Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Pertemuan


__ADS_3

🌺


🌺


"Abang yakin mau nemuin ibu sekarang?" Vania kembali bertanya ketika mereka tiba di pelataran parkir kafe milik Melly pada petang hari.


"Kamu tidak yakin?" Arya balik bertanya.


Vania menatapnya untuk beberapa saat, dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa bahagia, juga bangga, dan debaran hebat jelas menguasai hatinya.


"Aku sayang sama abang." Vania berucap, yang merupakan kalimat ke sekian kali yang dia ucapkan hari itu.


"Abang juga sayang kamu." Arya mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


"Gimana kalau ibu menolak?" dia mulai was-was.


"Kita tidak tahu, baru saja akan mencari tahu kan?" jawab Arya, dengan tenang seperti biasa.


"Bicara dulu, berusaha dulu, baru kita akan tahu hasilnya nanti." lanjutnya.


"Bagaimana kalau hasilnya nggak seperti yang kita inginkan?" Vania terus berbicara seolah tengah mengulur waktu.


"Kita akan terus berusaha sampai hasilnya menjadi seperti yang kita inginkan."


"Abang maksa."


"Kalau tidak seperti itu, abang tidak akan berhasil menghidupi adik-adik abang." kemudian Arya terkekeh.


Vania menarik napas dalam-dalam untuk menenagkan hatinya yang terasa kacau.


"Aku takut." dia berbisik.


"Jangan takut. Kita hanya akan menghadapi ibumu, bukan monster haus darah di hutan yang gelap." Arya tergelak.


"Abang ih, ... nggak lucu!" Vania menepuk pundak pria itu beberapa kali dengan kepalan tangannya.


"Abang tidak sedang melucu." Arya menahannya, kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Aku sayang sama abang." dia mengucapkannya lagi.


"Sudah dua puluh kali kamu mengatakan itu." gumam Arya sambil menatap wajahnya.


"Apanya?"


"Kamu bilang itu."


Vania menahan senyum.


"Karena nggak cukup sekali dua kali, ..." katanya kemudian.


"Jangan terlalu banyak."


"Kenapa?" Vania menjengit.


"Nanti abang diabetes karena kedengarannya terlalu manis." Arya tergelak lagi.


"Ish, ... Abang aneh, harusnya ini jadi momen yang romantis tahu? tapi jadi absurd." Vania mencibir.


"Abang memang nggak romantis, kan sudah tahu?"


Vania tersenyum, seraya mengeratkan tautan tangan mereka.


"Ya sudah, ayo kita temui ibumu?" ajaknya, yang kemudian membuka pintu mobil.


"Sebentar." Vania menahannya.


"Apa lagi ..." Arya terhenyak ketika gadis itu mendekat kepadanya, kemudian bibir mereka bertemu.


Vania menariknya sehingga tubuh mereka kehilangan jarak, dan di detik berikutnya keduanya saling mengecap. Diiringi debaran di dada yang mulai meningkat, dengan perasaan yang meluap-luap.


"Mmm ... " Vania menggumam saat merasakan ciuman pria itu mulai mendalam, dan dia meyesap bibirnya dengan keras. Kemudian tangan Arya merayap di pinggangnya, semakin merapatkan tubuh mereka berdua.


Namun Arya tiba-tiba menghentikan cumbuannya ketika gadis itu mulai terbawa suasana. Dia menempelkan kening mereka berdua.

__ADS_1


"Ayo temui ibumu?" kemuidian dia berbisik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arya mengerutkan dahi ketika melihat mobil yang dikenalnya terparkir tepat di depan pintu masuk kafe.


"Kenapa?" Vania bertanya.


"Tidak kenapa-kenapa. Kafenya rame ya?" katanya.


"Hmm ..." Vania bergumam, dan mereka melanjutkan langkah memasuki tempat tersebut.


"Vania!" suara Melly terdengar memanggil, dan mereka menoleh.


"Ibu?" gadis itu menoleh.


"Kebetulan kamu kesini, tadinya mau ibu telfon."


"Oh ya?"


Melly menganggukan kepala, kemudian dia beralih kepada pria di samping putrinya.


"Arya? kalian datang sama-sama?" lalu dia bertanya.


"Iya, tante." pria itu menganggukan kepala.


"Ah, ... kebetulan kalau begitu." Melly tampak riang.


"Kenapa?" Vania mengerutkan dahi.


"Kebetulan, kita akan mengobrol." jawab Melly.


"Oh iya, aku juga mau ngobrol sama ibu."


"Benarkah?"


Vania mengangguk.


"Soal ...


"Ish, ... disana saja ngobrolnya. Kebetulan ada yang sedang menunggu." Melly menarik lengan putrinya ke sebuah area di bagian belakang kafe, yang di bentuk menyerupai taman dengan tanaman hijau dan beberapa macam bunga.


"Si-siapa?" Vania tersaruk-saruk mengikuti lagkah ibunya, tanpa lupa dia menggenggam tangan Arya dengan erat.


"Calon mertua," ucap Melly sambil tertawa.


"Ca-calon mertua?" Vania terbata.


"Iya, dan tebak ..." mereka tiba di tempat itu, tepat di dekat meja dimana dua orang pria berbeda usia tengah duduk menunggu. "Raja adalah orangnya!" ucap Melly dengan riang.


Deg!!


Seperti ada yang meledak di dalam dada dua anak manusia itu.


"Ap-apa bu?" Vania meyakinkan pendengarannya.


"Raja, anaknya Pak Harlan, teman ayah kamu." Melly memperjelas perkataannya.


"Ibu tidak menyangka sama sekali, ternyata jalian berjodoh." dia menarik putrinya ke dekat mereka, dan seketika tautan jari Vania dan Arya pun terlepas. Pria itu tertinggal di belakang.


"Ap-apa?" gadis itu tersentak.


"Pak Harlan, ini anak saya, Vania." panggilnya kepada tamu yang sudah menanti, dan pria paruh baya itu bangkit untuk menyambutnya.


"Apa kabar Nak?" dia mengulurkan tangan, yang disambut Vania dengan ragu.


"Seandainya tahu kalian sudah kenal dari dulu, mungkin tidak akan menunggu selama ini untuk membuatnya bersedia datang." Harlan melirik ke arah putranya yang juga bangkit mengikutinya.


"Hai Van?" sapanya dengan ramah, dan sebuah senyum terbit di sudut bibirnya.


"Kak Raja ..." Vania menjawab dengan lemah.


"Baru tadi siang saya menunjukan fotonya, dan dia langsung bersedia datang. Bukankah ini bagus? padahal sebelum-sebelumnya dia selalu dengan gigih menolak." Harlan tertawa.

__ADS_1


"Ah, iya. Kenapa tidak dari dulu di pertemukan? mungkin sekarang kita sudah punya cucu ya?" Melly menimpali, dan dia pun tertawa.


Vania merasa ingin berlari, dan dia menoleh ke belakang dimana Arya masih berdiri disana dengan perasaan sesak.


"Oh sampai lupa! Arya juga datang, Pak Harlan pernah bilang kenal dengan Arya 'kan?" ujar Melly.


"Oh ya? Arya? ya, dia pegawai saya, pemimpin salah satu cabang di Bandung." jawab Harlan yang mengikuti pandangan Melly.


"Keluarga kami sangat dekat, dan dia sudah seperti kakaknya Vania. Saya menganggapnya sebagai anak, juga dengan ketiga adiknya." dia menghampiri Arya, kemudian menuntunnya kehadapan dua pria di depan.


"Pak?" sapa pria itu kepada Harlan.


"Kebetulan sekali bukan? tadi kami mampir ke kantor, bermaksud mengajakmu kesini tapi kamu sedang keluar." Harlan berujar.


"Iya pak, ada peninjauan lokasi ..." Arya merasakan tenggorokannya seperti tercekat.


"Ya, ... saya tahu."


"Ya pak." dia melirik ke arah Raja yang terdiam menatap Vania dengan senyuman ceria yang belum hilang dari wajahnya.


"Jadi ... bagaimana?" Melly menyela.


"Santai lah dulu, kalau saya terserah anak-anak." Harlan kembali duduk di kursinya.


"Mereka sudah saling kenal, dan saya juga mengenal Raja dengan baik." Melly berujar.


"Tetap saja, ...


"Aku sih iya Pah." sahut Raja dari belakang, dan dia tertawa.


Vania mendongak, dan dia menahan napas.


"Kenapa nggak bilang dari dulu sih? kan aku nggak bingung."


"Kamu itu ...


"Ya iyalah, kirain sama orang yang nggak aku kenal, ya nggak mau lah." jawab pria muda itu, dan dia kembali tertawa saat mengingat di percobaan terakhir tadi siang ayahnya memperlihatkan foto gadis yang akan di jodohkan dengannya. Dan betapa bahagianya dia manakala mengetahui bahwa gadis itu adalah Vania.


Sementara dua orang di belakang Melly tengah saling berpegangan tangan dengan erat.


"Bu, aku nggak ..." Vania memotong perkataannya saat merasakan Arya meremat jemarinya dengan keras.


"Ya?" Melly menoleh.


"Sebenarnya aku nggak bisa ...


Arya kembali meremat jemari gadis itu, dan kini lebih keras. Membuat Vania menoleh dan Arya menggelengkan kepala denga samar.


"Saya, ... permisi Pak," Arya buka suara.


"Abang?" Vania mengeratkan tautan jari mereka.


"Oh iya, tadi kalian mau bicara apa?" Melly menahannya sejenak.


"Tidak ada, Tante. Saya hanya mengantarkan Vania, tadi mobilnya mogok di jalan." Arya berbohong.


"Bang?"


"Saya pamit." ucap pria itu lagi seraya melepaskan tangannya dalam genggaman Vania, kemudian mundur dan melangkahkan kakinya keluar.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Duh,


like, komen, vote sama hadianya selalu aku tunggu ...


mau nangis dulu di pojokan 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2