
🌺
🌺
"Kamu akhir minggu ini sibuk nggak?" Alena menyesap orange jus favoritnya, bersama Dilan yang menikmati es krim kesukaannya, sementara Alea ada dalam dekapan Vania. Siang itu mereka sengaja mampir sepulangnya dari daycare.
"Biasa aja sibuk weekend-an. Kenapa?"
"Nggak ada pesanan catering atau apa gitu?" Alena mencari tahu.
"Nggak." Vania menggelengkan kepala.
"Mau ikut liburan?"
"Liburan?"
"Hu'um."
"Kemana?"
"Yang deket aja, daerah atas."
"Ng ...
"Biar seru aja gitu, banyakan soalnya."
"Siapa aja?"
"Ya, ... aku, kak Hardi sama anak-anak, kak Ana sama suaminya. Kak Alya, juga sama suaminya."
"Kak Alya? bawa bayinya?"
"Iyalah, ..."
"Emang udah boleh?"
"Boleh, udah sebulan ini. Udah selamatan juga kan?"
"Oh ya? kok aku nggak tahu?"
"Nggak rame-rame, cuma pengajian biasa aja."
"Hmm ..."
"Mau ikut nggak?"
"Ng ... nggak tahu ya, soalnya aku ...
"Aku ngajak Bang Arya juga, tapi belum dibalas nih." Alena menatap layar ponselnya.
"Bang Arya?"
"Hu'um, ... anak-anak pasti seneng ayahnya ikut."
"Aku ... nggak tahu deh, lihat aja nanti ya?" Vania berpikir.
"Oke, tapi nanti kasih tahu kalau mau ikut ya?"
"Oke."
🌺
🌺
Hampir di akhir minggu ...
"Kamu ... yakin akan meneruskan hubunganmu dengan Arya?" Melly memulai percakapan ketika mereka menyelesaikan sarapannya.
Vania mendongak, kemudian menenggak air putih hingga habis setengahnya.
"Iya." kemudian menjawab.
"Sudah bicara dengan Pak Harlan?"
"Bang Arya udah, aku ... belum"
"Kemarin malam dia datang ke kafe, ..."
"Oh ya? ngapain?"
"Kami ... bicara."
"Soal apa?"
"Soal kalian."
"Terus?"
Melly menghela napasnya perlahan, dan menatap wajah putrinya lekat-lekat.
"Apa kamu serius? apa perbedaan usia tidak akan menjadi masalah nantinya kalau kalian benar-benar bersama?"
"Om Harlan tanya masalah itu?" Vania mengerutkan dahi.
"Tidak. Ibu yang ingin bertanya soal ini kepadamu."
Vania terdiam.
"Karena sepertinya sekarang Pak Harlan tidak terlalu ngotot soal perjodohan itu. Tidak seperti sebelumnya."
"Ibu ... nggak ngijinin aku sama Bang Arya?" Vania balik bertanya.
"Dia pria yang baik, seperti yang kita tahu dia juga bertanggung jawab. Tapi ...
"Umurnya yang jauh diatas aku?" Vania menatap wajah ibunya.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu terdiam lagi.
"Ibu terlalu serius, dan berpikir terlalu jauh. Kami bahkan baru memulai hubungan ini." jelas
Vania.
"Apa buat ibu masalah karena perbedaan umur kami?"
"Entahlah, ... ibu hanya khawatir."
"Apa yang ibu khawatirkan?"
"Banyak."
"Menurut ibu aku harus bersama dengan orang yang seumuran?"
"Tidak juga."
"Terus kenapa ini jadi masalah buat ibu?"
"Ibu tidak mempermasalahkan umur, yang ibu pikirkan hanya ...
"Aku nggak mau bicara soal ini lagi. Aku rasa aku juga punya hak untuk memilih. Maaf, harus mengecewakan ibu, tapi bahkan Om Harlan pun nggak ada masalah dengan itu. Jadi aku pikir kenapa kita harus selalu memikirkan perasaan orang lain dari pada hidup kita sendiri?"
"Kamu egois, Vania."
"Ibu salah. Aku hanya berusaha mendapatkan apa yang aku mau. Apa ada yang aku rugikan dengan menolak perjodohan itu?"
Melly bungkam.
"Waktu itu aku mengucapkan janji yang nggak aku mengerti. Apa aku dosa kalau sekarang aku membatalkannya? Sementara Om Harlan yang di janjikan ayah untuk menikahkan anaknya dengan aku sudah merelakan semuanya."
"Maaf, Bu. Aku mau menjalani hidup aku sesuai keinginan aku, tanpa diktean dari orang lain. Karena pada akhirnya, semua hanya aku yang merasakan." ucap Vania, kemudian pergi.
🌺
🌺
"Udah deh Pah, sebenernya ada hubungan apa sih Papa sama Bang Arya? kok sampai segitunya?" suara Raja terdengar menggema di ruangannya.
"Masih pertanyaan yang sama, dan Papa akan tetap memberikan jawaban yang sama pula." jawab Harlan.
"Tapi sikap Papa mencurigakan, Papa selalu memihak dia seolah Papa mempunyai hubungan dekat sama dia."
"Papa hanya melakukan apa yamg pantas, tapi tidak seperti apa yang kamu pikirkan."
"Jawaban Papa rancu. Bikin aku semakin yakin kalau ada hal lain selain itu."
"Terserah kamu lah, tidak ada gunanya juga papa menjelaskan banyak hal, karena kamu tetap tidak akan percaya."
"Jelas lah, karena ternyata dia yang menyebabkan perhatian Papa berkurang selama ini. Aku pikir hanya karena pekerjaan, tapi tahunya ada hal lain?"
"Terserah kamu." Harlan bangkit, dan bermaksud mengakhiri kunjungannya di kantor cabang minggu itu.
"Selalu itu yang papa bilang, dan akhirnya menghindar."
"Papa bahkan rela mengorbankan perjodohan itu setelah tahu Bang Aryalah orang yang sedang dekat dengan Vania. Padahal sebelumnya papa sering memaksa aku untuk setuju." akhirnya kalimat itu meluncur dari mulut Raja.
"Papa ... hanya tidak mau menjadi orang yang egois, memaksakan kehendak pada seseorang yang tidak mau menjalani perjodohan itu."
"Bukankah perjanjian itu sudah dilakukan jauh sebelum ayahnya Vania meninggal?"
"Memang."
"Terus kenapa hal itu bisa dibatalkan dengan gampangnya?"
"Apa yang kamu harapkan? Papa memaksakan kehendak pada Vania, dan menghancurkan hubungam dia dengan orang lain hanya karena perjanjian itu?"
Raja terdiam.
"Dengar, perjanjian itu tidaklah mutlak. Kami dulu hanya berharap, hubungan ini bukan hanya sekedar pertemanan, tapi bisa dilanjutkan oleh keturuna kami. Entah, itu berupa pernikahan, atau hubungan semacamnya, tapi sudah papa tegaskan, jika salah satu diantara kalian memang ada yang sudah memiliki pasangan, maka tidak boleh ada yang memaksakan kehendak. Apalagi harus menghancurkan sebuah hubungan demi terjalinnya perjodohan itu. Karena hubungan dalam keterpaksaan tidak akan berjalan baik."
"Papa memaksamu karena kamu tidak pernah terlihat berhubungan dengan siapapun, dan waktu Papa tanya Bu Melly pun sama."
"Lagipula kamu selalu menolak jika Papa bicara soal perjodohan itu, lalu kenapa sekarang kamu malah protes?"
Raja tak mampu menjawab pertanyaan sang Papa, katena memang faktanya seperti itu. Selama bertahun-tahun dirinya menolak perjodohan yang seharusnya dia terima jika saja dirinya mengetahui sosok gadis yang akan dijodohka dengannya.
"Kamu menyesal?" ucap Harlan kemudian.
"Tentu saja aku menyesal. Aku udah lama menunggu Vania, dan berharap dengan menolak perjodohan itu bisa mendapatkan dia. Tanpa aku tahu, ternyata dia yang papa jodohkan dengan aku." jawab Raja dengan suara lemah.
"Tapi Papa malah menyerah setelah tahu dia dengan Bang Arya?"
"Raja ...
"Sebenarnya anak Papa itu, ... aku apa Bang Arya?" Raja mengucapkannya dengan nada getir.
"Pikiranmu terlalu jauh, dan sudah Papa jelaskan tidak ada hubungannya dengan Arya. Sekalipun dengan orang lain Papa tidak akan memaksakan kehendak."
"Benarkah? tapi kenyataannya nggak seperti yang aku rasakan sekarang. Bukan cuma soal ini, soal perusahaan pun papa begitu."
"Raja ..."
"Pasti Papa akan selalu menjadikan dia prioritas, sekalipun aku memohon untuk diriku sendiri." dan mereka berdua pun terdiam.
Sementara Arya mengurungkan niatnya untuk masuk menemui dua pria di ruangan itu setelah apa yang kembali dia dengar dengan telinganya sendiri.
***
"Bapak sudah bertemu Pak Harlan dan Pak Raja?" Cindy yang muncul kemudian.
"Belum, sepertinya mereka sedang berdiskusi, dan ... saya tidak berani masuk sekarang jadi, ... saya titip ini untuk kamu serahkan nanti ya?" Arya menyerahkan sketsa rancangan gedung yang sudah dia rampungkan minggu itu.
"Baik pak."
__ADS_1
"Kalau begitu saya pulang duluan?" pamit Arya.
"Baik Pak."
🌺
🌺
"Aku pikir kamu nggak jadi ikut? dari kemarin nggak ada kabar." Alena membantu Vania memasukan travel bag berisi beberapa potong pakaian gantinya ke bagian belakang mobil Hardi. Pasangan itu sengaja menjemputnya langsung ke kios pada Jum'at sore setelah mendapat pesan di siang harinya.
"Setelah aku pikir-pikir, kayaknya aku butuh liburan. Pusing juga kalau ngurusin kerjaan terus." Vania mengikuti sahabatnya masuk kedalam mobil setelah yakin semuanya aman.
"Memang." Alena melirik ke arah suaminya yang sudah menunggu dibalik kemudi.
"Kak Alya sama kak Anna?" Vania melihat sekeliling.
"Mereka udah duluan. Apalagi kak Alya, udah nggak sabar. Maklum, setelah melahirkan nggak sempet kemana-mana." Alena tertawa.
"Haha, ... iya ya?"
"Hmm ... terus, kedai kamu gimana kalau ditinggal pergi?"
"Nggak gimana-gimana, aku serahin sama Mimi."
"Weekend biasanya ramai kan?" sahut Hardi dari balik kemudi.
"Iya, tapi udah aku liburin sampai minggu, siapa tahu mereka butuh liburan juga kan? sejak buka belum ada yang libur, kasihan."
"Enak ya, kalau usaha sendiri. Semuanya terserah kita. Nggak nunggu ijin bos."
"Iya, kan kita sendiri bos nya." jawab Vania.
"Iya, Bang Arya tuh, susah bener mau ambil libur sehari aja, kadang sabtu minggu juga masih aja kerja. Kemarin jawabnya gitu pas aku ajak lagi."
"Ng ... masa?" Vania menatap layar ponselnya, berharap pria yang sedang dibicarakan sahabatnya mengirimkan pesan. Tapi nihil, pria itu bahkan tidak mengabarinya setelah beberapa hari.
"Iya, kadang aku kasihan. Bang Arya masih harus gitu aja, padahal harusnya udah santai."
"Iya juga." Vania merespon. "Jadi ... abang nggak ikut ya?" dia memalingkan perhatian dari ponsel, kemudian menoleh ke arah gedung tempat Arya bekerja saat mobil yang mereka tumpangi melewati tempat itu.
"Nggak kayaknya. Udah aku telfon juga tadi, jawabnya tetep aja lagi banyak kerjaan. Apalagi Om Harlan lagi sering datang kesini kan?" Alena menjawab.
"Hmm ..." Vania mengangguk-anggukan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arya tertegun di depan kedai saat dia tiba disana, tempat itu tampak sepi dan tidak ada tanda-tanda keberadaan siapapun. Pemiliknya bahkan tak berada disana, padahal gadis itu biasanya tidak pernah absen berjualan meski hujan badai sekalipun. Papan kecil bertuliskan 'Tutup' terpasang di depan rollingdoor, menandakan bahwa tempat itu memang tidak beroperasi.
Pria itu mencoba melakukan panggilan telfon ke nomer Vania, namun beberapa kali mendapatkan penolakan.
"Kenapa dia ini?" Arya bergumam sambil menatap layar ponselnya, kemudian dia kembali melakukan panggilan telfon.
"Ish, ... ada masalah apa?" gumamnya lagi.
[ Angkat Van. Kamu dimana? kenapa kedainya tutup?] Arya mengirimkan pesan.
Tidak ada balasan.
[Vania, ada masalah?]
Masih tak ada jawaban.
[Kamu marah sama abang? abang ada salah?] Arya mulai panik, namun Vania masih belum menjawab pesannya.
"Ish, ..." Arya mengusap wajahnya dengan kasar.
Namun pria itu mengerutkan dahi ketika melihat status whatsapp Alena, dimana wajah Vania terpampang bersama dua balita kesayangannya. Membuat Arya segera melakukan panggilan telfon ke nomor adik bungsunya tersebut.
"Kalian mau kemana?" Arya bertanya.
"Ke Lembang, kan kemarin udah aku bilang mau liburan." Alena menjawab.
"Kok Vania ikut?"
"Ikutlah, kan aku ajak." jawab dari seberang lagi.
"Ng ...
"Abang masih sibuk?"
"Mm ... ma-masih."
"Yah, ... nggak bisa nyusul dong?"
"Eee ...
"Udahan dulu ya? ini Alea nangis. Nanti telfon lagi kalau abang udah santai." kemudian sambungan terputus.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
jangan lupa like komen sama hadiahnya ya
Hayo, ...
nyusul nggak?
nyusul nggak?
nyusul nggak?
__ADS_1
nyusul lah masa nggak? 🤣🤣🤣