Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Pagi Yang Kacau


__ADS_3

🌺


🌺


Arya tak hentinya menatap wajah Vania yang terlelap dalam rangkulan. Kulit pucatnya yang masih berkeringat sisa percintaan beberapa saat yang lalu terlihat eksotis di matanya. Dan dia terlihat lebih cantik dari sebelumnya.


Arya tersenyum, kemudian menempelkan kening mereka berdua. Lalu sesaat kemudian dia mengecup bibir lembut perempuan itu beberapa kali. Perasaannya tentu saja kian membuncah setelah dia mendapatkan apa yang diinginkan dan mereka berhasil melakukannya tanpa gangguan.


Vania terdengar mengerang, kemudian membuka mata perlahan. Dia mengerjap dan membalas tatapannya, memindai wajah sumringah suaminya yang juga masih menyisakan sedikit keringat di keningnya.


Arya masih tersenyum dan ingatannya belum hilang, saat mereka bergumul dalam lautan hasrat menggelora, mengikuti gairah yang menuntun keduanya pada apa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


"Abang senyum-senyum terus?" Vania dengan suara seraknya.


"Karena abang bahagia." jawab Arya, yang membelai wajah perempuan itu dengan punggung tangannya.


Vania ikut tersenyum, dan dia mengerutkan pelukannya di pundak Arya.


"Aku sayang sama abang." dia berbisik.


"Abang juga sayang kamu." balas Arya, kemudian mengecupi puncak kepala istrinya. Yang kemudian kecupannya turun ke kening, mengecup kedua mata, lalu menyusuri hidung, dan diakhir dia mengecup bibirnya beberapa kali.


Keduanya terdiam saat debaran di dada mulai meningkat lagi. Mereka kembali saling memindai, dan Arya kembali memagut belahan kenyal yang terasa manis itu.


Vania melenguh ketika merasakan tubuhnya kembali mengawan, sengatan hebat mulai merambat di setiap inchi tubuhnya. Dia menahan napas kala merasakan sesuatu di bawah sana menegang dengan sendirinya.


"Abang?" panggil Vania, seolah suaminya tak berada bersamanya.


"Hum?"


Tangannya turun menyentuh benda yang menegang dibalik selimut, dan keningnya menjengit.


"Abang kenapa?" dia dengan polosnya.


"Itu ..." Arya menggigit bibir bawahnya dengan keras, kepolosan perempuan ini membuatnya merasa gemas setengah mati. Dan dia tak tahan untuk kembali menyerangnya.


Kembali menyentuh dan meremat setiap bagian tubuh Vania hingga ke yang paling se*sitif. Arya bahkan melepaskan rangkulannya untuk kemudian mengungkung perempuan itu dibawahnya.


Vania mencoba menahan perut Arya dengan kedua tangannya saat pria itu bermaksud kembali membenamkan miliknya.


"Abang, masih sa ... kit" namun dia terlambat, benda itu sudah menerobos pusat tubuhnya dan suaminya bahkan tengah menyesuaikan diri lagi di dalam sana.


Mereka terdiam saling merasakan denyutan yang mulai tak berjeda.


Vania menahan napas kala pria itu menggerakan bagian bawah tubuhnya, dan rasa sakit kembali menjalar di pangkal pahanya.


"Abaaang, ... " dia mengerang, keningnya berkerut dan kedua tangannya mencengkeram kencang tangan suaminya yang bertumpu di kedua sisi tubuhnya. Vania menggigil seketika.


Namun di menit-menit berikutnya rintihan itu berubah menjadi des*han yang terdengar erotis di telinga Arya. Membuatnya kehilangan kendali, dan dia segera menambah tempo hentakannya.

__ADS_1


Tubuh Vania melengkung dan kepalanya mendongak kebelakang, kedua matanya tertutup dan terbuka dengan perlahan saat perasaan indah segera menguasainya, dia bahkan meracau dan terus memanggil nama suaminya.


"Abaaaang, ..." dia meremat rambut di kepala Arya saat pria itu kembali menyusuri tubuhnya dengan mulut dan kedua tangannya. Pria itu hampir membuatnya gila kala menyentuh setiap bagian sensitifnya.


Des*han terus bergema pada hampir dini hari itu, dan hal tersebut membuat Arya semakin bersemangat. Gairahnya terus terbakar seolah ingin menghabisi mereka berdua, dan hasratnya terus menanjak kala menatap perempuan di bawahnya terus bergerak tak karuan, dengan bibir yang terus meracau dan meneriakan namanya.


Arya menarik kedua tangan Vania, kemudian meletakannya diatas kepala, menahannya seolah dia tak ingin perempuan itu melepaskan diri darinya. Lalu melanjutkan cumbuan yang semakin menggebu-gebu.


Dia menyusuri seluruh wajah, merayap ke telinga, leher hingga dada. Arya berhenti tepat diatas bulatan indah yang ujungnya telah mencuat menggemaskan, dan tanpa berpikir panjang, pria itu segera melahapnya seperti baru menemukannya saat itu.


"Ah, ... abaaang!" Vania mengerang dengan tubuhnya yang menggeliat dibawah kendali suaminya. Napasnya tersengal-sengal dan dadanya naik turun dengan cepat. Dia jelas tengah menahan sesuatu yang memaksa untuk meledak, karena Arya merasakan denyutan di pusat tubuhnya kian mengencang.


Pria itu bergerak semakin cepat memacu dirinya sendiri, saat dia juga merasakan hal yang sama. Dan setelah sekian menit dia berpacu, sementara perempuan dibawahnyapun menggeliat dan meracau tak karuan, maka mereka memilih untuk menyerah dan membiarkan semuanya meledak begitu saja.


"Abaaaaaangngnhh!!" tubuh mereka mengejang bersamaan.


🌺


🌺


Suara gedoran di pintu terdengar semakin jelas, namun Vania merasa malas untuk membuka mata. Dia memilih untuk tetap bergelung saja di dalam selimut untuk meneruskan tidurnya.


Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang cepat dan segera membuka pintu.


"Ya?" Arya masih mengenakan handuk sekeluarnya dia dari kamar mandi, dengan rambut yang masih mengalirkan titik-titik air.


"Abang baru bangun?" Alena berdiri di depan pintu.


"Kirain? aku nyangkanya abang masih tidur soalnya udah siang begini villa masih sepi, mana lampu masih pada nyala, terus itu gorden masih di tutup."


"Oh ya?" Arya mengerutkan dahi. Dia kemudian melirik jam dinding, waktu memang sudah menunjukan hampir jam sembilan pagi.


"Hmm ..." Alena mengangguk.


"Kalian baru pulang?"


"Iya, abis sarapan dulu di dekat Ciater langsung kesini."


"Bagaimana kalian masuk? pintunya abang kunci." dia melirik Anna juga kedua adik iparnya yang muncul kemudian.


"Lewat samping. Tadi aku gedor-gedor di depan nggak ada yang nyahut, eh pas jalan ke kolam tahunya pintu samping kebuka? mana banyak air lagi sepanjang dari kolam sampai kesini?"


"Ng ... itu ...


"Untung nggak ada yang masuk. Kan bahaya kalau ada maling masuk." perempuan itu mengomel.


"Vania udah bangun?" dia kemudian bertanya.


"Mm ..." Arya menoleh kebelakang dimana istrinya meingkuk ditempat tidur mereka yang berantakan.

__ADS_1


"Vania tidur lagi." jawabnya kemudian, namun hal tak terduga terjadi saat Dilan muncul dan berlari menerobos celah kecil di samping Arya.


"Ateuuuuuuuuu!!!" bocah itu berteriak, kemudian naik ke tempat tidur dan merangkak ke dekat Vania.


"Ateu bangun!" katanya, dia menepuk-nepuk pipi perempuan itu.


"Ateuuu!!! bangun!" ucapnya lagi, dan dia menundukan wajah.


"Ateunya masih bobo?" namun perempuan itu bergeming, dia masih lelapa di alam mimpi.


"Ateu!! udah siang." katanya, kemudian dia menarik selimut yang menutupi tubuh Vania, yang seketika membuat dua orang dewasa di ambang pintu membelalakan mata ketika tubuh telanjang itu terekspose begitu jelas.


"Ng ... dingin!" Vania mengerang, kemudian kembali menarik selimutnya.


"Ateu bobonya nggak pake baju?" bocah itu dengan polosnya. Dan dia kembali menarik selimut tersebut.


"Ish, ... dingin abang!" Vania setengah berteriak, dan dia segera bangkit dalam keadaan berantakan.


Arya mundur kemudian segera menghampirinya, lalu menyampirkan selimut yang tadi tersingkap membuat dada telanjangnya terbuka dengan jelas dengan bercak-beecak merah hampir keunguan bertebaran di kulit mulusnya.


Vania mengerjap untuk mengumpulkan kesadarannya.


"Mmm ... aku ... ganggu ya?" Alena melongo, namun kemudian dia segera tersadar.


"Yayang, ... ayo ikut mama?" ajaknya, kepada putranya.


"Nooo! mau sama ayah." tolak balita itu, dan dia masuk kebawah selimut.


"Jangan, nanti aja. oke?" bujuk Alena.


"No! mau sama ateu!" Dilan menggelengkan kepala sambil menggerakan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.


"Ish, ... ateunya masih bobo! yayang ikut mama dulu." perempuan itu masuk dan segera meraih anak laki-lakinya, kemudian membawanya keluar dari ruangan tersebut, sementara dua penghuninya terdiam dengan wajah memerah menahan malu.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


ah, yayang ... ada ada aja deh🀭🀭


hei kalian para silent reader, klik likenya setelah baca kenapa,? pembaca novel ini lebih dari sepuluh ribu perhari, tapi yang like nggak lebih dari dua ribuan. apalagi yang komen, sampai hafal banget akunya. Dan berasa ada yang kurang kalau satu akun aja nggak komen.


Buat kalian yang udah like dan komen juga kirim hadiah, makasih banyak karena semua yang kalian lakukan itu sangat mendukung author dalam berkarya. Menambah pendapatan mah udah pasti di platform baca novel online gratis ini. Nambah biaya buat beli kuota biar bisa update terus. Dan bikin aku bisa bertahan di NovelToon walaupun keinginan pindah lapak terus mengganggu pikiran ini karena lihat perbedaan pendapatan yang akan aku dapat kalau karya-karya aku dibawa pindah bisa menjamin kelangsungan hidup juga.


Buat yang selalu dukung makasih ya, dan buat yang masih pelit klik tanda jempol semoga Allah gerakan jempol dan hatinya untuk klik dan komen.

__ADS_1


sayang kalian banyak-banyak. 😘😘😘



__ADS_2