Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Ide Alena


__ADS_3

🌺


🌺


"Gue, ... nggak bisa ikut campur kalau soal itu." Hardi menatap sahabatnya yang hari itu datang mengadu ke rumahnya.


"Itu masalah pribadi, dan gue nggak boleh ikut campur." lanjutnya yang kembali pada makanannya yang diantarkan Alena beberapa saat setelah kedatangan Raja.


"Bukan karena dia abang ipar lu?"


"Ya bukan lah, nggak ada hubungannya." jawab Hardi.


"Udah berapa lama mereka berhubungan?" Raja kemudian bertanya.


"Mana gue tahu, Alena nggak pernah ngobrol soal itu."


"Lagian, lu kelamaan mepetnya, terus nolak juga kan pas Om Harlan mau jodohin lu sama Vania. Sekarang lu sendiri yang nyesel?" lanjut Hardi.


"Gue nggak tahu kalau ceweknya Vania. Kalau tahu ya gue embat langsung lah." Raja merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Jadi sekarang gimana?"


"Kesempatan gue masih ada nggak? kan mereka baru pacaran?" dia menatap langit-langit rumah berlantai dua tersebut.


Hardi terdiam.


"Yang gue heran, kenapa mesti bang Arya? kenapa harus dia lagi yang merebut satu-satunya hal yang paling gue mau, setelah dia merebut perhatiannya Papa."


"Lu tahu nggak gitu kenyataannya Ja!"


"Yang gue rasa gitu, Di." Raja bangkit, kemudian menyugar rambut lurusnya dengan perlahan


"Lu nggak bisa campur masalah itu sama urusan Vania sekarang, nggak ada hubungannya."


"Lu ngomong gitu karena bukan lu yang ngalamin, tapi gue."


"Menurut gue harusnya lu tanya langsung ke Om Harlan biar jelas. Biar lu nggak berburuk sangka sama orang."


"Berburuk sangka apanya? nggak usah gue tanya juga bokap gue udah terang-terangan memihak siapa. Apalagi setelah tahu kalau Vania ada hubungan sama Bag Arya, dari tadinya dia ngotot mau jodohin gue, sekarang berubah haluan. Dia nyerahin semua keputusan sama Vania. Makin yakin aja gue kalau ada apa-apa diantara mereka."


Hardi menghembuskan napas pelan. Masalah hati meang tak bisa dianggap sepele, sekalipun urusannya sederhana. Tapi dirinya tidak bisa sembarangan bicara, apalagi karena ada hal lain yang mempengaruhi pikiran sahabatnya itu.


"Ya masa lu mau ngerebutin cewek? kayak abege baru netes aja? bikin malu."


"Jadi gue harus rela gitu, ..."


"Mungkin bukan jodoh lu Ja." Hardi menepuk pundak Raja untuk memberinya dukungan.


"Lagi-lagi jodoh yang jadi penghalang gue. Vania juga bilang gitu, kalau jodoh nggak akan kemana katanya."


"Ya emang."


Raja mendengus pelan.


"Sabar Ja, jodoh lu sama Vania cuma sampai pedekate doang." Hardi kemudian merangkul pundak Raja.


"Ah, ... lu bikin patah hati gue jadi semakin sakit."


"Kayak abege aja lu patah hati? masih banyak cewek seksi diluaran sana."


"Dih, kayak yang nggak pernah ngerasain aja? lu juga nggak bisa move on setelah ketemu lagi sama Alena. Lebih gila malah?"


"Itu beda pea!"


"Bedanya karena lu udah punya anak dari dia ya? kalau belum pasti nggak?" Raja memalingkan wajah ke samping dimana sahabatnya berada.


"Jangan bahas itu b*go!"


"Kenapa?"


"Masa lalu."


"Masa lalu yang indah. Seandanya gue nembak Vania dari dulu, pasti kejadiannya nggak kayak gini."


"Dih, ... bahas itu lagi?"


Bersamaan dengan itu pintu terlihat di dorong dari luar. Dan wajah Alena yang muncul kemudian.


"Kalian lagi apa?" perempuan itu setengah berteriak, melihat suaminya yang telah merangkul sahabatnya.


"Ngobrol." jawab Hardi dengan tenang.


"Ngobrolnya sambil peluk-pelukan?" suaranya masih tinggi.


Dua sahabat itu baru menyadarainya dan buru-buru saling menjauh.


"Ih, najis lu peluk-peluk gue Di!"


"Apaan?"


"Kak Raja, kalau mau belok jangan bawa-bawa suami aku, kasihan Dilan sama Alea kalau papanya pergi." Alena menarik Hardi ke sisinya.


"Maksud lu Al?"


"Jangan putus asa kak, jomblo itu masalah waktu. Nanti kalau udah waktunya juga ketemu sama jodoh. Tapi jangan berubah haluan kayak gini, apalagi ngajak-ngajak kak Hardi. Kasihani aku kak!" perempuan itu meracau.


"Astaga!" Hardi menepuk kepalanya dengan keras.


"Lu pikir gue ...


"Tobat kak tobat! jangan kayak gitu, kasihan juga Om Harlan kalau tahu anaknya belok, nanti bisa shock!"


"Ngadi-ngadi lu Al!"


"Serius kak."

__ADS_1


"Serah lu deh, gue mau balik kerja lagi." pria itu berjalan ke arah pintu. "Lu yang jelasin Hardi, karena yang meluk kan bukan gue, tapi lu." kemudian dia keluar.


"Hari sabtu pea! masih kerja aja?" Hardi berteriak.


"Kakak yang mau belok? anak kita udah dua, masa mai berubah?" Alena beralih kepada suaminya.


"Bukan gitu Al!"


"Terus, yang barusan itu apa? masa peluk-pelukan gitu?"


"Siapa juga yang peluk-pelukan?"


"Itu tadi."


"Cuma ngasih dukungan."


"Masa."


"Suwer, ...


"Dukungan apa?" Alena memicingkan mata.


"Raja lagi patah hati."


"Patah hati?"


"Hmm ...


"Terus harus peluk-pelukan gitu ya?"


"Ish, ... udah dibilangin bukan pelukan." Hardi menggerutu.


"Tapi barusan?"


"Udah aku bilangin bukan."


"Kakak bohong." dia kembali menyipitkan matanya.


"Nggak sayang, masa aku belok?"


"Ya kali? sekarang kan banyak yang gitu?"


"Bukan aku."


"Serius, ...


"Abang kamu aja lama jomblo nggak belok, masa aku yang punya istri bisa belok?"


"Nggak ada hubungannya sama Bang Arya."


"Ya ada lah."


"Apaan?"


"Si Raja patah hati gara-gara abang."


"Iya."


"Astaga! abang aku masih normal kak! aku yakin, nggak mungkin belok juga."


"Astaga! salah lagi gue!" Hardi kembali menepuk kepalanya dengan kerasa


"Maksud aku, Raja patah hati gara-gara cewek yang dia taksir pacaran sama Abang kamu."


"Hah? siapa?"


"Siapa lagi? ya Vania lah." jawab Hardi.


Alena terdiam seketika.


"Kakak bohong!"


"Tanya aja sendiri sama orangnya?"


"Beberapa minggu ini memang mereka mencurigakan sih." Alena kembali mengingat.


"Abang jarang dirumah, padahal udah jarang ambil lemburan. Terus kalau weekend, perginya pagi, pulang malem. Apa abang ke tempat Vania ya?"


"Bisa jadi."


"Kalau iya gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana. Biarin aja." ucap Hardi dengan cuek.


"Waktu itu kakak bilang kalau Vania nggak pantes sama Bang Arya?"


"Siapa bilang?"


"Kakak."


"Kapan?"


"Waktu itu."


"Masa? emng aku ngomong gitu?"


Alena mengangguk.


"Mm ... udah lupa."


"Dih, ... terus, kalau sekarang misalnya mereka beneran pacaran gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana. Aku bilang kan biarin aja. Mereka udah dewasa, apalagi abang." Hardi tertawa terbahak-bahak.


"Soal perbedaan umur mereka yang jauh?" Alena memiringkan kepala.

__ADS_1


"Ng ...


Harus kasih jawaban tepat nih, nggak boleh salah. Atau nanti kena amukan. Batin Hardi.


"Ya, .. ya nggak apa-apa. Kalau mereka emang cocok mau apa lagi?"


"Beneran?"


"Iya, bener. Musim juga kan kayak gitu." Hardi tertawa lagi.


"Tapi pasti mereka nggak akan ada yang mau ngaku nih, udah beberapa kali kepergok juga masih pada jaim?"


"Iyalah, kamu nanya nya langsung gitu? mana kepo lagi, ditambah Kak Alya sama Kak Anna yang ngerecokin melulu. Bikin ribut, kan mereka jadi malu?" jelas Hardi.


"Habisnya harus gimana? kan sebenernya aku seneng kalau mereka beneran jadian. Mana Vania udah lama lagi sukanya sama abang."


"Masa?"


"Hu'um." Alena mengangguk.


"Dari kapan?"


"Dari awal kuliah."


"Dih, si Vania doyan om-om ya?" pria itu kembali tertawa dengan kerasnya. "Pantes aja nolak Raja, tahunya udah ada yang ditunggu. Udah dijodohin juga berani ngotot nolak."


"Nolak kak Raja?"


"Iya."


"Nah yang di jodohin siapa?"


"Vania sama Raja."


Alena mengerutkan dahi.


"Aku pusing, kakak ngomong apa sih?"


"Udah, nggak usah dipikirin, nanti tambah pusing." Hardi menarik Alena keluar dari ruang kerjanya.


"Terus aku harus gimana?"


"Soal apa?"


"Soal abang sama Vania kalau mereka bener-bener jadian."


"Nggak mesti gimana-gimana, biarin aja mereka kayak gitu. Nggak usah bersikap berlebihan, nanti mereka malu."


"Tapi aku penasaran."


"Penasarannya kamu bisa bikin sebuah hubungan bubar seketika."


"Kok gitu?"


"Udah, menurut aku biarin aja mereka jalan semaunya mereka sendiri, nggak usah kita recokin. Abang sama Vania itu udah dewasa, kita nggak boleh ikut campur."


"Tapi aku kan ... mau tahu."


"Kamu kayak orang tua yang baru tahu anaknya pacaran deh?"


"Ng ... masa? aku kan baru lihat abang yang kayak gitu?"


"Dan itu nggak bagus."


"Iya gitu?"


"Hmm ..."


"Ah, tapi aku harus cari cara nih biar mereka ngaku sendiri. Tapi apa ya?" Alena mengetuk-ngetukan ujung jarinya di dagu sambil berpikir. Kemudian dia tersenyum ketika sebuah ide melintas di kepalanya.


"Daripada mikirin abang, mending mikirin aku." Hardi merangkul pundak perempuan itu.


"Dih, kenapa harus dipikirin? tiap hari kakak aku urusin?"


"Ya udah, dari pada ngurusin abang, mending urusin aku." Hardi tersenyum dengan kedua alis yang dia gerakan keatas dan kebawah.


"Maksudnya?" Alena menoleh dengan kening berkerut.


"Anak-anak dimana?" pria itu malah bertanya, dan dia menggiring Alena menuju kamar mereka di lantai dua


"Pada tidur siang."


"Ya udah, kita juga tidur siang?" Hardi tersenyum penuh Arti.


"Hum?"


Pria itu menyeringai.


"Senyuman kakak nyeremin."


"Lebih serem kalau kamu nggak ikut." dia menarik perempuan itu ke kamar mereka, kemudian menutup pintunya rapat-rapat.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


selamat malam minggu.


oh iya, meet kak Hardi sama Mama Na' 😁


__ADS_1



__ADS_2