
🌺
🌺
Bulan-bulan berikutnya...
[Malam ini Abang ada lembur lagi, sepertinya tidak sempat untuk menjemput kamu, tidak apa-apa kan pulang sendiri?] pesan dari nomor ponsel Arya dia terima pada hampir malam, setelah Vania menunggunya dengan makanan di meja yang dia persiapkan dari satu jam yang lalu. Namun masih sama seperti malam-malam sebelumnya, bahwa pria itu kembali tak bisa pulang tepat waktu.
[Baiklah, ...] balasnya dengan malas.
[Padahal aku udah siapin makan malam, aku pikir abang bakal pulang dulu?] lanjutnya.
[Maaf, abang lupa memberitahu dari siang, soalnya banyak tempat yang harus abang datangi. Beberapa lokasi sudah memulai pembangunan. Dan malam ini abang harus menyelesaikan rancangan lainnya.] Arya menjelaskan.
[Nggak bisa dibawa pulang gitu? kemarin-kemarin bisa di kerjain dirumah? Bulan kemarin malah abang biasa ambil tiga hari kerja, dan sisanya kerja dirumah?]
[Sayangnya tidak bisa, karena ini kerja tim, bukan hanya abang seorang.] jawab Arya.
[Ya udah.] Vania meletakan ponsel diatas meja, diantara piring-piring berisi makanan hasil kreasinya. Dia kembali merasa kecewa.
"Mi?" panggilnya kepada pegawai yang tengah membereskan pekerjaannya.
"Ya?" gadis itu datang menghampiri.
"Bungkus gih, kalau kamu mau. Bawa pulang aja." tunjuknya pada makan di meja.
"Lho? bukannya buat Bang Arya?"
"Dia mau lembur." Vania bangkit dari kursinya, kemudian menghabur kedalam ruangannya di belakang pantry.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rolling door sudah dikunci rapat, dan mereka memastikan tempat itu sudah aman. Dua buah gembok besar bahkan dipasang mengingat banyak barang penting di dalam kedai tersebut.
"Kamu mau aku anterin dulu?" tawar Mimi yang menyalakan motor maticknya.
"Nggak usah, aku order ojeg online aja." jawab Vania, yang menyalakannya ponselnya.
"Ya udah, kalau gitu aku duluan ya?" pamit pegawainya itu yang dijawab anggukan oleh Vania.
Sebuah motor tiba beberapa saat kemudian, dengan helm dan seragam khasnya, menandakan dia driver dari sebuah aplikasi angkutan online terkenal di Indonesia.
"Dengan Mbak Vania?" tanya sang driver.
"Saya sendiri." jawab Vania.
"Baik, silahkan." pria tersebut menyerahkan helm kepada Vania yang langsung diterima perempuan itu untuk dia kenakan.
Motor itu membawanya menyusuri jalan kota yang selalu ramai, para penikmat wisata malam mulai berkumpul di beberapa titik area terkenal yang sering menjadi ajang berkumpul dan tempat nongkrong anak muda kota Bandung, dan mungkin juga banyak wisatawan dari luar kota.
Kendaraan roda dua tersebut lewat di depan sebuah kafe yang masih beroperasi. Dan Vania memutuskan untuk mampir sebentar setelah bernegosiasi dengan sang driver.
"Sudah saya katakan, sekali tidak tetap tidak!" Suara Melly terdengar nyaring dari dalam ruangannya.
"Apa sih yang mbak coba pertahankan? mbak mau bagian yang lebih banyak? mbak lagi merencanakan sesuatu ya untuk mendapatkan kafe ini, dan menghilangkan saya dari daftar ahli waris setelah Mas Indra?" suara perempuan yang sangat Vania kenal terdengar menjawab.
"Kamu salah sangka, sudah saya katakan tidak ada hubungannya dengan itu."
"Tapi sikap mbak menunjukan hal lain lho." ucap Rahma lagi.
__ADS_1
"Saya mempertahankan kafe ini karena amanat dari suami dan mertua, yang berpesan untuk tidak menyerahkan tempat ini kepada siapapun. Temasuk kamu." jawab Melly.
"Saya adiknya mas Indra lho, anaknya papa juga. Jadi hak saya sama dengan mas Indra, lebih besar dari pada mbak."
"Tapi amanat itu papa berikan kepada saya."
"Alah, ... mbak ini mengada-ada, buktinya apa kalau Papa memberikan amanat itu kepada mbak?"
"Kamu tidak membaca surat wasiat itu dengan teliti, Rahma."
"Saya baca, tapi tetap saja saya tidak percaya. Tulisan bisa dimanipulasi. Apalagi waktu itu saya nggak diajak berunding." sergah Rahma.
"Kenapa harus diajak berunding? sementara waktu masih merintis tante nggak mau membantu?" Vania memutuskan intuk ikut mendebat perempuan itu, membuat mereka yang berada di dalam ruangan itu terhenyak.
"Apa sih yang tante inginkan? sudah mendapat bagian penghasilan tanpa ikut bekerja, tapi makin kesini tante makin ngelunjak."
"Kamu tidak tahu apa-apa Vania, lebih baik kamu mundur. Ini urusan orang tua."
"Sebaiknya tante yang mundur, sebelum aku melakukan tindakan lain. Jujur, kelakuan tante ini semakin membuat aku merasa terancam."
"Saya hanya sedang meminta hak saya sebagai anaknya papa juga."
"Itu terus yang tante bahas? nggak bosen apa? atau nggak tahu malu? yang ibu kasih sama tante setiap bulan itu apa? bukan hak?"
Rahma terdiam.
"Tante dapat hasil kafe tanpa harus kerja kayak ibu lho, dan itu udah lebih dari apapun. Udah ngga harus kerja, dapat duit lagi, enak banget hidup tante... sama om. eh, ...sekarang masih minta lebih? apa itu bukan nggak tahu malu namanya?"
"Jaga ya ucapan kamu!"
"Bukan aku yang harus jaga ucapan. Tapi tante yang harus jaga sikap. Jangan mau enaknya aja, tapi nggak mau kerjanya. Om juga, gimana sih jadi laki-laki, nggak bisa nafkahin istrinya ya, sampai-sampai harus ngemis-ngemis maksa kaya gitu? malu dong sama mobilnya yang bagus, juga rumahnya yang mentereng. Tapi masih tetep minta-minta penghasilan kafe tanpa mikir kerja kerasnya?"
"Kamu ya, berani sama yang lebih tua?" Rian merangsek ke hadapan perempuan itu, mendorong Vania hingga tubuh bagian belakangnya membentur pintu.
"Kenapa aku harus takut? karena Om lebih tua? nggak ngaruh." Vania menyingkirkan tangan pria itu dari pundaknya. Kemudian maju beberapa langkah untuk balik mengintimidasi.
"Udah mas, ngak usah diladenin. Anak kecil yang nggak tahu apa-apa macam dia nggak usah kita tanggapi." Rahma menghalangi suaminya dari tindakan lebih.
"Kita lanjutkan nanti Mas. Sekarang kita pergi dulu." sambungnya, yang kemudian menarik suaminya untuk keluar dari tempat itu.
***
Melly menghela napas pelan, dan dia mencoba untuk menenangkan diri. Usahanya untuk menyembunyikan beberapa hal dari Vania gagal sudah. Kini putrinya itu pasti tidak akan percaya dengan alasan yang akan dia lontarkan.
"Sekarang apa lagi sih bu?" Vania Mulai bertanya.
Melly belum menjawab.
"Bu?" perempuan itu menyentuh tangan ibunya.
"Mereka ingin menjual kafe ini." akhirnya Melly buka suara.
"Apa?"
"Sudah ada pengusaha yang menawar dengan harga tinggi."
"Terus?"
"Ibu tolak." Melly menatap wajah putrinya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tapi pengusaha itu menghubungi Rahma, dan dia langsung setuju."
"Tante Rahma gila apa ya? dia nggak mikir selama ini hidup dari hasil apa? kalau dijual kita cuma bisa menikmati hasil kafe sebentar, nggak sampai tahunan. Tapi kalau kita pertahankan, kafe akan bisa menghidupi kita sampai waktu yang nggak kita tahu, bahakan mungkin tempat ini bisa diwariskan sama keturunan kita nanti." Vania bereaksi.
"Itu yang coba ibu jelaskan kepada tantemu, tapi dia tetap tidak mengerti. Dia mau mendapat bagiannya sekarang tanpa memikirkan hidupnya nanti."
"Ah, ... nggak ngerti sama jalan pikirannya tante Rahma." Vania menghempaskan bokongnya pada kursi tak jauh darinya.
"Sudah, ... jangan pikirkan. Biarkan ini jadi urusan ibu...
"Ibu mau jual kafenya?"
"Sudah ibu bilang tidak akan. Sayang juga kalau ingat nantinya tempat ini akan dijadikan hotel dan pub kalau ibu jual."
"Banyak kenangan kita disini Bu. Ini juga tempat aku dapat banyak ilmu, yang bisa aku gunakan sekarang."
"Memang, ...
"Jadi... apa yang akan ibu lakukan?"
"Entahlah, ... Rahma harus dibungkam agar dia tidak mengusik terus."
"Kita kasih tante Rahma bagiannya? bukannya ada hak dia juga di kafe ini?"
"Dia mau setengah dari kafe ini, dan itu bukan jumlah yang sedikit. Ibu tidak punya uang sebanyak itu." Melly menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu mereka berdua terdiam.
***
"Oh iya, kamu baru pulang dari kedai?" Melly Kemudian bertanya.
"Iya."
"Sendiri? kemana Arya?"
"Abang lembur, pulangnya masih lama." Vania menatap jam di layar ponselnya.
"Kamu mau tunggu Arya disini?"
"Nggak tahu, ibu sendiri gimana?"
"Mungkin ibu mau pulang. Berpikir disini malah membuat ibu pusing."
"Jangan terlalu dipikirin juga bu, takutnya malah bikin ibu sakit."
"Tidak. Hanya sedang mencari cara agar Rahma tidak terus mendesak ibu untuk menjual kafe ini."
"Besok kita pikirin soal itu, mungkin sekaramg kita harus pulang dulu?"
"Kamu benar. Mau pulang sama-sama?" Melly bangkit dari sofa.
"Boleh, aku yang bawa mobil. Aku antar ibu kerumah, besok aku balikin sambil berangkat.
"Baiklah... " dan dua perempuan beda usia itupun memutuskan untuk pulang.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung...