Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Kejutan Yang Batal


__ADS_3

🌺


🌺


"Kalau gini keadaannya, udah pasti kita harus menunda acaranya." Alena menempelkan kepalanya di sandaran kursi. Dia merebahkan tubuhnya setelah seharian menunggui Arya.


"Ya apa boleh buat? masa mau di terusin? abangnya kayak gini." sahut Anna.


"Haaa. ... padahal udah semangat. Abang juga udah seneng banget pas aku kasih tahu kalau hantarannya udah beres dihias." Alena dengan raut kecewa.


"Iya, aku juga udah nyuruh Kang Rendra buat batalin ke penghulu." ucap Anna.


"Udah kasih tahu tante Melly juga?" Alena mendongak ke arah sang kakak.


"Udah, tadi pagi. Dan Tante Melly juga bilang gitu. Nggak mungkin rencananya di lanjutin sekarang."


"Ya udah, jadi kita nunggu abang sehat dulu ya ...


"Hmm ...


"Maksud kalian apa?" Vania muncul setelah tanpa sengaja mendengar percakapan kakak beradik itu. Dia baru saja tiba untuk bergantian dengan Alena menjaga Arya.


"Ng ... kamu kapan datang?" Alena bertanya.


"Baru aja. Maksud kalian apa tadi? ngobrolin soal hantaran, dan penghulu?"


Anna dan Alena sama-sama terdiam, lalu mereka saling pandang.


"Tadinya mau bikin kejutan, begitu abang pulang dari lokasi maunya langsung nikahin kamu." akhirnya Alena berujar.


"Al.." Anna menghentikan ocehan sang adik.


"Nggak apa-apa kak, udah terlanjur juga." ucap Alena.


"Barang-barang buat hantaran pernikahan udah beres dirias, semuanya udah siap. Bahkan daftar ke KUA aja udah beres. Rencananya mau akad dulu, resepsinya nyusul."


"Kenapa nggak ngasih tahu aku dulu?" Vania bertanya.


"Kalau ngasih tahu kamu dulu, nanti kamunya menghindar terus." jawab Alena.


"Tapi mau dibatalin sama Kang Rendra kok, iya kan kak?" perempuan itu berpaling kepada sang kakak.


"Iya, ..." Anna pun mengamini.


Vania menahan napasnya sebentar.


"Keadaan abangnya kayak gini, mana bisa ..." Alena menghentikan ucapannya ketika Vania begitu saja memasuki ruang rawat Arya. Kemudian mereka berdua mengikuti.


"Abang belum mau bangun?" gadis itu mendekati Arya.


"Udah tiga hari lho, tapi abang belum bangun juga." dia melipat kedua tangannya di dada.


"Bang?" panggilnya lagi, dan dia duduk di tepi ranjang. Menatap Arya yang bergeming dalam ketidaksadarannya.


Vania menghela napas pelan, rasa ngilu tentu saja mendominasi hatinya. Bagaimana tidak, kini dia mulai merasa menyesal dengan sikapnya sendiri yang karap kali menolak ketika pria yang kini tengah terbaring lemah di hadapannya menyampaikan niat baiknya. Padahal kini tidak ada alasan serius bagi dirinya untuk menolak. Hanya karena takut kegiatannya dibatasi dan dia masih memiliki banyak mimpi.


Vania terisak.


"Abang masih nggak mau bangun juga?" ucapnya, dan dia menunduk.


"Abang? bangun dong!" dia mengucapkannya tepat di dekat telinga Arya.


"Abang tega biarin aku sendirian?"


"Abaaaang?"


"Katanya mau nikah?" Vania tergugu, yang pada akhirnya membuat dia menjatuhkan kepalanya pada pundak pria itu yang masih tampak tak terganggu. Kemudian menangis untuk beberapa saat.


"Berisik ..." terdengar suara parau di dekat telinganya, dan itu membuat Vania seketika menghentikan tangisnya, kemudian mengangkat kepalanya.


"Abang?" Vania mengusap kedua pipi dengan punggung tangannya.

__ADS_1


"Hmmm ..." Arya menggumam.


"Abang udah bangun?" Vania sedikit panik. Dia takut apa yang di dengarnya barusan hanya ilusi.


"Abang?" gadis itu mengguncangkan tubuh Arya ketika tak mendapatkan respon.


"Jangan lakukan itu, sakit!" pria itu mengeluh.


"Abang bangun?" Vania mengulangi pertanyaan.


"Tadi tidur, tapi jadi bangun karena kamu berisik!" jawab Arya dengan nada kesal.


"Abang udah sadar?"


"Kamu pikir abang mengigau?" Arya membuka matanya lebar-lebar kemudian menoleh ke arah Vania.


"Abang sadar!" pekik gadis itu kemudian memeluk tubuhnya. Tangis dan tawa muncul bersamaan, dan dia seperti orang gila.


"Badan abang sakit Van! kamu meluk terlalu kencang!" protes Arya.


"Maaf, maaf." gadis itu melepaskannya, kemudian bangkit. Menatap wajah pucat Arya, dan dia tersenyum.


"Aku pikir abang nggak akan sadar lagi? aku takut."


Arya hanya mendelik.


"Abang?" Vania memanggil lagi.


"Apa?"


Gadis itu tersenyum, dan dia kembali memeluknya walau Arya lagi-lagi memprotesnya.


"Dih? dasar bucin!" gumam Alena, mencibir.


"Udah, kita keluar aja. Biarin mereka kayak gitu. Nggak enak juga lihat orang melepas rindu." Anna pun menimpali.


🌺


🌺


"Lalu, ... dibagian tangan juga seperti itu." pria berjas putih tersebut kemudian beralih pada lembaran rontgen lainnya. Gambar bayangan tangan kiri Arya yang juga terhimpit batu dari tebing.


"Tapi lagi-lagi kita harus bersyukur, keadaannya tidak separah yang kita bayangkan. Kalau bukan karena keajaiban, entah apa yang terjadi."


Arya mengangguk-anggukan kepala.


"Dengan pengobatan yang baik semoga bisa pulih seperti biasa."


"Baik."


"Kalau begitu, kami pamit? jangan lupa minum obat." sang dokter mengakhiri penjelasannya.


***


Ruangan itu hening untuk beberapa saat, dan mereka berkutat dengan pikirannya masing-masing.


"Abang cacat?" Arya mulai bersuara, dalam posisnya yang duduk setengah berbating dengan kaki dan tangan sebelah kirinya yang di verban dan menggunakan gips. Juga bagian tubuh lainnya yang lebam dan terdapat beberapa luka gores.


"Siapa bilang?" Alena menyahut.


"Itu tadi dokter?"


"Bukan cacat, cuma tulang kaki sama tangan abang retak sedikit." ucap sang adik.


"Tapi abang jadi tidak bisa melakukan apa-apa." pria itu dengan suara pelan.


"Cuma sementara, nanti kalau udah sembuh juga biasa lagi." Vania pun mendekat.


"Tapi lama?" Arya menatap ke arahnya.


"Nggak, kalau abang makan banyak sama minum obatnya dengan teratur." gadis itu menyerahkan beberapa butir obat kepada Arya yang langsung di tenggak oleh pria itu sekaligus.

__ADS_1


"Yang penting udah stabil dulu, soal itu bisa kita pikirin nanti." lanjut Vania.


Arya terdiam.


"Nggak usah di pikirin, lama-lama juga pulih." Vania dengan penghiburannya.


Arya menatapnya lekat-lekat.


"Kamu ... kalau sibuk tidak usah kesini." katanya, yang membuat Vania segera mendongak.


"Nggak, aku santai kok."


"Biasanya jam segini kedai ramai." pria iti melirik jam dinding di depannya, yang menunjukan lewat tengah hari.


"Ada Mimi sama Rafa."


"Mereka bisa kerepotan kalau tidak ada kamu."


"Mereka udah biasa."


"Tapi kalau misalnya ...


"Mendingan abang istirahat lagi deh? tidur lagi gitu, biar cepet sembuh." Vania menarik beberapa bantal yang menumpuk di belakang tubuh Arya, kemudian mendorong pundak pria itu agar kembali berbaring.


"Tapi kan ...


"Tidur bang, ..." dia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Arya.


Namun pria itu memegang pergelangan tangannya.


"Jangan karena abang kamu jadi meningalkan pekerjaanmu." pria itu berucap, dan dia kembali menatap Vania.


"Pulanglah, abang baik-baik saja." lanjutnya.


"Aku nggak apa-apa. Aku bisa tinggalin kerjaan. Lagian itu kan punyaku, aku bebas."


Arya menggelengkan kepala.


"Jangan karena abang, pekerjaanmu jadi terbengkalai. Sayang, kamu sudah melakukan banyak hal untuk mendapatkannya."


"Nggak lah, ...abang tenang aja."


"Abang serius."


"Aku juga serius." Vania balik menatapnya kemudian tersenyum.


"Bobo gih, biar abang cepet sehat."


Arya kembali terdiam.


"Atau ... mau aku temenin?" gadis itu semakin mendekat, dan dia hendak naik ke tempat tidur.


"T-tidak usah. Abang bisa." Arya merebahakn kepalanya diatas bantal, kemudian memejamkan mata.


Ya gila aja kalau beneran mau ditemenin? batin Vania, dan dia terkikik dalam hati.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Dih abang, bilang iya kenapa sih? pan biar bobo nya di temenin. Kan enak bisa pelukan. 🤣🤣🤣


Like komen sama hadiah selalu di tunggu, dan vote kalau udah ada.


Emak mau bobo dulu ah, ...


lope lope segudang 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2