Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Berbicara


__ADS_3

🌺


🌺


Kamu mulai terbawa perasaan, Vania!


Dia menghempaskan kepalanya pada sandaran kursi, dan merasakan hatinya yang mulai tak lagi terkendali.


Rasa ingin tahu yang besar malah menjadi boomerang baginya, ketika melihat interaksi kedua orang itu di dalam area.


Tidak ada yang aneh, hanya dua orang yang berbicara. Kadang serius, kadang diselingi gurauan, dan mereka terlihat cukup akrab. Seperti dua orang yang telah lama sama-sama saling mengenal. Dan itu cukup mengganggu pikiran.


Setelah dirasa cukup memperhatikan dari balik peralatan berat yang tengah diistirahatkan, akhirnya Vania memutuskan untuk kembali ke mobilnya yang dia tinggalkan diluar. Melewati beberapa pekerja yang menatapnya dengan aneh.


Dia berdiam diri selama beberapa menit untuk menenagkan hati yang terasa gundah, memikirkan banyak hal, dan mencoba untuk menyelami perasannya sendiri. Biasanya dia bisa mengendalikan diri, biasanya dia tidak terlalu peduli, dan biasanya dia bisa mengabaikan apapun yang mungkin mengganggu pikirannya. Dan dirinya bisa tetap fokus pada apa yang dijalaninya sekarang.


Tapi ini?


Sungguh benar-benar mengganggu. batinnya.


Vania memalingkan wajahnya untuk bersembunyi ketika setelah beberapa saat mobil Arya keluar dari Area pembangunan dan melewati mobilnya. Dia tak ingin pria itu menyadari keberadaannya setelah apa yang dilakukannya hari ini. Mengikutinya bagai penguntit, dan mengawasinya seperti seseorang yang terobsesi dengannya. Betapa konyolnya!


Namun gadis itu tersentak ketika seseorang mengetuk kaca mobilnya dari luar, dan pada saat dia menoleh, malah membuatnya lebih terkejut lagi.


Pria tinggi berkemeja hitam itu berdiri menunggu disamping mobilnya, dan kembali mengetuk kaca ketika mengetahui Vania menyadari keberadaannya.


"Abang?" Vania membuka kaca lebar-lebar.


"Sedang apa kamu disini?" Arya bertanya.


Vania tak dapat menjawab pertanyaannya, dan dirinya tak siap tertangkap basah seperti ini.


"Pindah!" ucap pria itu.


"Hah? apa?" Vania mendongak.


"Pindah duduknya, abang yang bawa mobil." Arya memperjelas ucapannya.


Vania terdiam, otaknya mencerna kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.


"Kamu duduknya pindah kesana, abang yang bawa mobil." ulang Arya dengan nada suara terdengar kesal.


"Ng ..." Vani segera melakukan apa yang di perintahkan, dia beringsut ke sisi lain, kemudian duduk di kursi penumpang.


Arya membuka pintu, kemudian masuk dan duduk dibalik kemudi. Menghidupkan mesin, kemudian mulai menjalankan kendaraan beroda empat tersebut.


"Ada pesanan di sekitar sini?" dia memulai percakapan.


"Hum?" Vania menoleh, dia masih belum siap berbicara, otaknya masih memilih kata yang tepat untuk dia lontarkan sebagai alasan.


"Tidak mungkin kamu dengan sengaja mengikuti abang sampai kesini kan? aneh sekali, abang pikir tadi salah lihat, tahunya benar kamu ikut sampai kesini."


Vania terhenyak.


"Abang tahu?" katanya.


"Jadi benar?" Arya tergelak. "Kenapa kamu mengikuti abang sampai kesini?"


Vania menggigit bibir bawahnya dengan keras, dan ya, dirinya memang tertangkap basah, dan itu cukup terasa memalukan.


"Mobil abang gimana? ditinggal disana?" gadis itu menoleh ke arah belakang.


"Dibawa suaminya Kania. Kebetulan mobilnya Kania ditinggal dikantor tadi." jawab Arya, jelas dia terlihat begitu santai.


"Kania?" dia memiringkan kepala.


"Iya, dia dan suaminya arsitek dari pusat. Sengaja datang kesini untuk meninjau lokasi baru, sekalian pulang kampung." pria itu menjelaskan.


"Oh, ..." Vania dengan suara pelan.


"Bukan teman dekat abang yang mungkin sedang kamu curigai." lanjut Arya, dia melirik sekilas ke arah samping.


"Hum?" Vania menjengit, "Aku nggak curiga. Cuma tadi lihat aja ... dan ..."


"Mengikuti abang dari restoran sampai kesini." pria itu memotong perkataannya.


Vania mengulum bibirnya kuat-kuat.


"Abang tahu?" ucapnya kemudian.


"Tahu, sejak awal kamu mengikuti abang dari kantor juga abang tahu." jawab Arya.


"Aih ..." Vania menepuk keningnya agak keras.


Mobil berhenti di perempatan, menunggu mobil lainnya untuk lewat.


"Kenapa?" Arya menoleh.

__ADS_1


"Nggak kenapa-kenapa, ... cuma ... malu-maluin banget, maksudnya ngikutin diam-diam tapi kok ketahuan?" dia dengan jujurnya.


Arya tertawa.


"Ada yang mau kamu bicarakan?"


"Ng ...


"Kalau mau, ayo. Mumpung abang ada alasan diluar, kalau nanti sudah kembali ke kantor susah lagi, hari ini pekerjaan abang banyak." Arya berujar.


Mobil berhenti di sebuah tempat yang sepi, yang Vania sadari sangat jauh dari manapun. Dia bahkan tidak mengenali tempat ini karena memang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.


Mereka berada di sisi tebing sebuah bukit, dengan pemandangan hutan lebat terbentang di depan sana.


"Ini masih di Bandung?" dia bertanya dengan polosnya.


"Kamu pikir kita di mana? di Mars?" Arya tertawa.


"Baru tahu masih ada hutan di Bandung? selain taman kota, aku nggak tahu ada hutan lain yang asli?"


"Kamu kebanyakan dian di taman kota, jadi tidak tahu ada tempat lain disini."


"Lah, kan memang kerjaan aku disana."


Arya membuka pintu, kemudian memutuskan untuk keluar. Dia berjalan kearah depan lalu duduk di kap mobil, menatap ke arah sana yang menyuguhkan pemandangan menyejukan mata.


Vania mengikutinya dan melakukan hal yang sama.


"Ada yang mau kamu bicarakan?" pria itu melipat kedua tangannya di dada.


Vania terdiam. Otaknya terus berputar mencari cara memulainya. Juga mempertimbangkan apa dirinya harus mengatakan hal ini atau tidak? atau memperkirakan hal apa yang akan terjadi setelah dia mengataknnya kepada Arya.


Dan yang paling mungkin terjadi adalah pria itu menjauh. Seketika hatinya terasa sakit.


Mengapa hal ini terasa sangat berat? batinnya.


Vania menghembuskan napas pelan, namun kemudian tiba-tiba dia terisak.


"Kamu ... kenapa?" Arya menoleh.


"Abang akan berubah nggak kalau aku bilang sesuatu?" dia berusaha untuk berbicara.


"Soal apa?"


Vania menyeka air mata yamg mulai meleleh di pipinya.


"Sikap Abang bakal berubah nggak kalau aku ngomong jujur sekarang?"


Gadis itu terdiam sejenak.


"Aku takut nanti abang akan berubah kalau aku jujur, tapi untuk menyimpan ini sendirian aku udah nggak sanggup. Aku nggak tahu mesti gimana." katanya disela isakan.


Arya menarik dan menghembuskan napas dengan pelan.


"Bagaimana abang mau bersikap, sedangkan abang tidak mengerti apa yang kamu bicarakan? abang malah bingung." Arya menjawab.


"Janji dulu abang nggak akan berubah setelah aku bicara."


"Soal apa?"


"Janji dulu bang!" Vania meminta.


"Perasaan abang tidak enak ini, jangan-jangan kamu mau kita putus beneran?" Arya kembali tertawa.


"Abang ihh!!" Vania mulai merengek.


"Baiklah, baik ... apa?"


"Janji dulu kalau abang nggak akan berubah setelah aku ngomong!" dia mengulang kalimatnya.


Arya terdiam.


"Abang?"


"Hmmm?"


"Janji dulu!" ucapnya lagi.


"Baiklah, ... abang janji." akhirnya dia menyerah. "Sekarang, bicaralah." katanya.


Vania terdiam untuk mempersiapkan diri.


"Aku ... sebenarnya ... udah di jodohin." dan kalimat itupun meluncur dari mulut Vania.


Arya terlihat menahan napasnya untuk sejenak.


Dengan takut-takut Vania menceritakan segala hal kepadanya. Tentang perjodohan, tentang janjinya kepada sang ayah, dan tentang keinginan ibunya untuk mewujudkan janji itu saat ini, yang waktunya hampir tiba semakin dekat.

__ADS_1


Diakhir kalimat dia menutup wajah dengan kedua tangannya, menahan tangis yang kian menyeruak memaksa meruntuhkan pertahanan hatinya.


Sedangkan Arya masih terdiam menatap gadis itu tanpa eksprsi. Ini adalah hal yang paling tidak dia pikirkan, namun perkiraannya tentang masalah yang mungkin akan muncul di kemudian hari, nyatanya benar adanya. Dan untuk itu, Arya sudah mempersiapkan diri.


"Jadi, ... apa yang mau kamu lakukan setelah ini?" dia kembali bersuara.


Vania masih terisak.


"Kamu mau kita beneran putus?" tanyanya.


"Nggak mau!" Vania bereaksi. Dia kembali mengusap wajahnya untuk mengeringkan air mata yang terus mengalir.


"Terus mau bagaimana?"


"Aku nggak tahu, aku bingung. Makanya aku minta untuk diem-dieman kayak gini karena lagi mikirin gimana caranya menyelesaikan masalah ini. Tapi nyatanya aku nggak bisa menemukan cara apapun."


"Tapi diam-diam seperti ini juga tidak akan menyelesaikan masalah."


"Abang pikir aku harus ngomong sama ibu?" dia meminta pendapat.


"Ya iya, bukannya kamu sendiri yang bilang akan bicara dengan ibu?"


Vania mengangguk pelan.


"Tapi belum?"


Gadis itu kemudian menggeleng.


"Kenapa?"


"Kamu ragu?"


"Aku ... takut."


"Takut?"


"Takut mengecewakan ibu, karena ini berhubungan langsung dengan ayah."


"Waktu itu aku masih SMP, dan nggak ngerti harus gimana, yang aku tahu, aku melakukannya karena takut kehilangan ayah dan berharap dengan begitu ayah bisa sembuh." dia menjelaskan.


"Tapi janji tetaplah janji, Vania. Dan yang kamu hadapi adalah orang tua." Arya berujar.


"Jadi aku harus gimana?" dia kembali menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Mungkin sebaiknya kita sudahi saja sampai disini." jawab Arya.


"Apa?" Vania mendongak. "Nggak mungkin? abang udah janji." dia bereaksi.


"Lalu apa mau kamu? melanggar janji dan membantah orang tuamu?"


"Abang, aku mohon jangan begitu!"


"Apa yang mau kamu lakukan?"


"Aku ... mau menolak perjodohan itu. Aku nggak mau dijodohkan dengan orang yang nggak aku kenal!"


"Dan membantah orang tuamu?"


"Bukan membantah, aku cuma mau membatalkan perjanjian itu ... aku harus ketemu mereka, iyakan? aku harus ketemu temennya ayah. Oh, ... kenapa nggak kepikiran? padahal tadi pagi hampir aja ketemu. Iya, aku harus ketemu mereka, minta maaf, dan bilang kalau aku nggak bisa menerima perjodohan ini. Mereka pasti ngerti kan, kalau aku ..." dia meracau.


"Vania, ..." Arya bergeser ke sisi dimana gadis itu berada, kemudian meraih tangannya. Menenangkannya yang mulai diserang panik.


"Nggak, aku nggak mau kayak gitu, aku udah nunggu lama tapi mereka baru datangnya sekarang, salah mereka sendiri kan? masa aku harus maksa melakukan apa yang nggak mau aku lakukan?" dia semakin meracau.


"Sssttt ... Van, ..." Arya menariknya kepelukan, "Stop, stop! jangan diteruskan. Kita akan pikirkan itu nanti. Sekarang tenanglah dulu!" dia memeluknya dengan erat.


"Aku nggak mau kita putus, masa baru jadian beberapa minggu udah putus lagi? nggak mungkin dong! aku juga udah nunggu abang lama, dari awal kuliah. Masa harus aku korbanin sekarang? nggak mau!" dia menangis lagi.


Arya tertegun cukup lama, membiarkan gadis itu menangis di pelukannya, dan mencerna kata yang dia ucapkan barusan.


"Dari awal kuliah?" dia bergumam.


Vania mengangguk, dengan isakan lirih yang masih keluar dari mulutnya.


"Kamu mau abang melakukan sesuatu?" ucap Arya kemudian.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


mau bang mau, kuy lah kita edankeun!!


Vote sama hadiahnya mana gaess? aku nungguuuuuhhhhhhhh!!!

__ADS_1


miss you segudang!



__ADS_2