
🌺
🌺
Arya menunggui Vania diambang pintu kamar mandi. Pagi ini perempuan itu mengalami morning sick yang cukup parah. Dia terus muntah-muntah sejak bangun tidur pada subuh tadi dan belum berhenti bolak-balik ke kamar mandi. Bahkan sudah setengah jam terakhir Vania berjongkok di depan toilet dan terus menerus memuntahkan isi perutnya yag sudah kosong.
Arya mendekat kemudian mengusap-usap punggungnya dengan perlahan.
"Mau minum?" tanyanya.
Vania menganggukan kepala, dan tak menunggu lama pria itu sudah kembali dengan segelas air hangat di tangan.
"Sudah?" tanya Arya.
Vania mengangguk lagi.
"Mau kembali ke tempat tidur?"
"Iya." lalu dia berpegangan pada suaminya dan bagkit kemudian berjalan terhuyung ke arah tempat tidur.
"Mau makan?" tanya Arya lagi ketika Vania tiba di tempat tidur, dan dirinya yang kembali berjongkok di depannya.
"Nggak mau, ..." jawabnya yang tiba-tiba saja merasa mual lagi ketika mendengar kata makan, dan terbayang beberapa macam makanan di dalam kepalanya.
"Lalu abang harus apa? kamu belum makan apa-apa tapi muntah terus dari subuh."
Vania merebahkan tubunya diatas bantal yang sudah tertumpuk sejak semalam.
"Mau tiduran aja dulu, siapa tahu baikan. Biasanya juga gitu kalau pagi-pagi muntah, agak siang suka baikan."
"Aneh sekali, sudah empat bulan baru separah ini? dari kemarin biasa-biasa saja? ." Arya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Lalu menyingkirkan halaian rambutnya ke belakang telinga.
"Abang kalau hari ini nggak masuk kerja bisa nggak?" Vania menatap wajahnya.
"Hum?"
"Aku nggak ada temen dirumah."
"Biasanya juga sendirian dirumah?"
"Iya, ... tapi hari ini aku mau abang temenin dirumah."
Arya balik menatap wajah pucatnya.
"Atau bawa kerjannya aja kerumah. Suruh siapa kek untuk nganterin kerjaan abang kesini." lanjut Vania, dan dia setengah memaksa.
"Baiklah, ... kalau begitu sepertinya bisa." Arya meraih ponselnya diatas nakas, lalu melakukan panggilan telfon ke tempat kerjanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vania menyembulkan kepalanya lewat celah pintu yang terbuka sedikit, memeriksa suaminya yang sejak pagi sibuk diruang kerja dengan kertas gambar dan alat-alat tulisnya. Sementara dirinya baru saja bangun dari tempat tidur setelah hampir setengah hari berbaring.
Pria itu sesekali berhenti, dia tampak berpikir. Lalu melanjutkan pekerjaannya setelah mendapatkan ide. Menggoreskan pensil, mengukur gambar, atau sesekali menghapusnya jika tak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"Kerjaan abang masih banyak ya?" Vania menerobos masuk lalu berjalan menghampiri.
Arya menoleh sekilas tanpa menjeda pekerjaannya.
"Udah makan?" tanya nya saat jaraknya sudah dekat dengan pria itu.
"Nanti sebentar lagi. Tanggung." jawab Arya.
"Masih banyak?" dia bertanya lagi.
"Lumayan."
__ADS_1
"Hmm...
"Kenapa?" Akhirnya pria itu meletakan alat tulisnya.
"Aku... ngantuk." Vania menjatuhkam tubuhnya diatas sofa yang berada tak jauh darinya.
"Ya tidur." ucap Arya. "Bukannya dari tadi juga kamu tidur?"
"Tapi aku nggak biasa tidur sendiri."
"Terus maunya apa?"
"Nggak tahu, aku serba salah."
Terdengar suara tawa keluar dari mulut suaminya.
"Mungkin kamu lapar?" Arya kemudian duduk disampingnya.
"Bukan lapar, tapi ngantuk."
"Ya sudah, tidur saja."
"Aku mau tidurnya disini." perempuan itu menaikan kakinya keatas sofa lalu merebahkan diri.
"Kenapa tidak sekalian di kamar saja? sofanya sempit."
"Dikamar aku nggak ada temen bobo, makanya nggak bisa."
"Hmm.. " Arya mengangkat sebelah alisnya keatas.
"Sana, kalau mau kerja. Aku bobo nya disini aja biar ada temen. Kecuali kalau abang mau ikut bobo juga, aku pindah ke kamar."
"Ish, ... ini tengah hari. Masa mau tiduran? Lagipula kerjaan abang masih banyak."
"Kan bobo siang namanya juga? ssbentar juga bisa." Vania terkekeh.
"Oke kalau gitu, ..." Vania kemudian menekuk kakinya.
Arya tertegun sebentar.
"Sana, katanya mau beresin kerjaan? malah diem?"
"Baiklah... " pria itu bangkit dan kembali pada pekerjaannya.
***
Beberapa kali Arya melirik ke arah sofa dimana Vania tampak tertidur lelap. Dan konsentrasinya terpecah seketika, setiap kali dia menatap tubuh semampainya yang meringkuk seperti bayi. Dengan kaus rumahan dan celana pendeknya yang memperlihatkan kakinya. Membuatnya menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali.
Arya memutuskan untuk mengambil selimut dari kamarnya, karena untuk membangunkan Vania dan menyuruhnya untuk pindah tidaklah mungkin. Perempuan itu tampak benar-benar lelap dan dia merasa tak tega.
Dia kemudian menyelimuti Vania hingga ke bahunya, yang bergerak naik turun perlahan dengan napas yang berhembus pelan.
Arya bermaksud kembali pada pekerjaan ketika Vania meraih tangannya, dan menariknya hingga pria itu jatuh terduduk di sisi sofa.
"Bukannya kamu tidur?" ucap Arya.
"Tadinya, tapi abang bangunin aku." perempuan itu dengan suaranya yang agak serak.
"Abang hanya mengambilkan selimut, abang takut kamu kedinginan?"
"Tadi nggak kerasa."
"Sekarang?"
"Baru kerasa."
__ADS_1
"Apa?"
"Dingin."
"Makanya abang pakaikan selimut."
"Sekarang kerjannya udah beres?" Vania menatap meja gambar di tengah ruangan.
"Belum."
"Ah, ... abang lama!" perempuan itu merengek.
"Ya memang lama. Kamu pikir abang hanya menggambar bangunan dan setelah itu selesai? tidak seperti itu. Banyak hal yang harus dihitung dan diukur."
"Terus aku gimana?"
"Gimana apanya? ya tidur lagi."
"Nggak bisa, gara-gara abang." Vania menariknya hingga Arya merunduk ke arahnya.
"Ng...
Lalu tangan perempuan itu merayap ke bahu dan meraih lehernya.
"Mmm... Van? abang harus ..." dan di detik berikutnya bibir mereka bertemu. Kemudian Vania memagutnya dengan menggebu-gebu, seolah dia baru pertama kali merasakannya.
Arya sempat menahan tubuhnya agar tak terbawa suasana saat perempuan dibawah terus menariknya, namun gagal, diapun malah membiarkan Vania menyentuh tubuhnya.
"Kamu mau bobo yang lain ya?" Arya menjeda cumbuan saat tangan perempuan itu sudah menjelajah kemana-mana. Dia bahkan sudah sampai pada bagian bawah tubuhnya yang sudah mengeras sejak beberapa menit yang lalu.
Vania hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya, dengan kedua pipinya yang merah merona.
"Kelakuan kamu aneh, ..." bisik Arya, kemudian dia mengecup telinga Vania beberapa kali, lalu bibirnya turun menyusuri rahang dan leher, sementara tangannya mulai menyentuh bulatan kenyal dibalik kausnya. Menghadirkan perasaan geli dan nikmat disaat yang bersamaan. Membuatnya mengerang dengan wajahnya yang semakin memerah, dan dadanya bahkan berdegup semakin kencang.
"Kamu akan membuat abang terlambat menyerahkan deadline hari ini." pria itu mulai melucuti pakaiannya, lalu hal yang sama pun dia lakukan kepada Vania.
Jakunnya naik turun dengan cepat dan dia merasa sulit untuk menelan ludahnya, menatap pemandangan dibawahnya yang sungguh menggoda iman.
Dada yang ranum, yang puncaknya telah mencuat, menantang dia untuk menyentuhnya. Tubuh Vania yang mulai terlihat berisi, dan kulitnya yang sehalus sutera. Yang segera dia susuri dengan ujung-ujung jarinya.
Vania menggeliat, merasakan geli yang merambat di setiap inci tubuhnya.
"Engh, ..." erangnya saat sesuatu menerobos inti tubuhnya, dan dia mulai mend*sah ketika Arya mulai menghentak.
Kedua tangannya menggapai-gapai tubuh kekar yang tengah berpacu diatasnya, dan Arya menyambutnya, kemudian menautkan jari-jari mereka berdua. Pria itu membawa tangannya keatas kepala, dan dia menahannya agar tetap seperti itu. Mengunci kedua tangan Vania dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya lagi menjelajahi setiap bagian tubuh istrinya hingga ke bagian yang paling sensitif, tanpa menghentikan hentakannya di bagian bawah hingga beberapa saat.
"Engh, ... abang... " Vania menekuk kakinya saat merasakan klim*ksnya hampir tiba, dan pusat tubuhnya berkedut dengan kencang.
Namun Arya tampak tak mendengar, dia asyik melahap dua gundukan indah di depan wajahnya. Mempermainkannya tanpa merasa puas, menyesap puncaknya seolah dia akan mendapatka sesuatu setelahnya.
"Ah, ... abaaaang... " Vania hampir berteriak, dan dia mengangkat pinggulnya keatas ketika tak lagi dapat menahan gelombang pelepasan yang menghantamnya.
Dan pada saat yang bersamaan Arya mempercepat hentakannya, kemudian pelepasan luar biasa menerobos pertahanannya juga.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
bobo siang yag aneh? 🙄🙄🙄
like komen Dan hadiahnya selalu Di tunggu. kalau vote kasih Didim aja biar dia naik ke permukaan 😁😁
__ADS_1
lope lope segudang 😘😘😘