Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Sosok Harlan


__ADS_3

🌺


🌺


Vania baru saja mencapai pintu ketika mobil Arya tiba di pekarangan rumahnya. Gadis itu segera mengenakan jaket, meraih tas dan ponselnya, kemudian berjalan keluar.


"Sudah siap?" pria itu turun dari mobilnya.


"Udah, ayo." ucap Vania, namun dia mengerutkan dahi saat melihat sang kekasih masih berpenampilan seperti kemarin.


"Abang belum pulang kerumah?" Vania bertanya.


"Belum." Arya berputar ke arah penumpang, lalu membuka pintunya untuk Vania. Dan gadis itupun masuk, sambil terus menatapnya yang kembali berjalan memutar ke arah kursi pengemudi.


"Abis dari mana? kerja?" Vania bertanya lagi.


Arya mengulum bibirnya sebentar, kemudian menghembuskan napasnya dengan cepat.


"Abang dari rumah sakit." dia mulai menjalankan mobilnya.


"Siapa yang sakit?" Vania kembali menjengit.


"Pak Harlan." jawabnya dengan suara lemah.


"Apa? kenapa?"


"Kena serangan jantung."


"Kok bisa?"


"Iya, ..."


🍁 Flashback On 🍁


Arya bergegas pergi ke rumah sakit begitu dia mendapatkan kabar dari Cindy, tantang Harlan yang mengalami serangan jantung setelah perdebatan sengit dengan Raja pada sore sebelumnya di ruang kerja.


Pria itu segera berlari ke ruang gawat darurat begitu tiba, dan mendapati Raja sudah berada disana, duduk di kursi ruang tunggu dalam keadaan murung dengan kepala tertunduk.


"Ada apa?" Arya bertanya.


Raja mengangkat kepala, dan kilat kemarahan tampak kentara di matanya. Dia bangkit dan menegakan diri, menantang pria di hadapannya itu.


"Selalu datang di saat yang tepat, bukan?" Raja berucap.


"Bagaimana keadaan Pak Harlan? apa dia baik-baik saja?" Arya kembali bertanya.


"Kami ... baik-baik saja sebelum dia mendirikan cabang di kota ini dan bertemu denganmu." Raja menjawab.


Arya tertegun, dan pikirannya berputar mengolah apa yang dia dengar telah keluar dari mulut pria muda di hadapannya.


"Kami layaknya keluarga normal lainnya, tapi setelah sering bolak-balik ke Bandung semuanya berubah."


Arya mengerti arah pembicaraan ini bermuara kemana. Masalah yang sama, dan pria itu yang masih tak mengerti, dan dia masih belum bisa menerima banyak hal.


"Katakan apa sebenarnya hubungan kalian? apa ada pertalian di masa lalu? apa kita saudara se ayah? tapi bukan itu yang aku permasalahkan, melainkan ketidak adilan dia terhadap kami. Aku dan ibuku. Dia tidak memperlakukan kami sebagai mana mestinya, dan yang paling parah dari itu adalah dia sepertinya melupakan kami. Terutama aku anaknya." Raja dengan berapi-api, kedua matanya memerah seiring kemarahan yang masih menguasai dirinya. Setelah perdebatan yang menguras emosi sebelumnya, yang berakhir tumbangnya sang ayah sebelum pria itu mengatakan banyak hal, dan terutama penyebab dia ingin menyerahkan pengelolaan sebagian perusahaan kepada Arya, yang tentu saja mendapat tentangan keras darinya.


"Kamu tidak pernah mau mendengarkan, yang kamu tahu hanya berbicara dan menuntut penjelasan, tapi tidak mau mendengar apapun."


"Tidak usah bertele-tele, hanya katakan saja yang sebenarnya!" serga Raja dengan suara menggeram.


"Apa yang harus saya katakan? saya tida punya jawaban apapun."


"Cih, apa kalian sama busuknya sehingga dengan keras kepalanya kalian saling menutupi?"


"Jaga ucapan kamu."

__ADS_1


"Bertahun-tahun aku mencari tahu apa yang menyebabkan ayahku menjadi seperti itu, mengurangi perhatiannya terhadap kami, dan segala yang dia lakukan tampak tak datang dari dalam hatinya, tapi hanya sebatas pemenuhan kewajiban. Dia ada bersama kami, tapi jiwanya entah dimana. Dan setelah bertahun-tahun mencari tahu, ternyata penyebabnya ada di depan mataku." Raja mengingat betapa perubahan dia rasakan kala itu, ketika sang ayah yang dengan perlahan bersikap berbeda kepadanya, maupun kepada ibunya.


Harlan sepertinya selalu berusaha menarik diri dari apapun yang mereka lakukan. Pria itu mulai tampak tak peduli kepada keluarganya, meskipun dia mengakui jika sang ayah selalu menjalankan kewajibannya dengan sangat baik dan penuh tanggung jawab. Namun dia tetap merasakan perbedaan itu. Dia tak pernah ada sat dirinya beranjak remaja, bahkan di hari penting lainnya, sang ayah jarang hadir dengan alasan kesibukan.


Terutama saat di suatu masa, Harlan memutuskan untuk memperluas usaha keluarganya, dan dia mendirikan sebuah cabang di kota Bandung dengan bersemangat, yang membuatnya harus sering bolak balik ke kota itu untuk mengurus sebagia usahanya. Dan hal tersebut malah membuat keadaan keluarga mereka merenggang. Perhatiannya seolah terbagi dua, dan dia sering tak sempat menghabiskan waktu bersama keluarga. Walaupun segala yang mereka butuhkan Harlan berikan, namun itu tak bisa menggantinkan waktu yang telah menghilang.


"Aku mencurigai banyak hal, terutama saat dia tak ada ketika ibuku sangat membutuhkannya di saat terakhir. Dan tahun-tahun ini aku mulai menemukan jawaban."


"Keberadaanmu merebut perhatian ayahku."


"Kecurigaanmu tidak beralasan, terlebih dia hanya membantu saya dalam beberapa hal."


"Omomg kosong!" Raja mendengus, kemudian pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit, memilih untuk menunggui pria itu saat putranya sendiri bahkan masih memikirkan hal tak penting untuk dia ributkan. Hingga pada subuh hari Raja kembali dalam keadaan berantakan.


Pria muda itu tak dapat menghilangkan rasa bersalahnya walau kemarahan jelas masih menguasai setiap kali dia melihat Arya. Sosok yang dalam bayangannya telah merebut segala hal dari dirinya.


Mengambil dan menikmati apapun yang dia miliki termasuk kasih sayang ayahnya, yang baru saja dia ketahui akhir-akhir ini. Setelah mengikuti kata hatinya untuk mencari tahu, apalagi setelah pembatalan perjodohan antara dirinya dan Vania, yang dia kira disebabkan oleh keberadaan Arya bersama gadis itu.


Dia pikir, Harlan memilih menyerah karena dia, sosok yang selalu menjadi perbandingannya. Sosok pegawai yang selalu dia sebut sebagai contoh bagi apapun yang dilakukannya, yang lama kelamaan membuatnya begitu muak, dan memunculkan rasa iri di dalam hati. Terutama karena pria itu yang memang selalu lebih condong kepadanya.


Namun, walau bagaimanapun Harlan tetaplah ayahnya, dan dia tak mungkin melupakan hal itu walau sebesar apapun kemarahannya. Dia akan selalu datang demi sang ayah.


Mereka berdua kembali berhadapan, dan tak ada rasa gentar dalam raut wajah Raja. Dia tetap bersikap seperti itu, mungkin untuk waktu yang sangat lama.


Arya bangkit, dia lega Raja kembali, walau sempat merasa bersalah juga setelah mendengar ucapannya beberapa saat yang lalu. Tentang prasangka dan segala kecurigaannya yang sama-sekali tak beralasan. Hanya karena kepedulian Harlan kepadanya.


"Pak Harlan belum juga sadar." dia berujar.


Raja hanya mendengus.


Pemuda di hadapannya terdiam.


"Saya pamit, tapi saya berharap kamu akan mau mengabari saya kalau Papa kamu sadar."


"Dalam mimpimu saja!" Raja bergumam.


Arya tampak menghela napas berat, memang tidak ada gunanya berbicara dengan orang ini, tapi apa boleh buat, dirinya hanya berusaha menghargainya.


"Baiklah kalau begitu ..." pria itu melangkah bermaksud keluar dari tempat itu, sebelum sesuatu membuat langkahnya terhenti di belakang Raja, kemudian berbalik.


"Kamu tahu Raja? seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang kamu punya sekarang. Karena kamu tak harus berjuang keras untuk mendapatkannya. Sementara diluar sana banyak orang yang tidak bisa menggapai apa-apa bahkan setelah mereka berusaha dengan sangat keras hanya karena tidak memiliki kemampuan yang sekarang ada padamu. Dan sikap saya kepada Pak Harlan hanya bentuk rasa syukur saya karena sudah di pertemukan dengan sosok seperti beliau. Yang telah membantu dengan sepenuh hati tanpa memandang status dan keadaan. Dia melakukannya bukan karena kami ada pertalian darah atau apapun yang ada dalam pikiranmu. Karena pada dasarnya, seseorang tidak harus memiliki hubungan darah untuk saling membantu. Hanya gunakan saja hatimu untuk merasakan, dan kamu akan tahu tanpa harus menghakimi."


"Dan kamu juga sepatutnya bersyukur, karena masih memiliki orang tua. Sosok yang tidak saya punya untuk di jadikan sandaran dan perlindungan. Saya rela menukar apapun yang ada di dunia kalau saja itu bisa membuat kedua orang tua saya kembali. Karena tidak ada hal lain yang lebih baik dari pada hidup di sekitar orang tuamu."


"Jadi, ... dengarkanlah Papamu, dan bersikap baiklah kepadanya. Sebelum mereka pergi dan kamu terlambat untuk menyadari, kalau keberadaan mereka sangatlah berarti."


🍁 Flashback Off 🍁


Arya menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah merah, bersamaan dengan napasnya yang dia hela begitu dalam.


"Sekarang abang merasa bersalah." katanya.


"Kenapa?"


"Bantuan yang abang terima selama ini membuat Pak Harlan melupakana keluarganya. Dan abang baru menyadari itu."


"Bukan abang yang minta."


"Memang. Tapi tetap saja ...


"Apa aja yang dilakukan Om Harlan untuk membantu abang?"

__ADS_1


"Banyak. Dia memberikan pekerjaan yang layak sehingga abang bisa menghidupi adik-adik sampai sekarang. Memberikan kesempatan kepada abang untuk kuliah sampai berhasil dan dia mengajarkan banyak hal apapun yang abang ketahui sekarang."


"Termasuk menguliahkan adik-adik?" Vania memiringkan kepala.


"Secara tidak langsung begitu."


Pria itu kembali menjalankan mobilnya saat lampu berubah hijau.


"Memangnya kenapa Om Harlan sampai segitunya bantuin abang?."


"Tidak tahu ... mungkin kasihan melihat abang bekerja untuk mengurus adik-adik..." Arya tergelak.


"Abang pernah minta bantuan?"


"Sejauh yang abang ingat, abang tidak pernah meminta bantuan apapun, tapi Pak Harlan selalu mengulurkan bantuan di saat yang tepat. Dan itu cukup meringankan."


"Terus kenapa abang harus merasa bersalah?"


"Tidak tahu. Hanya saja, mendengar Raja bicara seperti itu membuat abang merasa bersalah. Pak Harlan mati-matian membantu abang, tapi anaknya sendiri dia telantarkan." dia mebelokan mobilnya ke area kedai milik Vania yang pagi itu sudah dibuka, kemudian berhenti di tempat biasanya.


"Bukan salah abang." Vania menepuk pundaknya pelan.


"Tapi Raja tidak berpikir seperti itu."


"Nggak apa-apa, kita nggak bisa maksakan pemikiran kita sama orang lain. Kalau dia milih untuk tetap kayak gitu, kita bisa apa? nanti dia sendiri yang capek."


Arya menoleh kepada Vania, lalu tersenyum.


"Apaan?" gadis itu menarik tanganya.


"Bicaramu bijak sekali." ucap Arya diiringi kekehan pelan.


"Lah, iya. Ngapain juga kita maksa, akhirnya nggak enak." jawab Vania.


"Oh ya?"


"Humm." dia mengangguk.


"Dipaksa nikah juga nggak enak?"


"Apa hubungannya?"


"Tidak ada, abang hanya asal bicara." Arya tergelak lagi.


"Dih? abang kurang tidur, jadi asal ngomong."


"Memang, abang ngantuk."


"Ya udah, tidur dulu di ruangn aku. Pulangnya nanti siang aja."


"Hmm ..."


Kemudian mereka turun untuk memulai hari itu.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


like, komen, hadiah selalu ditunggu.😘😘


__ADS_1


__ADS_2