Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Menikah


__ADS_3

🌺


🌺


"Saya terima nikah dan kawinnya Vania binti Galih Indrajaya dengan mas kawin tersebut tunai." Arya mengucapkannya dengan lantang dan tegas, seolah dia telah melatihnya sebelum waktu itu tiba.


"Saksi sah?" sang penghulu bereaksi.


"SAH!!" teriakan ketiga adik iparnya menggema di belakang. Yang kemudian diikuti tepuk tangan dan ucapan syukur dari orang-orang yang hadir hari itu.


Alena tak hentinya menangis, yang merupakan tangis haru dan bahagia. Begitupun dua saudara perempuannya. Rasanya mereka menantikan saat seperti ini selama seumur hidup.


Melihat kakak pertama menemukan jodohnya, yang telah lama mereka nanti. Dan kali ini sama mengharukannya seperti saat mereka yang menikah.


Alasannya apalagi kalau bukan sosok orang tua yang tak bisa hadir karena mereka telah lama pergi. Selain juga mengingat perjuangan keras pria itu untuk mereka. Dan Rasa lega pun seketika mendominasi, melihat Arya yang kini menemukan belahan jiwanya.


"Udah dong jangan nangis terus. Make up nya luntur." Hardi dengan penghiburannya.


"Aku sedih." isak Alena.


"Kok sedih? harusnya seneng dong, abang sekarang ada yang ngurusin?"


"Bukan sedih itu, tapi aku sedih karena ingat ayah sama ibu."


"Udah udah, ... ayah sama ibu pasti bahagia melihat anak-anaknya sekarang udah bahagia."


"Hmm ..." perempuan itu menyeka sudut matanya.


***


"Jadi, kapan balik kerja?" Raja menghampiri.


"Apaan? belum juga sembuh. Masa udah maksa masuk kerja?" sahut Cindy yang berada disampingnya.


"Oh, iya bener. Belum lagi harus bulan madu dulu ya?" dia tergelak, "Eh, tapi ... emang udah bisa?" Raja dengan cueknya.


"Eee ...


"Pak!" Cindy menyenggol lengan pria itu dengan sikutnya.


"Canda bang." dia tertawa.


"Makasih kak, udah datang. Om juga." Vania melirik kepada Harlan.


"Sama-sama. Semoga kalian selalu bahagia." pria paruh baya itu menganggukan kepala sambil tersenyum.


"Ya udah kalau gitu, pamit dulu deh. Banyak kerjaan nunggu nih." ucap Raja, dan dia bersiap untuk pergi.


"Cepatlah sembuh, banyak proyek yang menunggumu, Arya." sambung Harlan, yang juga sama bersiap


nya.


"Iya pak." sahut Arya.


"Ya udah. Cindy, ayo balik ke kantor!" Raja dengan cueknya memanggil sang sekertaris yang berada tak jauh dari mereka.


"Saya pak?" gadis itu menunjuk dirnya sendiri.


"Ya iya, masa cicak?" Raja memutar bola matanya. "Buruan, banyak kerjaan nih."


"Eee ... iya pak, iya." gadis itu menurut. Kemudian mereka pun pergi.


🌺


🌺


"Ibu mau pulang sekarang?" Vania mensejajari langkah ibunya menuju ruang depan. Setelah akad yang dilangsungkan di kediaman Arya, dia dan bebarap kerabat yang mengantar pun bersiap untuk pergi.


"Iya, masa ibu harus menginap disini?"


"Nggak apa-apa padahal, semalam aja."


"Sudah waktunya ibu membiarkan kamu benar-benar mandiri. Lagipula hari ini ibu ada janji dengan Pak Harlan."


"Om Harlan?" Vania membeo.


"Iya. Mau ada kerjasama."


"Kerjasama apa?"

__ADS_1


"Sepertinya ibu akan menerima tawaran investasi dari Pak Harlan untuk kafe."


"Oh ya?"


"Iya. Mudah-mudahan itu bisa membuat kafe lebih baik lagi."


"Ya udah kalau gitu."


"Pamitkan juga kepada Arya ya, sepertinya dia sibuk." mereka melirik kepada pria itu yang tengah bercakap-cakap dengan beberapa rekan yang datang.


"Iya bu." kemudian mereka berpelukan.


***


"Nah Van, mulai sekarang kami serahkan semuanya kepadamu. Termasuk rumah ini da semua isinya. Apalagi penghuninya. Rawat baik-baik ya?" Alena tertawa, walaupun bekas tangisan masih terlihat jelas di wajah sembabnya.


Perempuan muda yang kini telah berubah status menjadi Nyonya Arya tersebut mengangguk sambil tersenyum.


"Titip abang ya? mungkin akan agak susah kalau mau apa-apa. Apalagi badannya belum sembuh benar. Tapi ... sekarang semua tanggung jawab kamu." Alya menimpali.


"Iya, terus apa-apa juga susah dibilangin, abang orangnya keras kepala. Harus serba pelan-pelan."


"Iya kak."


Mereka terdiam sejenak.


"Kayaknya brasa aneh ya?" Alena kembali tertawa.


"Masa sama adik ipar manggilnya kak?"


"Eee ... aku ... belum terbiasa." Vania pun ikut tertawa.


"Nanti juga terbiasa." sahut Anna.


"Ya udah deh, kita juga pulang."


"Lho? nggak pada nginep lagi?"


"Nggak lah, abangnya udah ada yang jagain."


"Ya kali, penganten baru di recokin? nanti ada yang kepo." Hardi mendekat.


Dan setelah berpelukam juga ucapaan perpisahan, akhirnya semua orang meninggalkan rumah berlantai dua terasebut, walau sempat terhambat karena dua balita kesayanga Arya tak mau lepas dari pria itu. Kepulangan mereka bahkan di ikuti tangis histeris Dilan yang tak mau meninggalkan tempat tersebut.


***


Arya berdiam diri di ambang pintu selepas kepergian adik-adik dan kerabat yang menyaksikan acara pernikahannya hari itu.


Pernikahan.


Hal yang tidak dia sangka sama sekali akan terjadi, walau memang sebelumnya sempat merencanakan hal tersebut bersama ketiga adiknya. Tapi dirinya tak menyangka pernikahannya dengan Vania akan berlangsung secepat itu. Setelah drama putus hubungan dan perempuan yang kini telah menjadi istrinya itu nekad meminta menikah, akhirnya hal itu terlaksana juga.


"Abang mau disitu terus?" Vania muncul dari arah belakang.


"Mm ... " Arya menoleh. Perempuan itu masih berbalut kebaya putih dengan rambut yang masih disanggul.


"Aku mau ganti baju, nggak kuat gerah." ucap Vania.


"Kamu bisa ganti baju di kamar abang." jawab Arya, menunjuk kamar di bawah tangga tak jauh dari mereka.


"Oh, ... oke." perempuan itu memgangguk, "Etapi, ... bukannya kamar abang diatas ya?" dia berhenti sebentar.


"Iya, sebelum kecelakaan. Tapi setelah pulang dari rumah sakit Alena memindahkan abang kesana biar lebih gampang kalau mau apa-apa."


"Oh, ..." dia mengangguk lagi.


"Ya udah, ..." kemudian Vania masuk kedalam kamar yang ukurannya sedang itu. Dengan sebuah kamar mandi kecil di sudut. Metelakan travel bag berisi pakaian yang dia bawa dari rumah.


Dia menatap sekeliling ruangan yang sudah temaram karena hari memang telah beranjak petang. Senyumnya kemudian terbentuk ketika dia melihat ke satu sudut, dimana kotak-kotak barang hantaran yang pernah dilihatnya beberapa minggu sebelumnya tertata rapi.


Vania juga tertawa ketika melihat ranjang pengantinnya yang ditata sedemikian rupa, bertabur bunga mawar dengan wangi lembut yang memenuhi ruagan.


Haih, ... ranjang pengantin. batinnya.


Kemudian wajahnya memerah saat menyadari jika dirinya telah menjadi seorang istri.


Istri, ... nyonya Arya.


Dan dia tergelak sambil menepuk kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


"Mereka kalau bikin apa-apa memang tidak pernah setengah-setengah ya?" Arya muncul diambang pintu, membuat Vania sedikit terlonjak karena terkejut.


"Abang ish, bikin kaget!"


"Padahal abang sudah bilang kamarmya tidak usah di hias, tapi tetap saja. Adik-adik abang tidak mendengar."


Vania hanya terasenyum.


"Sementara kita tidur disini dulu. Nanti kalau abang sudah sembuh baru pindah ke atas." pria itu menggerakan kursi rodanya memasuki ruangan.


"Iya, disini juga nggak apa-apa, sama aja." jawab Vania, yang kemudian tersenyum lagi.


"Ng ... aku... mau mandi." keadaan tiba-tiba saja terasa canggung.


"Iya, kamar mandinya disana." Arya menunjuk pintu kecil di ujung ruangan.


"Iya, aku tahu."


"Iya, terus?"


"Abang nggak keluar dulu gitu? aku kan malu."


"Oh, ... baiklah." pria itu memutar kursi rodanya kemudian keluar.


***


"Abang mau mandi nggak?" Vania menemukan suaminya yang berada di ruang keluarga dengan televisi menyala.


Arya menganggukan kepala.


"Kalau gitu ayo." dia mendorong kursi rodanya kembali kedalam kamar.


"Biasanya gimana? aku kan belum tahu mesti gimana?" Vania berujar saat mereka sudah berada di depan kamar mandi.


"Maksudnya?" Arya menjengit.


"Mandinya."


"Abang harus dimandiin?" dia bertanya.


"Tidak usah, abang sudah bisa." jawab Arya.


"Masa?"


"Iya. Taruh kursi plastiknya di bawah shower." pria itu menunjuk sebuah kursi plastik berwarna hijau di sudut kamar mandi, dan Vania segera melakukan apa yang dia perintahakan.


Pria itu kemudian mencoba bangkit dari kursi rodanya, perlahan dan sangat berhati-hati. Vania mengulurkan tangannya untuk membantu.


"Abang bisa." tolak Arya, yang memang berhasil berdiri dengan berpegangan kepada pinggiran pintu.


Dia kemudian melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi, dan dengan susah payah mendudukan dirinya di kursi yang sudah diletakan di bawah shower.


Vania menatapnya dengan dahi berkerut, dan dia menunggu, kalau-kalau pria itu butuh bantuan.


Arya melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, kemudian membungkus tangan dan kakinya yang masih berbalut verban dengan kantung plastik berwarna bening yang memang selalu tersedia disana untuk melindunginya dari air.


Vania mengerjap, dia kemudian mundur beberapa langkah keluar dari kamar mandi, baru menyadari kelakuannya hari itu.


Dia menatap tubuh telanjang suaminya di dalam sana.


Vania terkikik sambil menutup mulut dengan tangannya.


Ini pertama kainya dia menatap tubuh seorang pria secara gamblang, dan itu adalah suamimya.


Suami.


Vania terkikik lagi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Cie cieee ... yang udah jadi suami istri?


minta Hadiah dong buat kado penganten baru 😂😂

__ADS_1



__ADS_2