Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Memasak


__ADS_3

🌺


🌺


Arya turun dari kamarnya setelah tak menemukan Vania sejak dia membuka mata, hingga selesai membersihkan diri dan berpakaian. Namun suara gaduh di dapur membuatnya segera menuju ke ruangan itu.


Dan disanalah dia, tengah disibukan oleh barang belanjaan dan segala hal lainnya.


"Kamu habis belanja?" Arya bertanya.


"Hmm ..." Vania menjawab dengan gumaman.


"Pergi sendiri?" pria itu mendekat, dia melihat banyak barang diletakan di meja, beberapa kantung kresek dan keranjang penuh dengan belanjaan.


"Iya." jawab Vania.


"Kenapa tidak membangunkan abang?"


"Nggak tega, abang tidurnya nyenyak gitu? kelihatan kayak kecapean banget." dia menjawab lagi.


"Seharusnya tadi kamu bangunkan abang, bukan malah pergi belanja sendirian. Mana sebanyak ini lagi?" pria itu menggerutu.


Vania hanya tersenyum.


"Hari ini jadi undang adik-adik?" Arya bertanya.


"Jadilah, makanya aku belanja sebanyak ini. Semua bahan makanan ini mau aku olah untuk kita nanti." jawab Vania.


"Mau bikin apa?"


"Ada lah nanti, banyak pokoknya."


"Hmmm ...


"Eh, abang udah telfon mereka belum?" Vania menoleh.


"Belum, abang kira tidak jadi?"


"Jadi abang, kan udah aku bilang mau ngumpul malam ini."


"Iya, iya, ... nanti abang telfon mereka."


"Abang hari ini kerja kan?"


"Tidak." Arya menjawab.


"Lho, kenapa?" Vania menghentikan kegiatannya.


"Abang hanya mengambil pekerjaan tiga hari dalam seminggu."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Hanya mau fokus untuk proyek lain."


"Proyek lain?" Vania mengulang kata-kata suaminya.


"Iya."


"Proyek apa? dari perusahaan lain?"


"Bukan."


"Terus?"


"Proyek pribadi."


"Punya abang sendiri?"


"Ya, ... seperti itulah."


"Kok bisa?"


"Bisa lah."


"Maksud aku, kok bisa dapet ijin dari perusahaan untuk kerja kayak gitu?"


"Bisa, kan memang sudah abang ajukan di awal masuk lagi minggu kemarin, dengan kesepakatan baru juga."

__ADS_1


"Bisa juga gitu ya?"


"Bisa, ... abang beruntung, karena sudah senior disana."


"Ish, ... senior ..." Vania tertawa begitu renyah.


"Ya udah, kalau gitu."


"Kamu tidak pergi ke kedai?" tanya Arya.


"Nggak, kan mau masak ini buat nanti."


"Tidak apa-apa kedai di tinggal?"


"Nggak. Kan ada Mimi sama Rafa. Terus, nanti rencananya aku mau nambah lagi pegawai ah, biar bisa sering dirumah juga."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa. Kayaknya aku butuh santai sedikit, akhir-akhir ini kerasa bener capeknya."


"Oh ya?"


"Iya."


"Kamu perlu bantuan?" tawar Arya sebelum pergi.


"Nggak."


"Yakin?"


"Yakin. Aku bisa sendiri."


"Kamu tahu, abang juga terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Jadi, kalau misalnya ada yang harus abang kerjakan kamu bisa minta abang untuk ...


"Aku tahu. Tapi nggak usah bang. Ini masih bisa aku kerjain sendiri lah, ..." tolak Vania.


"Tadi kamu bilang capek?"


"Dikedai. Disini nggak."


"Baiklah kalau begitu, abang di ruang kerja kalau kamu butuh bantuan."


"Sarapan?"


Vania mengangguk lagi.


"Memangnya sudah ada?"


"Belum sih, kan aku baru pulang dari pasar."


"Kalau begitu kenapa menawari sarapan?"


"Ya kali aja abang mau?"


"Tidak usah kalau belum ada. Atau ..." pria itu menatapnya kemudian sebuah senyum terbit di sudut bibirnya.


"Apaan?"


"Sarapan yang lain juga boleh ..." godanya, dan dia menyeringai setelahnya saat pikirannya mengingat sesuatu.


"Eee ... nggak ada." jawab Vania, dan dia mundur beberapa langkah kebelakang saat suaminya maju perlahan masih dengan seringaian yang sama.


"Aku bikinin kopi aja mau?" tawarnya lagi.


"Tidak. Tadi sudah minum kopi."


"Roti?" dia meraih sebungkus roti di meja makan.


"Tidak mau." Arya menggelengkan kepala saat jarak mereka sudah tinggal beberapa senti dan perempuan itu sudah terjebak diantara dirinya dan meja kompor di belakang tubuhnya, dia terhimpit.


"Abang?" Vania menjauhkan wajahnya ketika pria itu terus mendekat, dengan senyuman jahil dan sikapnya yang mengintimidasi. Arya bahkan sudah mengurungnya dengan kedua tangan yang bertumpu di kedua sisi tubuhnya. Akhir-akhir ini sikapnya memang selalu membuat Vania berdebar, entah karena dia benar-benar menginginkannya ataukah hanya sekedar bermain-main saja.


"Kayaknya aku udah mau datang bulan." ucap Vania saat suaminya menundukan wajah.


Arya tertegun lalu menatapnya.


"Sudah mulai?" dia bertanya.

__ADS_1


"Ng ... kayaknya gitu." jawab Vania.


Pria itu menghela napas berat, kemudian menarik diri dan mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kalau bisa buatkan abang sarapan sebentar lagi. Abang lapar." katanya, yang kemudian pergi ke ruang kerja miliknya, menenggelamkan diri pada apa yang dia sebut sebagai proyek pribadinya.


"Huufftthh ..." Vania mengusap keningnya yang berkeringat.


"Bikin ngeri, masa tiap pagi maunya itu melulu?" gumamnya, kemudian dia tertawa.


Eh, ... bukan cuma pagi kan? setiap barengan maunya gitu? batinnya, dan hal tersebut membuat dia tertawa lagi.


Aataga! otakku ini! dia menepuk kepalanya agak keras ketika banyak hal melintas di otaknya pagi itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Vania membereskan barang belanjaan ke beberapa tempat sesuai dengan jenis dan fungsinya, dan meninggalkan sisanya yang akan dia olah hari itu diatas meja.


Beberapa wadah tampak berjajar di meja makan, berisi sayuran, daging, bumbu dan bahan makanan lainnya. Yang segera membuat ide kreatifnya muncul seketika.


Sebuah wadah berisi bahan-bahan untuk membuat es krim dia kerjakan pertama kali. Mencampurnya dengan mixer, dan mengerjakannya seperti yang biasa dia kerjakan di kedai miliknya. Alih-alih membeli es krim siap makan, Vania malah memilih membuat es krim hasil kreasinya sendiri yang dia ingat sangat di sukai oleh dua keponakan lucunya.


Sementara kompor menyala yang diatasnya sebuah panci serbaguna tengah mematangkan bahan untuk membuat kue mochi andalannya. Beras ketan yang ditanak sedemikian rupa. Yang segera mengalihkan perhatiannya begitu dia selesai membuat eskrim.


Vania menumbuk ketan matang yang masih berbentuk nasi dengan alat khusus hingga benda tersebut berubah menjadi gumpalan lembut, kemudian dengan cekatan, dia membentuknya menjadi bulatan-bulatan berukuran sedang. Yang setelah dingin dia isi dengan adonan eskrim setengah jadi, dan kembali memasukannya ke dalam freezer.


Ah, ... eskrim mochi andalannya sudah selesai dibuat, sebagai hidangan spesial untuk keluarganya.


Selesai dengan itu, dia beralih pada bahan makanan lainnya, daging dan sayuran yang segera di sulapnya menjadi hidanga lezat menggoda selera, yang dia yakini tidak akan ada siapapun yang mampu menolaknya saat makanan itu terhidang nanti.


Dia tersenyum puas menatap meja yang yang sudah tertata rapi dengan aneka makanan khas kreasinya sejak pagi.


"Ehm, ... suara dehaman rendah terdengar dari ambang pintu. Dan wajah suaminyalah yang dia temukan saat menoleh.


"Makanannya sudah siap? abang lapar." Arya memegangi perutnya yang memang sudah keroncongan sejak tadi.


"Oh, astaga! aku sampai lupa?" ucap Vania, saat melirik jam dinding yang sudah menunjukan waktu sore.


"Abang tunggu dari tadi ..." Arya berjalan gontai ke arah meja makan.


"Kenapa aku sampai lupa ya? aku nggak nyadar abang ada dirumah. Aku mikirnya abang masuk kerja?" Vania tertawa.


"Tega! abang kelaparan diruang kerja, dan kamu asyik memasak makanan enak disini?"


"Suruh siapa abang diem diruang kerja? kenapa nggak keluar cari makan?"


"Tanggung, ide abang lagi lancar." Arya membuka penutup makanan dimeja.


"Apa ini sudah bisa dimakan?" tanyanya kemudian.


"Bisa."


"Abang makan boleh?" Arya mendongak, dan wajahnya tampak seperti anak kecil yang mengharapkan sesuatu.


"Boleh boleh, ... masa nggak boleh? tapi ... apa nggak mau nunggu Alena sama yang lainnya dulu?" Vania berujar.


"Apa harus?" Arya tampak memelas.


"Mungkin sebentar lagi mereka datang?" Vania kembali melihat jam dinding.


"Tapi abang lapar." ucap Arya.


"Ya udah, abang bisa duluan." katanya, yang membuat Arya kegirangan dan dia segera meraih piring untuk mengambil makanan yang sudah siap.


"Aku mau mandi dulu ya?" ucap Vania kemudian, yang seketika menghentikan kegiatan Arya.


"Mandi?"


"Iya. Udah nggak kuat, gerah." Vania menanggalkan afron yang dipakainya, kemudian segera pergi untuk membersihkan diri. Dan hal tersebut juga malah membuat Arya segera mengikutinya untuk melakukan hal yang sama.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


Lanjutin bang, mumpung belum ada yang datang. 😂😂


like komen sama hadiahnya dulu dong, hari ini langsung double up. 😜


__ADS_2