
πΊ
πΊ
"Vania mana?" Anna bertanya saat sang kakak hanya keluar sendiri. Arya mengambil nampan kemudian dia isi dengan sepiring nasi beserta lauknya yang terhidang di meja. Tak lupa juga dengan minuman dan beberapa camilan yang dimaksudkan akan dia bawa kedalam kamar.
"Masih tiduran." jawab Arya, singkat.
"Kenapa? sakit?" tanya Anna lagi.
"Tidak. Hanya tiduran saja."
"Kecapean?" adik keduanya itu menyelidik.
"Tidak."
"Terus kenapa nggak ikut keluar?"
"Tidak apa-apa. Hanya mau istirahat saja." jawab Arya lagi.
"Kok ..." Anna menoleh ke arah Alena saat merasakan kakinya diinjak dibawah meja, dan adik bungsunya itu menggeleng samar. Membuat Anna seketika menutup mulut.
Arya dengan cueknya melenggang kembali kedalam kamar mereka dan memutup pintunya rapat-rapat. Bakan terdengar benda tersebut seperti dikunci setelahnya, hingga terdengar suara klik sebanyak dua kali.
"Apaan?" Anna mencondongkan tubuh.
"Kakak kepo ih, nggak usah tanya-tanya kenapa? kayak nggak ngalamin aja?"
"Apanya?"
"Ya nggak usah banyak nanya aja."
"Ish, kan aneh. Dari pagi Vania nggak keluar-keluar dari kamar. Kan khawatir, takutnya dia sakit atau apa, tapi kalau nggak apa-apa mah ya syukur."
"Vania nggak apa-apa. Cuma ... kecapean kayaknya." Alena mengulum senyum, teringat kejadian beberapa saat sebelumnya.
"Hmm ... pasti gara-gara kemarin ngasuh Dilan sama Alea ya? ish, ... kamu bikin bt deh!"
"Bukan ih."
"Pasti karena itu. Kamu sih, biarin anak-anak sama abang terus, kan kasihan Vania."
"Lah, bukan aku yang kasih. Kan anak-anaknya sendiri yang mau sama abang. Kakak tahu sendiri kalau mereka selalu nempel kalau ketemu abang, aku bisa apa?"
"Ya harusnya sekarang kita tahu situasi, kan keadaannya udah berubah. Abang udah punya istri, jangan direcokin melulu, kasihan."
"Aku nggak ngerecokin lho, anak-anak yang selalu nempel sama abang kalau ketemu."
"Iya tahu, tapi kita juga harus tahu diri. Jangan mentang-mentang abang sama Vania nggak nolak terus kita dengan seenaknya ngasih anak-anak. Kita mesti kasih mereka ruang sendiri buat berdua."
"Aku salah ya?" Alena menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu nggak salah, cuma kurang pengertian aja."
"Aku kan terbiasa gitu kak."
"Ya, mulai sekarang harus ada yang dirubah. Kalau nggak, bakalan ada rumah tangga yang kacau karena ketidak tahu dirian kita."
"Ish, ... jangan dong!"
"Iya, makanya. Mulai sekarang jangan terlalu bebas biarin anak-anak sama abang."
Alena terdiam.
"Aku ngerti, Dilan masih ngerasa kalau abang itu ayahnya makanya dia selalu gitu, tapi kita juga harus ngerti kalau sekaramg situasinya udah beda. Aku juga ngerti diantara kita bertiga, yang paling deket sama abang itu kamu. Yang bahkan abang perlakukan kamu kayak anak daripada adik. Masih ingat nggak kalau kamu selalu abang bawa kemanapun dia pergi?"
Alena mengangguk.
"Tapi balik lagi, abang sekarang nggak sendiri dan situasinya berbeda. Kita harus biarin abang jalani kehidupannya tanpa dipusingkan sama masalah kita. Udah cukup lah belasan tahun abang ngurus kita. Sekarang udah waktunya kita biarin abang menikmati hidupnya sendiri tanpa direpotkan sama kepentingan kita." Anna mengakhiri sesi ceramah siangnya.
"Hu'um ... kakak bener." ucap Alena, yang kemudian menyuapkan makanannya.
"Papa! pakai baju!" Dilan tiba-tiba berteriak saat melihat Hardi yang keluar dari dalam kamar sambil mengenakan kausnya, dan semua orang menoleh.
"Iya, ini juga pakai." sahut Hardi yang berjalan mendekat.
"Kakak kebiasaan ih kalau pakai baju sambil jalan?" tegur Alena.
"Buru-buru Yang, udah laper soalnya." Hardi dengan cengiran khasnya.
"Iya tapi ...
"Nanti Papa di gigit nyamuk lho, kayak ateu Van." celetuk Dilan.
"Hah? disini nggak ada nyamuk tahu?" Hardi mendebat putranya seolah dia berbicara dengan orang seumuran.
"Ada. Ateu digigit nyamuk."
"Masa? yayang tahu dari mana?"
__ADS_1
"Itu ... ateu ininya melah-melah digigit nyamuk." bocah itu menunjuk dadanya sendiri.
"Hah?" Hardi mengerutkan dahi, kemudian menoleh kepada Alena.
"Mm ... jangan dibahas." perempuan itu tertawa canggung.
"Apanya yang jangan dibahas?" tanya Hardi.
"Bukan hal yang baik untuk dibahas." Alena menjawab.
"Kenapa? lagian emang bener, di dalam villa nggak ada nyamuk. Apalagi udah dipasang anti nyamuk kan?" pria itu menelisik.
"Aku bilang nggak usah dibahas." ulang Alena.
"Aku curiga, jangan-jangan itu yang bikin Vania nggak keluar kamar?" sahut Anna.
"Apa?" Rendra yang dari tadi terdiam akhirnya ikut berbicara juga.
"Dia habis digigit nyamuk jadinya kena malaria." perempuan itu menoleh kepada Alena yang tengah berusaha mati-matian untuk tidak tertawa.
Namun Anna juga tak bisa menahan tawanya saat dia mengerti ekspresi dari adik bungsunya tersebut.
"Maksudnya disini ada nyamuk malaria gitu?" Hardi menatap istri dan kakak iparnya bergantian, "Bahaya dong?" dan hal tersebut membuat tawa dua perempuan di depannya semakin keras.
"Kalian ngetawain apa sih, nggak ngerti deh?" ucap Rendra dengan raut bingung, yang menambah keras tawa istri dan adik iparnya.
Dan dua pria itu akhirnya hanya terdiam dengan kening berkerut dan pikiran bertanya-tanya.
πΊ
πΊ
Vania kembali menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur setelah dia menyelesaikan ritualnya di kamar mandi, dengan kaus dan celana pendek, juga handuk yang masih menggulung rambut panjangnya yang basah. Berbarengan dengan itu, Arya pun kembali dari luar dengan nampan penuh berisi makanan.
"Makan?" tawar pria itu saat meletakan nampan yang dibawanya diatas tempat tidur.
"Hmm ..." Vania hanya bergumam, dan dia melirik sekilas ke arah suaminya. Seketika pipinya kembali merona karena mengingat kejadian semalam hingga hampir subuh tadi.
"Ini." Arya menyodorkan air hangat kepada Vania. "Minum dulu, pasti kamu kedinginan." Arya menahan senyum, dia pun mengingat hal yang sama setiap kali meihat istrinya itu.
"Mm ... iya." perempuan itu bangkit lalu meraih gelas berisi air putih hangat dan meneguknya hingga habis setengahnya. Kemudian menggenggam gelas hangat tersebut dengan kedua tangannya dan dia letakan di dekat perut. Rasa hangat menjalar di area itu dan dia juga merasa nyaman.
"Mau makan sekarang?" tawar Arya lagi, dia menggeser nampan ke dekat Vania.
"Boleh, ...baru mau minta abang bawa makanan, aku udah laper." Vania mencoba tersenyum meskipun terasa agak canggung.
Dan pria itu balik tersenyum, dia kemudian duduk di tepi ranjang di depan istrinya.
"Malu kenapa?"
"Gara-gara tadi."
Arya tertawa.
"Sekarang ini mereka pasti lagi ghibahin aku deh." Vania mulai mengunyah makanannya.
"Masa?"
"Hmm ... duh, ... malunya. Aku nggak mau keluar kamar dulu ah, ..." dia memejamkan mata sambil menggelengkan kepala.
Arya tertawa lagi.
"Abang ih, ketawa mulu!" Vania memukul paha pria itu dengan keras hingga dia mengaduh.
"Emang abang nggak malu apa?"
"Malu? kenapa harus malu?"
"Ish, ... kejadian tadi itu malu-maluin tahu?"
"Cuma Alena yang lihat." kini Arya menahan tawa. "Lagipula kenapa harus malu? kita kan suami istri." pria itu dengan cueknya.
"Tetep aja."
Kemudian mereka melanjutkan kegiatan makan dalam diam.
Vania berhenti di suapan terakhir ketika makanan di piring mereka hampir habis.
"Kenapa?" Arya mendongak.
"Makanannya."
"Iya, lalu?"
"Habis."
"Kamu mau lagi?"
"Nggak, aku udah kenyang." Vania menggeleng.
__ADS_1
"Abang kira kamu belum kenyang, tadinya abang mau ambil lagi."
"Memangnya abang belum kenyang?"
Pria itu menggeleng.
"Lagian, bawa makannya cuma sepiring? kebiasaan deh?"
"Abang kira aka kenyang hanya makan segini, tahunya ..." Arya tergelak.
"Tapi bagus juga sih, makan sepiring berdua tuh, ...
"Apa?"
"Biar lebih cepat habis." Vania meneguk minumannya.
"Bukan." Arya kembali mengulum senyum.
"Kalau gitu apa?" Vania mencondongkan tubuhnya.
"Biar romantis, ..." ucapnya, yang kemudian tersenyum begitu manisnya.
"Aih, ... abang udah pintar gombal?" Vania kini terkekeh.
"Sedikit." pria itu menatapnya dengan perasaan yang kembali berdebar.
"Dapat ilham dari mana sih?" dia tertawa lagi, kini hingga wajahnya terdongak ke atas dan handuk di kepalanya pun terlepas.
"Dari kamu." jawab Arya.
"Oh ya?"
"Hmm ...
"Sejak kapan?"
"Sejak ... semalam."
Lalu mereka terdiam lagi.
"Ng ... abang?" Vania memanggil lagi.
"Hum?"
"Habis ini kita ..." Vania menghentikan kalimatnya. "Duh, rasanya jadi aneh ya?" lanjutnya, dengan wajah tersipu malu.
Arya menunggu.
"Ada yang berubah ...
"Iya, ...
"Dan mulai sekarang nggak akan sama lagi." Vania bergumam.
"Hmm ... semuanya tidak akan sama lagi." pria itu mengulang kata-kata Vania, dan getaran hebat kembali dia rasakan. Tubuhnya pun bahkan kini mulai memanas.
"Van?" kini dia balik memanggil.
"Ya bang?"
Arya menatapnya dengan debaran yang mulai tak terkendali, dan melihat perempuan itu dalam keadaan berantakan membuat sesuatu di dalam dirinya kembali bangkit.
Dia menggeser nampan berisi piring kosong dan camilan, kemudian merangsek ke hadapan Vania.
"Abang?" perempuan itu merapatkan punggungnya pada bantal di belakang.
Arya terus menatapnya seperti serigala yang lapar, dan dia mulai mengurung tubuh perempuan itu dengan kedua tangannya.
"A-abang, ... aku masih sakit." ucap Vania yang hampir berbisik.
Arya terdiam, namun sejenak kemudian muncul seringaian di wajahnya.
"Abang?" tiba-tiba saja Vania merasa ngeri. "Aku masih sakit." ulangnya.
"Lama-lama sakitnya juga hilang?" Arya tersenyum. "Seperti semalam dan ... tadi subuh." pria itu mengingatkan.
Vania hanya bisa menahan napas dan menelan ludah kasar secara bersamaan. Saat Arya kembali menyentuh tubuhnya, dan dia segera mencumbuinya.
Ah, ... pria ini benar ... mulai hari ini hari-hari kami tidak akan sama lagi. Batinnya, dan dia hanya bisa pasrah dibawah kendali suaminya yang segera membungkamnya dengan ciuman memabukan untuk meredam apa yang akan keluar dari mulutnya seiring sentuhannya yang kembali menggila.
πΊ
πΊ
πΊ
Bersambung ...
Aduh aduh aduh .... nambah lagi .... πππ
__ADS_1
waktunya vote gaess, kirim hadiah juga yang banyakππ