
🌺
🌺
"Oke, makasih Tante, kayaknya persiapannya dimulai besok. Pihak Wedding Organiser datang siang untuk cek lokasi." ucap Raja setelah memastikan beberapa hal di kafe milik Melly.
"Iya, kami disini akan menyiakan apa yang di perlukan." jawab Melly.
"Iya, makasih sekali lagi."
"Undangan sudah mulai disebar?" Melly bertanya.
"Udah, tante. Terakhir tadi siang buat Bang Arya. Tadinya aku mau ke rumahnya sekalian nengok, tahunya dia udah duluan masuk kerja." pria itu berujar.
"Oh iya? Arya sudah kembali bekerja?"
"Udah."
"Syukurlah, kalau dia sudah sembuh. Saya belum bertemu lagi sebulan ini, saking sibuknya. Belum sempat menjenguk dia lagi. Vania juga sepertinya sibuk, dia jarang datang ke kafe sekarang."
"Iya, begitulah. Makanya saya batalin rencana pakai WO nya dia, karena pasti sibuk urus usaha sama suaminya." Raja tertawa.
"Ya sudah, kalau begitu saya tinggal ya? kamu masih disini kan?"
"Masih tante. Cindy masih belum puas lihat-lihat tempatnya."
"Baiklah kalau begitu." perempuan itu kembali kedalam ruangannya di sisi lain bagian belakang kafe.
***
Raja membiarkan saja calon istrinya itu melakukan apa yang diinginkannya untuk resepsi pernikahan mereka. Memilih konsep, mengatur dekorasi, dan segala hal yang berkaitan dengan pernikahan mereka. Semuanya dia serahkan kepadanya, yang memang sudah terbiasa mengatur banyak hal dalam pekerjaannya yang sudah terbukti selalu berhasil dan membuat banyak orang terkesan, bukan?
Termasuk Harlan sang ayah yang langsung mengijinkan ketika dirinya mengutarakan keinginannya untuk menikahi gadis yang usianya terpaut beberapa tahun lebih muda darinya itu tanpa banyak pertimbangan.
Cindy memang semudah itu untuk di sayangi. Dibalik sikap tegas dan watak kerasnya sebagai sekertaris, namun dia memiliki pribadi yang menyenangkan, juga pandai menempatkan diri dimanapun dia berada. Kepintaran dan kecakapannya, juga sikap supelnya membuat dia mampu mengesankan banyak orang meski baru pertama kali bertemu, selain juga karena parasnya yang ayu.
Karena hal itu jugalah yang membuat Raja jatuh hati kepadanya setelah beberapa kali terlibat dalam pekerjaan yang mengharuskan mereka pergi bersama, ataupun sering terjebak dalam waktu-waktu lembur yang cukup melelahkan. Apalagi ketika harus mengambil alih beberapa pekerjaan Arya yag terpaksa ditinggalkan karena pria itu mengalami kecelakaan beberapa bulan sebelumnya.
Gadis itu pula lah yang mengisi hari-harinya yang sepi karena patah hati pasca pembatalan perjodohan dengan Vania, yang segera dapat mengalihkan pikirannya dan membuat dia bisa pulih dengan cepat.
Cindy, sang sekertaris menyebalkan yang selalu membuatnya emosi karena selalu membantah apapun yang dia perintahkan. Dia, si gadis galak yang tidak pernah tunduk pada apapun yang dia katakan. Dan dialah perempuan yang selalu mendebatnya atas apapun yang dia ucapkan. Yang segera membuatnya terbiasa berdebat setiap hari hingga bertengkar sekalipun, dan hal itu malah menjadi hal paling menyenangkan yang dia alami.
Jodoh memang kadang aneh bukan? Dia membawamu pada apa yang tidak pernah ada dalam bayangan. Kamu dibuatnya memutar arah untuk menemukan banyak hal, padahal yang kamu cari ada di depan mata. Namun disanalah letak seninya.
Raja tersenyum menatap gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Dia yang menantang ketika dirinya mengungkapkan perasaan.
"Kalau bapak serius, silahkan datang kerumah dan temui ayah saya. Tapi kalau misalnya cuma mau main-main, lebih baik Bapa mundur." dia masih ingat ucapannya yang tegas dan tanpa ragu-ragu.
"Saya serius."
"Baik, saya tunggu dirumah." ucapan itulah yang kemudian membawanya mendatangi kediaman Cindy dan membuatnya menemui ayah dari gadis itu untuk membicarakan banyak hal. Terutama meminangnya saat itu juga. Yang tampaknya tak Cindy duga sama sekali.
Namun walau dalam keadaan terkejut, gadis itu akhirnya menerima pinangan Raja tanpa ragu. Dan segalanya berjalan tanpa hambatan berarti, selain penyesuaian pada diri masing-masing hingga akhirnya mereka perlahan saling memahami.
"Pak?" panggilan Cindy membuyarkan lamunan Raja.
"Hah, iya ... apa?" pria itu tergagap.
"Dipanggil malah senyum-senyum?"
"Mmm ... lagi mikirin sesuatu."
"Setuju nggak sama konsep yang aku bilang tadi?" gadis itu bertanya.
"Ng ... setuju, ... aku setuju sama semua yang kamu bilang." Raja menganggukan kepala.
"Beneran?"
"Iya. Aku setuju. Ide kamu pasti bagus." dia tersenyum sumringah.
"Yakin nih, bapak nggak akan nyesel?"
"Nggak akan."
"Oke kalau gitu, nanti aku hubungi lagi WO nya."
"Hmm ...
"Habis ini kita pulang?" tanya Cindy.
"Kamu mau langsung pulang?"
"Iya, ... harus siap-siap buat kerja besok kan? jadwal kita padat sebelum hari H."
"Oh, ... iya."
"Atau ... bapak mau kembali ke kantor lanjutin lembur?"
"Ng ... kalau .. itu artinya kita akan sama-sama terus, aku pilih lembur." Raja dengan cengiran khasnya.
"Ish, ... aku pilih pulang aja lah. Kalau bapak mau lembur, silahkan. Aku butuh istirahat." Cindy melenggang berniat keluar dari kafe tersebut.
"Kita ... nggak makan dulu?" Raja menarik lengannya agar dia berhenti.
Cindy terdiam sejenak.
"Senggaknya kita makan bareng dulu ya sebelum pulang? biar aku bisa tidur nyenyak." Raja memohon.
"Apa hubungannya?"
"Nggak ada. Aku cuma mau bilang gitu aja."
"Ish, ... bapak ini ada-ada aja?" gadis itu tersenyum, namun dia mengikuti langkah Raja menuju tempat duduk terdekat.
"Tapi habis ini langsung pulang ya pak?"
"Iya. Tapi ... bisa nggak sih, kalau lagi berdua kayak gini kamu jangan panggil aku Bapak?"
Cindy mendongak.
"Kita sebentar lagi nikah, masa kamu mau terus panggil aku bapak?"
"Kebiasaan pak, eh ...
"Se nggaknya kalau lagi berdua, apalagi diluar kayak gini."
"Terus aku harus panggil bapak apa? aku bingung. Kebiasaannya gitu."
"Apa aja, yang penting jangan bapak. Berasa tua akutuh."
Cindy tertawa agak keras.
"Itukan panggilan bawahan buat atasan, bukan untuk menunjukan umur?" katanya.
"Teteap aja."
"Ya terus aku harus panggil apa?"
"Terserah, mau sayang juga boleh." Raja menyeringai.
"Dih, sayang?" gadis itu tertawa lagi.
__ADS_1
"Ya kan, nggak apa-apa."
"Kita belum sah tahu!"
"Sebentar lagi, ... Yang?" Raja tersenyum, dan hal tersebut membuat Cindy tertawa lagi.
🌺
🌺
Vania menghampiri suaminya yang duduk termenung di depan televisi yang menyala, setelah mereka menyelesaikan makan malam beberapa saat yang lalu.
"Abang lagi mikirin apa sih? tumben banget diem kayak gini?" Vania mendekat.
Arya menoleh, kemudian tersenyum.
"Malah senyum?" perempuan itu menarik lengannya, kemudian menyurukan kepala di dada bidangnya dan dengan segera merapatkan tubuh mereka berdua.
"Abang hanya sedang berpikir." Arya menjawab seraya melingkarkan tangannya di pundak istrinya.
"Mikirin apa?" ulang Vania.
"Soal pernikahan."
"Pernikahan?"
"Hmm ...
"Bagian mananya yang abang pikirin?"
"Resepsi."
"Resepsi?" Vania membeo, dan dia mendongakan wajanya.
"Abang baru ingat, kalau kita belum mengadakan resepsi pernikahan?" Arya berujar.
"Hum?"
"Orang lain menikah dengan pesta yang meriah, sedangkan kita hanya akad saja." pria itu terkekeh. "Dan abang lupa soal itu."
"Waktu itu kan abang lagi sakit?"
"Iya juga sih."
"Abang mau ngadain pesta resepsi?" Vania bertanya.
"Kamu mau?" Arya balik bertanya.
"Buat apa?"
"Kok buat apa?"
"Ya buat apa? kita udah hampir enam bulan nikah, terus baru sekarang mau ngadain pesta?"
"Salah ya?"
"Ya, ... nggak juga sih."
"Memangnya kamu tidak mau mengadakan pesta?"
"Kalau abang nanya nya dulu pasti aku jawabnya mau."
"Terus?"
"Ya, ... karena abang nanya nya sekarang ya ... aku jawab nggak."
"Kenapa?"
"Apa kamu tidak mau seperti orang lain yang mengadakan pesta megah untuk pernikahan, seperti yang sering kamu tangani? dua adik abang bahkan pesta pernikahannya kamu yang atur. Apa kamu tidak mau seperti mereka?"
"Nggak." Vania menjawab dengan singkat.
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-napa." jawabnya lagi. "Aku males aja."
"Kok males?"
"Capek abang! nyiapin banyak hal, mikirin banyak hal, belum lagi setelahnya ... ah ...nggak kebayang." dia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Mengurusi pernikahan orang kamu semangat, tapi untuk pernikahan sendiri kamu malas? kamu aneh."
Vania tertawa pelan.
"Kalau nikahan orang aku dapat duit, tapi kalau nikahan sendiri? capek iya ...." jawabannya cukup diplomatis.
"Hmm ..." Arya mencebik.
"Lagian, ngadain pesta kayak gitu harus punya duit gede. Buat sewa gedung, pesen catering, tukang rias, ... dan lain-lain. Se nggaknya kita harus punya duit lima puluh jutaan bang, dan itu untuk ukuran pesta standar. Kalau mau lebih, ya lebih gede lagi. Tahu sendiri gimana waktu nikahannya kak Alya sama kak Anna? Abang yang ngeluarin duit kan?"
"Patungan. Abang dan calon pengantin." jawab Arya, lalu dia tertawa.
"Nah ... tahu kan segede apa? itu ditanggumg bertiga, nah kalau sekarang kita yang ngadain pesta, siapa yang mau bantuin? masa mau minta sama adik-adik abang? aku nggak punya duit sebanyak itu, dan aku juga nggak mau minta sama ibu." jelas Vania.
Arya mendengarkan dalam diam.
"Abang ada kalau untuk mengadakan resepsi." jawabnya kemudian.
"Masa?" perempuan itu kembali mendongak.
"Ada."
"Kan uang abang udah dikasih ke aku sejak kita nikah? udah aku pakai juga buat kebutuhan kita sama bayar tagihan bulanan." Vania menatap wajah pria itu dengan bola matanya yang berkilauan.
Arya terkekeh sambil menyelipkan rambut perempuan itu kebelakang telinganya.
"Abang ada tabungan sedikit."
"Masa?"
"Iya."
"Berapa?"
"Ada lah, ... kalau untuk mengadakan pesta resepsi sepertinya cukup." Arya menjawab.
"Masa?"
"Iya ...
Vania terdiam dan berpikir.
"Kalau mau, ayo kita tentukan tanggalnya?"
"Nggak ahh, ..." jawab Vania lagi, dan dia kembali menempelkan kepalanya pada dada pria itu.
"Serius?"
"Hu'um, ..." perempuan itu mengangguk.
"Memangnya kamu tidak mau punya kenangan pernikahan? foto-foto, pesta ... dan semacamnya?"
"Nggak."
__ADS_1
"Ish, .. kamu benar-benar aneh."
"Bukan gitu. Aku nggak mau merasa sedih bang."
"Sedih karena apa? mengadakan pesta itu berarti berbagi kebahagiaan 'kan?"
"Iya, kalau orang tua kita lengkap. Tapi ... kalau nggak?" Vania bangkit lalu duduk dengan tegak.
"Aku nggak mau nanti pas kita pesta itu merasa sedih karena ingat sama ayah yang udah nggak ada. Belum lagi ... orang tua abang yang ..." dia menghentikan kata-katanya saat melihat suaminya terdiam.
"Intinya, aku udah bahagia karena kita udah sama-sama kayak gini. Aku nggak perlu resepsi ataupun pesta yang megah untuk menunjukkan kalau aku bahagia. Cukup abang yang terus ada buat aku, dan kita menjalani ini bersama-sama." dia tersenyum lebar.
"Hhh ... abang tidak akan percaya kalau tidak mendengarnya sendiri." Arya tertawa. "Baiklah, terserah kamu. Abang sudah menawarkan, jadi suatu hari nanti jangan merajuk kalau-kalau melihat pesta pernikahan orang lain karena kita tidak mengadakan pesta pernikahan ya?"
"Nggak akan." Vania menjawab.
"Yakin?"
"Hu'um." dia mengangguk.
"Tapi, kalau misalnya abang maksa karena merasa punya tabungan yang cukup untuk ngadain pesta, mending duitnya kasih ke aku." dia kemudian menengadahkan tangannya ke arah Arya, dengan kedua sudut bibirnya yang dia tarik membentuk senyuman paling manis.
"Apa?" pria itu menjengit.
"Dari pada dipakai buat pesta, mending duitnya aku pakai buat nambah modal kedai."
"Hah? kamu kekurangan modal?"
"Nggak."
"Terus?"
"Aku mau nambah tempat biar lebih luas. Akhir-akhir ini pengunjung kedai semakin banyak, dan selalu penuh di jam sibuk. Malah kadang ada pengunjung yang nggak kebagian tempat duduk saking padatnya. Kalau ada duitnya aku mau sewa kios kosong di sebelah."
Arya terdiam mendengar penjelasannya.
"Duitnya boleh aku minta nggak?" Vania menggerak-gerakan kedua alisnya sambil mempertahankan senyum manisnya.
"Kamu sedang meminta modal?"
"Iya, tadinya mau pinjam ke bank tapi aku pikir-pkir lagi takut nggak bisa bayar. Kebetulan abang ngobrol soal ini, ya udah ... aku minta sama abang aja. Lebih baik kan?" katanya lagi.
"Otak kamu tuh ... yang ada bisnis terus?"
"Harus dong ... hidup kita masih panjang. Emag abang mau selamanya kerja di perusahaan orang? sampai tua gitu? aku sih nggak mau. Kalau punya usaha sendiri lebih baik."
"Oh ya?" Arya bersedekap, sepertinya percakapan mereka lebih serius sekarang ini.
"Iya lah ... emang ada perusahaan yang karyawannya udah aki-aki? kayaknya nggak ada deh." Vania memicingkan mata.
"Aki-aki kamu bilang?"
"Iya. Dalam beberapa tahun lagi juga abang jadi aki-aki ... nggak mungkin terus bertahan di perusahaan om Harlan." dia tertawa lagi.
"Kamu sebut abang aki-aki?" Arya mencondongkan tubuhnya.
"Nggak ih, ... tapi kan pasti bakalan jadi aki-aki?"
"Hmmm ...
"Tapi jangan khawatir, abang akan jadi aki-aki yang ganteng." rayu Vania sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah suaminya.
"Mana ada aki-aki ganteng? peyot iya." Arya merajuk.
"Nggak, peyotnya abang ganteng kok?" dia terus merayu.
"Hmm ... gombal!" pria itu menempelkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Serius abang ih ..."
Arya terdiam dengan wajah cemberut.
"Dih, abang ngambek?" Vania menundukan wajah untuk menggoda suaminya.
"Yah, ... nggak jadi dong aku minta modalnya?"
Pria itu masih terdiam, begitu juga Vania yang memutar otaknya untuk merayunya, dan sebuah ide pun muncul dengan segera.
"Padahal tadinya aku mau barter kalau abang mau ngasih modal."
Arya bereaksi.
"Barter?"
Vania menganggukan kepala sambil mengulum senyum.
"Barter apa?"
"Abang ngasih aku modal, dan aku ngasih abang ..." dia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Hal ini terasa memalukan tapi entah kenapa malah yang muncul pertama kali di kepalanya.
"Apa?" pria itu menegakan posisinya ketika radar alamiahnya menangkap sinyal waspada.
"Mm ... barternya mau sekarang atau barengan sama uangnya?" tawar Vania, yang kemudian naik kepangkuan suaminya untuk menegaskan maksudnya.
Arya terdiam dengan dadanya yang mulai berdebar kencang.
"Apa kita sedang bernegosiasi?" dia mendongak untuk mendekatkan wajah mereka berdua.
"Ya, ... sebut aja gitu." Vania menjawab dengan seringaian di wajahnya, dia merasa hampir memenangkan percakapan malam itu.
"Hmm ... negosiasi yang unik."
"Memang, ... sesuai sama abang." tanganya dia lingkarkan di leher suaminya, banyak ide yamg tengah dia pikirkan untuk mendapatkan keinginannya. Masa bodoh dengan cara konyolnya, toh dia melakukannya dengan suaminya sendiri.
Arya pun menatapnya dengan pikiran yang sudah tak tentu arah. Otaknya tentu saja sudah melanglang buana.
"Jadi gimana?"
"Apa?"
"Sal modal?" Vania berbisik.
"Boleh."
"Beneran?"
"Iya, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Barternya sekarang." Arya pun berbisik di telinganya, membuat tubuh perempuan di pangkuannya merinding.
"Ng ... oke kalau gitu." Vania mengakhiri kesepakatan konyolnya malam itu, lalu dia turun dari pangkuan suaminya. Meraih tangannya, kemudian menariknya ke lantai atas dimana kamar mereka berada. Tempat banyak keajaiban akan terjadi, dalam pergumulan panas yang segera berlangsung bahkan beberapa detik setelah mereka tiba disana hingga beberapa saat kedepan.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Hadeh ... ujung-ujungnya pasti deh, pikirin sendiri 😜😜
__ADS_1