
🌺
🌺
"Abang pergi, jangan kangen ya?" Arya berucap diikuti senyuman khasnya, kemudian memeluk tubuh Vania dengan begitu erat.
"Nggak akan, paling abang yang kangen sama aku." gadis itu menenggelamkan tubuhnya di pelukan hangat sang kekasih.
"Iya, belum apa-apa sudah kangen." Arya tergelak, dengan posisi mereka yang masih berpelukan di dekat mobil miliknya.
"Ya udah, ngak usah pergi. Nanti sakit karena nahan kangen." Vania tersenyum lebar.
"Oo tidak bisa. Memang harus pergi."
"Profesional?" Vania memiringkan kepala.
"Begitulah, ...
"Ya udah, cepetan pergi sekarang, biar nanti pulangnya juga cepet." ucap Vania.
"Tapi abang masih betah."
"Hmm ...
Pria itu tertawa sambil melepaskan rangkulannya.
"Kalau bukan diluar pasti abang udah cium-cium kamu nih." dia menatap sekeliling.
"Jangan, udah banyak orang. Malu."
"Ah, ... menyesal kenapa tadi buru-buru keluar setelah makan?"
Kini Vania yang tertawa.
"Salah sendiri."
"Pokoknya tunggu saja nanti abang pulang, kamu tidak akan bisa menghindar."
"Oh iya?"
"Hmm ..."
"Oke aku tunggu."
"Ada kejutan, semoga kamu suka."
"Apaan?"
"Minggu depan, kalau abang bilang sekarang, bukan lagi kejutan dong?"
"Dih?"
"Duh, abang deg-degan nih." pria itu memegang dadanya sendiri, kemudian tertawa lagi.
Vania menatap hal tersebut juga dengan hati berdebar. Bagaimana tidak, keduanya sudah terbiasa bersama selama beberapa bulan, dan kini pekerjaan harus memisahkan mereka. Dan itu terasa sangat aneh, walau belum dimulai. Tapi dirinya sudah merasa rindu, sama seperti Arya.
"Ya sudah, abang pergi ya?" Arya kembali berpamitan.
"Iya, Hati-hati disana."
"Oke." pria itu berjalan mundur.
"Telfon aku kalau udah sampai."
"Oke."
"Jangan lupa makan."
"Hmm ..." Arya melambaikan tangannya di ujung jalan setapak menuju taman kota, yang tembus hingga gedung tempat dia bekerja di ujung sana. Kemudian berbalik, dan menghilang diantara orang-orang yang berlalu lalang.
Vania menatap kepergian pria itu di akhir minggu pagi setelah memberinya makan sapotong roti isi dan secangkir kopi hitam seperti biasa. Juga membekalinya sekotak makanan lain untuk dia buka jika nanti setelah tiba di tempat tujuan.
Ada yang pergi bersama Arya, sebagian perasaannya seakan mengiringi langkah pria itu, dan meninggalkannya disini sendirian dengan perasaan hampa. Walau peluk cium sudah mereka lakukan sebagai ucapan perpisahan.
Hah, apa ini? dia cuma pergi seminggu, nggak selamanya. gumamnya dalam hati seraya meraba dadanya yang berdenyut nyeri.
Pembeli mulai berdatangan dan gadis itu kembali disibukan dengan pekerjaannya. Mencatat pesanan, membuat makanan, dan melayani pembeli seperti dua pegawainya yang bergantian menjalankan tugas mereka.
Hingga waktu berlalu, dan dia sendiri tak terlalu menyadarinya.
🌺
🌺
Arya tiba di sebuah rumah sederhana yang akan ditinggalinya bersama dua orang lainnya pada lewat tengah hari. Meletakan tas dan barang bawaan lainnya di atas tempat tidur sebelum dirinya beralih pada pekerjaan.
Mendatangi lokasi, tempat sebuah jembatan besar penghubung dua desa dengan dunia luar roboh beberapa hari sebelumnya.
"Kita mau mulai sekarang?" tanya seorang diantara mereka, sambil menatap jam tangannya.
"Hanya melihat keadaan, agar besok bisa menentukan apa yang harus dilakukan." pria itu mengenakan sepatu kets khusus miliknya.
"Baiklah." kemudian mereka bertiga pergi ke tempat yang dimaksud, bersama satu orang penduduk sebagai pendamping.
__ADS_1
***
Sebuah jembatan besar setinggi sepuluh meter dari atas sungai membentang sepanjang tiga puluh meter dari tebing, menghubungkan dua desa dan menjadi jalan alternatif dari segala arah menuju ke manapun.
Jembatan dengan fondasi batu besar, beton yang terlihat kokoh dan rangka baja yang baru beberapa tahun dibangun, namun sudah mengalami kerusakan yang cukup parah.
Arya menyentuh rangka baja di dekatnya, saat mereka berjalan melewati tempat itu yang masih tersisa lebih dari setengahnya.
Angin berhembus kencang dengan gerimis kecil dan kabut yang mulai melingkupi wilayah tersebut, karena memang tempat itu berada di daerah perbukitan teh dan hutan pinus yang cukup rapat. Membuatnya memiliki udara yang sangat dingin walau di siang hari seperti ini.
Ketiganya berhenti hampir di ujung, dan Arya melihat ke bawah.
"Mungkin sebaiknya kita turun kebawah, agar bisa melihat fondasi, dan bagaimana kekuatannya. Mungkin kita tidak hanya akan melakukan perbaikan, tapi rebuild. Dibangun lagi dari awal dengan rancangan baru dan bahan yang lebih baik."
"Setuju. Saya pikir pembangunan jembatan ini bermasalah." ucap seorang pria bernama Faisal.
"Betul, mungkin dalam beberapa hari kedepan kita akan menemukan sesuatu." sahut pria lainnya yang bernama Dani, yang juga sedang menatap kebawah jembatan.
"Kalian pikir begitu?" Arya menoleh kepada dua rekannya.
"Perkiraan saya seperti itu." jawab Faisal.
"Hmm ..." pria itu mengerucutkan mulutnya, dia tengah berpikir.
"Sebaiknya kita kembali saja besok. Sepertinya sebentar lagi akan hujan." ucap Dani yang menatap ke arah langit saat gerimis semakin bertambah lebat dan kabut sudah begitu tebal.
"Baik, kita mulai besok pagi?" Arya berujar, dan diamini oleh kedua rekannya. Setelah itu mereka kembali ke rumah sewaan.
🌺
🌺
"Udah cukup belum? Kalau ada yang kurang kita beli lagi." Anna memeriksa kembali barang yang telah dia dan Alena beli.
"Baju sama sepatunya yakin bakal cocok sama Vania?" Alya menyela, dia juga melakuka hal yang sama pada barang yang diletakan kedua adiknya di ruang keluarga kediaman Arya.
"Yakin, badannya sama kayak aku." Alena menjawab.
"Siapa bilang?" Anna menatap adik bungsunya yang sibuk mengeluarkan beberapa potong pakaian yang akan mereka kemas untuk hantaran minggu depan nanti.
"Beneran tahu."
"Kamu nggak nyadar kalau sekarang kamu agak seksi?" ucap Anna.
"Maksud kakak aku gendut?" Alena bicara denga suaranya yang melengking.
"Aku nggak nyebut gendut lho, tapi seksi." jawab Anna.
"Ish, ... tapi nada suara kakak kayak ngejek aku gitu."
"Terus ini semua barangnya udah bener Vania pakai semua? jangan-jangan ada yag salah? Nanti nggak ada yang dia pakai, mubadzir dong kita belanja?" Alya yang memeriksa peralatan kosmetik, juga barang lainnya menunggu untuk di tata sedemikian rupa.
"Yakin dia pakai semua kak."
"Ya udah, tinggal kita panggil orang yang mau menghias semua barang ini."
"Penghulunya gimana?"
"Duh, aku nggak yakin deh kalau masalah penghulu." Anna termenung.
"Kenapa?" dua saudaranya menoleh.
"Abang kan janjiinnya tunangan, masa kita tiba-tiba datang bawa penghulu sih? apa nggak akan bikin Vania ngambek tuh?" Anna berujar.
"Nggak lah, tante Mellynya sendiri kan yang bilang gitu waktu abang yang datang sendiri kesana?" ucap Alena.
"Tunggu-tunggu." Anna menyela. "Yakin nih abang ketemu tante Melly dan ngomong gitu?"
"Iya. Abang sendiri yang bilang kalau dia diam-diam ketemu tante Melly, dan tante Melly sendiri yang bilang nggak usah tunangan. Dia nyuruh langsung nikah aja." Alena meyakinkan.
"Masa? dan Vania nggak tahu?" tanya Anna.
"Nggak. Kalau tahu ya dia pasti menghindar lah. Kata tante Melly juga gitu."
"Terus, kalau nanti pas hari H nya gimana? dia kaget dong pastinya, yakin bakal nerima dinikahin?" Alya menyelidik.
"Nah, itu juga yang aku pikirin. Kesannya kita kayak maksa gitu." sahut Anna atas ucapan sang kakak.
"Lagian dia nunggu apa sih, aneh. Kebanyakan perempuan itu kalau diajak nikah pasti mau lah. apalagi kamu bilang dia udah suka abang dari awal kuliah kan? terus kenapa sekarang ogah-ogahan?"
"Nggak tahu." Alena menggendikan bahu.
"Ya makanya aku nanya, apa nanti pas hari H nya dia nggak akan nolak? dia kan udah bilang nggak mau nikah dulu?"
"Ya kali, dia tega nolak abang yang udah bawa penghulu sama hantaran gini?" tukas Alya.
"Nah, dibagian ininya aku merasa kalau kita ini maksa." sergah Anna.
"Orang ibunya juga bilang gitu lah. Dia yang minta ke abang sekalian nikahin Vania biar tenang."
"Iya, ibunya. Kita ka nggak tahu gimana anaknya."
"Kakak lupa ya kejadian di villa?" Alena mengingatkan.
__ADS_1
"Ng ...
"Aku kok ngerasa khawatir, kayak ibu yag takut anaknya melakukan kesalahan." Alena tertawa.
"Dih, ... yang pengalaman mah tahu deh." cibir Anna.
"Udah tahu kan gitu. Dari pada kejadian kan?"
"Kamu pikir abang itu abege?"
"Ya kan kita nggak tahu, apalagi udah lengket gitu kelihatannya?"
"Dih, emak-emak mah pengalaman." Alya menimpali.
"Tapi abang romantis juga ya? bikin kejutan nikah gitu buat Vania, biarpun ide awalnya dari tante Melly, tapi berani juga bikin keputusan kayak gitu?" Alya berujar.
"Kan tadi bilangnya abang bukan abege lagi? kali kalau Vanianya mau juga udah di nikahin dari pertama mereka hubungan?"
"Iya juga ya?"
"Aku berharapnya Vania nggak ngambek, terus malah nolak pas kita datang kesana." Anna sedikit menjengit.
"Nggak akan kak."
"Kamu kok yakin bener?"
"Yakin lah, Vania itu cuma takut kalau nikah sekarang dia nggak akan bisa melakukan banyak hal, tapi yang dia nggak tahu tuh kalau abang nggak akan membatasi dia walaupun mereka udah nikah."
"Ah, ... kenapa malah aku yang deg-degan ya?"
"Kita sama deg-degannya." kemudian mereka bertiga tertawa.
🌺
🌺
Arya memeriksa tanah yang dia pijak begitu tiba di bawah jembatan. Pinggiran sungai yang landai dan basah pasca hujan deras semalam.
Sungai yang tidak terlalu dalam, dengan aliran yang tidak terlalu deras, tapi mampu menyebabkan fondasi jembatan baru yang terlihat kokoh di depannya hancur dengan mudah.
"Rancangan ini semestinya kuat." Arya menengadahkan kepala.
"Dan fondasinya juga." pria itu mendekat. Menatap batu-batu yang menempel satu sama lain dengan erat.
"Betonnya bahkan terlihat sangat kokoh." Faisal mengikuti langkahnya.
"Apa karena faktor alam?" mereka saling pandang.
"Bisa jadi. Udara yang dingin dan cuaca yang sering berubah bisa saja mempengaruhi."
"Hhmm ..." Arya kembali menatap dasar bangunan tersebut.
"Tapi ..." Faisal menyentuh dinding beton dengan ujung jarinya.
"Dindingnya rapuh." pria itu merasakan permukaan beton yang dia sentuh. Semen menempel di tangannya dengan mudah, dan bahan pasir beton yang langsung terpisah begitu saja ketika dia meraupnya.
"Sepertinya bahannya tidak ditakar dengan benar?" sahut Dani yang juga mendekat.
"Hmm ..." Arya menggumam.
"Atau ..." mereka bertiga kembali saling pandang.
"Mereka tidak menggunakan takaran yang benar untuk fondasinya?" ucap Faisal.
"Rangka bajanya tidak terlalu menempel sengan benar. Dan ..." Faisal menghentikan kata-katanya.
Terdengar suara berderap dari atas sana.
"Mungkin kita harus memanggil tim untuk ...
Tanah di sekeliling mereka bergetar, dan tebing landainya mulai terpecah.
"Kamu benar Arya, jembatan ini harus di rebuild dari awal, kita tidak bisa hanya memperbaikinya saja."
"Bahannya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Dan mereka memasang bajanya dengan tidak benar."
Suara berderak kembali terdengar dengan keras, dan di detik berikutnya fondasi terlihat berguncang, yang kemudian membuat rangka baja diatasnya juga ikut berguncang.
"Ini bahaya, kita tidak bisa tetap berada disini. Sebaiknya menunggu tim saja untuk ...
Lalu terdengar lagi suara berdebum yang sangat keras, kemudian diikuti fondasi dibawah berguncang hebat dan semuanya terjadi sangat cepat.
Ketika dengan mudahnya tanah dibawahnya terbawa arus, dan fondasi yang menopang rangka baja pun ikut meluruh, yang kemudian jembatan diatasnya perlahan runtuh.
Ketiga pria tersebut berusaha menjauh, menaiki tebing curam untuk mencapai permukaan atas yang tidak terlalu tinggi. Namun di menit berikutnya, rangka baja terbanting ke arah samping dan menimpa tebing bersamaan dengan dua pria di depan yang tiba diatas.
Batu-batu berguguran kebawah, dan tanah longsor sekertika terjadi dengan hebatnya.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...