Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Yang Terbaik


__ADS_3

🌺


🌺


"Ini." Arya menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat kepada Vania, saat perempuan itu selesai membersihkan diri.


"Apa ini?" dia membuka dan melihat isinya. Dan matanya membulat sempurna setelah dia mengetahui apa yang ada di dalamnya. Segepok uang berwarna merah yang jumlahnya lumayan banyak.


"Abang serius?" Vania mendongak.


"Kamu pikir abang main-main soal pembicaraan semalam?" Arya duduk di pinggir tempat tidur sambil merapikan kemeja kerjanya.


"Aku kira nggak sekarang, tapi nego nya semalam dibayar tunai." perempuan itu tertawa.


"Sudah abang bilang kan?"


"Iya, duh ... abang sayang, ... abang emang yang terbaik." dia tiba-tiba saja mendekat kemudian duduk di pangkuan Arya yang tak menduga sama sekali, dan segera memeluk pria itu dengan erat. Tak lupa juga menciumi wajahnya hingga tak ada yang dia lewatkan sedikitpun.


Arya hanya terdiam menerima perlakuan istrinya yang tidak seperti biasanya, tapi juga dia sangat menikmati hal tersebut, karena membuat perasaannya membuncah bahagia.


"Setiap bulan juga abang memberi kamu uang, tapi reaksinya tidak seperti ini." pria itu bergumam.


"Oh iya? aku lupa. Kalau begitu mulai sekarang aku pasti gini sama abang ..." katanya, dan dia kembali menciumi wajah suaminya. Lalu memagut bibirnya sebagai hal terakhir yang dia lakukan. Membuat Arya tersipu dengan kedua pipi yang merona.


"Mata duitan, dan Kamu jadi aneh?" dia berucap.


"Nggak aneh, aku cuma lagi seneng. Mood aku lagi bagus kayaknya, PMS bulan ini nggak seburuk biasanya." Vania tergelak.


"PMS?"


"Pre Menstrual Syndrom, sebentar lagi aku datang bulan."


"Oh, ... pembalutnya ada? apa abang perlu membelikan pembalut yang banyak?"


"Ish, ... nggak usah. Aku udah punya stok banyak. Lagian biar apa aku nyuruh abang beli? aku juga bisa sendiri."


"Biar seperti di novel-novel, biar kelihatannya romantis?" Arya terkekeh.


"Nggak usah."


"Yakin?"


"Yakin. Aku punya banyak."


"Ah, ... padahal abang sudah menyiapkan mental untuk masuk swalayan beli pembalut sebanyak-banyaknya."


"Ish, ... nggak malu emang?"


"Abang sudah terbiasa."


"Masa?"


"Kamu lupa ya? adik abang kan tiga, perempuan semua. Dulu pas awal mereka datang bulan pasti abang kebagian tugas membeli pembalut ke warung." Arya tergelak.


"Aih. ... sampai segitunya?"


"Di awal puber mereka pemalu."


"Selain jadi tulang punggung keluarga, ternyata abang juga jadi petugas palang merah?" Vania tertawa.


"Begitulah, ... apalagi Alena. Tahu sendiri dulu dia sangat pemalu."

__ADS_1


"Hmm .. beneran. Tapi kenapa sekarang dia malu-maluin ya?"


Kini Arya yang tertawa.


"Hidup sama kak Hardi bikin dia jadi gitu?"


"Jangan ghibah!"


"Nggak. Itu kan fakta."


"Eh, ... ngomong-ngomong soal Alena, kok aku jadi inget anak-anak ya? kayaknya udah lama mereka nggak kesini? berapa minggu nggak ketemu Dilan sama Alea ya?"


"Lumayan, sejak abang kecelakaan belum pernah jemput Dilan lagi, biasanya mereka yang datang kesini menjenguk kita kan?" jawab Arya.


"Iya, tapi seingat aku udah beberapa minggu nggak ada yang kesini ya?" Vania berujar.


"Iya juga."


"Kenapa ya? nggak ada yang ngabarin juga."


"Mungkin mereka sibuk?"


"Mungkin. ... Eh tapi, kan kalau sabtu minggu libur?"


"Soal itu abang tidak tahu."


"Ya udah, nanti kapan-kapan kita undang mereka kesini. Aku kangen biasanya rumah suka rame, tapi akhir-akhir ini nggak ada yang datang. Jadi sepi kan?"


"Hmm ..." Arya bergumam.


"Ya udah, ..." perempuan itu bangkit.


"Mau kemana?" Arya menahan pinggulnya agar dia tetap berada diatas pangkuannya.


"Oh iya, abang lapar."


"Makanya, lepasin dulu. Aku mau bikin sarapan." Vania kembali bangkit.


Namun yang terjadi adalah pria itu menggelengkan kepala sambil tersenyum, dan kedua tangannya sudah merayap dibalik pakaiannya.


"Ngh ..." lenguhan pelan lolos dari mulut Vania saat Arya meremat lembut dadanya.


"Sarapan ini dulu bisa?" pria itu berbisik lagi.


"Ng ... itu ... semalam ... udah." Vania dengan napas tertahan.


"Belum cukup." Arya mendekatkan wajahnya.


"Belum ... cukup?" perempuan itu membeo.


"Syarat negosiasinya ingat?" Arya berujar.


"Abang kayak rentenir ... nagih terus?"


"Memang, ... " pria itu tersenyum lebar.


"Nggak mau!" Vania bangkit menjauh. "Abang harus kerja, dan aku mau ke kedai ingat? aku juga mau lihat kios sebelah."


"Tapi ...


"Aku mau lihat apa aja yang dibutuhkan di kedai. Biar kita bisa percepat renovasinya."

__ADS_1


"Van ...


Namun perempuan itu tak mendengar, dia malah segera berlari keluar dan turun ke lantai bawah.


🌺


🌺


"Aku maunya gini lho, nggak usah banyak aksesori yang nggak penting. Biar kelihatan normal aja, nggak berlebihan." terdengar perdebatan dari halaman kantor, antara pria itu dengan calon istrinya yang tak lain adalah sang sekertaris, pada jam istirahat mereka siang itu.


"Kan kalau ditambahin sedikit jadi lebih bagus juga Yang?" sergah Raja.


"Nggak, aku maunya gini aja. Kayak yang kita bicarakan kemari. Nggak usah ditambahin." ucap Cindy lagi, seraya mengetuk layar ponsel miliknya.


"Tapi ...


"Kalau gitu kesannya berlebihan lho. Aku nggak suka berlebihan. Kan bapak, ... eh ... kamu sendiri yang bilang, semua yang aku pilih pasti bagus? dan bapak .. eh ... kamu udah setuju?"


"Mm ... iya juga. Aku lupa. Ya udah ... terserah kamu aja." akhirnya raja mengalah, dan merekapun memulai acara makan siang bersama dalam diam.


Namun kemudian Cindy menghentikan kegiatannya ketika dia menyadari sesuatu. Dia mendongak untuk menatap wajah Raja yang fokus pada makanannya. Lalu perempuan itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan calon suaminya.


"Apa?" pria itu mendongak.


"Maaf, kadang aku masih merasa kalau kita ini partner kerja, yang sering berselisih faham dan harus menentukan pilihan. Tapi aku lupa kalau kita ini pasangan yang hampir menikah dalam beberapa hari, dan seharusnya memutuskan segala sesuatunya secara bersama." Cindy berucap.


"Kalau bapak, eh ... kamu maunya gitu, nggak apa-apa. Mungkin kita bisa tambah sedikit dekorasinya, biar lebih bagus kan?" dia sedikit menundukan wajah untuk melihat wajah pria itu lebih jelas, yang selama beberapa minggu ini selalu mengalah dan menuruti segala keinginannya untuk pernikahan mereka.


"Kamu bilang nanti kelihatannya berlebihan?"


"Cuma nambah seribu mawar kan?" tanya Cindy.


"Iya, ... sama air mancur di tengah ruangan." jawab Raja yang kemudian tersenyum.


"Hmm ..." gadis itu menghela napas pelan.


"Ya udah, ... kita tambahin itu."


"Pasti bagus Yang, ..." wajah pria itu kembali sumringah.


"Ya ya ya, ... bagus."


"Iya."


"Ya udah, aku kasih tahu lagi orang WO nya, biar mereka siapin dari sekarang." Cindy meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan.


"Oke." Raja tersenyum lagi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


oke gaess, ... seperti biasa like komen sama hadiahnya untuk mendukung karya ini agar terus naik.


Sekalian mau ngucapin terimakasih juga karena novel Jodoh Untuk Abang ini masuk ranking hadiah di bulan Oktober. Semuanya nggak akan terjadi tanpa dukungan kalian semua. Sekali lagi terimakasih.


Lope lope se Indonesia ... 😘😘😘

__ADS_1


Calon pengantin 😂😂



__ADS_2