Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Vania Dan Vanilla


__ADS_3

🌺


🌺


"Titip Dilan ya?" Alena muncul dengan menggandeng balita laki-laki itu masuk ke teras belakang dimana Arya tengah menikmati seduhan kopi panasnya di sore hari.


"Memangnya kalian mau kemana?" Arya meraih tangan bocah itu, kemudian mendudukannya di pangkuan.


"Ke rumah sakit." jawab Alena.


"Siapa yang sakit?"


"Nggak ada. Cuma mah imunisasi Alea. Dilan suka rewel kalau dibawa, lagian dia juga mau kesini pas kebetulan tadi lewat." jelas Alena.


"Oh, ..." Arya menganggukan kepala. "Ya sudah, sana. Mumpung belum terlalu sore." katanya kemudian.


"Iya bang. Titip sebentar ya, nanti aku jemput lagi."


"Hmm ..." pria itu hanya menggumam.


🌺


🌺


"Ayah ... yayang lapar, ..." bocah lucu itu mengusap-usap perutnya.


"Apa?" Arya memalingkan perhatian dari ponsel pintar miliknya.


"Yayang lapar, ..." ulang balita itu, masih melakukan hal yang sama.


"Yayang mau makan?" tanya Arya.


"Hu'um, ... mamam mi." anak itu mengangguk lucu.


"Mi?" Arya berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan keponakannya itu.


"Hu'um."


"Tidak boleh makan mi." tolak Arya.


"Noooo! mau mi!" ulang Dilan.


"Tidak boleh makan mi, sayang."


"Noooooo!! mau mi! di ateu Vania!"


Arya tertegun.


"Makan mi, di ateu Vania?" dia merangkul pundak pria yang disebutnya ayah.


"Itu spageti, bukan mi." Arya terkekeh.


"No, ayah! itu mi! mi lulus" Dilan menepuk pundaknya dengan gemas.


"Baiklah, baiklah ... terserah kamu." ucapnya, seraya bangkit dan menggendong bocah tersebut.


"Mau makan di tempatnya Ateu Vania?" Arya berucap.


"Hu'um. Ateu Vania!" Dilan mengangguk lagi.


"Baiklah. Kita ke tempatnya Ateu Vania." Arya berucap.


"Yeeeee..." anak itu melonjak kegirangan.


***


Hanya sepuluh menit, dan mereka telah tiba di depan spot jajanan milik Vania. Terlihat tempat itu sangat ramai, dan memang selalu seperti itu ketika sore menjelang.


Vania terlihat sibuk dengan pelanggan-pelanggannya. Gadis itu bahkan tak menyadari kehadiran mereka.


Seorang pegawainya datang menghampiri, dan langsung mengenali bocah yang Arya bawa.


"Pesan spageti bolognese, orange jus dan satu kopi hitam ya?" Arya memesan makanannya.


"Baik pak." jawab si pelayan yang kembali kedalam ruangan tempatnya membuat pesanan.


"Ateuuuuuuu!!" Dilan memanggil Vania ketika gadis itu melayani seorang pelanggan yang berada tak jauh dari meja mereka.


Vania menoleh dan tersenyum ketika melihat mereka berdua, dan langsung datang menghampiri begitu dia menyelesaikan pekerjaannya.


"Udah lama?" tanya nya.


"Belum, baru dua jam." Arya menjawab sembarangan.


"Masa? lama amat? udah pesen makan?" gadis itu agak terkejut.


"Belum ada yang datang, dari tadi kami menunggu." kini jawabannya terdengar serius.


"Hah, iya gitu?"


Pria itu menganggukan kepala.


Vania kemudian melihat sekeliling, memeriksa apakah salah satu dari dua pegawainya sedang melayani pengunjung atau tidak.


Dan salah satunya datang dengan membawa nampan berisi makanan, yang kemudian dia letakan di meja dimana Arya dan balita itu berada.


"Terimakasih." ucap Arya, sebelum pelayan itu pergi.


"Tadi katanya belum pesen karena belum ada yang datang?" Vania bergumam.


"Biar ada bahan obrolan." jawab Arya, tanpa dosa.


"Ish, ... nyebelin." gadis itu bergumam lagi.


"Kamu mau berdiri terus disitu?" Arya sambil menyeruput kopi pesanannya.


"Aku sibuk tahu Bang ..."


"Ya sudah, sana kembali bekerja!" ucap Arya.


Vania memutar bola matanya, kemudian pergi saat melihat seorang pembeli melambaikan tangannya minta dilayani.


***


"Mau pesan yang lainnya lagi nggak?" gadis itu muncul lagi saat keadaan agak sepi. Beberapa pengunjung telah meninggalkan tempat itu setelah mendapatkan apa yang mereka pesan.


"Sudah cukup." Arya masih menyuapkan makanan ke mulut kecil keponakannya.


Vania kemudian duduk di kursi tepat disamping Dilan yang tengah mengunyah makanannya dengan lahap sehingga kedua pipinya terlihat menggembung lucu.


"Ish, ... lucu banget sih kamu?" Vania mengusap pipi balita itu. "Mama Na kemana? kok nggak ikut?" tanya nya.

__ADS_1


"Ke lumah sakit." jawab Dilan.


"Rumah sakit? siapa yang sakit?"


"Dedek bayi."


"Alea kenapa?" Vania mendongak ke arah Arya.


"Cuma imunisasi."


"Oh, ... kirain sakit." dia menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Abang nggak pesen makan?" dia bicara lagi setelah terdiam cukup lama, memperhatikan pria di depannya yang hanya memberi makan keponakannya.


"Nggak, cuma kopi." jawab Arya, melirik cangkir kopi miliknya.


"Kenapa? emang udah makan dirumah?"


"Belum."


"Terus kenapa nggak pesen makanan? mau aku bikinin makan? mau apa? nasi goreng? mi goreng? atu roti bakar? disini komplit lho. Semua makanan ada." Vania dengan antusias.


Arya terdiam menatap gadis itu yang terus berbicara. Akhir-akhir ini dia senang mendengar suaranya yang kadang terus menerus tanpa jeda.


"Abang?"


"Hum?" Arya tersadar dari lamunannya.


"Mau maka apa? aku bikinin."


"Nggak usah, Saya nggak lapar." tolak Arya.


"Serius."


"Hmm ...


"Ish, ... ngapain datang kesini kalau cuma mau minum doang?"


"Dilan yang mau makan. Saya nggak."


Vania mencebik.


"Tadi dia merengek mau makan mi disini." lanjut Arya.


"Mi? kenapa malah pesannya spageti?" tanya Vania.


"Kamu seperti baru kenal Dilan? dia sebut spageti itu kan mi."


"Hu'um, ... mi lulus." bocah itu menyela.


"Mi lulus?" Vania mengerutkan dahi.


"Mi lurus." Arya tergelak.


"Oh, ... " Vania pun tertawa.


"Abang ngerti bahasa dia yang kadang kedengaran aneh?" Vania kembali membuka topik baru.


"Tentu saja, saya yang mengurus dia sejak lahir." jawab Arya.


"Iya juga sih. Lebih dari ibunya malah."


"Hmm ... daddy compleks." Vania bergumam saat mengingat bagaimana posesif dan protektifnya Arya ketika keponakannya itu masih bayi.


"Apa?"


"Nggak apa-apa. Ayah yang baik." gadis itu meralat ucapannya, kemudian tersenyum.


Arya mendelik sambil menggendikan bahunya.


"Eh, beneran abang nggak mau pesan makanan nih?" Vania sekali lagi menawarkan.


"Nggak."


"Yakin? padahal mumpung aku lagi santai, aku yang bikinin makanan." ucap Vania.


"Nggak usah. Duduk saja, kamu kelihatannya capek." tolak Arya.


"Hmm ... iya juga sih. Sekarang baru kerasa capeknya, kalau pembeli lagi banyak."


"Namanya juga dagang. Ada waktunya rame, ada waktunya sepi juga."


"Iya juga sih."


"Mental kamu akan sangat diuji disaat sepi, tidak ada pembeli."


"Hmmm ..."


"Lagipula kamu aneh." Arya lanjut berbicara.


"Maksudnya?"


"Mahasiswa jurusan bahasa tapi memilih berjualan?"


"Emang salah ya?" Vania sedikit menjengit.


"Nggak juga. Tapi agak melenceng dari jurusan yang kamu ambil. Tidak sesuai."


Vania terdiam.


"Minimal seharusnya kamu jadi guru." lanjut Arya.


"Menurut aku nggak gitu. Kita bisa pilih jurusan mana aja yang kita mau. Tapi kalau soal kerjaan kita bisa pilih yang kita mampu. Nggak usah berpatokan sama pendidikan."


Kini Aya yang terdiam.


"Pendidikan itu biar kita dapat ilmu, dan bikin kita merubah mindset agar lebih maju, tapi kalau pekerjaan harusnya ikut pashion kita. Biar lebih menyenangkan untuk dikerjakan, dan nggak merasa jadi beban. Apalagi kalau bisa menciptakan lapangan kerja untuk orang lain, kan lebih bagus?" Vania dengan ide briliannya, dan sukses membuat Arya tak lagi menyanggah.


Pria itu malah tersenyum mendengarnya terus berbicara.


"Malah senyum-senyum?" ucap Vania.


"Pikiranmu berbeda dari orang kebanyakan." Arya bersuara lagi.


"Harus beda bang, kalau sama kayak orang lain kapan majunya?" jawab Vania kemudian.


"Mau akelim." Dilan menginterupsi percakapam dua oramg dewasa di hadapannya.


"Apa sayang?" Vania mencondongkam tubuhnya ke arah bocah itu.


"Mau akelim."

__ADS_1


"Dia bilang mau es krim." ucap Arya.


"Kalau itu aku ngerti Bang." gadis itu memutar bola matanya. "Sebentar ya, ateu ambilin." dia bagkit dari duduknya dan melakukan apa yang dikatakannya barusan.


Vania kembali dalam beberapa menit, membawa satu porsi es krim yang dia janjikan.


"Kebanyakan." ucap Arya, menatap ngeri mangkuk es krim untuk ukuran orang dewasa itu.


"Emang satu porsinya segini."


"Tapi itu kebanyakan untuk Dilan?"


"Dih, abang nggak tahu ya, setiap dia makan es krim disini juga habis satu porsi gini."


"Masa?"


"Hmm ... abang nggak tahu sih, waktu pas pembukaan kan ini yang pertama dia pesan. Eh lupa, waktu itu abang nggak datang kan ya?"


"Hmm ..." Arya menganggukan kepala.


"Makanya nggak tahu."


"Iya," pria itu mengulum bibirnya dengan keras.


***


"Noooo!! udah kenyang!" Dilan menggelengkan kepala saat Vania mencoba kembali menyuapkan satu sendok es krim ke mulutnya.


"Satu lagi aja ya?" gadis itu membujuk.


"Nooo ... kenyang!" tolak Dilan.


"Ish, ... tadi katanya mau es krim, tapi nggak di abisin?" Vania menggerutu.


"Ya kamu yang salah, harusnya jangan membawa es krim sebanyak itu. Dia kan masih kecil, ..."


"Ya aku pikir bakalan kayak biasanya."


"Barusan dia sudah makan mi lurusnya, jadi mungkin kekenyangan."


Vania mencebik.


"Abang abisin deh es krimnya." dia megggeser mangkuk es krim tersebut ke hadapan Arya.


"Nggak mau. Saya nggak suka es krim" tolak Arya.


"Enak tahu bang, ..."


Pria itu menggelengkan kepala.


"Abang aneh ih, ... padahal ini kan enak. Hampir semua orang suka es krim?"


"Ya, kecuali saya." jawab Arya.


"Dari dulu nggak suka?"


"Begitulah."


"Kenapa?"


"Tidak tahu."


"Dicoba dulu bang."


"Tidak mau."


"Sedikit aja, pasti nanti langsung suka?"


"Nggak mungkin."


"Coba dulu."


"Nggak."


"Ish, ..." Vania meraup satu sendok kudapan manis dan dingin itu, kemudian dia sodorkan ke depan Arya. "Cobain."


Pria itu menatap es krim, lalu wajah Vania secara bergantian.


"Ayo cobain, ini enak."


"Tidak mau." pria itu tetap menolak.


"Ish, ..." Vania bangkit dari kursinya, kemudian berjalan mendekat kepada Arya. Entah mengapa dia ingin memaksa pria itu untuk memakan apa yang ada ditangannya.


Arya memundurkan tubuhnya hingga punggungnya merapat ke sandaran kursi.


"Sudah saya bilang, saya tidak mau ..." namun satu sendok es krim berperisa vanila itu terlanjur masuk kedalam mulutnya, dan dia tak bisa menolak lagi.


"Cuma nyoba dikit aja kenapa sih?" gadis itu kembali ke kursinya. "Nggak akan keracunan juga."


Arya menelan makanan tersebut dengan cepat, namun rasa dingin dan manis juga cepat menjalar di rongga mulut dan tenggorokannya. Dia sedikit meringis.


"Dingin." katanya.


"Ya iya, dingin. Namanya juga es. kalau panas ya sup." ucap Vania sekenanya.


Pria itu terdiam, masih merasakan sisa es krim dimulutnya.


"Vanila." ucapnya lagi.


"Hah, apa?"


"Vanila. Rasa vanilla." dia dengan raut datarnya.


"Oh, ... iya memang." Vania pun melahap es krim sisa bocah disampingnya.


Vania, ... vanilla. gumam Arya dalam hati.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


Manis bang? itu baru es krim, belum yang lain.😜😜


biasa tuh genks, .. like komen sama hadiah yang banyak buat si abang. biar hidupnya makin berwarna, sebelum diwarnai sama ateu Vania.🤭🤭


__ADS_1


__ADS_2