Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Jahil


__ADS_3

🌺


🌺


Vania benar-benar membereskan semua pekerjaan rumah hari itu. Tirai-tirai yang telah berbulan-bulan menggantung menutupi jendela dia lepaskan, kemudian membawanya ke ruang cuci di dekat dapur. Menunggu giliran untuk dibersihkan setelah sekeranjang pakaian kotor yang telah lebih dulu dia masukan.


Setelah itu, dia membereskan beberapa ruangan yang seperti tak pernah tersentuh perubahan entah sejak berapa tahun lamanya. Menggeser kursi, dan merubah posisi beberapa perabotan yang mampu dia geserkaan. Kemudian menambah beberapa hiasan, ornamen, ataupun tanaman yang dia temukan di sekitar rumah bertingkat dua yang tidak terlalu besar tersebut.


"Jangan itu Van, nanti saja tunggu Alena atau Anna. Nanti kamu kelelahan." Arya yang menyimak kegiatan tersebut dari kursi rodanya.


"Nggak apa-apa. Aku perlu kegiatan untuk mengalihkan perhatian." sergah perempuan itu, yang mondar-mandir membawa beberapa barang.


Arya mengulum senyum, dia tahu apa masuk kalimat yang diucapkan istrinya itu.


"Ya sudah, selesai ruangan itu sudah ya? yang lainnya jangan. Nanti saja kalau ...


"Tanggung ah, ... biar capeknya sekalian." jawab Vania, yang telah menyelesaikan perubahan untuk ruang keluarga, dan kini dia beralih ke ruang tamu.


"Untung rumah ini nggak terlalu gede, jadi aku cepet beresinnya. Seginimah cetek." gumamnya, masih bernada kesal setiap kali dia melirik ke arah suaminya yang langsung mengingatkannya pada kejadian beberapa hari ini, ketika pria itu selalu mengerjainya habis-habisan.


Arya hanya terdiam.


Vania menarik kursi ke sisi lainnya, lalu dia menyapukan sedikit debu yang tersisa di bawahnya. Mengepel lantai, kemudian menata ulang ruangan itu sehingga penampakannya berubah. Tak lupa juga dia menambahkan beberapa hal agar ruangan itu terkesan hangat namun santai, dan tentu saja suasana yang terasa baru.


"Selesai, tinggal dapur. Tapi nanti ah, ... setelah cucian beres." dia berbicara kepada dirinya sendiri, kemudian melenggang ke dapur. Memeriksa mesin cuci yang belum berhenti berputar, membersihkan apapun yang dia masukan kesana.


***


"Hahh!" Vania menghempaskan tubuhnya di sofa, dimana Arya juga tengah duduk disana dengan televisi yang menyala. Setelah dia menyelesaikan semua pekerjaannya pada hampir sore itu.


"Sudah selesai?"


"Hmm ... baru beres jemur cucian di belakang. Ruangan atas besok aja aah..." jawabnya, sambil merenggangkan tubuhnya.


"Tidak usah, lain kali saja." tukas Arya.


"Nggak apa-apa. Aku butuh kegiatan, daripada aku dikerjain abang terus?" dia mendongak.


Arya tertawa dengan kerasnya, seolah dia telah menemukan hal paling lucu di dunia.


"Dih, ... senangnya abang udah ngerjain aku?" perempuan itu mencibir.


"Abang nggak ngerjain kamu ... kan kita sedang pacaran? pacaran halal?" dia memiringkan wajahnya, dan melihat ekpresi kesal pada wajah istrinya.


"Aku baru tahu kalau abang sejahil itu?" ujar Vania, yang melipat kedua tangannya di dada.


"Baru segitu sudah kamu anggap jahil? apalagi kalau lebih."


"Emang bisa lebih dari itu?"


"Bisa."


"Masa?"

__ADS_1


"Hmm ...


"Coba ..." Vania mendekat, dan dia naik ke pengkuan Arya, seperti biasa.


"Kamu menantang abang?"


"Nggak ish, siapa bilang? kan abang sendiri yang bilang bisa lebih jahil dari yang udah-udah. Aku penasaran." Vania tersenyum lebar.


Arya tertegun, perempuan muda ini sepertinya mulai berani menantang. Dia beberapa kali memulai kegiatan panas mereka hingga keduanya hampir sama-sama kehilangan kesadaran, sebelum rasa sakit di tangan kiri menyerangnya lagi, dan menghentikan apa yang selalu ingin mereka lakukan sejak berubah status menjadi suami istri. Dan pada kenyataannya, hal tersebut membuat dadanya berdesir-desir tak karuan.


"Kamu mulai berani ya?" Arya mendekatkan wajahnya.


"Iyalah,... kan sama suami sendiri? kalau sama suami orang lain nggak akan." senyum Vania semakin lebar.


Pria itu tersenyum, lalu meraih bibir ranum yang selalu menggoda pikirannya itu. Mengecupnya berkali-kali, mel*matnya dengan lembut, kemudian menyesapnya dengan penuh perasaan.


Sebelah tangannya sudah merayap dibalik kaus yang dikenakan Vania, menyentuh tubuh perempuan itu seperti biasa.


******* pelan mulai keluar dari mulut Vania saat Arya menyentuhnya lebih jauh, tanpa menghentikan cumbuannya. Menyusuri telinga, leher dan dadanya yang sudah terbuka entah sejak kapan.


Perempuan itupun kini sudah berani menyentuhnya, seperti yang selalu pria itu lakukan kepadanya.


"Ng, ... abang?" dia menarik wajahnya untuk melepaskan cumbuan mereka, ketika merasakan sesuatu mengganjal di perutnya.


"Hmm?"


"Ini apaa?" Vania menunduk untuk melihat benda yang membuatnya tak nyaman setiap kali mereka bercumbu dalam posisi seperti itu.


"Hah, apa?" Arya menjengit.


"Ish, ... abang!" rengek Vania setelah menyadari apa yang telah di sentuhnya, dan dia menarik tanganya.


Namun Arya segera menahannya, dan dia menyeringai.


"Sudah abang bilang kan, kamu jangan menantang. Kamu sudah membangunkan apa yang seharusnya tetap tidur disana."


"Ngh ...


"Kamu harus tanggung jawab." bisik Arya.


"Apaan? tanggung jawab apa?"


"Kamu harus membuatnya tidur lagi!" katanya, yang kemudian menarik celana trainingnya, sehingga benda itu menyembul keluar.


Vania hampir saja memekik ketika pandangannya kembali jatuh ke area dibawah perutnya, dan Arya yang menarik tangannya untuk menyentuh bagian itu.


"Kamu mau tahu jahilnya abang?" dia berbisik lagi.


Vania menelan ludahnya dengan susah payah. Mungkin idenya menantang suami kali ini sangat keterlaluan. Pria itu sepertinya selalu serius untuk mengerjainya. Terbukti, setiap kali dirinya berniat ingin membalas kejahilan Arya, namun yang terjadi adalah pria itu malah lebih jahil lagi dari pada dirinya.


"Ng ..." Vania mati-matian menahan tangannya dalam genggaman Arya, yang terus berusaha diarahkan pria itu untuk menyentuh miliknya. Yang pada akhirnya, membuatnya tak bisa menahan diri lagi. Arya benar-benar membuatnya menyentuh bagian tubuh paling sensitif itu, lalu menggengamnya dengan erat.


Pria itu menghembuskan napas dengan jantung yang bertalu-talu, diikuti perasaan hebat yang segera menguasai pusat tubuhnya. Rasa hangat dan nyaman segera menjalar ke segala arah, dan dia benar-benarenyukainya.

__ADS_1


Sementara Vania tertegun, merasakan hal aneh pada dirinya ketika menggenggam benda tersebut. Rasanya asing, dan tak biasa. Tapi ada rasa malu yang mendominasi. Wajahnya bahkan sudah memerah hingga ke leher.


Segala yang dia alami dengan pria ini tentu saja adalah yang pertama kali. Entah dengan Arya, tapi baginya, ini adalah pengalaman pertamanya. Dan ini jelas-jelas begitu mendabarkan.


Menyentuh tubuh suaminya seperti itu, dan diapun menyentuhnya sedemikian rupa, membuatnya tsk bisa berpikir dengan jernih. Vania hanya mengikuti nalurinya seperti yang selalu pria itu bisikan kepadanya.


"Mmm ... abang?"


"Hum?"


"Apa ... rasanya ... sakit?" dengan konyolnya dia bertanya.


"Apa?"


"Kalau aku gini?" dia menggerakan tagannya.


Arya kembali menahan napas, dia tidak percaya perempuan ini akan melakukannya, padahal dirinya hanya berniat menjahilinya lagi seperti yang sudah-sudah.


"Ngg ... tidak. Hanya saja, ... itu ... sedikit mengganggu." dia terbata.


"Kenapa?"


"Tidak ... tahu."


"Abang?"


"Iya?"


"Aku deg-degan lagi." Vania dengan polosnya.


"Abang apalagi." Arya terkekeh.


"Oh, ... ya udah. Kita udahan dulu, nanti abang sakit lagi." perempuan itu melepaskan gengamannya, dan membenahi celana milik Arya, kemudian bangkit.


"Van?" pria itu bereaksi, dia sempat berharap istrinya melakukan hal lebih kepadanya.


"Aku mau mandi dulu, gerah." katanya, yang kemudian berlari ke arah kamar mereka dan membanting pintu dengan wajah yang semakin merah, dia tak percaya telah mengerjai suaminya habis-habisan.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


apaan sih mak, gaje banget deh?


entahlah, mereka itu sukanya saling menjahili. 😂😂


nanti juga saling ngerjain, ... dan saling anuin.


pada nungguin ya?😂😂😂

__ADS_1


sabar ya kang mochi masih atit 🤭🤭


__ADS_2