Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Acuh


__ADS_3

🌺


🌺


"Van, omeletnya!" Melly setengah berlari menghampiri putrinya yang berdiri di depan kompor dengan wajan yang mengepulkan asap pekat.


"Kamu melamun?" tanya nya, kemudian mematikan api.


Vania mundur dua langkah kebelakang sambil menatap makanan yang dimasaknya telah menghitam.


"Kamu sedang ada masalah?" Melly kembali bertanya.


"Ng ...


"Hati-hati Van, jangan melamun, bisa bahaya!" ucap perempuan itu.


Vania menggeleng untuk mengusir bayangan pria itu dari kepalanya, karena tampaknya dia mulai terbawa perasaan.


"Aku bikin lagi bu." dia berucap.


"Tidak usah, ibu mau pergi sekarang. Kalau mau bikin saja untuk kamu sendiri." sergah Melly.


"Ibu mau pergi?"


"Iya."


"Kemana?"


"Mau ketemu orang."


"Dimana?"


"Di kafe."


"Kirain jauh, tadinya mau aku antar. Atau ibu mau pergi sama-sama?" tawar Vania.


"Memangnya kamu mau pergi sekarang? bukannya kedai kamu buka siang?" Melly bertanya.


"Pergi sekarang aja lah, dirumah juga aku sendirian."


"Baiklah kalau begitu."


***


Vania sedang memikirkan bagaimana caranya berbicara kepada ibunya. Karena hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, atau nasib percintaannya akan kandas saat itu juga.


"Bu?"


"Ya?"


"Apa aku nggak bisa milih?" dia memulai percakapan.


"Soal apa?"


"Soal jodoh."


Melly mengerutkan dahi.


"Kamu mau mengingkari janji kepada ayah?"


Vania terdiam, lagi-lagi hal itu menjadi pertimbangannya.


"Apa kita nggak bisa melakukan hal lain untuk masalah ini?"


"Hal apa?"


"Aku nggak tahu, tapi apakah aku bisa memilih untuk nggak menerima perjodohan ini?"


Melly berpikir.


"Seingat aku, dulu ayah bilang aku harus menikahi anak temannya kalau dia juga belum menikah."


"Iya, memang."


"Gimana kalau misalnya ternyata dia udah punya pasangan, dan mereka punya rencana serius? apa hal ini harus tetap dilakukan?"


"Intinya kamu mau bicara soal apa? kamu tidak mau menrima perjodohan ini?"

__ADS_1


"Aku bingung." Vania menjawab.


"Apa yang membuat kamu bingung? bukankah kamu sudah berjanji kepada ayah? kamu mau melanggar janji itu?"


"Bukan maksud aku mau melanggar janji, tapi ... aku sudah menunggu bertahun-tahun, tapi nggak ada yang datang. Dan sekarang, di saat aku udah punya rencana sendiri tahu-tahu ibu berbicara soal ini, seolah-olah perjodohan itu akan dilanjutkan."


"Ya memang, ini ibu mau ketemu dengan orangnya. Sekalian saja kamu juga ikut?"


"Apa? sekarang?"


"Iya. Biar semuanya jelas, dan kita akan merencanakan banyak hal."


"Apa aku nggak bisa nolak?"


"Seandainya itu bukan janji sebelum ayah meninggal, maka ibu pun akan membiarkan kamu memilih apapun yang kamu mau. Tapi sayangnya ini adalah wasiat ayahmu, dan ibu tidak berani melanggarnya. Selain kekecewaan, ibu takut ini akan menjadi masalah di kemudian hari." Melly menjelaskan.


"Jadi, ... aku nggak bisa menolak?"


"Sayangnya iya."


Vania menahan napas ketika dadanya terasa sesak.


"Tapi ... aku udah punya, ...


"Tuh kan, orangnya sudah datang?" Melly menujuk mobil yang sudah terparkir di halaman kafe miliknya.


Vania menelan ludahnya dengan susah payah.


"Kamu mau ketemu dia sekarang, sebelum ketemu dengan anaknya juga nanti?" tanya sang ibu.


"Eee ... aku nggak bisa, hari ini banyak pesanan." Vania beralasan untuk menghindar.


"Oh, ya sudah. Nanti ibu beri tahu kamu setelah ini ya?" ucapnya saat mobil yang ditumpanginya berhenti di depan kafe.


"Hmm ..." Vania hanya menggumam, kemudian segera pergi.


🌺


🌺


"Bu Kania sudah datang pak." Cindy menyerahkan beberapa alat gambar yang dipesan Arya kepadanya.


Asistennya itu menganggukan kepala.


"Ya sudah, suruh masuk. Nanti mau pergi sama-sama ke lokasi juga."


"Baik Pak." ucap Cindy, namun dia tak segera pergi. Malah menatap atasnnya itu lekat-lekat dengan pikirannya yang menerka-nerka. Wajahnya bahkan tiba-tiba memerah ketika dia mengingat kejadian beberapa hari sebelumnya antara pria itu dengan gadis pengantar makan siang untuk pegawai mereka.


"Kamu kenapa?" Arya bereaksi saat dia merasakan asistennya itu memperhatikan.


"Ng ... nggak pak, nggak apa-apa." Cindy salah tingkah, namun dia merasa penasaran.


"Ya sudah, sana panggil Kania?" titah Arya.


"Ba-baik Pak." perempuan itu berlalu.


***


Vania kembali memasuki gedung itu seperti biasa, setelah meyerahkan makanan yang dibawanya kepada ofice boy yang bertugas.


"Pak Arya ada?" tanya nya kepada Cindy saat mereka bertemu di lobby.


"Ada."


"Lagi sibuk nggak?"


"Lumayan, sepertinya baru aja selesai menerima tamu." jawab Cindy.


"Tamu?"


Cindy mengangguk.


"Ada yang penting?" dia bertanya.


Vania terdiam, namun kemudian di menoleh ketika ekor matanya menangkap pergerakan sosok yang sangat dikenalnya.


"Abang?" dia mencoba untuk menyapa.

__ADS_1


"Hey? mengantar makanan?" Arya menjawab sapaannya.


Vania menganggukan kepala.


"Baiklah, ... " pria itu terdiam sebentar. "Saya pergi dulu, Cindy. Mungkin kembali nanti sore." katanya kepada si asisten.


"Baik Pak." Cindy mengangguk.


"Abang pergi dulu." Arya beralih kepada Vania yang tampak menunggu.


"Pergi?"


"Iya. Ada pekerjaan diluar."


"Makanannya?" Vania mengangakt totebag yang dia genggam dengan erat berisi makan siang untuk pria itu.


"Simpan dulu, mungkin nanti sore abang makan." ucap Arya, yang segera melanjutkan langkahnya mengikuti perempuan yang sudah mencapai pelataran gedung.


Vania tertegun memperhatikan pria tersebut yang langsung memasuki mobilnya, setelah membiarkan perempuan yang bersamanya masuk juga kedalam kendaraan itu terlebih dahulu.


"Aku pamit, kak." ucapnya kepada Cindy, kemudian pergi.


Vania mengendarai mobil bermaksud untuk kembali ke kedai miliknya. Namun ditengah perjalanan lampu lalu lintas berubah merah, dan semua kendaraan di sekelilngnya juga berhenti, diapun dengan terpaksa menghentikan kedaraannya, padahal kedainya hanya berjarak beberapa blok saja dari tempatnya sekarang.


Sebuah mobil yang tak asing baginya juga berhenti tepat di samping kiri. Dan dia menoleh saat merasa mengenali kendaraan tersebut.


Kedua matanya membulat, dan dia sedikit terhenyak kala mendapati Arya yang berada dibalik kemudi, yang terlihat tengah tertawa.


Tawa yang renyah, dan pria itu seperti sedang berbincang.


Vania membuka kaca di sebelah kiri, bemaksud untuk menyapanya, namun kemudian dia mengurungkannya saat dilihatnya sosok lain berada di kursi penumpang.


Seorang perempuan yang dilihatnya tadi bersama Arya di dalam gedung.


Vania terdiam, menatap dua orang di dalam mobil tesebut yang berbincang dengan riang, dan Arya yang tak menyadari keberadaannya.


Kemudian dia tersadar ketika mendengar suara klakson di belakang, saat lampu lalu lintas berubah hijau dan kendaraan di depan mulai bergerak.


Pikirannya terasa kosong, namun dia merasa penasaran. Melihat interaksi yang tak pernah disaksikannya, antara Arya dan seorang perempuan selain dirinya.


Bukankah ini mencurigakan?


Siapa permpuan itu?


Kenapa merka bersama?


Pantas saja dia bersikap acuh dan seperti tak ada beban ketika memutuskan untuk memberiku waktu?


Dia bermonolog, dan tanpa pikir panjang gadis itu memutuskan untuk mengikuti mobil Arya.


***


Dia berhenti di parkiran sebuah restoran, memilih tempat paling ujung untuk bersembunyi dari dua orang yang tengah di kuntitnya, yang turun beberapa saat sebelumnya.


"Mereka makan?" gumanya.


Pantas saja dia menolak makanan yang aku bawakan? gerutunya.


"Apa mereka sedang berkencan?"


Aaa ... pikiranku!


Apa pria dewasa bisa dengan cepat berpindah kelain hati?


Dia terus saja bergumam, ketika secara kebetulan Arya bersama perempuan itu duduk di bagian luar restoran yang bisa terlihat dengan jelas dari area parkir.


Vania terus menggerutu, dan dia bersungut-sungut. Seketika lupa dengan kekalutannya, dan tergantikan dengan rasa kesal yang kini memenuhi hatinya.


Tentu saja, melihat pria yang baru beberapa minggu menjadi kekasihnya, duduk berdua dengan seorang perempuan yang tak dikenalnya. Cukup membuatnya frustasi. Apalagi karena saat ini hubungan mereka sedang terjeda karena sesuatu hal.


Ah, ... mungkin ini nggak seperti yag kamu pikirkan, Vania!


Mungkin mereka hanya teman, atau rekan kerja.


Iya, teman yang makan bareng di restoran waktu jam istirahat.


Teman yang ngobrol akrab sampai ketawa-ketawa, padahal kalau sedang denganmu dia tidak seperti itu.

__ADS_1


Teman apanya?


Dia terus menggerutu.


__ADS_2