
🌺
🌺
Arya tidak bisa berhenti memperhatikan adik perempuannya yang baru saja selesai berias, Anna tampil sangat cantik pagi itu.
Dengan kebaya semi modern berwarna putih berpadu dengan kain batik bercorak indah berwarna dasar putih pula untuk acara akad, membuatnya terlihat bagaikan sang dewi yang baru saja turun dari khayangan.
Tidal lupa dengan mahkota di kepala, siger berpadu dengan rangkaian bunga melati menambah kecantikannya sebagai pengantin bertambah berkali lipat.
"Jangan nangis terus, nanti make upnya luntur." ucap Arya, ketika mereka baru saja akan keuar dari rumah. Dan sang adik yang belum berhenti terisak.
"Nanti abang gimana?" lirih Anna.
"Jangan pikirkan abang, sekarang pernikahanmu. Berbahagialah." katanya. Kemudian dia menggandeng tangan gadis itu hingga masuk kedalam mobil, dan rombongan pengantin perempuan pun segera pergi menuju kafe milik Melly, dimana resepsi akan berlangsung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Iring-iringan calon mempelai pria tiba satu jam setelah calon mempelai perempuan. Disambut dengan prosesi adat seperti biasa. Didalam bangunan kafe tersebut yang disulap sedemikian rupa, hingga menyerupai sebuah taman yang indah, dengan dekorasi dan hiasan khas out door yang santai namun elegan, membuat para tamu undangan betah untuk berlama-lama disana.
Kali ini Alena yang mendampingi Arya untuk menyambut calon pengantin pria di pintu masuk, dengan berbagai adegan bermakna penerimaan keluarga mereka terhadap sang calon pengantin pria.
Sambutan demi sambutan dari beberapa orang yang cukup penting berlangsung dengan khidmat. Saling melepas anak mereka untuk menyongsong kehidupan yang baru sebagai pasanga suami istri. Tak lupa pula mereka menyisipkan pesan untuk keduanya agar mampu menghadapi permasalahan rumah tangga yang mungkin akan datang nanti.
"Rendra, tidak ada hal lain yang akan saya ucapkan selain menitipkan adik saya kepadamu. Sebentar lagi dia akan menjadi makmummu, dan menjadi orang yang paling dekat denganmu. Maka, saya akan meminta agar kamu menjaga dia, menyayangi dia, dan mengasihinya seperti saya kepadanya. Sekarang tanggung jawab itu saya serahkan kepadamu, agar mampu mendidik dia sebagai mana mestinya. Perlakukan dia dengan baik, jangan pernah menyakitinya apapun yang terjadi. Berbahagialah, karena kini kalian benar-benar akan bersama, dan kami berharap untuk selamanya, hingga maut yang memisahkan." Arya mengakhiri pidatonya di depan khalayak, yang kembali membuat tangis haru pecah diantara mereka.
Bagaimana tidak, disaat hal itu seharusnya dilakukan oleh ayah sebagai kepala keluarga, namun justru dalam hal ini, dialah sebagai kakak laki-laki paling tua dan satu-satunya di keluarga, yang mengambil tanggung jawab itu dengan tegar.
Semua orang tahu, betapa keras perjuangannya hingga mereka sampai ke titik ini. Maka, tidak ada hal lain yang mereka rasakan selain haru, bahagia dan sedih yang bercampur menjadi satu.
"Saudara Rendra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya, Anna Mariana Binti Suryapradja, dengan mas kawin 25 gram emas dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Anna Mariana Binti Suryapradja dengan mas kawin tersebut, tu-nai." Rendra mengucapkannya dengan lantang.
"SAH!!" semua orang pun berteriak lantang, membuat keadaan di dalam bangunan kafe tersebut riuh. Disusul tepuk tangan dan ucapan lega dan bahagia membuat suasana semakin meriah.
***
"Selamat!" Harlan tiba beberapa saat kemudian. Bersama Raja, yang hari itu berpenampilan sangat rapi.
"Terimakasih pak sudah datang." Arya menyalaminya dengan hormat.
"Semoga, setelah ini kamu menyususl." ucap Harlan, kemudian tergelak.
"Ah, ... terimakasih doanya pak." Arya pun tertawa.
Kemudian pria itu, bersama putranya yang tak banyak bicara beralih menyalami pengantin dan kedua orang tua disamping mereka.
***
Raja menghampiri Vania yang tengah disibukan oleh banyak hal. Acara yang semakin siang berlangsung semakin meriah membuatnya terus bersiaga. Memeriksa makanan, tempat, dan hal-hal penting lainnya.
"Sibuk bu?" sapanya ketika jarak mereka sudah dekat.
"Oh, ... hai kak? lumayan." jawab Vania, lalu tertawa.
"Ih, kangen deh lihat kamu ketawa kayak gitu?" ucap Raja.
"Lah, ... datang-datang udah gombal?"
"Bukan gombal, ini mah jujur."
Vania tertawa lagi.
"Berapa minggu nggak ketemu ya?"
"Belum sampai sebulan lah."
"Iya, tapi kangen."
"Salah sendiri, nggak datang ke kedai, padahal biasanya datang buat makan siang?"
"Sengaja."
"Kenapa?"
"Soalnya aku lagi patah hati. Kalau ketemu kamu lagi, bisa berharap lagi." Raja berujar.
Vania tertegun mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Canda Van, ..." pria itu tergelak, "Aku sibuk, banyak kerjaan. Bolak-balik ke Jakarta juga ngikutin Papa, biasalah ..." katanya kemudian.
"Ish, ... kak Raja bikin galau deh, juga bikin aku merasa bersalah."
"Nggak usah galau, apalagi merasa bersalah."
"Kak Raja nggak apa-apa?" Vania kemudian bertanya.
"Nggak. Aku baik-baik aja, apalagi setelah ketemu kamu. Makin baik." dia tertawa lagi.
Vania hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kamu cantik Van." Raja berucap lagi, menatap gadis itu yang memang berpelanmpilan berbeda. Gaun hitam selutut yang menjadi kostumnya sebagai wedding planer hari itu membuatnya terlihat cantik, ditambah make up khas yang menambah pesonanya. Sederhana, namun memikat. Apalagi dengan rambut hitam panjangnya yang ditata sedikit bergelombang, membuat Vania terlihat lebih anggun dari biasanya.
"Kakak bisa aja?"
"Serius." ucap Raja.
"Makasih kalau gitu, aku berusaha untuk nggak merusak dandanan, biar dikira perempuan beneran." kini Vania yang tergelak.
"Kamu ada-ada aja. Memangnya kamu perempuan jadi-jadian ya?"
"Kan nggak biasa dandan kak."
"Oh, iya lupa. Kamu kan sibuk di dapur terus bikin makananan ya?"
"Gitulah ..."
"Oh iya, maaf kak. Aku nggak bisa nemenin kak Raja lama-lama, banyak yang mesti aku cek." Vania berucap.
__ADS_1
"Oh, ... oke."
"Nanti kita ngobrol lagi ya?" Vania yang kemudian pergi meninggalkan pria itu.
"Ng .. iya. Oke." Raja mengangguk sambil menatap kepergiannya.
"Itu gadisnya?" Harlan menepuk bahu putranya saat dia melihat Raja berlama-lama menatap seorang gadis yang berlalu dari hadapannya.
"Iya. Tapi sayangnya dia nggak mau." jawab Raja.
"Kenapa?"
"Udah punya cowok kayaknya." katanya dengan nada sendu.
"Ya sudah, sebaiknya kamu dengarkan Papa." ucap Harlan.
"Hum?" Raja menoleh kepada sang ayah.
"Anak teman Papa sepertinya masih singel, baru saja Papa ketemu ibunya."
"Masa? ketemu disini?"
"Iya."
"Dia pe...
"Ogah, ... nanti aja lagi." Raja meninggalkan sang ayah yang hampir saja melanjutkan ucapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pestanya meriah ya? banyak yang datang?" Hardi menjatuhkan bokongnya di kursi, setelah menyambut beberapa tamu yang dia kenal. Sebagian adalah teman semasa magang di kantor tempat Arya bekerja dulu.
"Lumayan." Jawab Alena yang betah mendekap putrinya, menatap pelaminan dimana kakaknya berada.
"Kamu mau nggak, pesta kayak gini?" Hardi berujar.
"Buat apa?" Alena menoleh.
"Ya kali aja kamu mau, dulu kan pas kita nikah ngga ada pesta. Cuma akad doang?"
"Ng ... nggak." jawab Alena.
"Sekarang aku mampu kalau cuma pesta kaya gini."
"Nggak kak. Lagian malu, anak kita udah dua gini masa mau ngadain pesta. Repot kali?"
Hardi tergelak, "Ya kali aja kamu mau, kakak kamu dua duanya kan nikahannya pake pesta. Cuma kita yang nggak."
"Nggak ah, ...sayang duitnya. Kalau ada, sini kasih aku aja duitnya, mau aku tabung buat sekolahnya anak-anak." dia menengadahkan sebelah tangannya kepada Hardi.
"Dih? malah minta duit?" cibir pria itu.
"Ya, daripada buat pesta, mending kasih ke aku." ucap Alena.
"Dasar ibu-ibu." gumam Hardi.
"Emang, kan ibu dari anak-anak kamu." tukas Alena, kemudian mereka tertawa.
"Baru datang lu?"
"Hmm ...
"Om Harlan?"
"Lagi ketemu orang." Raja menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Oh, ...
"Menurut lu, gue mesti nurutin apa kata Papa atau jangan?" Raja tiba-tiba berbicara.
"Soal apa?"
"Soal perjodohan."
"Serah lu."
"Tapi gue suka sama orang lain."
"Ya udah, nggak usah."
"Tapi cewek itu kayaknya udah punya cowok."
Hardi menatap wajah sahabatnya itu dengan raut aneh.
"Jadinya gimana?"
"Ikutin perasaan lu aja." ucap Hardi setelahnya.
"Gue nolak perjodohan, terus ngejar cewek itu?" Raja dengan tatapannya yang tak dia lepaskan dari Vania.
"Kalau hati lu maunya gitu." jawab Hardi.
"Biar dia udah punya cowok?"
Hardi menganggukan kepala.
"Pebinor dong gue?"
"Alah, ... sebelum janur kuning melengkung tuh cewek masih milik bersama. Kalau dia udah nikah baru lu nggak boleh ambil tindakan." Hardi berujar.
"Gitu ya?"
"Enak aja?" Alena bereaksi setelah mendengar percakapan dua sahabat di sampingnya.
"Apaan?"
"Istilah darimana itu sebelum janur kuning melengkung dia masih milik bersama?"
"Orang-orang pada bilang gitu."
__ADS_1
"Kalian salah, kalau bisa cari yamg singel aja, kayak nggak ada cewek lain aja mau rebut pacar orang?" ucap Alena.
"Dih, dia nggak nyadar dulu juga macarin pacar orang?" Raja bergumam.
"Ya justru itu, udah ngerasain nggak enaknya. Ribet!" sergah Alena.
"Ya nggak rebut juga Yang, ... cuma berusaha aja gitu."
"Sama aja kak. Gangguin hubungan orang lain itu nggak baik."
"Kalau dulu gitu, sekarang kita nggak akan sama-sama dong?" goda Hardi kepadanya.
"Itu beda."
"Sama aja."
"Beda lah."
"Sama. Yang penting jangan memaksakan kehendak, selama dalam batas wajar aja nggak apa-apa. Tapi harus siap juga sama resikonya."
"Resiko apa?" Raja menyela.
"Resiko kalau setelah lu berusaha bikin dia berpaling dari cowoknya tapi ternyata tetep nggak berhasil. Dan lu patah hati lagi." Hardi tergelak.
"Sialan lu!" Raja menendang kaki sahabatnya itu yang berada dibawah meja.
"Ya ... setiap hal ada resikonya Ja. Emang lu pikir punya rasa sayang ke orang bisa segampang itu? nggak kali. Dan lu nggak akan tahu hasilnya kayak gimana setelah lu berusaha dengan keras. Karena yang menentukan semuanya bukan lu."
"Dih, ... omongan lu udah kayak bapak-bapak."
"Ya emang gue udah bapak-bapak, ... bapak dari anak-anak gue." dia tergelak lagi.
Raja hanya mencebik.
🌺
🌺
Vania tersentak ketika sepasang tangan kekar melingkar di pundaknya dengan erat. Dia kemudian menoleh, dan wajah familiar itu sedang tersenyum di belakangnya.
"Abang ..." ucapnya, sambil melihat sekeliling. Kini mereka berada di area belakang kafe dimana keadaan sudah agak sepi pada sore itu.
"Masih sibuk?" Arya berbisik, tanpa melepaskan rangkukannya dari tubuh sang kekasih.
"Nggak, cuma lagi ngecek beberapa hal." Vania sedang berusaha melepaskan diri. Dia khawatir seseorang memergoki mereka saat itu.
"Beresnya kapan?" Arya menahan tangan Vania saat dirinya menyadari gadis itu tengah berusaha melepaskan diri.
"Ng ... nggak tahu, mungkin sebentar lagi." Jawab Vania dengan gugup.
"Mau pergi?"
"Kemana?"
"Kemana saja, abang sudah pamit kepada adik-adik."
"Lho? kan acaranya belum beres?" Vania menatap jam di pergelangan tangan kekasihnya.
"Sebentar lagi beres, dan kalau acara malam kan acara khusus mereka." tukas Arya.
"Tapi kan ...
"Kita pergi. Mumpung abang libur sampai besok." Arya berucap.
"Eee ....
"Ayolah, ...
"Tapi aku belum beres."
"Apanya? kamu mau ikut membereskan tempat ini sampai malam?"
"Ya nggak juga."
"Terus?"
"Abang, lepasin dulu. Nanti ada yang lihat." pinta Vania.
"Nggak akan."
"Tapi bang, aku malu ..."
"Asal setelah ini kita pergi."
"Iya, tapi lepas dulu."
"Kita pergi?"
"Iya, iya. Oke."
Arya tersenyum, lalu melepaskan rangkulannya dari Vania, dan gadis itu menjauh.
"Udah aku bilang kan ...
"Kamu sudah janji, setelah pernikahan Anna kita akan membicarakan hal ini dengan serius." pria itu mengingatkan.
"Ya, tapi kan ini belum selesai, acaranya aja masih berlangsung. Abang nggak sabaran banget sih?" protes Vania.
"Kamu yang membuat abang jadi nggak sabar."
Vania memhembuskan napas dengan keras.
🌺
🌺
🌺
Besambung ...
__ADS_1
Apaan bang? 😂😂
Like sama komen juga hadiah dong. 😘😘