Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Ketemu Ayah


__ADS_3

🌺


🌺


Arya menatap takjub layar monitor empat dimensi yang menampilkan wajah makhluk mungil yang sedang tumbuh dan menunggu kelahiran dalam rahim Vania. Walau tak begitu jelas, dia merasa kalau bayi itu sangat mirip dengan istrinya.


Arya tersenyum, lalu sesekali melirik ke wajah perempuan itu untuk membandingkan. Dan memang benar mirip.


"Bayinya mirip abang." ucap Vania, lalu dia tertawa.


"Apa?"


"Bayinya mirip abang." ulang Vania.


"Abang rasa dia mirip kamu?"


"Nggak ih, dia mirip abang."


"Mirip ayah bundanya kan?" dokter menengahi, setelah menyimak percakapan pasiennya tersebut.


"Ah, iya." lalu Vania tertawa lagi.


"Lihat? kondisinya sangat baik, beratnya cukup dan dia sangat sehat." sang dokter menunjuk layar monitor.


"Air ketuban cukup dan umurnya tepat dengan perhitungan. Saat ini kandungan berusia 28 minggu, dan jika tepat dia akan lahir dua bulan lagi. Persis seperti perkiraan di awal pemeriksaan." lanjut dokter.


"Jenis kel*minnya?"


"Sebentar kita lihat ..." dokter menatap layar yang agak tidak jelas itu, dengan warna buram dan gambar yang bergerak-gerak.


"Sepertinya ... perempuan."


"Perempuan?" ucap Arya.


"Hmm ... pantesan." Vania bergumam.


"Kenapa?"


"Dia posesif sama ayahnya."


"Apa hubungannya?"


Perempuan itu hanya menggendikan bahu.


"Sudah ada gerakan aktif?" tanya dokter kemudian.


"Gerakan? yang getar-getar gitu? ada kemarin-kemarin." jawab Vania.


"Bukan getaran, tapi gerakan. Berarti belum ya? nanti juga akan ada."


"Emang iya?" dia mendongak ke arah suaminya, dan pria itu mengangguk.


"Waktu Alena begitu kan?"


"Iya gitu?"


"Iya."


"Itu dia gerak-gerak sendiri gitu? bukan karena dipancing?" tanya Vania dengan polosnya.


"Dipancing apa? memangnya ikan?"


"Ya kali, karena kesenengan ketemu sama ayahnya." dia terkikik sambil menutup mulut deng tangannya.


"Maksudnya?"


"Usia 28 minggu biasanya begitu, dan tidak ada hubungannya dengan ketemu atau tidaknya dengan ayahnya." dokter menyela dengan pipinya yang memerah karena mendengar obrolan absurd pasangan suami istri beda usia ini.


"Gitu ya?"


"Iya."


"Kalau nggak gimana?"


"Ya, ... mungkin bisa juga di ran*sang." jawab dokter.


"Diran*sang?" Vania membeo, dan otaknya memikirkan hal lain.


"Dipancing maksudnya. Diajak bicara, atau disentuh perutnya." ralat sang dokter.


"Oh, ... kirain." Vania tertawa lagi, namun hal itu membuat Arya menepuk kepalanya dengan keras. Dia tak habis pikir dengan kelakuan istrinya akhir-akhir ini.


🌺


🌺


Mereka bermaksud keluar dari dalam rumah sakit saat berpapasan dengan Raja. Pria itu berjalan tergesa dengan menenteng sebuah tas dan sebuah totebag di tangannya.


"Ada apa?" sapa Arya begitu mereka berhadapan.


"Cindy, ... mau melahirkan." jawab Raja dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ya, dia sampai satu jam yang lalu sama ayahnya. Aku lagi meeting."


"Terus sekarang?"


"Nggak tahu, belum ada kabar lagi.Tadi aku telfon ayahnya nggak jawab." jawabnya lagi, dan dia segera berlari ke arah ruang persalinan.


Vania memutuskan untuk menarik Arya mengikuti kakak sambungnya tersebut hingga mereka juga tiba di tempat yang sama. Dan pemandangan mengharukan pun terjadi.


Ketika Raja baru saja tiba dan pintu ruang persalinan dibuka, dan nampaklah perempun itu yang telah berhasil melahirkan buah hati mereka dengan selamat.


Raja terlihat sedikit histeris, dan dia hampir saja menangis.


***


"Kalian juga disini?" muncul Melly dan Harlan setelah beberapa saat.


"Tadi kebetulan ketemu pas aku abis USG." Vania menjawab.


"Kamu habis periksa?" Melly menyentuh perut putrinya saat jarak mereka sudah dekat, dan Vania mengangguk.


"Lalu bagaimana cucu ibu?"


"Sehat, kalau perkiraannya tepat dua bulan lagi Vania akan melahirkan." Arya menjawab.


"Syukurlah, semoga semuanya baik-baik saja dan lancar sampai melahirkan ya?" ucap perempuan itu sambil mengusap-usap perut buncit putrinya.


***


Raja terus memeluk erat bayi dalam dekapannya, dan dia tak berhenti tersenyum. Rasa bahagia juga lega terpancar jelas di wajahnya.


"Udah di adzanin belum?" Vania mendekat.


"Udah dong, tadi."


"Syukurlah, kalau belum tadinya aku mau nyuruh kakeknya yang adzanin."


"Nggak usah, aku juga bisa." pria itu menjawab.


"Alhamdulillah, ... tenang hati aku."


"Apaan emangnya?"


"Ya kasihan aja kalau nggak, nanti dia gedenya nyebelin kayak kakak." perempuan itu dengan mulut usilnya.


"Dih? kagak nyadar dirinya sendiri lebih nyebelin? ni dia hamilnya udah berapa bulan sih, kok bawaannya bikin kesel melulu? perasaan sebelum hamil nggak ngeselin kayak gini deh? mulutnya itu, pedes kayak boncabe level 35." Raja bersungut-sungut.


Vania mengangkat satu sudut bibirnya ke atas.


"Dih, siapa bilang?" sergahnya. "Emang abang stress gitu gara-gara aku?" dia beralih kepada suaminya.


"Tidak." Arya menggelengkan kepala.


"Dengar nggak tuh? sok tahu ih?" dia kembali lagi kepada Raja.


"Jelas aja jawabnya nggak, kalau jawab iya kesejahteraannya terancam." cibir pria yang baru saja menjadi ayah tersebut.


"Kesejahteraan apa? emang iya bang gitu?" Vania beralih lagi, dan dijawab gelengan kepala oleh Arya.


"Dasar sok tahu."


"Kalian ini, setiap ketemu pasti ribut." Harlan menengahi.


"Untung jodohnya jadi kakak adik, coba ya kalau jadi suami istri, nggak kebayang ributnya kayak gimana?" sahut Cindy yang masih berbaring di tempat tidurnya.


"Ye, kalau aku jodoh beneran sama dia, lah papa nggak jodoh dong sama ibu?" jawab Raja sekenanya.


"Nah iya kak, kan kasihan papa sama ibu pada jomblo di hari tuanya?" Vania menimpali.


"Beneran kan?" ucap Raja.


"Hu'um, ..." Vania mengangguk.


"Dih, cuma bagian itu doang kalian sepaham." Cindy menyela lagi, dan perkataannya memang benar. Membuat mereka semua tertawa bersamaan.


🌺


🌺


"Kamu kenapa?" Arya naik ke tempat tidur dan mendapati Vania tengah terdiam memegangi perut buncitnya.


"Kata dokter umur tujuh bulan harusnya si bayi udah gerak-gerak kan ya?" dia bersuara.


"Seperti yang kita dengar tadi." Arya mendekat, dan dia menyentuh perut istrinya.


"Nggak ada apa-apa gitu?"


"Apanya yang apa-apa?"


"Kan kata dokter normalnya kandungan umur 28 minggu bayinya gerak-gerak?"

__ADS_1


"Iya, terus?"


"Tapi kok dia nggak?"


"Mungkin belum."


"Lah, kalau kenapa-kenapa gimana?"


"Jangan berpikiran aneh, kamu dengar tadi dokter bilang kalau anak kita sehat. Dia pasti baik-baik saja."


"Beneran?"


"Iyalah, mungkin dia cuma betah."


"Betah?"


"Iya, saking betahnya dia merasa nyaman dan tenang di dalam sana. Iyakan sayang?" Arya menunduk untuk menempelkan wajahnya pada perut Vania.


"Nggh ..." perempuan itu sedikit melenguh.


"Kenapa lagi?"


"Kayak ada yang gerak-geral disini." Vania menunjuk perut sebelah kirinya.


"Benarkah?"


"Coba abang ngomong lagi? kata dokter bisa juga dipancing kan?"


"Iyakah?"


"Hmm ... coba ngobrol."


"Ngobrol apa?" Arya mendongak.


"Terserah abang."


Pria itu tersenyum.


"Ngobrol bang, bukan senyum." Vania menyentuh wajahnya.


"Kamu ngapain di dalam sana? bobo ya?" pria itu menurut. Kemudian sebuah gerakan kembali muncul di permukaan perut Vania. Membuat perempuan itu melonjak kegirangan.


"Lagi abang!" katanya lagi.


Arya memutar bola matanya, namun kemudian dia menurut juga.


"Mau ketemu ayah nggak? sebentar lagi ayah tengok ya?" katanya, dan perut Vania terlihat merespon lagi.


"Nah, ... dia mau ketemu ayah!" Arya dengan girangnya.


"Obrolan apa itu?"


"Obrolan ayah dan anak." jawab Arya dengan senyum lebarnya.


"Dih?"


"Ayo bunda, dedek bayinya mau ketemu ayah." pria itu bangkit namun tak melepaskan tangannya dari perut Vania.


"Apaan?"


"Dedek bayi mau ketemu ayah." ulang Arya dengan semangat.


"Cuma responan tahu, jangan ke geeran."


"Memangnya bunda nggak mau ketemu ayah?" Arya dengan sikap konyolnya.


"Abang jadi aneh." perempuan itu tertawa terbahak-bahak.


"Tidak aneh, cuma mau ketemu dedek bayi."


"Dih ...


"Bukannya dokter bilang harus dir*angsang agar dia aktif bergerak? mungkin kalau ketemu ayah dia akan jadi aktif?"


"Itumah modusnya abang!" Vania tertawa lagi.


"Bukannya kamu juga suka modus?"


Vania mengulum senyum.


"Ayo dedek ... kita ketemuan." ucap pria itu seraya melepaskan pakaiannya. Dan mereka mulai bergumul lagi seperti malam-malam sebelumnya. Menghiasi kamar lantai dua tersebut dengan des*han dan erangan lirih. Yang semakin hari semakin terasa menyenangkan bagi mereka berdua.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


ah, ... senangnya yang ketemuan sama bunda dan dedek bayi. Makin rajin aja nengoknya bang, biar dedeknya makin aktif sama kayak ayahnya. 🤣🤣🤣

__ADS_1


like komen hadiahnya tetap aku tunggu ya, vote mah seperti biasa kasih sama Didim. 😁😁


lope lope segudang 😘😘😘


__ADS_2