Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Cerita Pilu


__ADS_3

🌺


🌺


Arya membuka mata perlahan saat indera penciumannya menangkap aroma kopi yang menggoda. Dia mengerjap untuk menarik kesadarannya dari alam mimpi.


Secangkir kopi dan sepiring roti tersaji diatas meja, dan Vania duduk di pinggiran sofa yang dia tiduri, menatapnya dengan bibir tersenyum.


"Dari tadi dibangunin susah, tapi giliran di bawain kopi nggak harus aku panggil juga bangun sendiri?" ucap Vania.


Arya bangkit sambil menyugar rambutnya yang berantakan.


"Jam berapa ini?"


"Udah sore bang. Seharian abang tidur kayak orang pingsan? aku bangunin susahnya minta ampun." gadis itu melihat jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 4 sore.


"Tidak ada yang menelfon?" Arya melirik ponselnya yang dia letakan diatas meja.


"Dari tadi aku nggak denger, aku bolak-balik kesini ngecek abang."


"Hmm ...


"Cuci muka dulu, atau mau sekalian mandi juga boleh. Tapi nggak ada baju ganti buat abang."


Arya meliriknya sekilas, dan dia segera melakukan apa yang Vania ucapkan.


***


"Abang mau makan?" Vania menerima handuk kecil yang dipakai pria itu untuk mengeringkan wajahnya.


"Nanti." Arya kembali ke sofa, kemudian menyesap kopinya.


"Hari ini kedai rame?" kemudian bertanya, seraya melayangkan pandangan keluar.


"Lumayan, tadi ada rombongan ibu-ibu senam makan disini. Sampai penuh."


"Masa? abang nggak dengar?"


"Iyalah, udah aku bilang abang tidurnya kayak orang pingsan. Aku sampai bolak-balik buat ngecek kan?" Vania tertawa.


"Hmm ... iya juga."


"Semalam begadang ya?"


"Begitulah, ... keadaan Pak Harlan mengkhawatirkan."


Lalu ponsel Arya berbunyi nyaring, sebuah kontak yang dikenalnya terlihat memanggil.


"Ya?" pria itu menjawab.


"...


"Baik saya segera kesana."


"...


"Iya, baik." kemudian telfon di tutup.


"Siapa?" Vania bertanya.


"Supirnya Pak Harlan."


"Ada apa?"


"Pak Harlan sudah sadar, dan dia mau bertemu abang."


"Mau apa?"


"Tidak tahu." pria itu menyesap kopinya hingga hampir habis, kemudian menggigit potongan roti bakar yang telah menunggunya sejak tadi.


"Abang pergi ya?" pamitnya kepada Vania.


"Aku mau ikut."


"Tidak usah, kamu disini saja." Arya menggeleng.

__ADS_1


"Beneran?"


"Kedai rame, sayang kalau di tinggal." dia meraih jaketnya, kemudian mengenakannya.


"Tapi aku mau ...


"Abang pergi." Arya meraih pinggang gadis itu, lalu menundukan wajah, dan kemudian meraih bibirnya untuk dia kecup dan memagutnya untuk beberapa saat.


"Ng ...


Namun Arya berhenti setelah dia menyadari kelakuannya.


"Abang kelepasan." pria itu terkekeh, lalu kembali mengecup bibir manis milik Vania sebelum dia melepaskannya.


"Dih, kelepasan tapi di ulang?" gadis itu menggumam, sementara Arya tergelak.


"Pergi ya?" pamitnya lagi, dia mengusak puncak kepala Vania, kemudian keluar saat gadis itu masih berusaha meraih kesadarannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pria itu tiba di rumah sakit dalam beberapa menit, dan langsung menuju ruang perawatan seperti yang diinformasikan oleh sopir Harlan. Arya langsung masuk begitu dia menemukan ruang VVIP itu.


Tampak Harlan yang sudah siuman terbaring lemah di bangsal perawatan, dengan slang infus dan oksigen membantu pernapaasannya. Juga Raja yang memang sudah berada disana sejak pagi, menatap Arya dengan raut wajah tidak suka, dan seorang pria paruh baya seumurannya yang bekerja sebagai sopir pribadinya.


Pria itu merangsek masuk dan menghadap Harlan.


"Bapak sudah lebih baik?" dia menyapanya.


"Baik Arya, terimakasih."


"Syukurlah, ... semoga bapak cepat sembuh." ucapnya kemudian.


"Serius nih, mau diomongin sekarang?" Raja menginterupsi, dia ingin segera menyelesaikannya saat ini juga. Raja sudah merasa tak bisa bersabar lagi.


"Duduklah Arya, ..." Harlan berucap, dan Arya menurut. Dia duduk di kursi yang berada di samping pria paruh baya tersebut.


"Saya ... sudah tidak bisa lagi menyimpan ini, Arya." Harlan dengan suara pelan dan terbata. "Beban ini sungguh berat, dan saya sudah tidak kuat." lanjutnya.


Arya menahan napas, dia mengerti arah pembicaraan pria yang terbaring lemah ini.


"Jaga ucapan kamu," Arya mendongak ke arah Raja.


Pemuda itu sedikit mendesis dan berdecak kesal.


"Udah lah, ... kalau nggak mau ngomong. Aku pergi, lagian Papa udah sadar juga? ngapain aku disini." dia bangkit.


"Duduk Raja, Papa mau bicara." pinta Harlan.


"Ngomong apa lagi sih? dari tadi muter-muter. Aku capek lah." Raja berucap.


"Duduk, dan dengarkan Papa bicara." Harlan meninggikan suaranya.


Kemudian dia beralih menatap Arya, pandangannya sendu, dan dia terlihat begitu tersiksa.


"Pak?" Arya balas menatapnya, namun dia menggelengkan kepala, memberikan isyarat kepadanya agar dia tak berbicara.


🍁 Flashback On 🍁


Jalanan kota cukup padat pada siang itu, dan sebuah mobil yang ditumpangi seorang pria tengah melaju dalam kecepatan tinggi. Dia menuju pintu tol ke arah Jakarta.


Ponselnya berdering nyaring, dan dia menerima pangilan dalam keadaa menyetir. Suara putranya berteriak dari seberang sana, terdengar begitu beesemangat mengetahui sang ayah akan segera pulang kepadanya setelah berminggu-minggu.


"Papa cepetan! aku mau renang!" teriak sang putera dari seberang sana.


"Sabar nak! ini juga sudah cepat."


"Nanti, kalau papa udah sampai hotel sini, aku mau renang!"


"Oke."


"Aku lihat, jembatannya tinggi!" bocah itu berbicara lagi.


"Benarkah?"


"Aku mau jadi arsitek, mau bikin bangunan yang besar kaya gitu." dia kembali berbicara.

__ADS_1


"Boleh nak, tapi tutup dulu telfonnya, Papa sedang menyetir, bahaya." ucap harlan.


"Nggak mau, nanti papa lupa lagi." ucap sang putra dengan riang.


"Raja, jangan laukan itu. Berbahaya!" terdengar istrinya berteriak.


Tapi bocah itu tak mendengar, dia meneruskan ocehannya.


"Raja!" Harlan memanggil, dan dia melirik kaca spion untuk memastikan keadaan jalannya aman. "Tutup dulu ya nak?"


Bocah itu tetap tak mendengar.


"Raja!" ponsel terjatuh ke bawah, dan perhatiannya teralihkan. Harlan berusaha untuk mengambilnya, namun di arah depan sebuah taksi berhenti untuk menurunkan penumpang.


Harlan terkejut, dia tak mengantisipasi hal tersebut, membuatnya tak mampu mengendalikan laju mobilnya, dan di detik berikutnya benturanpun tak terelakan.


Mobil yang dia tumpangi menabrak taksi tersebut bersama dengan pengemudinya, hingga terdorong sejauh beberapa meter dan berhenti setelah menabrak pagar pembatas jalan.


Harlan tersentak, namun pikirannya berputar. Dia mencoba menyalakan mesin mobilnya yang perlahan menyala.


Dia menatap taksi yang tak bergerak sedikitpun, namun perhatiannya teralihkan ketika beberapa orang mulai mendekat dengan raut kemarahan.


Harlan panik.


Dia segera tancap gas dalam keadaan ketakutan dan dikuasai rasa panik yang besar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selama bertahun-tahun dia menghindar dan bersembunyi, menghilangkan jejak dan barang bukti untuk membuat dirinya merasa lebih tenang. Namun nyatanya, rasa bersalah itu terus menghantui. Dia tak pernah lupa dengan suara tabrakan, dan jerit kesakitan yang berasal dari dalam taksi, yang menghantui dan mengganggu tidurnya setiap malam.


Maka, pada suatu hari setelah beberapa lama, dan dia telah mempersiapkan diri, Harlan mencoba untuk meberanikan diri kembali ke tempat itu, dimana dia meninggalkan taksi yang telah ditabraknya tanpa sengaja.


Pria itu mencari informasi tentang kecelakaan beberapa tahun yang lalu pada setiap pengemudi taksi yang ditemuinya, berharap mendapatkan titik terang tentang si pengemudi yang mungkin mengalami kesengsaraan karena kesalahannya.


Hingga pada akhirnya, sebuah tulisan alamat membawanya ke sebuah rumah mungil yang ditinggali empat orang yatim piyatu, yang hidup dalam keterbatasn sepeninggal ibu mereka yang pergi menghadap tuhan hampir tiga tahun selepas tewasnya sang ayah karena sebuah peristiwa tabrak lari. Yang pelakunya adalah dirinya sendiri.


🍁 Flashback Off 🍁


Pria itu menangis.


"Bertahun-tahun Papa mengelak dan lari dari tanggung jawab. Menyembunyikan diri dari apa yang sudah terjadi. Mengabaikan empati karena sebuah rasa takut ketika melihat orang-orang tampak marah."


Raja mengingat ketika dia kecil, saat sang ayah tiba dari suatu tempat dalam keadaan berantakan dan panik. Dia membawanya dan sang ibu pergi jauh selama berminggu-minggu.


"Papa tidak bisa melupakannya, bahkan setelah bertahun-tahun hidup aman dan terhindar dari jeratan hukum. Hidup kita tetap makmur dan bahagia, tapi papa diihantui rasa bersalah."


"Rasa bersalah itu tidak bisa hilang dari ingatan, setiap kali Papa menatap Arya, dan mengingat adik-adiknya. Yang kehidupannya sudah papa renggut ketika papa menjadi pengecut yang kabur setelah membuat ayah mereka tewas. Dan semuanya menjadi semakin buruk ketika ibu mereka juga meninggal setelahnya. Membuat mereka berjuang sendirian selama bertahun-tahun."


"Papa hanya sedang menebus rasa bersalah itu, Raja. Yang papa harap akan hilang jika papa melakukan banyak hal untuk mereka. Papa ingin hidup tenang, tidak mau lagi dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam karena telah membuat sebuah keluarga kehilangan pelindung mereka."


"Tapi ... papa lupa, jika papa pun punya keluarga yang harus di perhatikan, bukan hanya soal materi berlimpah. Papa kira, sudah cukup hanya dengan memenuhi semua kebutuhanmu, memberikan segala yang kamu mau, dan menuruti segala keinginanmu. Tapi papa salah. Dan papa minta maaf soal itu. Papa malah membuat segalanya menjadi semakin rumit saja, terutama untukmu."


"Maaf Raja, maaf. Papa minta maaf." tubuh Harlan bergetar, dan tangis kembali pecah dari mulutnya.


*


*


"Saya, ... tidak pernah merasa marah atau dendam. Semuanya sudah digariskan Tuhan jauh sebelum kita ada di dunia. Dan saya menerimanya denga ikhlas. Sudah jalannya seperti itu, dan saya tidak pernah menyesali apapun. Jadi Bapak tidak harus melakukan apa-apa lagi. Kami baik-baik saja sampai sekarang." Arya buka suara setelah mereka terdiam cukup lama.


"Saya dan adik-adik bisa bertahan sejauh ini, dan kami bersyukur mampu melewati masa-masa sulit itu bersama. Karena tidak ada hal yang lebih penting selain keluarga yang bisa saling mendukung dan saling menguatkan."


"Terimakasih, bapak sudah membantu kami. Dan saya bersyukur bapak ingat dengan keadaan kami. Semuanya sudah cukup Pak. Tidak perlu lagi bapak merasa bersalah lagi. Bapak sudah melakukan apa yang perlu dilakukan, dan semuanya kami terima dengan ikhlas." Arya mendekat.


"Bertemu dan bekerja dengan bapak adalah salah satu hal paling baik yang saya alami. Terimakasih."


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


jangan lupa bersyukur 💖💖

__ADS_1


jangan lupa juga like komen dan hadianya gaess 😘


__ADS_2