
🌺
🌺
"Abang?" Vania menyelinap masuk kedalam ruang kerja saat melihat pintunya sedikit terbuka, dan pria itu yang tampak serius dengan kertas gambar dan alat tulisnya. Sepertinya dia sedang melanjutkan pekerjaannya.
Arya tampak terkejut dan buru-buru membalikan kertas yang tengah dia kerjakan. Menyembunyikan gambar itu dari pandangn istrinya.
"Kok dibalikin? udah beres?" dia berjalan menghampirinya.
Arya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Terus kenapa dibalik?" Vania bertanya, Namun pria itu tak menjawab.
"Hmmm... main rahasia-rahasiaan?" Vania meraih kertas gambar tersebut bermaksud untuk melihatnya.
"Jangan dulu Van, belum selesai." Arya mencoba menghentikannya. Namun terlambat, perempuan itu sudah melihatnya.
"Mmm... gambar ini? aku udah lihat kok, apa masalahnya?" perempuan itu kemudian menoleh.
"Hum?" Arya mengerutkan dahi hingga kedua alisnya terlihat saling bertautan.
Vania tersenyum menatap gambar hasil rancangan suaminya. Sketsa sebuah bangunan dengan denah dan beberapa desain pendukungnya. Ruangan-ruangan khusus dengan nama dan kegunaannya, juga tata letak dan posisi barang dan perabotan yang biasanya ada di dalam sebuah bangunan usaha kuliner seperti kedai miliknya. Tidak lupa di depannya tulisan 'Kedai Vania' yang menjadi titik utamanya, yang terlihat berada tepat diatas pintu masuk.
Lalu di kertas lainnya dia melihat sketsa yang terlihat lebih rumit lagi, dengan angka-angka dan kode yang tidak dia mengerti.
"Ini untuk kedai aku ya?" ucapnya, dan dia merangkul pundak suaminya yang duduk di depan meja miring miliknya.
"Begitulah, ... seharusnya ini untuk kejutan, tapi karena kamu sudah melihatnya, ... jadi bukan kejutan lagi kan?" Arya terkekeh.
"Kejutan apaan? dari kemarin-kemarin juga aku udah lihat." dia berujar. "Ups." Namun segera menutup mulut dengan sebelah tangannya.
"Masa?"
"Hu'um, ..." Vania mengangguk, lalu dia tertawa.
"Yah, ... abang gagal dong ya?" Arya tergelak.
"Nggak gagal, ... aku suka gambarnya." ucapnya.
"Benarkah?"
"Hu'um, ... kapan aku harus mulai renovasinya?" Vania meminta pendapat.
"Tidak tahu, terserah kamu." pria itu menggendikan bahu.
"Berarti kedainya harus aku tutup dulu ya?"
"Kenapa harus tutup?"
"Ya kan mau renovasi, masa di kerjainnya pas lagi banyak tamu? nanti malah ganggu."
"Tidak usah, kita ambil jam malam saja, banyak pekerja yang biasa ambil kerja di jam malam. Jadi siang hari kedai bisa tetap buka."
"Masa? emang bisa?" Vania memiringkan kepala.
"Bisa, dan abang tahu penyedia jasa pekerja khusus seperti itu." Arya mengangguk.
"Hmm... " Vania berpikir sebentar.
__ADS_1
"Tidak akan menghabiskan waktu lama, abang kira satu atau dua minggu saja akan selesai."
"Abang yakin?"
"Tentu saja, mereka profesional."
"Hmmm... ada gunanya juga aku nikah sama abang, ini kalau desainnya pesen di orang lain pasti aku harus bayar mahal? belum lagi abang kenal sama yang kerjanya juga. Ah, hemat dua kali lipat ini, aku nggak harus keluar modal lagi." Vania merangkul pundak pria itu, dan merapatkan kepalanya di dadanya. Membuat Arya sedikit terkejut dengan reaksi perempuan itu.
"Ng...
"Makasih abang, gratis kan? nggak harus bayar untuk desainnya kan?" dia membingkai wajah suaminya, lalu mengecup bibirnya sekilas. Dan dengan segera pula dia melepaskannya, kemudian bermaksud pergi.
"Eh, ..." Arya meraup pinggangnya, kemudian menariknya untuk kembali ke dekatnya. "Siapa bilang gratis?" katanya.
"Maksud abang? aku harus bayar gitu?" Vania mengerutkan dahi.
"Kamu pikir?" pria itu menatap dengan sebelah alis yang dia angkat keatas.
"Aku juga harus bayar desainnya?" dia bertanya.
"Begitulah, ..." jawab Arya, yang sedikit menyentakan kepalanya kesamping.
"Masa sama istri sendiri abang minta bayaran? harusnya gratis dong?" protes Vania.
"Kamu pikir kuliah untuk dapat ilmu seperti itu gratis juga?" pria itu membalikan pernyataan.
"Ya, ... nggak juga sih." perempuan itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Makanya."
"Serius ini aku harus bayar?" Vania meyakinkan.
"Serius." Arya mengangguk.
"Abang perhitungan deh?"
"Bukan masalah perhitungan, kamu tidak tahu untuk membuat desain seperti itu abang harus memeras otak selama berjam-jam."
Vania terdiam untuk berpikir.
"Tapi ngutang dulu ya?" ucap perempuan itu kemudian.
"Ngutang?" Arya membeo.
"Iya, aku bayarnya nanti kalau kedai udah beres dan udah menghasilkan lagi, jadi duit yang sekarang ada mau aku pakai dulu buat beli bahan. Dan lagi, penghasilan kedai yang kemarin udah aku bagi-bagi juga buat bayar pegawai sama belanja bahan. Bayar sewa kios juga, belum lagi mau bayar kios sebelahnya."
Arya mendengarkan dia berbicara.
"Sekalian aja deh sama bayar pekerjanya dari abang dulu ya? nanti aku cicil." katanya, dengan lugunya.
Arya terkekeh keras, dan dia mendongakan wajahnya keatas.
"Ish, ... malah ketawa?" Vania bergumam.
"Abang ini bukan bank tempat peminjaman uang tahu?" Arya berujar.
"Tapi duit abang pasti banyak? gaji dari perusahaan Om Harlan pasti gede kan?" Vania memiringkan kepala.
"Menurut kamu?"
__ADS_1
"Aku yakin gede, masa kerjaan kayak gitu gajinya kecil? kan kemampuan abang udah diatas rata-rata?"
Arya mendengarkan dia terus mengoceh.
"Ya, ... Ngutang dulu?" ucap Vania lagi, dan dia setengah merayu.
"Abang merasa jadi seperti rentenir sekarang ini."
"Ya atuh kalau gitu gratisin aja, sama istri ini?" perempuan itu kembali berujar, dan dia merasa hampir frustasi dengan diskusi ini.
"Tidak mungkin." tukas Arya, yang kembali menarik Vania sehingga kini mereka tak berjarak.
"Ish, ... abang pelit."
Arya tertawa lagi, melihat ekspresinya yang begitu lucu membuatnya tak ingin berhenti mengerjainya.
"Bayarnya bisa dicicil." Arya menatap wajahnya, dan dengan segera pandangan mereka bertemu.
"Kan aku bilang tadi juga gitu?" jawab Vania dengan kesal, namun dia menangkap gelagat aneh dari suaminya yang terus tersenyum.
"Duh, perasaan aku nggak enak nih. Aku curiga ada buntutnya?" Vania perlahan menjauh, namun pria itu mengeratkan rangkulan tangannya, dan kini bahkan dia menyentuh bokongnya.
"Kamu... sudah sembuh 'kan?" Arya berbicara pelan.
"U-udah." Vania menjawab.
"Sudah berapa lama sejak pulang dari rumah sakit?" Arya bertanya.
"Seingat aku, ... sebulan lebih." jawab Vania.
"Apa... kita... sudah bisa melakukannya?" Arya dengan suara rendahnya.
"Ap-apa?"
"Kamu tahu apa yang abang maksud."
"Ng...
"Eh, ...tapi dokter bilang harus tunggu sampai dua bulan ya?" Arya melepaskan rangkulannya.
Vania terdiam.
"Abang lupa, rasanya sudah lama sekali." pria itu terkekeh, kemudian bangkit dari kursinya.
"Jadi?"
"Cicil utangnya nanti saja." ucap pria itu, dan dia melenggang keluar dari ruang kerjanya.
"Ish, ... beneran kayak rentenir?" perempuan itu bergumam.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
Hai kesayangan aku, maaf hari ini telat up, maklum hari minggu itu harinya sibuk. semoga kalian nggak bosen nunggu ya?
__ADS_1
tapi aku nggak akan pernah bosen untuk ingetin kalian biar selalu klik like, komen, juga kirim hadiah. Dan kalau ada kasih votenya juga ya?
lope-lope segudang 😘😘