
🌺
🌺
"Aku mau pulang sore ini ah." ucap Vania beberapa saat setelah rombongan kepo kembali ke villa begitu mereka puas berplesir ria mengunjungi beberapa spot wisata di kota Lembang.
"Lho? masih ada sehari lagi kan?" Alena menghentikan kegiatannya mengurus balita lucu berusia enam bulannya.
"Kelamaan libur, aku inget kedai." Vania meraih balita itu kemudian mendekapnya seperti biasa. Menciumi dan menggodanya seperti yang selalu dia lakukan hingga keluar tawa dari mulut mungilnya.
"Bukan karena kita tinggalin tadi siang?" Alena menatap wajah sahabatnya itu.
"Nggak."
"Beneran?"
"Eh, ... dikit deh. Aku sebel di jadiin ban serep nungguin villa sama abang. Plus kena kejahilan kalian." jujur Vania.
"Dih? bukannya seneng terjebak disini sama pacarnya, malah sebel?" goda Alena.
"Bukan terjebaknya yang bikin sebel, tapi ...
Arya tiba-tiba melintas di depannya, dan hal itu cukup membuatnya merasa canggung. Pipinya merona seketika saat ingat kejadian tadi siang.
"Dih, tersipu-sipu." gumam Alena ketika menyadari keberadaan kakak laki-lakinya di sana.
"Lagian, tadi di cari-cari nggak ada, aku telfonin juga nggak diangkat. Kemana coba?"
"Aku ... ng ... itu ...
"Apaan?"
"Jalan-jalan." jawab Vania dengan suara pelan saat Arya mendekat ke tempat mereka berada.
"Jalan-jalan kemana?"
"Kebawah."
"Kebawah?" Alena mengulang ucapan sahabatnya.
"Ng ...
"Abang harus pulang, ada telfon dari Cindy, tapi tadi tidak jelas. Abang chat tidak dibalas. Takutnya ada hal penting." Arya tiba-tiba bicara.
"Dih, lagi libur juga tetep di recokin?" cibir Alena.
"Mungkin ada yang harus abang kerjakan."
"Masih libur bang."
Arya hanya menggendikan bahu.
"Aku juga mau pulang." Vania menyela.
"Kenapa? ada masalah juga?" pria itu beralih kepada kekasihnya.
"Nggak."
"Terus?"
"Ciee, ... kompakan. Jangan-jangan udah di rencanain?" Alena beraksi, kembali mencibir sahabat dan kakak laki-lakinya.
"Nggak ih, ..." Vania mendelik.
"Tuh buktinya, satu mau pulang, satunya lagi langsung mau pulang? emang ya kalian ini ...
"Ya ngapain aku disini juga baper sendiri? yang lain ada pasangan, nah aku sendirian."
"Cieee ... nggak mau sendirian?" Alena tergelak.
"Diamlah."
"Ya sudah, kalau mau pulang kita berangkat sekarang. Sebelum malam."
"Cuma dari sini bang." ucap Alena.
"Malam minggu jalan macet tahu?" sela Vania.
"Ya udah, kalau maksa mau pulang. Tapi diem-diem ya, jangan sampai Dilan tahu, nanti dia ngamuk mau ikut abang." perempuan itu meraih Alea dari pangkuan Vania.
🌺
🌺
"Abang antar sampai rumah?" Arya membelokan mobilnya di pertigaan.
"Mmm ... ke kedai deh."
"Kenapa?" pria itu menoleh sekilas.
"Motor aku disana. Besok aku berangkat pagi."
"Mau langsung buka kedai besok?"
"Iya kayaknya. Lumayan kalau hari Minggu jualannya dari pagi."
"Begitu ya ..." Arya bergumam.
"Iya ..."
"Kamu berangkat jam berap? abang jemput besok."
"Hah? apa?"
"Abang jemput dari rumah."
"Eh, ....
Pria itu meneruskan perjalanan menuju kediaman Vania, tanpa bertanya kepada gadis itu terlebih dahulu.
***
"Ibu kamu sudah pulang jam segini?" Arya melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 5 sore.
"Nggak tahu, kan dari kemarin aku sama abang."
"Oh iya, lupa." pria itu terkekeh.
"Dih, lupa."
Vania turun dari mobil dan membuka pintu pagar, kemudian membiarkan Arya membawa kendaraan miliknya memasuki pekarangan. Tampak sebuah mobil yang dia kenali terparkir disana.
__ADS_1
"Ada tamu?" Arya bertanya saat dia juga turun dari mobilnya.
"Cuma adiknya ayah." jawab Vania dengan nada tidak suka.
Lalu terdengar suara seorang pria dari dalam rumah.
"Mbak nggak ada hak! itu milik bapak saya, dan mbak cuma di perintahkan untuk mengelola, bukan berarti jadi hak milik!"
"Selama ini mbak sudah menikmati hasilnya, sampai bisa menyekolahkan Vania, belum lagi dia juga sudah punya usaha. Apa susahnya sih kalau mbak serahkan kafenya kepada kami?" suara perempuan menimpali.
"Vania tidak ada hubungannya dengan ini. Dia kuliah atas biaya sendiri, usahanya pun dia berjuang sendiri, tanpa mengambil penghasilan kafe." terdengar Melly menjawab.
"Alah, ... omong kosong! nggak mungkin Vania bisa membiayai dirinya sendiri? memangnya kami ini bodoh apa? sudah jelas kan dari dulu kalian memang ingin menikmati penghasilan kafe sendirian, tanpa memikirkan hak kami."
"Saya tegaskan, kami hanya mengambil apa yang menjadi hak kami, tidak lebih dari itu. Dan Vania tidak pernah mengambil apapun selain gajinya selama dia bekerja di kafe, dia bekerja sebagai karyawan biasa, bukan sebagai anak saya. Saya hanya menjaga apa yang harus saya jaga."
"Mbak pikir kami percaya? anak seperti Vania tidak mungkin bisa seperti itu, kalaupun dia mampu, saya curiga dia melakukan hal buruk. Hanya saja mbak tidak tahu."
"Jaga bicara kamu! anak saya tidak seperti itu." Melly berteriak.
Vania terlihat mengetatkan rahang, kedua tangannya terkepal dengan erat menahan amarah.
"Mbak pikir ya, dia jarang dirumah, kerja siang malam, mbak pikir dia cuma jualan di kedainya? bisa saja dia ...
Brakk!
Gadis itu mendorong pintu dengan keras sehingga terbuka lebar, dan menghentikan perdebatan di dalam rumahnya.
Mereka terdiam.
"Belum cukup semua penghasilan kafe yang ibu kasih? sampai-sampai kalian menuntut kami untuk menyerahkan kafe itu juga?" gadis itu berjalan masuk.
"Kalian nggak tahu apa-apa, yang kalian tahu cuma penghasilan, sedangkan prosenya nggak ada yang kalian tahu. Enak banget sekarang kalian tiba-tiba minta kafe dengan alasan itu adalah hak kaian. Terus kalian anggap apa kami selama ini?"
"Tante dan Om nggak tahu kan sesulit apa kami mempertahankan kafe? sampai-sampai untuk hidup pun kami sangat berhemat. Ayah memilih terus mengembangkan kafe dari pada menikmati hasilnya, sekalipun itu untuk kami. Sekalipun itu untuk aku."
"Tahu apa kalian soal aku? yang kalian tahu juga cuma hasilnya sekarang, bukan proses berat yang aku jalani. Aku kerja keras biar bisa seperti ini."
"Kalian pikir hidup aku mudah? kalian pikir aku menggunakan semua yang dihasilkan dari kafe untuk semua yang aku punya sekarang?" Vania meninggikan suaranya.
"Yang sopan ya kalau bicara, gini-gini kami orang tua." sang paman berusaha menghentikan gadis itu.
"Aku bakal sopan kalau kalian juga menghargai ibu aku. Dia yang selama ini berusaha agar tempat itu tetap ada. Seperti pesannya kakek sama ayah, tapi Om dan Tante? kalian hanya datang disaat kami sudah berhasil, disaat kafe sudah lebih menghasilkan, disaat kami sudah melakukan banyak hal."
"Kalian ada dimana waktu kami merangkak? aku bahkan ikut bekerja waktu anak-anak lain masih bermain dengan bonekanya." Vania setengah menggeram.
"Kalian ada dimana?" teriakan Vania lebih keras.
"Vania!" Melly menghentikannya, sementara Arya meraih tangannya.
"Keluar kalian dari sini." gadis itu merentangkan tangannya kearah pintu, dengan tatapan nanar penuh kemarahan. Tak sedikitpun ada rasa takut dan segan dari raut wajahnya.
Sang paman hampir saja membuka mulutnya untuk kembali berbicara, namun Vania kembali berteriak dengan wajah yang memerah.
"Keluar!!" dia menghentakan sebelah kakinya ke lantai, yang kemudian membuat saudara dari ayahnya tersebut segera keluar dari rumah mereka.
***
Keadaan hening di ruang keluarga milik Melly, dan perempuan itu masih terdiam di tempat duduknya.
"Udah bu, nggak usah dipikirin." Vania mendekati ibunya.
"Sudah tiga kali mereka menuntut seperti itu." Melly bicara dengan tatapan kosong.
"Mungkin sebaiknya kita jual kafenya, dan hasilnya dibagi dua. Selesai masalah kita Van." perempuan itu menoleh ke arah putrinya.
"Nggak mungkin. Jangan lakukan itu bu. Amanah kakek harus tetap dijaga, dan jangan sampai dijual."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? ibu lelah terus berdebat dengan mereka setiap hati. Selalu dengan masalah yang sama, kata-kata yang sama, dan tuntutan yang sama."
Arya menyimak percakapan itu dalam diam.
"Kita akan pikirkan cara lain bu." Vania berusaha menenagkan.
"Sampai kapan? berapa lama? ibu bosan, setiap hari mereka selalu mengacaukan pekerjaan kami di kafe. Kamu tidak tahu rasanya, kamu tidak ada disana." Melly bereaksi.
Mereka terdiam lagi.
"Abang dengar?" Vania berbicara setelah beberapa saat. Dia beralih kepada Arya yang masih duduk disana dalam diamnya.
"Ini kenapa aku nggak langsung menyetujui waktu abang membahas soal pernikahan dan semacamnya. Karena banyak yang aku pikirin. Banyak yang harus aku kerjakan. Yang nggak mungkin bisa aku kerjakan kalau misalnya nanti aku sudah berumah tangga. Karena pasti akan banyak memakan waktu aku." Vania menjelaskan.
"Bukannya aku nggak serius, tapi ada hal serius lain yang juga harus aku pikirkan. Mengusahakan keadaan yang baru saja abang tahu. Aku yakin Om Riyan dan Tante Rahma nggak akan berhenti sampai disini. Mereka akan selalu mencari cara untuk membuat ibu menyerah."
Arya mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari bibir gadis itu.
"Oh, Arya ... kamu datang?" Melly baru saja menyadari keberadaannya.
"Iya, tante." pria itu menjawab.
"Maaf, harus melihat ini. Tante tidak tahu kalian akan datang ..." dia menatap wajah pria itu lekat-lekat.
"Tidak apa-apa."
"Kalian berencana menikah?" perempuan itu kembali berbicara, memgingat ucapan putrinya kepada pria itu.
"Mm ...
"Abang ngajak serius." Vania menjawab.
"Memangnya kamu main-main?" dia beralih lagi kepada putrinya.
"Nggak juga."
"Terus?"
"Ya ... masa harus buru-buru?"
"Kamu Arya?" dia kembali menatap Arya.
Pria itu jelas tak menyangka akan dihadapkan pada situasi seperti sekarang. Ini pertama kalinya dia menghadap Melly sebagai kekasih dari putrinya, namun tanpa diduga hal yang dia dapati adalah lebih dari sekedar bertemu.
"Saya ..." Arya melirik kepada Vania.
"Apa tante mengijinkan saya dekat dengan Vania?" dia balik bertanya.
"Bukannya kalian sudah dekat? kalian sudah kenal lama." jawab Melly.
"Jadi ... tante mengijinkan?" tanya pria itu lagi.
"Tante serahkan semua kepada Vania, dia maunya seperti apa?"
__ADS_1
"Dan soal perjodohan dengan Raja?" Arya bertanya lebih jauh.
"Bukankah Pak Harlan juga sudah membebaskannya? dia memutuskan untuk meyerahkan keputusan kepada Vania? jadi ... tante hanya akan mengikuti saja apa yang Vania putuskan." ucap perempuan itu.
"Ibu beneran?" Vania menyela.
"Ya, ... kalau misalnya kamu maunya seperti itu, ibu bisa apa? Masa ibu harus memaksa? terserah kalian saja lah."
"Ah, ibu ..."
"Kalau mau nikah sekarang juga nggak apa-apa, ... lebih baik ...
"Bu, ... jangan dulu mikir kesana. Kita beresin masalahnya satu-satu." sergah Vania.
"Ibu serius, kalau misal kalian mau, menikahlah ... jangan pikirkan ibu. Agar ibu tidak terlalu mengkhawatirkanmu." katanya kepada Vania.
"Nggak usah khawatir, aku baik-baik aja. Serius."
"Ibu khawatir kamu bekerja sekeras ini, sampai-sampai orang yang tidak tahu apa-apa menganggapmu melakukan hal buruk ..." Melly menahan kata-kata yang hampir saja keluar dari mulutnya.
"Bu, ... nggak usah dengar apa kata orang, aku nggak akan peduli. Ibu tahu aku kayak apa, dan ibu juga tahu selama ini aku melakukan apa, cuma orang picik aja yang menilai aku seburuk itu."
"Maafkan ibu nak, maafkan. Harus membuatmu ikut bertanggung jawab atas amanah ini. Ibu janji kita akan menemukan caranya." Melly mulai terisak.
"Udah bu, udah. Ibu istirahat ya? besok kita lanjutin ngobrolnya."
"Tapi Arya?"
"Nggak apa-apa. Abang pasti ngerti. Iya kan bang?" ujar Vania, yang menarik lengan ibunya untuk membawanya pergi.
Arya menganggukan kepala.
***
"Hah ..." Vania kembali setelah beberapa menit berada di kamar ibunya.
"Bagaimana ibu kamu?"
"Udah tenang. Udah aku kasih obat juga biar tidur. Kasihan, kalau tante Rahma sama Om Riyan udah datang, ibu pasti nggak bisa tidur." jelas Vania.
"Mereka sering datang?" Arya mencari tahu.
"Sering. Di kafe juga sekarang berani ikut campur. Makanya aku nggak mau kesana lagi."
Arya mendengarkan.
"Mereka selalu mambahas masalah yang sama, Kayak yang abang dengar barusan." ujar Vania.
"Maaf." dia tampak menyesal.
"Kenapa meminta maaf?"
"Abang jadi dengar masalah yang seharusnya nggak abang dengar."
Pria itu menggelengkan kepala, dan sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Sekarang ngerti kan kenapa aku menunda niat baik abang?" Vania menoleh ke arahnya.
"Ngerti." Arya mengangguk.
"Maaf." dia juga berucap.
"Kenapa abang sekarang minta maaf juga?"
"Mungkin abang terlalu memaksa. Kamu tahu, ... mungkin umur yang membuat abang ...
"Eh, ... jangan bahas masalah umur dengan aku. Aku merasa kita seumuran."
"Masa?" Arya tergelak.
"Anggap aja begitu."
"Baiklah kalau begitu ... kita di umur berapa sekarang?"
"Entahlah, ... mungkin 27?" Vania terkekeh.
"27 cukup bagus."
"Memang."
Dan mereka pun terawa bersamaan.
"Oh ya ampun, aku lupa!" Vania menepuk kepalanya.
"Apa?"
"Belum bikin minum untuk abang." katanya, dan dia berniat untuk bangkit.
"Eh, ... tidak usah." Arya menahannya.
"Tapi ini pertama kali abang main kesini dan ketemu ibu, tapi malah denger yang lain-lain."
"Tidak apa-apa."
"Aku juga malah lupa bikinin minum."
"Abang bilang tidak usah,"
"Tapi ...
"Yang penting abang sudah dapat apa yang abang mau."
"Apaan?"
"Ijin ibu kamu." pria itu berbisik di telinganya, dan Vania pun tersenyum gembira.
"Abang tenang sekarang." lanjut Arya, dan dia menggenggam erat tangan gadis itu.
🌺
🌺
🌺
Bersambung, ...
Cieeee yang udah dapat ijin emaknya. 😁😁
**jan lupa like komen dan hadiah yang banyak. biar mereka makin sweet dan makin uwuw.
otewe menuju halal lah ... 🤣🤣🤣**
__ADS_1