Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Rumah


__ADS_3

🌺


🌺


"Abang masak?" Vania muncul dari dalam kamarnya setelah membersihkan diri, ketika mencari sang suami yang tak ada disisinya setelah memeluknya semalaman. Melihatnya tengah sibuk di depan kompor yang menyala.


"Hanya nasi goreng dan telur dadar." pria itu menoleh, kemudian mematikan kompor. Dia meraup nasi dan meletakkannya ke dalam piring yang sudah tersedia di meja.


"Ayo makan?" katanya seraya mengambil segelas air putih yang sudah dia tuangkan.


"Mungkin tidak seenak buatan kamu, tapi lumayanlah." pria itu terkekeh.


Vania tertegun menatapnya dengan perasaan haru, dia baru menyadari betapa banyak hal yang dia lupakan selama beberapa hari ini, termasuk mengurus suaminya karena kesedihan yang sama-sama mereka rasakan.


"Maaf, ..." Vania menghambur untuk memeluknya.


"Hum? kenapa meminta maaf?"


"Karena terus berduka aku malah lupa mengurus abang." katanya.


"Kita sama-sama berduka, tapi jangan khawatir, abang bisa mengurus diri sendiri. Justru yang abang khawatirkan itu kamu. Cepatlah pulih, dan jangan bersedih terus." Arya mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


"Nah sekarang, ayo kita makan?" ucap pria itu, yang menggiring Vania ke dekat meja makan dan mendudukannya di kursi. Kemudian mereka makan dari piring yang sama, seperti biasa.


***


"Abang kerja?" Vania bertanya disela kegiatan sarapan mereka.


"Tidak."


"Udah lebih dari satu minggu abang dirumah."


"Memang, lalu?" Arya mengunyah makanannya.


"Gimana kerjaan abang?"


"Tidak bagaimana-bagaimana, biasa saja. Abang ambil cuti." pria itu menyunggingkan senyum.


"Cuti lagi?"


"Iya."


"Sampai kapan?"


"Sampai kamu benar-benar pulih dan bisa abang tinggal bekerja."


"Aku udah nggak apa-apa Kok."


Arya tersenyum lagi kemudian menggelengkan kepala.


"Maaf." Vania tertuduk lagi denga perasaan menyesal. "Karena udah nyusahin abang. Aku bikin kegiatan semua orang terhambat."


"Tidak. Abang memang sengaja ambil cuti lagi. Bukan karena kamu, tapi memang abang pikir sepertinya abang butuh waktu lebih banyak. Atau mungkin abang perlu resign?"


"Kenapa resign?" Vania mendongak.


"Seperi yang pernah Kamu bilang, kalau kita tidak akan selamanya bekerja di perusahaan orang lain Kan? sepertinya abang sudah harus memikirkan untuk pensiun dan membuat usaha abang sendiri. Selain itu, biar kita banyak waktu bersama juga." pria itu menjelaskan.


Vania terdiam lagi menatap wajah tegas di depannya. Dia yang bukan siapa-siapa, yang tak memiliki hubungan darah dengannya, namun mengurusnya dengan baik sejak mereka terikat sebuah hukum pernikahan. Dia bahkan mampu melakukan banyak hal untuknya, disamping kewajibannya sebagai suami. Apalagi di saat-saat sulit seperti ini, dia lebih banyak mengorbankan waktunya.


Matanya berkaca-kaca, dan dia hampir menangis.


"Aku janji, akan pulih dengan cepat. Aku nggak akan membuat pengorbanan abang sia-sia, kita akan memulai lagi semuanya bersama kan?" katanya dengan suara parau.


"Tidak ada pengorbanan, abang hanya melakukannya karena memang ingin. Lagipula, memang seharusnya begitu bukan? kita ini suami istri, segalanya harus dijalani bersama." Arya menyentuh tangannya.


Vania menganggukan kepala.


"Nah, setelah ini abang harus keluar dulu sebentar. Tidak apa-apa kan abang tinggal? tidak akan lama." pria itu kembali berbicara.


"Kemana?"


"Rasya tadi menelfon, meminta abang untuk datang kerumahnya."


"Mau apa?"


"Tidak tahu. Mungkin ada kabar penting?"

__ADS_1


"Hmm...


"Kalau begitu, abang pergi sekarang, biar bisa cepat pulang lagi. Oke?" ucapnya sesaat setelah selesai sarapan.


"Oke."


🌺


🌺


Dan dia tiba dirumah besar itu, bersamaan dengan Rendra dan Hardi, dua adik iparnya yang juga hadir disana.


"Apa ada yang penting?" Arya langsung bertanya.


"Kita sudah dapat hasilnya, bang." jawab Rasya, yang menunjukan layar laptop yang beberapa hari ini menjadi perhatiannya.


"Apa?"


"Kita bisa mengakses jaringan cctv di kafe, juga beberapa tempat di dekatnya."


"Oh ya? bagaimana bisa?" Arya mendekat.


"Bisa saja."


"Kamu meretas jaringan internet?"


"Begitulah, ....


"Bagaimana bisa?" Arya mengulang kalimatnya.


"Bisa, semuanya bisa dilakukan. Dengan sedikit ketekunan dan ada beberapa hal juga yang tidak bisa dijelaskan karena akan membuang waktu kita." pria itu tergelak.


"Hmm...


"Curiga kita berhadapan sama hacker, nih?" Hardi bergumam disela percakapan.


Rasya hanya tersenyum dengan alis yang dia angkat keatas.


"Nah kan?"


"Sudah, ..." Rasya menunjuk layar laptopnya yang tengah memutar sebuah video yang dia ambil dari cctv hotel di depan.


"Tidak ada yang mencurigakan?" Rendra berucap.


"Memang, semuanya normal bukan?" jawab Rasya.


Kemudian dia menekan tombol lainnya, dan video tersebut beralih. Kini penampakan sebuah kegiatan di dalam ruangan. Beberapa orang berseragam kafe tampak membereskan pekerjaan mereka. Menata ulang perabotan, dan merapikan segala hal. Termasuk mencabut beberapa kabel yang tidak perlu. Dan seseorang diantara mereka memeriksa hingga beberapa kai untuk memastikan.


"Apa korsleting listrik?" Hardi bertanya.


Rasya mengisyaratkan dengan tangannya, kemudian dia mengetuk layar, yang beralih pada video lainnya dengan waktu yang tertera diatasnya setelah beberapa jam kemudian.


Seseorang tampak masuk dari pintu belakang, sepertinya diambil dari cctv di belakang kafe. Seperti pria berperawakan tinggi dengan pakaian hitam, tentu saja untuk berkamuflase diantara keremangan malam. Mengenakan helm dan masker yang menutupi wajahnya. Menjebol pintu belakang dengan mudah menggunakan linggis, dia kemudian mengendap-endap kedalam banguna kafe sambil menenteng sebuah jerigen, yang mereka yakini berisi bahan bakar. Yang kemudian ditumpahkannya ke sekeliling area.


Pria itu segera keluar setelah melakukan tugasnya, kemudian dia terlihat berdiri sebentar diambang pintu belakang. Menyalakan korek api kemudian melemparkannya kedalam bangunan, yang segera membuat bangunan itu terbakar. Dan pria tersebut pergi dengan sepeda motor yang terparkir di sisi lainnya.


"Dia terlihat profesional, dia tahu pada jam-jam itu jalan dibelakang kafe sepi. Dan dia bekerja dengan sangat rapi." Rasya setelah video selesai diputar.


"Flat nomor motornya jelas." sahut Hardi.


"Itu palsu, sudah saya telusuri, dan itu bukan. nomor yang seharusnya dia pakai." jawab Rasya.


"Hmmm...


"Jadi intinya?" Rendra menyela.


"Dia dibayar seseorang untuk melakukannya."


"Rahma?" Arya buka suara.


"Belum tahu, tapi setiap kemungkinan itu pasti ada bukan? jadi saya memutuskan untuk meyelidikinya, dan hasilnya..." Rasya menunjukan hal lainnya lagi. Sebuah video yang dia ambil dari cctv sebuah restoran yang terletak beberapa blok dari kafe.


"Ini beberapa hari sebelumnya." sosok sepasang suami istri yang tengah berbincang dengan seorang pria berperawakan tinggi.


"Apa ini Rahma?" Rasya menunjuk perempuan yang terlihat terus berbicara dan menunjuk-nunjuk sebuah gambar diatas meja, yang setelah di perbesar dan di perjelas tampak seperti bagian depan kafe milik Melly.


"Apa ada kemungkinan mereka yang melakukan?"

__ADS_1


"Bisa jadi. Bukankah setiap kemungkinan itu ada? dan beberapa kali juga mereka mendesak tante Melly untuk menjual kafe, ditambah pertengkaran dengan Vania sebelumnya? cukup beralasan bagi mereka untuk melakukannya, bukan?"


Tiga pria di hadapannya menganggukan kepala bersamaan.


"Jadi?" Hardi bereaksi.


"Saya sudah mengirimkan copian videonya kepada polisi tadi pagi, ditambah keterangan dari Tante Melly kemarin dan mungkin sekaramg ini mereka sedang melakukan penyergapan. Kita hanya tinggal menunggu telfon dan... .


Dering ponsel menginterupsi percakapan empat pria dewasa ini, dan segera menyita perhatian mereka.


"Ya?" Rasya menjawab panggilan.


" ..


"Baik pak, kami akan segera kesana. Terimakasih." dia tampak tersenyum lega.


"Buktinya sangat berguna, dan si pembakar sudah ditangkap. Polisi mengenali dia sebagai recidivis, tinggal menunggu dia mengaku, dan... semuanya akan terbuka dengan mudah." pria itu merebahkan punggungnya pada sandaran sofa dengan kedua tangan yang dia lipat di dada.


"Semudah itu?" kini Rendra yang bereaksi.


"Jejak digital itu mudah dilacak, tapi sulit dihapus." jawab Rasya dengan entengnya.


"Jadi?"


"Sekarang kita bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan enak. Hanya menunggu panggilan dari polisi." dia tersenyum puas.


🌺


🌺


Arya tiba dirumah saat hampir tengah hari, meletakan sebuah bungkusan besar yang dibawanya dari sebuah toko mainan yang dia lewati saat perjalanan pulang. Kemudian mencari keberadaan istrinya yang tak muncul menyambut kedatangannya.


"Van?" panggilnya, dan dia hampir meniti tangga ke lantai dua saat melihat pintu belakang terbuka lebar.


Pria itu menoleh dan kedua matanya terbelalak seketika saat melihat tubuh semampai Vania tertelungkup di rumput, tepat di atas gundukan tanah tempat dia menguburkan janin.


"Vania?" dia berjalan tergesa dengan langkahnya yang panjang-panjang, segera menghampiri perempuan itu yang tampak tak terganggu. Arya menyingkap rambutnya untuk melihat wajahnya, dan dia terpejam dengan erat.


"Van... " dia segera menariknya, dan pada saat yang bersamaan perempuan itu membuka mata.


"Abang udah pulang?" Vania bergumam pelan.


"Kamu ... tidak apa-apa?" Arya dengan nada panik.


Vania menggelengkan kepala, lalu dia menyurukan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Abang lama, aku kesepian. Jadinya aku ngantuk." ucapnya.


"Kenapa tidak tidur di dalam?"


"Biar ada temen, ..." jawab Vania dengan polosnya.


"Hhh... " Arya menghela napasnya dalam-dalam, dan ini akan menjadi hari-hari yang panjang dan menguras emosi, menghadapi perempuan yang mentalnya sedang down karena kehilangan.


Sabarkan aku ya Tuhan! batinnya.


"Ayo!" dia bangkit dan menarik perempuan itu berdiri.


***


"Abang tadi beli ini dulu." dia menunjukan bungkusan yang dibawanya.


Vania membukanya, dan seketika kedua matanya membulat sempurna.


"Rumah-rumahan." katanya, lalu dia mendongak ke arah suaminya.


"Iya, agar dia tidak kehujanan dan kepanasan dan kamu tidak khawatir lagi." Arya berujar. "Abang tidak sempat membuat sendiri, jadi abang beli saja tadi sambil lewat." pria itu tersenyum walau dengan perasaan sesak yang mulai menggelayuti hati. Kemudian dia meletakan rumah mainan itu diatas pusara seperti janjinya semalam saat hujan deras.


"Hmmm... makasih Abang." Vania kembali menghambur ke pelukannya. "Dia juga punya rumah sekarang." Katanya, dengan perasaan haru.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....

__ADS_1


Masih sedih ah, ... 🤧🤧


jangan lupa like komen sama hadiahnya gaess 😘😘


__ADS_2