
🌺
🌺
Vania tersenyum lebar ketika menyambut kedatangan beberapa orang yang dikenalnya. Keluarga sahabatnya yang hari itu sengaja berkumpul di kedainya untuk menghabiskan sabtu sore bersama.
"Kalian datang?" sapanya.
"Mumpung semuanya lagi santai." Alena segera duduk dikursi, kemudian meraih Alea dari dekapan Hardi.
"Kak Anna masih belum pulang?"
"Masih di Lombok."
"Wah, ... lama juga ya?"
"Mumpung ada waktu, habis ini pasti sibuk lagi soalnya."
"Oh ya? langsung kerja lagi?"
"Ya, begitulah."
"Nggak berhenti?"
"Sebelum punya anak masih tetap kerja." jawab Alena.
"Oh, ..." Vania mengangguk-anggukan kepala. "Dilan?" dia bertanya saat tak ditemukannya balita tampan itu bersama kedua orang tuanya.
"Sama Bang Arya, mungkin sebentar lagi datang." jasab Hardi.
"Bang Arya?" tubuhnya sedikit menegang.
"Hmm ..." Alena mengangguk.
"Tumben?"
"Dia yang ngajak keluar, kebetulan lagi santai katanya."
"Oh, ..."
Kemudian dua orang yang dimaksud pun muncul beberapa saat kemudian. Dilan turun dari pangkuan Arya, lalu berlari menghampiri Vania.
"Ateu ...." katanya, yang menghambur ke pelukannya, dan Vania menyambutnya dengan riang.
"Kangen ih, ... udah seminggu baru ketemu lagi." dia memeluk dan menciumi balita berusia tiga tahun tersebut dengan hangat.
Kemudian perhatiannya beralih kepada pria yang berjalan menghampirinya. Arya yang berpenampilan santai, dengan kemeja hitam terbuka melapisi kaus oblong berwarna putih di dalamnya. Mengenakan jeans hitam panjang membungkus kakinya. Rambutnya disisir tak serapi biasanya, cenderung acak-acakan, dan membuatnya tampak berbeda hari itu.
"Abang?" sapanya kepada pria yang satu minggu ini tak ditemuinya karena kesibukannya.
"Hai, apa kabar?" ucap Arya sekilas, kemudian segera duduk di kursi kosong di sebelah Alena, tanpa mengucapkan hal lain.
Vania mengerutkan dahi, tak biasanya pria tersebut bersikap demikian kepadanya.
"Ka-kalian mau makan?" tanya nya, dengan rasa heran yang mulai menguasai pikiran.
"Orange jus dulu deh, papa mau apa?" ucap Alena yang kemudian beralih kepada suaminya.
"Samain aja, ... tambah spageti." jawab Hardi, yang tak melepaskan pandangan dari ponselnya.
"Mm ... abang?" Vania kemudian bertanya kepada Arya, dengan hati berdebar tentunya. Dia takut pria itu akan bersikap berlebihan karena mereka tak bertemu setelah pembicaran terakhir pada pernikahan Anna satu minggu yang lalu.
"Kopi." jawab Arya, singkat. Juga tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya.
"Kopi aja?" dia bertanya lagi.
"Hmm ..." Arya menjawab dengan gumaman, membuat Vania tertegun.
"Tanpa gula?"
"Ya."
"Ng ... yayang mau apa?" dia tersadar ketika balita dalam dekapannya menepuk wajahnya beberapa kali.
"Akelim, ... sama mi lulus."
"Mm ... eskrimnya nanti ya, sekarang mi lulus dulu." tawarnya.
"Hu'um." Dilan menganggukan kepala.
"Oke, tunggu sebentar." dia mendudukan balita itu di kursi kosong disamping Arya, sambil mencuri pandang ke arah pria itu yang tampak mengacuhkannya. Berharap dia melirik kepadanya, namun nihil.
***
"Kamu beneran nggak mau makan? sekalian aku bikinin." Vania kembali dengan nampan berisi dua posri spageti bolognese kesukaan Hardi dan anak laki-lakinya, juga secangkir kopi hitam tanpa gula pesanan Arya.
"Nggak dulu. Aku lagi nggak enak makan." tolak Alena yang segera menyesap orange jus pesanannya.
"Kenapa? sakit?"
"Nggak. Cuma perut aku lagi nggak enak aja."
"Hmm ... okelah kalau gitu." dia terdiam menunggu, namun orang yang dimaksud tidak bereaksi. Arya hanya asyik menyesap kopi miliknya, sambil tetap fokus pada ponselnya.
"Abang mau makan sekarang?" akhirnya Vania memberanikan diri bertanya.
"Nggak." jawab pria itu lagi, tanpa kata-kata yang lain.
Vania menatapnya dalam diam.
Orang ini kenapa ya? dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku ...
"Kamu kalau lagi sibuk, nggak apa-apa. Nggak usah nemenin kita. Lagi banyak pembeli kan kalau jam segini?" Alena berucap, seraya melirik ke belakang tubuh sahabatnya. Mereka memang datang di jam sibuk pada siang itu.
"Mm ... iya. Oke. Aku kesana dulu, nanti balik lagi ya?" ujar Vania yang kemudian pergi untuk melayani pembeli.
"Abang bisa nggak sih turunin cueknya dikit?" Alena bereaksi, ketika melihat kakak laki-lakinya yang kembali bersikap acuh seperti biasa.
"Apa?" Arya mendongak, mengalihkan perhatiannya sejenak dari layar ponsel setelah memantapkan janji untuk pertemuan bersama klien.
"Bisa nggak, kalau lagi diajak ngomong itu simpen dulu hapenya?" Alena berucap.
"Ini penting Al, abang dapat jadwal pertemuan dari Cindy." dia memperlihatkan layar ponselnya.
"Ya taruh dulu sebentar kek?"
__ADS_1
"Nggak penting lah kamu itu." gumam Arya, lalu menyesap kopi hitamnya yang mulai dingin.
"Abang ish, ..." keluhnya, saat sang kakak berlagak tak mau peduli lagi kepadanya.
Padahal sejak resepsi pernikahan Anna minggu lalu dirinya sudah merasa senang karena kakak laki-lakinya tersebut tampak mulai membuka diri, terutama kepada Vania saat dia melihat mereka bercakap-cakap dengan akrabnya. Dan hari ini dia bermaksud untuk membuat mereka berdua kembali berinteraksi agar lebih dekat lagi. Tapi kenyataannya malah mengecewakan.
"Abang pergi dulu, ada janji." Arya bagkit dari tempat duduknya setelah menghabiskan kopi miliknya.
"Dih?"
***
"Kakak lihat nggak barusan?" Alena kepada suaminya.
"Apa?"
"Sikap Abang kayak gitu lag?"
"Gitu gimana? kan abang kamu memang begitu dari dulu, apanya yang aneh?" Hardi fokus pada makanan, sambil sesekali menyuapi putranya yang memakan makanan yang sama dengan dirinya.
"Kemarin-kemarin udah nggak lho, sama Vania udah kelihatan akrab."
"Masa?"
"Hmm ... udah jarang berantem."
"Justru itu yang aneh. Biasanya berantem tiba-tiba akur."
"Huuh, ... padahal aku mau bikin mereka deket." Alena bergumam.
"Hah?" Hardi menoleh.
"Aku mau jodohin mereka ah, ..." Alena terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Apa kamu bilang?" Hardi meyakinkan pendengaran.
"Bagus kan ide aku? siapa tahu mereka jodoh?kan seneng." ucap Alena.
"Kamu mau jodohin Vania sama Bang Arya?" pria itu bertanya.
Alena menganggukan kepala sambil tersenyum.
"Kamu yang bener aja?"
"Maksud kakak?"
"Kamu mau jodohin Bang Arya sama Vania?" Hardi mengulang kata-katanya.
"Iya. Salah ya?"
"Kamu nggak mikirin umur mereka itu sejauh apa? Vania tuh udah kayak adiknya, dia kan seumuran kamu?"
"Terus masalahnya dimana?"
"Astaga!"
"Kenapa sih emang?"
"Perbedaan umur mereka tuh terlalu jauh Al, masa kamu tega mau jodohin sahabat kamu sendiri sama Abang yang jauh lebih tua?" Hardi berujar.
"Kakak mau bilang kalau Bang Arya tuh nggak pantes dapat Vania?" Alena dengan pikirannya.
"Maksud kakak Abang aku nggak pantes gitu kalau sama Vania?"
"Bu-bukan gitu Al, ..." Hardi tergagap.
"Jelas kakak bilang gitu tadi?"
"Nggak ish, ... maksudnya ..."
"Lho, Bang Arya kemana? pergi?" Vania yang muncul tiba-tiba.
"Ada janji katanya." Alena mengaihkan perhatian.
"Janji?" sahabatnya itu menjengit.
"Hu'um, tadi ada jadwal pertemuan dari asistennya." Alena mengangguk.
"Jadwal pertemuan?" Vania membeo.
Alena mengangguk lagi.
"Hari sabtu gini?"
"Iya."
Vania terdiam.
🌺
🌺
Gadis itu memainkan ponselnya diatas tempat tidur. Menantikan pesan dari orang yang memang tidak pernah mengiriminya pesan sama sekali semenjak mereka menjalin hubungan. Dia menyalakan benda pipih itu, kemudian menatapnya lama-lama, sambil berharap ada pesan masuk dari nomor Arya.
"Ngga asik banget sih? katanya pacaran, tapi nggak pernah nelfon apalagi kirim pesan? pacaran macam apa ini?" dia bergumam.
"Apa gaya pacaran anak jaman dulu tuh gini ya? Dih, ... ngebosenin!" dia menggerutu.
"Eh, ... apa dia marah ya, setelah obrolan waktu itu? tapi kelihatannya biasa aja, nggak apa-apa, tapi kenapa seminggu ini nggak ada kabar?" dia berbicara kepada dirinya sendiri.
"Ish, ... bikin frustasi!" dia mengacak rambutnya sendiri.
Perhatiannya teralihkan ketika pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Ya?" Vania setengah berteriak.
"Boleh ibu masuk?" pintu terbuka sedikit, dan Melly mengintip dari luar kamar.
"Masuk Bu." katanya, kemudian sang ibu pun masuk.
Melly duduk di tepi ranjang, sambil menatap wajah putrinya lekat-lekat.
"Bagaimana hari ini?" dia bertanya.
"Kayak biasanya bu."
"Apa ada masalah?"
__ADS_1
"Nggak, semuanya lancar. Selain pelanggan yang komplen gara-gara makanannya telat diantar."
"Masa? itu biasa kan?" Melly tekekeh. "Nanti kamu akan menemukan pelanggan yang lebih aneh dari itu."
"Iya abu. Kayaknya aku harus nambah pegawai lagi deh. Suka keteteran kalau lagi rame."
"Mm ... tambah saja."
"Tapi takut nggak mampu bayar." Vania tergelak. "Jadi, terpaksa deh aku harus ikutan kerjain banyak hal."
Melly menatap putrinya dengan perasaan haru dan bangga. Bagaimana tidak, gadis itu benar-benar tumbuh mandiri dan tangguh. Sejak usia remaja dia sudah terlatih melakukan banyak pekerjaan, mengikuti jejaknya bersama sang suami dalam menjalankan usaha rumah makan yang awalnya kecil, hingga kini berkembang cukup pesat. Vania membantu apapun yang dia bisa bantu, dan mempelajari banyak hal. Bagaimana memasak makanan, cara membuat camilan, mengolah bahan menjadi kue yang enak. Maka, tidak heran jika anak gadisnya itu sering menciptakan makanan baru yang dia olah dengan tangannya sendiri.
Apalagi setelah Indra, sang suami meninggal karena sakit, putrinya itu bekerja sangat keras, dia tumbuh semakin tangguh dan tak tergoyahkan tentang apapun. Vania memiliki pemikirannya sendiri.
Melly, merasakan keraguan di dalam hatinya tentang apa yang akan dia katakan kepada putrinya. Apakan gadis itu akan menurut, atau malah membantah?
Tapi ini soal janji. Janji sang suami yang harus dipenuhi begitu saatnya tiba. Dan dia mendapati bahwa saatnya memang telah tiba.
"Bisa kita bicara serius sekarang?" Melly memulai pembicaraan.
"Ibu mau bicara apa?"
"Soal ... ayahmu."
"Apa bu?"
"Seperti yang sudah pernah kamu dengar sebelum ayah meninggal, dia punya janji kepada sahabatnya, dan kamu juga berjanji untuk menjalani janji itu seperti apa yag ayahmu katakan."
Vania menahan napas, ternyata saatnya sudah tiba.
"Ibu sudah bertemu dengannya, dan dia juga berbicara soal ini. Apa kamu ingat?" ucap Melly.
🍁 Flashback on 🍁
Napas indra susah diujung, namun pria itu masih belum menyerah, dan dia menantikan kedatangan putrinya.
Vania remaja yang dijemput dari sekolah saat sang ayah dalam keadaan sekarat, setelah menjalani kemotherapi menyakitkan akibat kanker yang diidapnya selama beberapa tahun.
Namun segala usaha nyatanya tidak membuahkan hasil, dan pria itu harus tunduk pada takdir, bahwa dirinya tak bisa bertahan lebih lama dari ini.
"Ayah?" Vania mendekat, dia meraih tangan ayahnya, kemudian menggengamnya dengan erat.
"Anak ayah ..." pria itu dengan suara parau. Dia menggenggam tangan anaknya, dengan napas yang kian terputus-putus.
"Ayah ... tidak bisa bertahan lebih lama lagi, sayang." katanya.
"Ayah akan sembuh, ayah akan pulang dari rumah sakit, dan kita akan sama-sama lagi. Kerja di kafe, membuat makanan, mengajari aku membuat pastry, ..." Vania dengan terisak.
Indra menggelengkan kepala.
"Setelah ini kamu yang harus meneruskan, membantu ibumu mengerjakan banyak hal, menjalankan kafe dan membuat semuanya menjadi lebih baik."
"Iya, sama ayah." gadis itu menyeka sudut matanya yang basah.
"Aya tidak bisa."
Vania menggeleng.
"Kamu harus janji, aka membantu ibumu ...
"Aku janji, asal ayah sembuh."
Indra terdiam sebentar.
"Jika suatu hari nanti, teman ayah datang dan melamarmu, maka terimalah lamaran itu untuk anaknya. Karena ayah sudah berjanji kepadanya, jika hingga dewasa anaknya tak kunjung menemukan jodohnya, maka dia harus menikahkannya denganmu."
Vania terdiam, dia sedang mencerna ucapan sang ayah.
"Dia ... yang menarik kita dari keterpurukan ketika semua orang tak ada yang peduli. Hanya dia, sayang."
"Ayah, ...
"Berjanjilah Nak. Kamu harus menepati janji ayah kepadanya."
Vania kembali terisak ketika melihat pria itu semakin parah setiap detiknya.
"Aku mau ayah, aku nggak mau yag lain!" dia mulai menagis.
"Kamu menyayangi ayah?" napas hampir menghilang ditenggorokannya.
Vania menganggukan kepala.
"Maka berjanjilah kamu akan menepati ... janji ayah kepadanya. Berjanjilah, nak."
Vania tak dapat memikirkan hal lain lagi selain takut kehilangan ayahnya, dia tak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
"Aku janji, aku janji. Aku akan menikah dengan orang itu, asal ayah ...
Dan berhentilah napas Indra dalam hitungan detik. Dia terpejam dengan erat di ujung perjuangannya, dalam dekapan sang putri yang kemudian histeris untuk beberapa saat.
🍁 Flashback Off 🍁
Vania tertegun, bibirnya seperti dikunci rapat-rapat, dan dia tak tahu apa yang harus dikatakan, karena ternyata perkiraannya meleset jauh.
Setelah menunggu beberapa tahun, dan pria yang dimaksud tak kunjung datang. Sehingga dia menahan perasaanya sendiri ketika merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis untuk pertama kalinya, karena mengingat janji kepada sang ayah.
Tapi kini, disaat dia sudah menyerah, dan memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan caranya sendiri, dan menerima cinta yang bertahun-tahun didambakan saat pria yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali datang kepadanya dan menyatakan perasaan, maka hal itupun terjadi juga.
"Apakah aku harus melakukannya?" Vania berujar.
"Ibu berharap kita bisa menepati janji itu, karena jika tidak, maka ayahmu dan sahabatnya akan merasa kecewa." jawab Melly.
"Bagaimana jika aku ... sudah punya kekasih?"
"Maka ... relakan hubunganmu dengannya, karena ada janji yang harus kamu tepati demi mendiang ayahmu."
Vania menghembuskan napasnya dengan cepat.
"Tapi bu ...
"Relakan sayang, ... ibu mohon. Demi ayahmu." Melly mengusap pundak putrinya.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
Nah lu ... kalau udah gitu harus gimana?