinya banyak maunya Ayaaaahhh..." Vania berujar.


Arya mencebik.


"Serius, dia mau makanan punya ayahnya, mau terus sama-sama ayahnya, dan mau ketemu terus sama ayahnya." lanjutnya, kemudian terkekeh lagi.


"Ketemu?" tubuh Arya menegang, dan otaknya langsung memikirkan hal aneh.


Vania menganggukan kepala kemudian bangkit, dan dia segera mendekati suaminya.


"Ayah... mau nggak ketemu sama bayinya?" dia duduk di pangkuannya.


"Mmm...


"Soalnya, bayinya mau ketemu sama ayah." katanya, dan dia tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.


"Sejak hamil kamu jadi mesum." Arya dengan dadanya yang berdegup kencang, namun kedua tangannya sudah merayap dibalik pakaian yang menempel di tubuh Vania.


"Ini kayaknya... bawaan bayi?" ucap perempuan itu, dan kedua tangannya sudah melingkar di leher suaminya.


"Modus." pria itu berbisik.


"Bukan modus ih, ... ini... bawaan bayi." Vania berbisik di dekat telinganya, kemudian menggigitnya dengan gemas.


Tubuh Arya mengejang, dan rahangnya mengeras dengan giginya yang bergemeletuk. Dadanya semakin meletup-letup dengan hasrat yang mulai menanjak.


"Hmm... bawaan bayi yang aneh." Arya mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup leher Vania dengan lembut dan menggoda. Tangannya merayap naik mencari bagian favoritnya di tubuh perempuan itu dan merematnya ketika menemukannya. Membuat des*han lolos dari mulut Vania, dan dia merasa tak sabar.


Kemudian dalam sekali gerakan pria itu bangkit tanpa menurunkan Vania dari pangkuannya, dan segera berlari menuju kamar mereka di lantai dua.


🌺


🌺


🌺


Bersambung...


Dih, bawaan bayi katanya? 🤭🤭🤭

__ADS_1


like, komen dan hadiahnya jangan lupa. Vote mah kirim buat Didim aja.


lope lope sabandungeun 😘😘😘


__ADS_2