Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Tawaran Menggiurkan


__ADS_3

🌺


🌺


Arya tiba dirumah ketika malam sudah larut. Lampu-lampu bahkan sudah dimatikan, hanya menyisakan penerangan di langit-langit teras dan lampu taman di pekarangan.


Dia masuk menggunakan kunci cadangan, dam segera menuju ke lantai dua bangunan tersebut, tempat peraduan mereka berada.


Vania sudah bergelung dibawah selimut dan tampak terlelap begitu dalam. Sepertinya dia bahkan tak menyadari kedatangannya.


Arya menghampirinya, menatapnya dalam diam, lalu duduk disampingnya. Kemudian menunduk untuk mengecup pelipisnya yang di tutupi helaian rambut.


"Abang telat." Vania terdengar bergumam, lalu membuka mata.


"Hum? kamu tidak tidur?" Arya sedikit mengangkat wajahnya.


"Udah, tapi denger abang ngendap-ngendap masuk, jadinya bangun." perempuan itu menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya.


Arya terkekeh pelan.


"Katanya nggak lembur, tapi kok pulangnya malem? kemana dulu?" dia bertanya.


"Tadi ada urusan." pria itu menjawab.


"Urusan apa?" keningnya berjengit dalam.


Arya terdiam menatapnya yang berada dibawah dalam keadaan mengantuk, kedua matanya sayu namun tetap dia paksakan untuk terbuka. Dan itu terlihat lucu, membuatnya tersenyum.


"Bukannya jawab malah senyum-senyum?" Vania bergumam lagi.


"Kamu mengadu kepada Pak Harlan kalau abang mau resign?" Arya kemudian bertanya.


"Hum?"


"Hari Ini abang di tegur Pak Harlan, dan dia mewanti-wanti abang untuk tidak mengundurkan diri." jelas pria itu, mengingat pembicaraannya dengan atasannya beberapa saat yang lalu.


"Masa?"


"Iya, ... "


🍁 Flashback On 🍁


"Saya dengar kamu berniat mengundurkan diri?" Harlan langsung pada tujuannya menemui salah satu pegawai andalannya itu. Sementara Arya mengerutkan dahi, dia sma sekali tak menyangka atasannya tersebut akan bertanya soal itu.


"Bisakah kamu tunggu hingga beberapa tahun lagi? Kita sedang banyak pekerjaan disini. Seperti yang kamu tahu, ada beberapa proyek yang baru saja kita menangkan, dan itu seharusnya sudah menjadi tugasmu untuk mengerjakannya." pria itu berujar.


Arya diam mendengarkan.


"Saya harap kamu membatalkan niat untuk mundur, karena perusahaan ini masih sangat membutuhkanmu." lanjut pria itu.


"Dari mana Bapak tahu? saya baru saja akan mengatakannya." Arya malah balik bertanya.

__ADS_1


"Tidak penting saya tahu dari mana, tapi yang penting adalah kamu membatalkan niat itu, setidaknya sampai proyek yang baru saja kita menangkan ini selesai."


"Tapi pak,... "


"Kalau kamu merasa pekerjaanmu terlalu berat, kita akan mendatangkan beberapa orang lagi untuk nembantu disini. Jadi kamu tidak perlu lembur atau bekerja di akhir pekan. Semua pekerjaan bisa kamu alihkan kepada mereka, dan kamu hanya bertugas menginstruksikan apa yang harus mereka lakukan."


"Kita pindahkan Hardi juga kalau perlu, agar pekerjaan di kantor ini menjadi lebih ringan untukmu." tawarnya, dengan harapan pria di hadapannya mengurungkan niatnya.


"Tidak perlu pak. Kenapa harus menarik semua orang kesini?"


"Agar kamu tidak terlalu repot, dan pekerjaan cepat selesai. Semua rancangan itu ditunggu para pengembang untuk di kerjakan, dan tidak mungkin hanya mereka saja yang melakukan, kamu sebagai staf senior masih dibutuhkan disini." Harlan setengah panik, tahu pegawai andalannya punya niat berhenti bekerja di perusahaan, dan itu membuatnya sedikit khawatir.


"Potensimu sudah banya di perhitungkan belakangan ini, dan semua orang tahu itu. Jadi, pikirkanlah lagi, jangan karena punya satu ambisi kamu rela mengorbankan pekerjaan ini."


Arya terlihat mengerutkan dahi.


"Apa Vania belum memberitahumu kalau kafenya dapat ganti rugi dari asuransi?" ucap Harlan kemudian.


"Benarkah?"


"Ya, kami dari kantor asuransi tadi siang. Apakah itu akan merubah keputusanmu? kamu tahu, uang yang mereka dapat sepertinya cukup untuk membangun kafe dan memulai usaha mereka lagi, jadi kamu tidak usah memikirkan hal itu." jelas Harlan.


"Hanya baru rencana Pak."


"Lalu sekarang keputusanmu bagaimana?"


Arya terdiam sebentar.


"Kamu akan tetap berhenti?" Harlan sedikit meninggikan suaranya.


"Emang Abang serius mau resign?" Vania bangkit.


"Tidak tahu juga. Menurut kamu bagaimana?" Arya balik bertanya.


"Jangan dulu deh, sayang. Kerjaan abang lagi bagus-bagusnya kan? lagian kasihan juga kalau Om Harlan abang tinggalin sekarang."


Arya terdiam.


"Jangan khawatir, asuransinya bisa di klaim dan dicairkan beberapa minggu kedepan. Kita nggak harus ngorbanin kerjaan abang untuk dapat uang lebih."


"Abang tahu, tadi pak Harlan bicara soal itu. Dia juga yang mengantar kamu ke kantor asuransi?"


"Ibu yang janjian sama Om Harlan. Bagus juga kan, ternyata ada jalannya juga tanpa harus berkorban apa-apa."


"Abang bisa tenang, nggak usah banyak pikiran lagi." perempuan itu mencondongkan tubuhnya, kemudian mengulurkan tangannya untuk memeluk tubuh suaminya.


"Kerja aja dulu sampai bener-bener waktunya pensiun. Kali duitnya lebih gede dari pada kalau abang resign sekarang?" Vania kemudian tertawa.


"Dasar kamu, matre."


"Bukan matre abang, tapi aku realistis." perempuan itu tertawa lagi.

__ADS_1


"Bedanya tipis lho Van."


"Terserah abang, ...


"Kamu bilang lebih baik punya usaha sendiri. Lebih enak, lebih leluasa juga. Tidak terikat peraturan seperti abang sekarang." pria itu mengingatkan.


"Iya, tapi aku pikir lagi, selama masih ada kerjaannya, apa salahnya kalau abang tetep kerja disana? lagian kasian juga Om Harlan kalau abang tinggalin sekarang. Kerjannya makin banyak kan? mereka masih butuh abang."


Arya terlihat berpikir keras.


"Udah, jangan dipikirin lagi. Abang udah makan belum?" Vania kemudian bertanya.


"Sudah tadi sambil dengar ceramahnya pak Harlan. Hahah... " pria itu tergelak.


"Serem juga lihat Pak Harlan ceramah, karena biasanya dia tenang-tenang saja kalau ada masalah. Selama hampir dua puluh tahun kerja disana belum pernah abang lihat dia seperti itu."


"Iyalah, pegawai terbaiknya mau ngundurin diri, siapa yang nggak panik?" Vania terkekeh.


"Iya, dan lagi dia memang tidak pernah bicara keras kepada siapapun."


"Oh ya? padahal biasanya owner suka galak sama bawahan?"


"Pak Harlan tidak seperti itu, apalagi kepada abang."


"Kayak Bapak yang lagi ngomong sama anaknya ya?"


"Begitulah... Cuma kepada Raja saja dia galak."


"Dih, anaknya badung gitu, siapa yang nggak akan galak?" kemudian mereka berdua tertawa.


"Baiklah, abang mau mandi dulu." Arya melepaskan diri dari rangkulan istrinya.


"Mandi?" Vania membeo.


"Iya." Dia melepaskan kemejanya sambil bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi di ujung ruangan.


"Mau aku mandiin?" Vania tersenyum dan kedua alisnya terangkat keatas.


Arya tertegun, otaknya mencerna kata-kata yang dilontarkan perempuan itu, yang masih tersenyum saat dia bangkit. Vania sudah menurunkan kakinya dari tempat tidur, dan dia hampir saja mengikuti langkah suaminya yang sudah masuk ke kamar mandi.


"Tidak usah, ... percuma juga kalau cuma mandi. Nanti setelahnya abang malah susah tidur." Kemudian Arya menutupi sebagian pintu rapat-rapat di depan wajah Vania.


🌺


🌺


🌺


Bersambung...


Anu, ... nawarin atau apa sih? 😂😂😂

__ADS_1


Biasalah klik like, komen, sama kirim hadiah yang banyak. Biar novel ini tetap ada di permukaan.


lope lope segudang 😘😘😘


__ADS_2