Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Seperti Anna Dan Hana


__ADS_3

🌺


🌺


Drama mandi pun berakhir setelah perempuan itu menyerah dan menuruti keinginannya, yang membuat senyuman terus mengembang di wajah Arya. Merasa puas karena telah berhasil mengerjai istrinya walaupun melontarkan alasan PMS pada sore itu.


"Untung adik-adik abang lagi ngaret, kalau aja mereka buru-buru datang, dan kita masih kayak tadi, ngak kebayang malunya kayak apa?" Vania menggerutu sambil mengenakan pakaiannya, dengan rambut yang masih dia gulung dengan handuk.


Arya tergelak, dan diapun tengah berpakaian.


"Abang suka rese!" ucapnya lagi.


"Sekarang ngomel-ngomel, tadi diam saja?" sindir pria itu, yang seketika membuat mulut Vania bungkam, saat kembali mengingat kegiatan panas singkat mereka di kamar mandi. Yang memang dia nikmati juga, dan Vania merasa kesal dengan hal itu. Mengapa dirinya tidak mampu menolak godaan, dan malah selalu terbawa suasana setiap kali pria itu menggodanya?


Ugh! menyebalkan! dia mendelk.


Suara mobil berhenti di pekarangan rumah, bersamaan dengan mereka yang turun dari lantai dua. Menyambut kedatangan adik-adik dan para ipar, juga anak-anak yang segera membuat suasana menjadi riuh di dalam rumah bertingkat dua tersebut.


"Ayaaaaahhh..." balita berumur tiga tahun itu seperti biasa, langsung berlari masuk begitu orang tuanya membuka pintu. Yang juga segera mendapat sambutan dari sang tuan rumah.


"Ugh, ... ayah kangen!" Arya memeluknya seperti yang selalu dia lakukan.


"Alea mana?" ucapnya yang kemudian menoleh.


Dedek udah bisa jalan." ucap Dilan.


"Masa?"


"Hu'um, ... udah nakal." katanya, yang mengarahkan telunjuknya pada balita berusia sembilan bulan itu. Yang Hardi turunkan dari pangkuannya ketika dia merengek.


Alea segera berjalan tersaruk-saruk ke arahnya, dan memeluk kakinya ketika dia sampai.


"Yayah!" katanya, dengan ekspresi menggemaskan.


"Oh, .. iya benar?" Vania kemudian meraihnya, dan mendekapnya dalam pelukan. "Uuhh .. kangen kamu nak!" dia menciumi kepala anak itu dengan penuh kasih sayang.


"Iya, anak-anak juga kangen." Alena yang datang mendekat.


"Hu'um, ... saking lamanya nggak ketemu ya? ayahnya sibuk, jadi nggak sempet jemput." Vania berujar. "Bunda juga banyak kerjaan." katanya, yang sejenak membuat dua orang di dekatnya mengerutkan dahi.


"Kenapa? nggak boleh ya aku nyuruh anak-anak manggil bunda? kan abang di panggil ayah?" Vania berujar.


"Bunda juga bagus. Anggap latihan lagi." Arya tergelak, sambil mengusap punggung istrinya.


"Latihan?" Alena menyela.


"Latihan kalau nanti punya anak." jawab Vania.


"Emang kamu lagi hamil?"


"Belum, masih negatif."


"Oh, ... kirain."


"Mm ... uh, jadi lupa. Karena semuanya udah ngumpul, ayo mendingan kita langsung makan aja?" Ajak Vania.


Dan acara sore itupun dimulai seperti yang sudah di rencanakan. Mereka makan di selingi obrolan ringan seperti biasa.


"Ateuuuu ... mau akelim." rengek Dilan yang tidak pernah lupa dengan permintaannya.


"Bunda sayang, sekarang panggil bunda dong." Vania bereaksi ketika anak itu tak kunjung memanggilnya seperti yang dia inginkan.


"Akelim!" ucap Dilan.


"Panggil bunda dulu, nanti dikasih eskrim."


"Nooo, ateuuu!"


"Bunda!"


"Ateuu!"


"Bunda."


"Mm ... bunda?" sahut Alea yang duduk dipangkuan ibunya.


"Ah, ... Alea pinter. Sebentar bunda ambil eskrimnya ya?" katanya yang kemudian berjalan ke arah lemari es mengambil kudapan yang dibuatnya tadi pagi.


"Vania emang lagi hamil ya? sikapnya aneh?" Alena berbisik kepada sang kakak.


"Sepertinya belum. Minggu kemarin masih negatif." jawab Arya.


"Ish, ... tapi sikapnya aneh."


"Mungkin karena lagi PMS." jawab Arya lagi, kemudian tertawa.


"Hmm ..."

__ADS_1


"Es krimmya hari ini spesial lho, aku bikin dadakan tadi pagi." Vania meletakan nampan berisi es krim mochi buatannya di tengah meja.


"Kamu beneran niat banget nih ngundang makan? semuanya disiapin." Anna menyela.


"Iya, udah lama kan kita nggak ngumpul? kalian sekarang jarang kesini, aku kan jadi kangen?"


"Maklum, kan pada sibuk?" sahut Alya, yang juga disibukan oleh bayinya.


"Iya, makanya." Vania meraih bayi tersebut dari pangkuan ibunya. "Ugh, ... makin berat aja nih anak. Dikasih makan apa sih kamu?" dia mencubit lembut pipinya, membuat bayi itu tertawa dengan suara yang lucu.


"Ah, ... kalau banyak anak-anak kayak gini aku jadi pengen cepetan punya anak juga?" gumam Vania, kemudian melirik ke arah suaminya.


"Nanti juga punya." Alya menjawab.


"Tapi belum." Vania dengan suara pelan.


"Iya, nanti pasti punya. Kayak Anna juga."


"Maksudnya?" hampir semua orang menoleh ke arah Anna secara bersamaan.


"Kamu hamil?" Arya bertanya kepada adik keduanya tersebut.


"Eee ... gitu deh." perempuan itu tersenyum malu-malu.


"Aaa ... selamat!" Vania bereaksi. "Oh, ... ya ampun!! senengnya bakal nambah ponakan lagi."


"Serius kak?" tanya Alena.


Anna mengangguk.


"Berapa bulan?"


"Sekarang mau tiga." perempuan itu terkekeh.


"Ah, ... nambah lagi anggota keluarga kita!"


"Mulai sekarang harus hati-hati, ... tidak boleh terlalu sibuk bekerja. Kamu harus bisa atur waktu, takutnya kelelahan." Arya berujar.


"Iya bang. Malah aku udah berhenti kerja kok, begitu tahu lagi hamil."


"Oh ya?"


Anna mengangguk lagi.


"Saya larang, biar bisa fokus dulu sama kehamilan. Nanti setelah melahirkan kalau mau kerja lagi, boleh." Rendra sang suami menimpali.


"Alena mau nambah?" celetuk Alya.


"Apaan?"


"Nambah adik buat Dilan?"


Adik bungsunya itu hampir saja membuka mulut untuk berbicara saat Hardi lebih dulu menjawab.


"Kalau aku mau sih."


"Ya udah, nambah gih biar makin rame." ucap Anna.


"Nggak jadi-jadi."


"Nggak mau!" sahut Alena. "Dua anak cukup."


"Satu lagi Al."


"Ogah."


"Biar makin rame."


"Nggak mau. Giliran abang aja. Biar nanti aku yang asuh kalau kalian sibuk." katanya, yang sukses mengalihkan perhatian kepada pasangan baru itu.


"Eee ...kalau aku belum ada hilal, ..." Vania terkekeh.


"Masih belum, mungkin nanti ... sebentar lagi?" Arya menimpali.


"Hu'um ... santai dulu lah ... yang penting tetep usaha yakan?"


"Itu pasti ..." kemudian mereka tertawa bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Percakapan terus berlangsung hingga malam tiba. Para pria berkumpul di halama belakang dengan pembicaraan tentang pekerjaan, sementara para istri berkumpul di ruang tengah membahas segala hal. Dan Vania asyik mengasuh tiga keponakannya seperti biasa. Malam itu dia merasa sangat bahagia.


Berkumpul bersama ketiga adik suaminya, sekaligus sahabatnya. Membuat rumah sepinya terasa menghangat seketika. Hingga malam beranjak larut, dan ketiga keluarga kecil itu memutuskan untuk pulang.


"Kenapa nggak nginep aja sih? aku kan masih kangen anak-anak?" Vania dengan raut kecewa, tahu para ipar akan pergi.


"Mungkin lain kali, besok kami harus ke Jakarta." ucap Alena yang bersiap.

__ADS_1


"Mau apa?"


"Kak Hana lahiran anak kedua, besok selamatan." jawab Hardi yang mendekap putrinya yang sudah terlelap.


"Kak Hana punya anak lagi?" Vania bereaksi.


"Iya, lahiran seminggu yang lalu."


"Oh, ...


"Ya udah, kami pamit ya. Nanti kamu yang main-main kerumah." Alya dan suaminya sudah berada di teras.


"Hu'um, ... kalau abang nggak sibuk."


"Aku juga, ... padahal kita deket. Kalau kangen main aja ke komplek sebelah, aku pasti ada dirumah kok." Anna pun demikian.


"Iya." Vania mengangguk.


Kemudian ketiga adik dan suami-suaminyapun pergi meninggalkan mereka dalam keadaan rumah yang kembali sepi seperti semula.


"Hmmm ... sepi lagi." mereka masih berdiri di teras menatap kepergian para tamu.


"Lain kali kita ngumpul lagi." Arya berucap.


"Iya, kalau nggak pada sibuk."


"Atau kita yang berkunjung kerumah mereka."


"Ish, ... tetep aja rumah kitamah sepi?" jawab Vania.


"Nanti juga ramai kalau kita punya anak."


"Hu'um ... tapi kapan?"


"Tidak tahu."


Kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah.


Arya mengunci pintu dan memeriksa keadaan rumah, memastikan semuanya aman untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara Vania berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua dimana kamar mereka berada.


Namun langkahnya terhenti ketika muncul ide di kepalanya.


"Abaaaaang?" panggilnya kepada Arya.


"Ya?" pria itu berjalan ke arah tangga.


"Aku ... juga mau kayak Anna." katanya, dengan suara manja.


"Apa?" pria itu mengerutkan dahi.


"Hamil kayak Anna." Vania memperjelas kata-katanya.


"Aku juga mau kayak kak Hana, yang baru aja lahiran."


Arya tertegun dan otaknya berputar untuk mencerna kata-kata istrinya. Namun kemudian dia tersenyum ketika menyadari sesuatu.


"Kamu bilang lagi PMS, sebentar lagi datang bulan?" Arya berucap.


"Mungkin kalau dicobanya sekarang bisa berhasil?" Vania pun tersenyum, tak percaya dirinya mengucapkan hal tersebut.


Arya terdiam sebentar, lalu sebuah seringaian muncul di wajahnya.


"Ayo... " pria itu berjalan tergesa ke arah tangga dimana Vania berdiri.


"Tapi akunya...


Pria itu segera menerjangnya, mengangkat Vania untuk dia panggul dipundaknya.


"Abang!! " Vania memelik Karena terkejut, dan pria itu setengah berlari menuju ke kamar mereka, lalu segera menjatuhkan tubuh semampai itu diatas tempat tidur.


Tanpa menunggu lama lagi Arya segera melucuti pakaian mereka berdua, lalu segera mengurung tubuh yang sudah pasrah dibawahnya. Meraup bibir menggoda istrinya untuk dia nikmati sepuas hati, diikuti sentuhan tangannya yang menjelajah ke segala arah. Meremat apapun yang di temuinya, yang kembali menghadirkan perasaan luar biasa indah dan menyenangkan, namun juga membuat mereka berdua sama-sama hilang kesabaran.


Keduanya telah sama-sama tak berpakaian, dan mereka telah saling bertautan diatas tempat tidur. Kembali mengulangi pergumulan seperti yang biasa mereka lakukan. Saling mencumbu, saling menyentuh bagian tubuh yang dapat disentuh. Yang segera membuat mereka bergerak saling memacu, seiring dengan geraman dan des*han yang terus mengudara pada malam itu. Sama seperti saat-saat sebelumnya. Menikmati waktu berdua yang tak terganggu, tanpa interupsi dan tanpa halangan.


Menenggelamkan keduanya dalam lautan hasrat yang semakin menggebu-gebu, dengan gairah yang kian berkobar. Yang kemudian mengantakan mereka pada puncak percintaan yang terasa luar biasa. Ketika napas, debaran dada dan perasaan di dalam hati sudah seirama, dengan gerakan tubuh dan sentuhan lembut nan menghanyutkan. Yang lama-kelamaan tak lagi dapat mereka kendalikan, dan segalanya meledak begitu saja.


🌺


🌺


🌺


Bersambung...


tambah lagi dong 😂😂


__ADS_1


__ADS_2