Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Waktu


__ADS_3

🌺


🌺


Vania tiba di gedung itu pada jam makan siang, seperti biasa. Menyerahkan pesanan yang setiap hari dia antar kepada ofice boy yang sudah menunggu di pintu masuk.


Cindy muncul untuk memberikan uang pembayaran minggu itu.


"Makasiih,


"Iya, sama-sama."


Vania mengedarkan pandangannya pada ruangan besar itu, beberapa pegawai nampak mulai turun lewat lift untuk mengambil istirahat mereka.


"Pak Arya ada?" dia bertanya kepada Cindy.


"Ada."


"Nggak titip pesen gitu?" Vania bertanya.


"Buat siapa?"


"Buat saya."


Cindy mengerutkan dahi.


"Pak Arya kan biasanya nyuruh saya keruangannya? lagian ini saya bawa makan siang buat dia." Vania menunjukkan totebag ditangannya yang berisi kotak makan siang khusus untuk pria itu.


"Oh, nggak tuh. Tapi kalau itu buat pak Arya, sini biar saya aja yang kasih." Cindy mengulurkan tangannya.


Vania tertegun.


"Soalnya Pak Arya nggak bisa turun, kerjaannya banyak." lanjut Cindy.


"Kalau gitu, bisa nggak kalau saya yang ke atas?" Vania berucap.


"Duh, saya nggak berani ngijinin, nggak ada perintah soalnya." jawab Cindy.


"Gitu ya?"


Perempuan itu mengangguk.


"Ya udah deh, saya titip ini aja." Vania menyerahkan totebag di tangannya.


"Baik." Cindy menerima benda tersebut.


Bersamaan dengan itu Arya keluar dari dalam lift dengan tergesa.


"Saya minta jadwal nanti sore diulang, saya harus pergi ..." pria itu berhenti tepat dibelakang Cindy.


"Ya pak?"


"Saya ada keperluan sebentar, ... saya minta jadwal sore ini diundur sampai besok." ulamg Arya, kemudian dia melirik kepada gadis yang membeku di dapan asistennya.


"Kamu antar makan siang?" sapa Arya kepadanya.


"Mm ... iya bang." jawab Vania, agak terbata.


Pria itu menganggukan kepala.


"Saya harus pergi, Cindy." katanya, kemudian berjalan ke arah pintu.


"Tu-tunggu." ucap Vania, seraya berjalan tergesa untuk mengejar pria itu hingga keluar gedung.


"Abang?" panggilnya saat mereka telah berada di tempat parkir.


"Ya?" Arya berhenti kemudian memutar tubuh.


"Bisa kita bicara sebentar?" Vania menghampiri.


"Tidak ada waktu, abang harus pergi." Arya kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir di ujung area.


"Tapi bang, aku butuh bicara." Vania mengejarnya.


"Nanti, abang harus pergi dulu." Arya tak menghiraukan.


"Beberapa hari kita nggak ketemu, dan nggak saling mengabari." dia berusaha menahan kepergian pria itu.


"Apa abang marah?" Vania setengah berteriak.


Arya menghentikan langkahnya tepat di dekat mobil miliknnya, kemudian berbalik.


"Marah?"


Vania menganggukan kepala.


"Marah kepada siapa?" Arya bertanya.


"Sama aku?"


"Kenapa abang harus marah sama kamu?"


"Nggak tahu, mungkin karena obrolan kita yang terakhir?" dia menjawab.


"Yang mana?" Arya mengingat.


"Semua." ucap Vania. "Apa aku salah?"


Kini Arya yang terdiam.


"Abang nggak menghubungi aku sejak itu. Ngirim pesanpun nggak, kita bahkan nggak ketemu setelah itu. Apa ada yag salah?" dia mendekat.


"Menurut kamu?" pria itu menjawab.


"Menurut kamu ada yang salah tidak dengan percakapan kita yang terakhir?" Arya balik bertanya, membuat gadis di hadapannya mengerutkan dahi.


"Ng ... nggak, tapi ...


"Terus kenapa kamu bertanya seperti itu?" pria itu melipat kedua tangannya di dada.


"Aku cuma ..." Vania menatap wajah Arya lekat-lekat. "Karena abang nggak menghubungi aku sejak itu. Apalagi sikap abang yang kayak gini, waktu kita ketemu di kedai juga abang gitu? Aku jadi ngiranya abang marah."


Arya menghembuskan napasnya dengan keras.

__ADS_1


"Bukannya kamu sendiri yang meminta hubungan seperti ini?" pria itu berucap.


"Kamu yang meminta abang untuk bersikap biasa saja, dan tidak mencolok? kamu kan yang menginginkan hubungan seperti ini?" katanya.


Vania bungkam.


"Abang sedang mencoba untuk mengikuti kemauan kamu, dan berusaha untuk tidak terlalu terbawa perasaan, karena apa? karena abang tidak mau memaksakan kehendak terhadap kamu. Karena abang seperti sedang memaksa kamu untuk masuk kedalam hubungan ini. Dan rasanya tidak enak, ketika kamu ingin berhubungan serius dengan seseorang tapi orang itu sepertinya tidak seserius kamu."


"Jadi, ... abang sedang mencoba untuk bersikap biasa saja. Lagipula abang sedang tidak punya waktu untuk berbasa-basi, banyak hal yang harus abang kerjakan, dan menunggu untuk di selesaikan. Sama sepeti kamu, yang memikirkan banyak hal untuk dilakukan." katanya.


Pria itu menarik dan menghembuskan napasnya lagi, namun kini lebih tenang.


"Tapi aku mau bicara." gumam Vania dengan suara bergetar.


"Apalagi yang harus dibicarakan? bukankah pembicaraan waktu itu sudah cukup jelas? karena terlalu banyak bicara juga tidak akan membuahkan hasil apa-apa kan? ujung-ujungnya abang tetap harus bersabar menunggu kamu. Jadi, ... ya sudah, ... kita seperti ini dulu. Abang akan menunggu sampai kamu siap, dan lusemoga abang tidak harus menunggu terlalu lama." katanya kemudian berbalik.


"Bang, ..." Vania meraih tanga pria itu untuk menghentikannya, dan disaat yang sama ponsel milik Arya berdering.


"Ya?" pria itu menjawab panggilan telfon.


"...


"Abang sekarang kesana, tunggu." katanya, lalu mematikan sambungan.


"Bang?"


"Abang harus kerumah sakit, Alya mau melahirkan. Dia menunggu abang." katanya,kemudian masuk kedalam mobil.


Vania kembali tertegun, namun sesaat kemudian dia tersadar.


"Aku ikut." gadis itu mengejar mobil yang mulai bergerak.


🌺


🌺


Mereka berlari di lorong rumah sakit di tengah kota, dan tiba pada saat terakhir semua orang telah berkumpul di depan ruang persalinan.


"Bagaimana? ..." Arya menghampiri Alena yang menunggu di dekat pintu.


"Dia mau Abang." jawab sang adik bungsu, yang kemudian membiarkan kakak laki-lakinya itu masuk kedalam ruangan.


Beberapa saat kemudian suara tangis bayi terdengar nyaring, dan mereka yang menunggu diluar menghela napas lega hampir bersamaan.


"Satu lagi anak ayah ..." Alena bergumam sambil menempelkan kepalanya pada dinding rumah sakit.


"Kayaknya, semua bayi adiknya Bang Arya mau dia yang nungguin." Vania ikut bergumam, kemudian terkekeh.


"Oh iya, gimana bisa kamu datang sama Bang Arya?" Alena baru menyadari kehadiran Vania diantara mereka.


"Aku ... kebetulan tadi mengantar makan siang " jawab Vania.


"Oh, ..."


Kemudian perhatian semua orang teralihkan ketika pintu ruang persalinan terbuka, dan Arya muncul mendekap bayi Alya yang baru saja dilahirkan, diikuti Rasya dibelakang.


"Bayinya perempuan, ..." ucap pria itu dengan raut haru.


Kedua adik perempuannya datang menghampiri dan melihat bayi dalam dekapan kakak laki-laki mereka. Ketiganya menyambut dengan begitu bahagia kehadiran bayi mungil itu, kasih sayang yang besar terpancar begitu saja dari mereka. Terutama Arya, yang tak mau melepaskan pandanganya sedikitpun dari makhluk kecil tersebut.


***


"Tidak apa-apa kalau abang tinggal pulang?" Arya muncul setelah mengantarkan bayi yang dilahirkan Alya ke ruang khusus bayi.


"Banyak yang harus abang persiapkan untuk besok." lanjutnya.


"Nggak apa-apa. Nanti malam Mas Rasya kembali kesini kok." jawab Alya yang masih terbaring di tempat tidurnya.


"Kalian?" tanya Arya kepada dua adiknya yang lain, yang duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur Alya, dia juga melirik Vania sekilas yang duduk di sisi lainnya.


"Aku ikut pulang, kasihan Kak Hardi jaga anak-anak sendirian." Alena bangkit dari duduknya, "Besok aku balik kesini lagi ya kak?" katanya kepada sang kakak.


"Oke." Alya pun mengangguk.


"Kamu Ann?"


"Aku nunggu Kang Rendra jemput aja bang." jawab Anna.


"Baiklah kalau begitu."


Mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Kamu, ... Van?" kini dia beralih kepada Vania yang duduk membatu seolah menunggu sesuatu.


"Aku ... ng ...


"Ikut aja sekalian, kamu nggak bawa mobil kan?" Alena berucap.


"Mobilku di ... parkiran kantor abang." jawab Vania yang dengan ragu melirik kearah Arya.


"Ya udah ikut aja, nanti sekalian mampir bawa mobil." ulang Alena.


Vania melirik lagi ke arah pria itu, yang tampak tak bereaksi.


Ah, ... dia serius rupanya. Tapi mengapa aku merasa tak rela? dia membatin.


"Cepetan, udah sore!" Alena segera menariknya untuk meninggalkan tempat tersebut.


***


Suasana terasa hening didalam mobil pada perjalanan pulang sore itu. Tak ada satupun diantara mereka yang berniat memulai percakapan, terutama sepasang kekasih yang tengah dilanda kegamangan pada hubungan mereka yang baru berumur hitungan minggu.


Dua hati yang saling bertaut, namun tengah saling menghindar karena keraguan yang mulai tumbuh diantara keduanya.


"Merasa nggak sih, kalau akhir-akhir ini ada yang aneh?" akhirnya Alena buka suara.


"Aneh apanya?" Arya yang menjawab.


"Kalian lagi ada masalah ya?" Alena melontarkan pertanyaan.


"Masalah apa?" Arya balik bertanya.


"Ya nggak tahu, tapi kayaknya kalian lagi ada masalah?"

__ADS_1


"Kamu ngaco." pria itu bergumam, namum kedua matanya melirik gadis yang duduk si kursi belakang, yang secara kebetulan si gadis pun tengah menatap ke arahnya.


"Kalian akhir-akhir ini jarang berantem? tapi banyakan diem-dieman kayak gini.?" Alena dengan pemikirannya.


Tak ada yang menjawab.


"Nah kan? pada diem? kadang kalian kelihatan kayak pacar yang lagi marahan." perempuan itu tergelak.


Vania mengulum bibirnya kuat-kuat.


"Pikiran aku kok kesana melulu ya?" lanjutnya, kemudian dia terdiam.


Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah mungilnya, dan suaminya langsung datang menyambut, bersama dua anaknya yang dia tinggalkan sejak siang.


"Kalian mau mampir?"


"Nggak." dua orang itu menjawab bersamaan.


"Dih? kompakan?" Alena menyeringai.


Mereka tak bereaksi.


"Apa ada yang aku nggak tahu?" tanyanya kemudian.


Keduanya bungkam.


"Ish, ... kalian aneh?" gumamnya, kemudian meninggalkan mobil tersebut untuk masuk kedalam rumah, sebelum anak pertamanya merengek ingin ikut kepada Arya.


***


Dan kendaraan roda empat itu berbelok ke area gedung tempat Arya bekerja setelah beberapa menit menempuh perjalanan dalam keheningan, karena kedua orang tersebut masih tak saling bicara.


Mobil berhenti persis di samping Honda jazz milik Vania, dan mereka masih sama-sama bungkam. Arya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, dengan pikirannya yang menerawang jauh.


"Kamu kalau sudah siap kasih tahu abang ya? atau ... kalau memang belum mau serius lebih baik jujur dari sekarang, dari pada salah satu dari kita merasa terpaksa menjalani hubungan ini. Bukankah sebuah hungan itu seharusnya membuat bahagia karena kebersamaannya? bukan malah merasa takut diketahui oleh orang lain." akhirnya Arya buka suara.


Vania meremat celananya sendiri, dan dia hampir saja berbicara.


"Abang membebaskanmu untuk menentukan pilihan, jika memang kita tidak bisa bersama seperti yang abang mau. Karena faktanya pemikiran kita memang berbeda. Kamu punya hak untuk memilih, dan abang tidak akan memaksa."


Tetesan air menyeruak dari sudut mata Vania, dan meleleh mengaliri pipi. Dia merasa sesuatu seperti mengganjal tenggorokannya, membuatnya merasa sakit dan sesak.


Mengapa ini rasanya seperti dia sedang memutuskan untuk berpisah? batin Vania.


"Mungkin abang yang terlalu cepat memutuskan untuk menjalani hubungam serius, sementara kamu masih butuh waktu." pria itu masih terus berbicara.


"Maafkan abang, karena rasa sayang ini membuat abang merasa ingin memiliki kamu." ucapnya, dan dia segera turun dari mobil.


"Sudah sore, kamu masih harus mengerjakan banyak hal bukan?" dia membukakan pintu belakang dimana Vania duduk membeku.


"Mmm ... apa kita putus?" Vania keluar dari dalam mobil setelah menyeka air matanya.


"Bukan putus," Arya terkekeh getir, karena kata itu baru saja melintas di pikirannya. "Abang hanya akan memberikanmu waktu sebanyak yang kamu butuh. Dan jika kamu sudah yakin, beri tahu abang. Kita akan memutuskan langkah selanjutnya nanti."


"Jadi artinya apa? kita break dulu?"


Arya menggendikan bahu.


"Kalau aku kangen gimana?"


Pria itu tertegun.


"Kalau abang kangen gimana?" ucapnya, spontan.


Arya terkekeh lagi. "Kamu kepedean." katanya.


"Emang abang nggak bakalan kangen aku gitu?" rajuk Vania.


Arya mengulum senyum, bahkan dalam keadaan seperti ini gadis itu masih bisa membuatnya merasa gemas.


"Abang bisa datang ke kedai kalau kangen."


"Abang 'kan lagi sibuk? udah seminggu ini nggak datang?"


"Atau abang bisa menelfon."


"Abang juga nggak nelfon." sergah Vania, dan dia menatap Arya dengan manik kelamnya yang berbinar. "Abang sibuk sampai nggak bisa bahkan untuk ngechat aku sekali aja dalam seminggu." ucapannya terdengar seperti sebuah sindiran.


Arya tergelak hingga wajahnya terdongak keatas. Dia tak pernah memikirkan hal tersebut. Kesendiriannya selama ini membuatnya tak mempedulikan beberapa hal, termasuk menghubungi kekasihnya, karena kebiasaannya selama ini adalah hanya memastikan keadaan ketiga adiknya baik-baik saja.


"Jadi, ... gimana selanjutnya?" tanya Vania.


"Ambillah waktu sebanyak yang kamu butuhkan, setelah itu kita bicara lagi." Arya tetap dengan pendiriannya.


"Terus abang?"


"Abang akan menunggu. Sambil berusaha memantaskan diri." Arya berujar.


Kemudian secara tiba-tiba Vania menghambur kedalam pelukannya, melingkarkan kedua tangannya di tubuh pria tinggi itu. Dan menenggelamkan wajah pada dada bidangnya, yang jantung di dalamnya berdegup begitu kencang.


"Maaf, aku nggak bisa jadi apa yang abang mau." dia berbisik.


Arya membalas pelukannya tak kalah erat.


Kemudian Vania melepaskan kedua tangan dan memundurkan wajahnya untuk menatap wajah Arya yang tertunduk kepadanya.


"Aku sayang sama abang. Tunggu aku menyelesaikan urusanku." katanya, saat dia bertekad dalam hati untuk kembali berbicara kepada ibunya tentang perjodohan.


Arya mengangguk.


Dan di detik berikutnya Vania mengulurkan kedua tangannya untuk meraih bahu kokoh pria itu. Dia berjinjit untuk mensejajarkan tinggi tubuh mereka, dan kemudian menarik lehernya. Dan segera setelah itu, kedua bibir mereka bertemu. Bersentuhan dengan lembut, dan saling mengecap untuk beberapa saat.


Vania bahkan merangkum wajah Arya untuk memperdalam ciumannya, saling menyesap dan berbagi napas, bertukar kehangatan yang segera menjalar ke segala arah. Meninggalkan jejak yang mungkin tidak aka bisa mereka lupakan untuk waktu yang lama.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


selamat hari Minggu. 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2