
🌺
🌺
"Kamu juga mau pergi?" Arya memalingkan perhatiannya, Vania yang pagi itu sudah rapi sama seperti dirinya yang telah mengenakan stelan kerjanya.
"Ibu manggil aku, minta ditemenin ke kantor asuransi." Vania merapikan rambutnya yang dia ikat setengahnya kebelakang.
"Kantor asuransi?"
"Iya, ternyata kafenya udah ibu asuransikan dulu, waktu aku masih kuliah. Aku baru tahu pagi ini waktu ibu nelfon."
"Bisa di klaim?"
"Harusnya bisa sih. Itu gunanya asuransi kan?"
"Iya."
"Perlu abang temani?"
"Ng... nggak usah. Aku dulu sama ibu, nanti kalau ada kesulitan aku telfon abang. Lagian ini hari pertama abang kerja, masa mau bolos lagi?"
"Yakin?"
"Yakin." Vania merapikan kerah kemeja pria itu.
"Baiklah,... " Arya meraih pinggangnya, kemudian menariknya sehingga kini mereka tak berjarak. "Kalau ada apa-apa telfon saja, abang pasti datang."
"Iya, kan tadi aku bilang gitu."
Pria itu tersenyum.
"Abang hari ini lembur nggak?"
"Sepertinya tidak. Masa hari pertama kerja sudah lembur?"
"Ya kali aja kak Raja balas dendam karena abang sering cuti lama?" Vania melingkarkan tangannya di leher pria itu.
"Tidak akan." Arya terkekeh.
"Hmm... tapi siapa tahu ternyata nanti malah lembur?"
"Tidak Van, abang sudah menolak segala bentuk lembur dan tambahan waktu lainnya. Juga pekerjaan di akhir pekan."
"Oh ya? kenapa?"
"Biar abang punya banyak waktu."
"Waktu untuk apa?"
"Waktu untuk ini." pria itu semakin merapatkan tubuh mereka berdua.
"Apaan?"
"Berduaan seperti ini."
"Sebulan setengah ini kita berduaan melulu." Vania mengingatkan.
"Iya, hanya berduaan, tanpa melakukan apa-apa."
Vania menatap wajah suaminya sambil mengulum senyum. Dia mengerti arah pembicaraan ini bermuara kemana.
"Memangnya abang mau apa?"
"Apa sajalah, ..." lalu Arya terkekeh lagi. Dan sejurus berikutnya bibir mereka berdua telah menempel kemudian saling memagut.
"Mmm ... kita nanti kesiangan bang?" Vania melepaskan cumbuan untuk sejenak.
"Lima menit lagi." Arya kembali meraup bibir perempuan itu dan menikmatinya dengan sepenuh hati. Kedua tangannya sudah merayap kemana-mana, dan dia bahkan membuat pakaian Vania berantakan.
"Ngh... Abang? nanti kesiangan?" perempuan itu menarik kepalanya sehingga kini mereka berjarak.
"Ish, ... kenapa juga harus selama ini?" Arya menggerutu, kemudian melepaskan rangkulannya dari tubuh Vania.
"Sabar abaaaang... " perempuan itu tergelak.
🌺
__ADS_1
🌺
"Vanianya udah bisa ditinggal emang?" Raja yang tiba bersamaan, dan mereka berdua bertemu di tangga.
"Sudah."
"Udah baikan?"
"Sudah."
"Nggak sedih lagi?"
"Kadang-kadang." keduanya berjalan bersisian hingga tiba di lantai atas di depan ruang kerja mereka.
"Oh ya, Papa kayaknya nanti kesini, tapi sekarang lagi ada urusan dulu."
"Benarkah? kebetulan."
"Ada apa?"
"Ada yang harus dibicarakan."
"Apa?"
"Nanti sajalah kalau Pak Harlan sudah sampai."
"Ish, ... rahasia-rahasiaan?"
"Bukan begitu... " Arya sedikit tertawa. "Hari Ini Cindy tida masuk?" dia kemudian bertanya, saat tak dilihatnya sekertarisnya itu.
"Oh, .. nggak. Dia lagi mabok parah." Raja menjawab.
"Hah? maksudnya?"
"Dia ngidamnya parah. Udah kayak orang sakit aja. Muntah-muntah sama nggak bisa bangun. Duh, repot deh." keluh Raja.
"Benarkah?"
"Hmm... Mana minggu depan ada undangan dari pembukaan resort di Pangandaran lagi, nggak tahu bisa datang apa nggak."
"Pangandaran?"
"Sudah selesai?"
"Udah. Kita diundang, tapi kalau keadaan Cindy kayak gini nggak tahu bisa kesana atau nggak."
"Cindy separah itu?"
"Iya. ini kalau bukan karena banyak kerjaan dia pasti maunya ditemenin melulu di rumah." ucap pria itu lagi.
"Selamat Raja." Arya tertawa sambil menepuk pundaknya. "Selamat menikmati repotnya punya ibu hamil."
"Dih, nanti juga ngalamin."
"Belum, masih lama. Bisa santai dulu."
"Iya deh iya, yang belum ngadonmah pasti santai. Lihat aja, Vania nanti ngidamnya lebih parah." Raja berujar.
"Apa kamu bilang?"
"Eh, ... " pria itu menghentikan ocehannya. "Aku duluan lah, hari ini banyak kerjaan." yang kemudian segera kabur kedalam ruangannya.
🌺
🌺
"Lho, Om ada disini juga?" sapa Vania saat menemukan Harlan sudah menunggu di loby kantor asuransi yang dia datangi.
"Iya, sudah ada janji juga dengan ibu kamu." pria itu menjawab.
"Ibu?" Vania menoleh kepada ibunya.
"Ibu belum cerita ya, kalau pak Harlan sendiri yang menyarankan kita untuk memproses pencairan klaim asuransinya? tadinya ibu ragu karena kebakaran itu ada unsur kesengajaan. Apalagi pelakunya masih keluarga sendiri."
"Terus?"
"Ya, akan kita usahakan untuk bisa dicairkan." Harlan menyela.
__ADS_1
"Kalau gitu bisa Om?"
"Akan kita usahakan, Vania."
"Baik Om."
Kemudian muncul seorang pegawai asuransi, yang mengajak ketiga orang ini masuk kedalam sebuah ruangan untuk berunding.
***
"Jadi, prosedur penyelidikan yang kami lakukan, juga beberapa bukti yang kami dapatkan dari keterangan polisi juga beberapa pegawai, baik wawancara maupun foto dan hasil penyelidikam lainnya menyatakan bahwa klaim asuransinya bisa di proses." ucap petugas asuransi yang memegang beberapa lembar kertas hasil penyelidikannya selama beberapa minggu ini.
"Bisa?"
"Bisa. Dan akan segera kami proses secepatnya." jawab petugas tersebut.
"Jumlahnya?"
"Anda bisa lihat di dalam surat-surat ini, dan itu akan anda terima dalam beberapa minggu kedepan." pria itu menyerahkan sebuah amplop berisi beberapa lembar kertas lainnya, yang berisi tentang keterangan kerusakan, pernyataan pihak perusahaan asuransi, dan jumlah yang yang akan mereka terima sebagai ganti rugi atas insiden kebakaran lebih dari satu bulan sebelumnya. Dan itu dalam jumlah yang sangat banyak.
Kedua bola mata Vania membulat seketika, melihat jumlah nol dibelakang titik angka yang tertera. Dan itu benar-benar sangat banyak bagi mereka.
"Baik, ada pertanyaan lagi?" si petugas itu menutup buku catatannya.
"Ng... nggak. Terimakasih."
"Kalau begitu kita bertemu beberapa minggu ke depan, dan apabila ada yang kurang jelas bisa hubungi saya." lanjutnya.
"Baik."
Dan pembicaraan usai setelah kesepakatan di capai antara kedua belah pihak, kemudian ketiga orang itupun keluar dari tempat tersebut.
***
"Maksih om udah bantu." mereka hampir saja berpisah di tempat parkir.
"Bukan apa-apa, cuma hal kecil." Harlan berujar.
"Kalau Pak Harlan tidak mengingatkan, saya pasti masih pusing mencari cara sekarang ini." Melly menyela.
Pria itu hanya tersenyum.
"Kalau gini aku agak lega, Bang Arya nggak harus resign jadinya." ucap Vania setelahnya.
"Resign? kenapa Arya harus resign?" Harlan mengerutkan dahi.
"Baru rencana om. Katanya biar dapat pesangon buat bangun kafe lagi."
"Kenapa harus begitu? kan ada asuransi?"
"Kan nggak tahu kafenya di asuransikan."
"Kamu yang meminta Arya untuk resign?" Melly Kemudian bertanya kepada putrinya.
"Nggak. Aku cuma bilang mau bangun kafe lagi, tapi nggak tahu nyari modalnya kemana. Apa pinjam ke bank atau gimana. Dan setelah ngobrol banyak sama abang, dia bilang gitu." jelas Vania.
"Van, jangan selalu memikirkan ibu. Kamu sudah punya kehidupan sendiri sekarang. Ibu bisa, dan nyatanya ada jalan keluarnya kan?"
"Kalau bukan aku yang mikirin ibu, terus siapa lagi? kita cuma berdua, dan aku cuma punya ibu. Jadi apa salahnya kalau aku melakukan sesuatu buat ibu?" tukas Vania, dia menatap wajah perempuan yang telah melahirkannya itu lekat-lekat.
"Kamu salah, selain ibu, kamu sekarang punya suami juga, kamu juga harus memikirkan dia, bukan cuma kepentingan ibu. Jangan sampai membuat suamimu terbebani dengan meminta banyak hal kepadanya."
"Aku nggak minta apa-apa. Cuma ngobrol gitu aja, dan abang yang punya idenya."
"Ya, setidaknya Arya juga akan ikut memikirkan masalah ibu. Kasihan. Lebih baik pikirkan usaha kamu dulu, dan juga kesehatanmu, jangan sampai karena terlalu memikirkan ibu kamu jadi lupa semuanya."
Vania pun terdiam.
"Sudah, sekarang hanya perlu menunggu asuransinya dicairkan, dan yang lainnya bisa kita pikirkan nanti." Harlan memotong pembicaraan ibu dan anak itu.
"Dan Om tidak akan membiarkan Arya resign secepat ini, karena perusahaan masih membutuhkan dia. Banyak proyek yang harus dia kerjakan, dan banyak juga yang harus dia selesaikan. Sayang juga kalau Arya harus berhenti sekarang. Ide-idenya tidak bisa kami dapatkan dari orang lain, dan itu merupakan aset berharga bagi perusahaan. Soal Kafe, kita akan pikirkan jalan keluar lain untuk membangunnya dari nol dan membuatnya lebih baik dari sekarang. Jangan khawatir, kalian tidak sendirian." pria itu menepuk bahu Vania.
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
jangan lupa like komen sama hadiah, oke? 😉😉