Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Pulih


__ADS_3

🌺


🌺


"Tidur kenapa sih, dari tadi bolak-balik melulu?" keluh Hardi saat perempuan disampingnya tak juga memejamkan mata. Dia membalikan tubuh hingga kini mereka berhadapan.


"Aku makin nggak bisa tidur nih, udah seminggu Alea dirumah abang." Alena bangkit kemudian duduk bersila.


"Lah, ... Dilan aja biasa kan nginep disana dulu?kamu aman-aman aja." Hardi berujar.


"Itu beda. Dilan kan emang dari bayi disana, terus dia udah nggak asi waktu sering nginep. Jadi pasti nggak apa-apa. Aku takut Alea rewel."


"Tapi nggak kan? seminggu ini abang nggak nelfon ngadu kalau Alea rewel? malahan pas aku antar asi kesana mereka bilang Alea baik-baik aja? dan dia anteng main kok."


"Iya, tapi ini udah seminggu."


"Nggak apa-apalah, kasihan Vania. Dia kayaknya masih berkabung. Lihatkan minggu kemarin gimana, dia sampai melas-melas gitu minta Alea nginep? aku nggak tega lihatnya juga. Untuk sementara biarin dia disana dulu."


"Iya sih, tapi masalahnya ini ..." Alena menyentuh dadanya sendiri, lalu pelan-pelan merematnya.


"Apaan?" Hardi seketika menelan ludahnya dengan kasar, tiba-tiba saja dia merasa salah tingkah. Melihat istrinya bertingkah seperti itu membuat pikirannya mulai terganggu.


"Pay*dara aku sakit, seminggu ini Alea nggak nyusu dari sini." katanya, dia merengek.


"Kan di pompa setiap hari, terus aku antar kesana sambil berangkat kerja?" Hardi dengan otaknya yang mulai memikirkan hal kotor.


"Tapi beda, nggak kayak kalau Alea yang menyusu langsung." tukas Alena, yang sedikit memijit pinggiran pay*daranya yang memang terasa agak sakit.


"Keseringan di pompa nggak bagus juga, malah tambah sakit, duh... " keluhnya.


"Kirain sama aja." Hardi menatapnya dengan perasaan berdebar-debar, sepertinya akhir-akhir ini mereka punya banyak kesempatan untuk selalu berduaan, apalagi saat malam hari tak diganggu oleh rengekan anak balita perempuannya yang memang selalu menempel kepada ibunya, karena dia memang masih tergantung kepada perempuan itu untuk menyusu. Sedangkan ana pertama mereka sudah tidur terpisah di kamar sebelah.


Dan beberapa malam ini dia merasa sedikit nyaman tanpa keberadaan bocah itu, membuatnya bisa dengan leluasa mengerjai Alena hingga dia merasa puas.


"Bedalah, mesin pompa sama mulut bayi mah beda." ucap Alena, dengan lugunya.


"Bagusan mana? mesin pompa apa mulut?" Hardi dengan pertanyaan konyolnya.


"Mulut lah, mesin pompa kan... " Alena menggantung kata-katanya, Kala menyadari kepolosannya memunculkan seringaian di wajah suaminya.


"Mulut?" Hardi tersenyum jahil.


"Mm...


"Aku bantuin." pria itu melepaskan pakaiannya, dan segera menerjang Alena, mengungkung perempuan itu dibawah tubuhnya, dan mengulangi apa yag setiap malam mereka lakukan. Yang kini terasa lebih bebas berekspresi karena tak terganggu oleh rengekan salah satu anak balitanya.


🌺


🌺


Arya menatap interaksi di depannya dengan senyuman. Melihat Vania yang begitu ceria sejak kedatangan Alena satu minggu yang lalu, dan membiarkan anak perempuannya yang baru berusia satu tahun itu untuk menginap.


Bagaimana tidak, hari-harinya kini tak sepi lagi, kehadiran Alea tentu saja membawa kebahagiaan tersendiri bagi perempuan berusia 24 tahun itu. Kesedihannya mulai terobati, dan kedukaannya tampak mulai pulih.


Vania kini lebih sering tersenyum dan tertawa, dia bahkan mulai bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti yang biasa dilakukannya sebelum insiden yang merenggut buah hati mereka. Setidaknya perempuan itu tak lagi berduka.


"Kak Hardi belum antar asinya Alea ya? kan udah siang gini? kasihan dia mau minum susu gimana?" Vania datang mendekat, dengan anak kecil itu dalam gendongannya, dan dia hampir tertidur.


"Mungkin sebentar lagi, sambil jemput Alea juga." jawab Arya.

__ADS_1


"Jemput?"


"Hmm... " pria itu menganggukan kepala.


"Apa harus sekarang?" Vania dengan raut sendu.


"Sudah satu minggu Van, kasihan Alea. Dia juga mau mamanya. Alena juga, dia terbiasa ada anak-anaknya, tahu-tahu seminggu ini hilang satu."


"Nanti rumah jadi sepi lagi?"


"Kita biarkan Alea pulang dulu, nanti kita jemput lagi ya?" bujuk Arya kepadanya.


Vania terdiam.


"Walau bagaimanapun Alea masih butuh mamanya, dia kan masih menyusu. Kalau terus-terusan tinggal dengan kita kasihan Alenanya, pasti dia tersiksa."


"Gitu ya?"


Arya mengangguk.


"Oh iya, tadi pagi-pagi sekali ada Mimi datang antar ini." pria itu menyerahkan sebuah totebag berukuran sedang, yang langsung diraih Vania. Kemudian mengintip isinya di dalam.


Sebuah amplop berwarna coklat dan beberapa catatan, nota, dan beberapa lembar kertas berisi laporan penjualan.


"Uang hasil penjualan bulan ini, dan Mimi hanya mengambil untuk belanja bahan yang dibutuhkan kedai. Tadi abang sudah menyuruh dia untuk mengambil gaji, tapi dia bilang biar kamu hitung dulu semua laporannya." Arya menjelaskan.


"Astaga, aku lupa kalau ada kedai yang harus tetep jalan." Vania dengan suara pelan. "Gara-gara masalah ini aku jadi lupa segala hal."


Arya hanya tersenyum sambil mengaduk susu coklat yang dibuatnya untuk Vania, kemudian dia serahkan kepadanya.


"Abang nggak ngingetin aku?" perempuan itu menatapnya, kemudian meneguk minum tersebut pelan-pelan.


"Aku kelamaan berduka ya?" ucap Vania.


"Menurut kamu?"


"Maaf, ...


Arya menggelengkan kepala, "Hanya cepatlah pulih, dan kita bisa melakukan banyak hal setelah ini."


"Apa?"


"Mewujudkan rencanamu memperbesar kedai, menghadiri persidangan, bersaksi untuk keadilan yang harus di terima ibu, dan mungkin memulai kembali kafe."


"Soal kedai sama kafe akan aku pikirin, tapi menghadiri sidang kayaknya aku nggak mau deh."


"Kenapa?"


"Aku nggak mau menambah rasa benci sama tante Rahma. Perbuatan mereka udah diluar batas dan aku nggak bisa menerima itu. Aku mau serahkan semua sama kak Rasya aja, gimana baiknya terserah dia. Aku nggak peduli lah, mau dihukum berapa lama dan bagaimana juga. Aku nggak mau ngurusin. Sakit hati aku kalau lihat tante Rahma sama om Rian."


Arya menghela napasnya dalam-dalam.


"Kamu pendendam juga ternyata." ujarnya.


"Wajar nggak sih aku benci sama orang yang jelas-jelas berbuat jahat sama keluarga aku? tanpa tahu kesalahan apa yang menyebabkan mereka berbuat begitu? cuma karena harta sedikit doang mereka mampu menghancurkan keluarga sendiri." dia mulai emosi.


"Iya, abang mengerti. Sudah ya, jangan bahas lagi, kamu menakutkan kalau marah." Arya buru-buru menghampirinya, dan merangkul pundak perempuan itu untuk meredam kemarahan yang mulai menyeruak.


"Ish, ... abang yang bahas. Bukan aku." Vania mendelik.

__ADS_1


"Aku mau boboin Alea lah, kasihan nunggu susunya nggak dateng-dateng. Untung dia udah makan tadi, kalau nggak udah nangis-nangis kelaparan kali?"


Namun suara mesin mobil mengalihkan perhatian mereka berdua, dan tak lama kemudian sepasang suami istri dan anak laki-laki mereka masuk kedalam rumah.


"Kebetulan?" Vania berucap. "Alea udah ngantuk-ngantuk, kaliannya lama." dia sedikit mengomel.


"Ya maaf, tadi abis beresin dulu barang bawaaan." Alena beralasan.


"Barang bawaan? emangnya kalian mau kemana?" tanya Vania.


"Ke Jakarta."


"Ada apa?"


"Nggak ada apa-apa, cuma kunjungan rutin di akhir pekan aja." jawab Alena.


"Masa? bukan karena mau jauhin Alea dari aku?" Vania menyelidik.


"Dih, ... kamu curigaan, sentimen juga? kan biasanya kita ke Jakarta juga kalau weekend, kecuali kalau lagi mau jalan-jalan sekitaran sini." sanggah Alena.


"Hmm...


"Ayo sini, Aleanya kasih ke aku." Alena mengulurkan kedua tangannya.


"Nggak usah bawa Alea bisa nggak? aku masih kangen tahu?"


"Nggak bisa lah, nenek sama kakeknya juga kangen." dia meraih tubuh putrinya yang hampir terlelap di pundak Vania.


"Tapi... " perempuan itu masih menahan bocah tersebut dalam dekapannya.


"Ish, Van... udah siang nih... nanti kena macet ah, males..." Alena berujar.


"Ya udah, ...." Vania menyerahkan Alea kepada ibunya.


"Tapi nanti bolehin lagi Alea nginep disini ya?" katanya, yang masih mengusap-usap punggung bocah itu dengan lembut, lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Iya."


"Beneran boleh?" Vania dengan mata berbinar.


"Ya bolehlah, masa nggak?" sahut Hardi dari belakang.


"Nanti Sabtu Minggu aku ijinin Alea nginep sisini deh, sekalian kalau mau Dilan juga boleh." Alena berujar.


"Waahh... makasih..."


"Dah Alea, jangan nakal, jangan rewel ya? minggu depan bunda jemput lagi. oke?" katanya kemudian.


🌺


🌺


🌺


Bersambung...


like komen sama votenya jan lupa gaess karena Bunda nya udah mulai pulih 😁


meet Alea ah...

__ADS_1



__ADS_2