
🌺
🌺
Sebuah wajah cerah terpampang di depan matanya, menatap dengan sorot berbinar dan penuh kasih sayang. Perempuan yang begitu dia kenal dan tidak pernah hilang dari ingatan.
"Ibu?" Arya mengucapkannya dengan jelas.
Perempuan itu tersenyum lembut, kemudian dia mengusap kepalanya.
"Ibu kembali?" Arya bertanya.
"Dan ayahmu." perempuan itu menoleh kebelakang dimana seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka.
Pria itu juga meiliki penampakan yang sama. Wajah teduhnya berbinar, dan dia terlihat lebih tampan dari terakhir kali Arya meihatnya. Mereka tersenyum ceria.
"Ayah? kalian ada disini?"
Keduanya mengangguk.
"Tapi kamu harus segera pulang, tidak seharusnya kamu ada disini." ucap sang Ayah.
"Kenapa? seumur hidup yang paling aku inginkan adalah bersama kalian, dan sekarang kita sudah bertemu. Tapi kenapa aku tidak boleh berada disini?"
"Ini bukan tempatmu."
"Tapi aku ingin bersama kalian." ucap Arya.
"Belum saatnya, Nak. Pulanglah." sang ibu berujar.
"Tapi bu ... aku mau disini. Aku ingin bersama kalian."
Perempuan itu menggelengkan kepala.
"Adik-adikmu masih membutuhkanmu." katanya.
"Adik-adik?" Arya termangu.
"Mereka akan kehilangan sandaran jika kamu tak kembali." sang Ayah menimpali.
"Tapi ...
Ibunya menepuk bahunya pelan-pelan.
"Ibu bangga padamu, kamu telah membesarkan mereka dengan baik."
Arya mendongak.
"Kami bangga padamu." sahut sang ayah.
"Tapi mereka masih membutuhkanmu. Mereka akan tetap membutuhkan kakaknya."
Arya masih terdiam.
"Pulanglah, kita akan berkumpul lagi nanti, jika saatnya tiba." dan mereka beranjak, kemudian berjalan menjauh.
"Bu, ... Ayah?" panggil Arya ketika kedua orang tuanya terus menjauh.
"Ibu? ayah?" dia terus memanggil hingga satu cahaya yang begitu menyilaukan menghantam penglihatannya. Dan Arya mengerjap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arya kembali membuka matanya, namun yang kini dia dapati hanyalah kegelapan. Bau tanah bercampur lumpur dan lumut segera mendominasi indera penciumannya. Juga rasa dingin dan lembab yang menyelimuti tubuhnya.
Pikirannya berusaha mengingat apa yang telah terjadi, dan dia terus mempertahankan kesadarannya.
"Ya Tuhan! aku masih hidup?" gumamnya ketika dia sudah mengingat apa yang telah menimpanya.
__ADS_1
Dia masih terlentang dibawah tumpukan material longsoran dan rangka jembatan yang roboh sehari sebelumnya. Namun entah dengan keajaiban seperti apa dirinya masih selamat. Ketika sebuah batu besar di pinggir sungai menahan rangka baja yang terjatuh di sekitarnya. Benda-benda itu malah tampak saling menumpuk untuk melindunginya dari longsoraan tanah dari tebing diatasnya. Menyisakan beberapa senti ruang kecil untuknya bernapas.
Arya mencoba menggerakan tubuhnya, namun dia merasakan himpitan kuat pada kaki bagian bawah dan tangan sebelah kirinya.
"Astaga!" dia menggumam lagi.
Arya merasakan sesuatu mengalir diatas kepalanya. Kemungkinan air yang berasal dari luar yang menembus hingga kedalam.
Pria itu kembali mencoba untuk bergerak, namun tubuhnya benar-benar terhimpit tanah dan batu. Dia terdiam lagi, karena jika terus memaksa, maka dirinya akan kehabisan tenaga.
Arya mencoba lagi setelah beberapa saat. Perlahan dia menggerakan tangan kananya yang selamat. Menemukan sebatang ranting kecil dari bawah tangannya, kemudian mencoba menggapai matetial diatas kepala. Batu-batu kecil dan tanah yang basah berjatuhan sedikit-demi sedikit ketika dia menncoba membuat jalan keluar walau terasa mustahi.
🌺
🌺
Vania belum menghentikan isakannya dari semalam, kedua matanya telah membengkak, dan dia jelas kelelahan. Namun gadis itu memutuskan untuk ikut menyaksikan proses evakuasi. Dia bahkan yang pagi-pagi sudah memaksa beberapa petugas untuk segera bekerja.
Alat berat segera diturunkan, tumpukan tanah perlahan disingkirkan, lalu kerangka baja dan beton satu persatu diangkat menjauh. Hingga hanya tersisa beberapa material saja.
Kemudian beberapa pekerja merangsek mendekat ke tumpukan, mencoba menyingkirkan benda itu dengan tangan untuk menjaga keselamatan korban dibawah tumpukan yang mungkin saja masih hidup.
"Bang?" Hardi mencoba memanggi.
Namun tak ada sahutan.
"Abang?" pria itu kembali memanggil lagi, namun masih tak mendapat jawaban.
Vania menerobos kerumunan dan memaksa mendekat ketika Raja dan Cindy gagal menahannya.
"Abang? Abang masih disana kan?" dia berteriak.
"Abang? denger aku nggak sih?" katanya lagi, seraya meraup tanah basah dan menyingkirkan bebatuan kecil di depannya.
"Abang!!" dia kembali berteriak.
Semua orang terdiam saat melihat tumpukan tanah bergerak, seperti di dorong dari bawah. Dan di detik berikutnya sebuah ranting kecil muncul menembus tanah.
***
Sebuah lubang berukuran sedang terbuka setelah mereka berhasil menggali dengan hati-hati, dan wajah itu yang pertama kali mereka lihat.
"Selamat!! dia selamat!!" seorang pekerja berteriak, membuat Vania terlonjak da dia berniat kembali ke kerumunan jika saja Hardi tak menahannya.
"Biarkan mereka yang bekerja!" pria itu berucap.
Dan setelah hampir satu jam menggali dan menyingkirkan material, akhirnya mereka berhasil menemukan tubuh lemah Arya dalam keadaan setengah sadar. Tanah dan lumpur menutupi hampir sebagian besar tubuhnya. Kedua kakinya bahkan terhimpit pecahan beton yang cukup besar, dan tangan kirinyapun terhimpit batu. Tapi merupakan sebuah keajaiban pria itu masih hidup.
🌺
🌺
Vania tak mau meninggalkan rumah sakit setelah perjalanan selama tiga jam mereka tempuh. Walaupun selama perjalanan itupun dirinya tak meninggalkan Arya sedikitpun. Dia berada di dalam ambulance yang membawa Arya hingga mereka tiba di rumah sakit terbesar di kota Bandung. Tanpa melepaskan genggaman tangan mereka walau hanya sesaat.
"Pulanglah, dia sudah selamat." Hardi datang menghampirinya di ruang tunggu.
"Nggak apa-apa. Aku mau disini dulu." tolak Vania.
"Kamu juga capek, dan butuh istirahat." ucap Raja, diikuti Cindy yang datang setelahnya.
"Dan kamu juga butuh mandi." pria itu tertawa.
"Ya, kita butuh mandi." sahut Hardi yang melihat dirinya dan tiga orang di dekatnya dalam keadaan berantakan. Pakaian mereka dipenuhi tanah dan lumpur yang mengering. Juga wajah-wajah yang nampak lelah namun penuh kelegaan.
Vania tertegun.
"Udah, ... ayo pulang dulu. Besok kesini lagi." ucap Raja.
__ADS_1
"Tapi ...
Kemudian lima orang anggota keluarga Arya yang lain tiba tak lama setelah mereka. Alena bahkan langsung menerobos ke ruang perawatan dimana kakak laki-lakinya berada.
"Udah ada mereka." Raja berujar.
"Pulang lah Van." ucap Hardi lagi.
"Tapi .. nanti kalau ada apa-apa kasih tahu aku ya? aku pasti langsung datang."
"Iya." Hardi mengangguk.
"Janji ya, jangan sembunyiin apa-apa dari aku?"
"Iya, janji."
"Beneran!"
"Beneran."
Kemudian gadis itupun pergi setelah berpamitan.
*
*
"Maaf ya, kamu jadi ikutan repot gara-gara kejadian ini." ucap Raja saat mereka tiba di depan Rumah keluarga Cindy, dia mengantarnya pulang pada sore hari.
"Nggak apa-apa Pak. Bagian dari pekerjaan juga." Cindy dengan senyum sekilas.
Raja menatapnya dalam diam ketika merasakan sesuatu di dalam dadanya berdesir tak karuan.
Apaan? batinnya.
"Kalau gitu ... saya turun pak?" Cindy membuka pintu setelah mereka terdiam cukup lama.
"Mmm ... iya, oke." Raja tersadar dari lamunannya.
"Terimakasih Bapak sudah mengantar saya sampai rumah dengan selamat."
"Iya. Itu bukan apa-apa."
"Ya udah, ... saya turun." gadis itu hampir menurunkan kedua kakinya.
"Eee .. Cindy?" Raja memanggilnya kembali.
"Ya pak?" dia berbalik.
Raja malah terdiam dengan bibirnya yang berkedut menahan kata-kata.
"Ada yang penting?" Cindy bertanya.
"Mmm ... besok jangan telat, kita banyak pekerjaan!" ucap Raja kemudian, membuat gadis itu sedikit menjengit.
"Udah, sana. Saya juga capek, mau pulang." katanya lagi. Dan Cindy pun bergegas keluar dari dalam mobil, dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Kenapa dia itu? sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar nyebelin. Dasar! batin Cindy.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
hufftthh ... selamat, selamat. semoga terhindar dari santet netijen ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
biasa gaess, like komen sama hadiahnya.
Cieeee .... ada yang berdesir-desir 🤣🤣🤣