Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

🌺


🌺


"Retakannya sudah merapat, dan cederamu sudah pulih." dokter menunjuk hasih rontgen yang mereka lihat hari itu.


"Tapi bukan berarti kamu sudah bisa seenaknya melakukan banyak hal. Tetap harus menjaga diri dari kegiatan berat apalagi berbahaya." lanjut dokter.


"Kamu pikir aku ini siapa sampai harus melakukan pekerjaan berat atau berbahaya?" Arya memutar bola matanya.


"Ya, siapa tahu kamu tiba-tiba panjat tebing, terjun ke jurang atau naik ke puncak gunung?" jawab dokter yang juga kenalannya semasa kuliah dulu.


"Yeah, ... seolah-olah aku ini petugas jagawana?"


"Siapa tahu ... kemungkinan itu selalu ada kan?"


"Baiklah dokter, terserah apa katamu."


"Memang, aku kan dokternya."


"Baik, apa kita sudah selesai?" Arya mulai tak sabar.


"Sudah, memangnya kamu mau kemana? bukankah masih cuti? akhir-akhir ini kamu selalu buru-buru, tidak mau mengobrol dulu?"


"Cih, untuk apa aku mengobrol denganmu? memangngnya kamu kurang kerjaan ya? kamu kan dokter, pasienmu menunggu."


Dokter Zaki tertawa.


"Biasanya kamu kontrol sambil curhat. Sekarang sudah tidak perlu teman curhat lagi?" dia mencibir.


"Tidak, sekarang aku sudah punya teman curhat yang lain, jadi sudah pasti tidak akan curhat lagi kepadamu." jawab Arya.


"Cih, sombongnya!"


"Sudah lah, kasihan Vania menunggu terlalu lama." Arya bangkir dari kursinya.


"Baik, jangan lupa makan teratur dan bergizi, obat dan vitamin juga jangan dilewatkan."


"Iya dokter, jangan khawatir. Vania akan selalu memaksaku untuk meminum obat dan makan banyak. Sebentar lagi badanku ini akan bertambah gemuk saja."


"Bagus, ... itu gunanya punya istri."


"Hmm ..." dia keluar dari ruang pemeriksaan.


****


"Udah?" Vania datang menghampiri ketika dia keluar.


"Sudah."


"Terus gimana?"


"Apanya?"


"Lukanya. Udah sembuh?"


"Belum."


"Yaahh ... udah mau tiga bulan masa masih belum sembuh?" Vania dengan raut kecewa.


Arya tertawa pelan.


"Retakannya sudah kembali rapat, tinggal pemulihan saja."


"Ish, ... kirain?"


"Tapi masih sakit dan ngilu."


"Iyalah. Kayaknya itu yang bakalan lama hilangnya?"


"Mungkin."


"Ya udah, kita pulang?"


"Kamu tidak kembali ke kedai?"


"Kayaknya nggak, mau nemenin abang aja di rumah."


"Baiklah." mereka melangkah bergandengan keluar dari rumah sakit. Dengan pria itu yang masih menggunakan tongkatnya. Berjalan sedikit tertatih dengan kakinya yang cedera.


🌺


🌺


Arya menatap sketsa hasil rancangannya lekat-lekat, dengan kedua tangan dilipat di dada. Otaknya kembali berputar untuk mencari ide apa yang belum pernah dia tuangkan dalam sketsa-sketsa sebelumnya.


Ide yang unik, baru, dan belum pernah ada yang menggunakannya dimanapun.


"Abang?" Vania muncul dari luar ruang kerjanya.


Pria itu menoleh.


"Aku cari-cari tahunya disini?" perempuan itu masuk.


"Abang bikin apa?" dia mendekat.


"Seperti biasa. Tapi ini lanjutan idenya Raja. Dia meminta abang untuk menambahkan ide lain yang beda dari sebelumnya."


"Kak Raja?"


Arya mengangguk.


"Abang mau kerja lagi? kan masih cuti."


"Cuma ambil satu, untuk mengisi waktu. Daripada melamun sendirian." Arya terkekeh.


Vania terdiam dan dia menyadari sesuatu.


"Abang kesepian ya? sering aku tinggalin lama-lama?"


"Kegeeran kamu." pria itu memutar bola matanya sambil menahan senyum.


"Dih, ... nggak mau ngaku?" dia mengarahkan telunjuknya.


"Abang sudah terbiasa dirumah sendirian jauh sebelum menikah, ingat?"


"Hmm ... tapi kalau tidur nyari-nyari, kalau jauh dikit aja suka narik-narik?" perempuan itu dengan polosnya.


"Itu beda, tahu?"


"Sama aja."

__ADS_1


Arya tersenyum.


"Terus, ada apa kamu cari abang?"


"Nggak ada apa-apa, cuma aneh aja nggak nemuin abang dimanapun."


"Hmm ...


"Nggak deh, ayo makan? aku udah masak." Vania meraih lengannya kemudian menarik pria itu keluar.


***


Meja makan sudah dipenuhi dengan bermacam jenis makanan. Daging dan sayur jadi menu utamanya, tidak lupa juga dengan pendamping lainnya.


Arya sekilas menggelengkan kepala, kemudian dia duduk di tempatnya seperti biasa.


"Setiap hari makan sebanyak ini bisa gendut abang?"


"Nggak akan."


"Benarkah?"


"Cowok tuh cenderung susah gendut kayaknya."


"Masa?"


"Iya, biar makan sebanyak apa juga tetep aja badannya gitu. Kayak abang, padahal tiap hati aku paksa makan banyak tapi tetep segitu-segitu aja." dia mengisi piring milik suaminya dengan nasi, sepotong daging dengan sayurannya. Kemudian meletakannya di depan Arya.


Pria itu menatap piring yang dipenuhi dengan hasil kreasi istrinya.


"Cuma lebih sesendok dari kemarin bang, nggak banyak-banyak amat." Vania tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


"Sepertinya kamu memasak terlalu banyak hari ini."


"Nggak, biasa aja. Ini porsi persediaan untuk satu hari ini. Biar kalau lapar tinggal makan aja, nggak harus masak-masak lagi." tukas Vania.


"Kalau melihat makanan sebanyak ini, abang selalu ingat dulu."


"Hum?"


"Ingat saat harus membagi dua bungkus nasi menjadi empat bagian. Abang tidak percaya sekarang bisa begini."


"Ish, ... ngomongin itu lagi." mereka mulai makan.


"Dalam pikiran abang, kalau punya banyak makanan, abang harus membaginya dengan adik-adik." dia tergelak. "Kadang abang ingat, kalau kita sedang makan seperti ini, apa adik-adik abang juga sama disana dengan suami-suami mereka?" Arya dengan pikirannya.


"Ya iyalah, ... mungkin hidup mereka juga lebih enak sekarang. Makan makanan yang lebih enak dari pada yang kita makan, menjalani hari-hari yang lebih bahagia dari kita. Dan menurut aku itu cukup melegakan."


Arya terdiam.


"Abang selalu menghkawatirkan adik-adik, padahal mereka baik-baik aja." lanjut Vania.


"Benarkah?"


"Ya iyalah, kalau ada masalah sedikit, itu hal biasa. Namanya juga hidup, pasti ada masalahnya. Kalau ada wijennya namanya onde-onde." Vania dengan cueknya.


Tawa segera pecah dari mulut Arya. Perempuan disampingnya memang selalu melontarkan kata-kata yang aneh, namun selalu membuatnya tertawa.


"Kamu ada-ada saja." Arya mengusak puncak kepala Vania, lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Ish, ...


"Tapi serius, kalau kita sedang makan begini, abang tiba-tiba selalu ingin menelfon mereka untuk menanyakan, apa mereka sudah makan atau belum?"


"Bukan lebay,"


"Cuma kasih sayang kakak sama adiknya?" Vania memiringkan kepala.


"Begitulah."


"Ah, . abang bikin aku cemburu aja."


"Cemburu apanya?"


"Perhatian abang sama adik-adik."


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, aku cuma mikir ... kalau sama aku abang gitu juga nggak ya?"


"Jelas tidak." jawab Arya dengan cepat, membuat Vania menghentikan kegiatan makannya.


"Tapi lebih dari itu, kamu kan istri abang?" lanjutnya, kemudian tersenyum.


"Ish, ... abang mulai gombal." Vania bereaksi dengan kedua pipi yang merona.


Arya tertawa lagi. Ekspresi itu yang sangat dia sukai dari perempuan di sampingnya.


"Ayah??" teriakan nyaring terdengar mendekat, sesaat setelah sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah.


Pasangan suami istri yang tengah bercengkerama di meja makan ini menoleh bersamaan.


"Tumben?" Arya menyambut keponakan kesayangannya yang menghambur kepelukan.


"Kalian dari mana?" Vania bertanya.


"Jemput Dilan." Alena berjalan mendekat. "Dia maksa mau kesini pas lewat tadi."


"Kangen ya? sudah lama nggak ketemu ayah?" Arya menciumi puncak kepala bocah itu.


"Hu'um, ... dia sering minta kesini, tapi nggak aku turutin."


"Kenapa?"


"Kan abang masih sakit?"


"Sekarang sudah baikan."


"Mau akelim." Dilan menoleh ke arah Vania.


"Tiap ketemu mintanya eskrim melulu?" ucap Vania.


"Kebiasaan dari kecil, kan kamu yang selalu ngasih dia eskrim?" sahut Alena yang duduk di seberang kakaknya, diikuti Hardi yang muncul kemudian.


"Mau sekalian makan?" tawar Vania.


"Nggak usah, udah tadi sebelum kesini." tolak Alena.


"Nah kan, aku bilang juga apa? baru di omongin?" Vania berujar.


"Apaan?" Hardi bertanya.

__ADS_1


"Abang bilang kalau lagi makan suka inget sama adik-adiknya. Pada udah makan atau belum, atau gimana keadaan mereka."


"Ish, ... nggak usah khawatir. Masalah makan sama yang lainnya oke kok." jawab Hardi yang kemudian beralih menatap wajah sang kakak ipar.


"Bukan khawatir, hanya saja pikiran abang selalu begitu." tukas Arya.


"Itu sih wajar, kalian terbiasa bareng-bareng, terus tahu-tahu sekarang pada pisah."


"Maksud aku juga gitu tadi."


"Terus sekarang abang udah sembuh?" Alena mengalihkan perhatian saat melihat kakak laki-lakinya terdiam.


"Sudah, tinggal sedikit lagi."


"Syukur lah ...jadi bisa ikut dong week end ini?" lanjut Alena.


"Ikut kemana?"


"Liburan."


"Liburan lagi? abang sudah tiga bulan liburan, terus mau ditambah lagi akhir pekan ini?"


"Itu bukan liburan, abang cuti sakit kali?" sahut Vania.


"Cuma di weekend ini aja, lagian sejak kalian menikah kita belum liburan bareng? terakhir waktu Vania hilang di villa pas mau aku ajak jalan kan?" Alena mengingatkan.


Kedua orang itu terdiam, karena bukan liburannya yang mereka ingat, tapi adegan saat di villa itu sendiri yang melintas di pikiran.


"Ikut nggak? soalnya kak Alya nggak ikut. Kak Rasya nya lagi keluar kota."


"Kenapa sih mesti rame-rame kalau liburan?" gumam Vania.


"Ya kalau berduaan namanya bulan madu." jawab perempuan beranak dua tersebut.


"Eh, ... kalian belum bulan madu ya? udah mau tiga bulan nikah masih muter-muter aja di Bandung. Ayolah, sekalian bukan madu." Alena tersenyum sambil menggerakan kedua alisnya keatas dan kebawah.


"Ng ...


"Kamu sukanya jalan-jalan melulu?"


"Mumpung bisa, kan kalau kak Hardi sibuk nggak bisa pergi. Boro-boro jalan-jalan, mau kesini aja susah."


Vania mencebik.


"Ya, ikut ya? biar seru." ajak Alena lagi.


"Nggak ah, ... aku banyak kerjaan." tolak Vania.


"Abang?" Alena beralih kepada kakak laki-lakinya.


"Kemana?" Arya malah bertanya.


"Lembang?"


"Lembang lagi? nggak bosen-bosennya pergi kesana mulu?" gumam Vania.


"Nggak. Disana asik tahu, banyak tempat bagus untuk liburan. Deket pula?"


"Duh, aku curiga nih kalau kamu udah punya ide terselubung?" ucap Vania.


"Apaan?"


"Kamu suka aneh-aneh soalnya."


Hardi yang berada di ruang tengah bersama putrinya terdengar tertawa.


"Dia memang aneh."


"Iya, sejak nikah sama Kak Hardi jadi banyak konyolnya?" sahut Vania.


"Sembarangan kamu?"


"Jadi ikut kan?" lanjut Alena lagi.


Arya dan Vania terdiam.


"Mau liburan aja mikirnya lama bener?"


"Bukan gitu ... aku kan ...


"Berangkatnya kapan?" Arya tiba-tiba bertanya.


"Besok siang."


"Oke, abang ikut."


"Apa?" Vania bereaksi.


"Kita sepertinya butuh bulan madu?" Arya menoleh, raut wajahnya datar namun tatapannya penuh arti. Kedua alisnya bahkan terangkat ke atas.


"Bulan madu apaan? rombongan begini?"


"Ya, kalian yang bulan madu, kami cuma nebeng." Alena tertawa.


"Dih, modus gratisan, biar dibayarin ya?" cibir Vania.


"Nggak lah, orang Villanya udah kak Hardi bayar dari kemarin. kalian cuma ngisi yang kosong karena kak Alya nggak bisa pergi aja?"


"Terus nanti villa nya bareng kalian gitu?"


"Iyalah, tapi kalau nggak mau juga boleh sewa villa sendiri. Biar bulan madunya lebih tenang." perempuan itu tertawa lagi.


"Ya sudah." ucap Arya.


"Hah?" Vania menoleh lagi.


"Ayo kita bulan madu?" pria itu merangkul pundaknya dengan senyum yang terlihat aneh.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Apakah yang aka terjadi nanti?


apa mereka akan jebol gawang kali ini, atau gagal lagi karena direcokin adik-adik dan keponakan?


Kita lihat saja setelah yang satu ini.

__ADS_1


Tapi pemirsah kirim dulu hadiah yang banyak ya? biar semangat. 🤣🤣🤣



__ADS_2