
🌺
🌺
Arya tak memiliki kata-kata untuk dia ucapkan sebagai jawaban. Dia dan Vania duduk di sofa, seperti remaja yang tertangkap basah telah melakukan kenakalan, sementara ketiga adik perempuannya duduk di depan mereka menunggu sang kakak mengucapkan sesuatu.
"Jadi ..." Alena memecah keheningan.
"Aku nggak ikut-ikutan ya, ini idenya Alena lho. Jangan bawa-bawa aku." Anna mengulang kata-katanya yang dia ucapkan tadi.
"Apaan?"
"Ya kan ini idenya kamu?"
"Kakak udah setuju?"
"Tapi kan ...
"Sudah, sudah ... kenapa ini harus dibesar-besarkan?" Arya bereaksi.
"Seharusnya ini hanya jadi urusan pribadi, tapi kenapa kalian malah ikut-ikutan. Bukannya kalian memang sangat menginginkan abang untuk menemukan jodoh? tapi kenapa ini malah diributkan?" katanya.
"Jadi beneran?" Alena tersenyum lebar.
Pria itu menarik napas dalam.
"Seperti yang kalian tahu ...
"Tapi nggak sejauh itu juga, nggak kayak apa yang kalian pikirin. Aku sama abang cuma ..." Vania menggantung kata-katanya ketika tangan Arya merayap di tangannya, kemudian merematnya dengan lembut, dan adis itu menoleh.
Tampak Arya yang menatapnya, dia menggelengkan kepala dengan pelan, dan seulas senyum terbit di sudut bibirnya. Yang akhirnya membuat Vania menyerah untuk bertahan dengan pendiriannya.
"Sudah mau tiga bulan." Arya menautkan jari-jari mereka berdua.
"Abang tidak tahu kedepannya akan seperti apa tapi, ... abang harap kalian tidak mempermasalahkan soal ini." katanya.
Mereka yang berada di ruangan itu terdiam. Tiga pria di belakang sofa bahkan memilih untuk keluar dari tempat itu, dan membiarkan empat saudara tersebut berbicara dengan tenang.
"Nggak ada masalah soal itu, aku malah seneng kalau misalnya kalian beneran jadian." jawab Alena.
"Tapi kepo nya kalian keterlaluan." Vania menggerutu.
"Cuma dikit." Alena menjawab sambil tertawa.
"Dikit apanya? ngintip sampai segituny?"
"Nggak ngintip, cuma cari tahu doang." sergah Alena.
"Cari tahu kalau ..." gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya. "Duh, malu-maluin. Masa lagi sayang-sayangan di intipin." katanya.
"Emangnya kalian lagi apa tadi subuh?" Alena dengan lugunya.
Vania menurunkan kedua tangannya, kemudian menatap sahabatnya tersebut.
"Aku pikir kalian tadi lagi tidur barengan gitu. Kan bahaya kalau ada setan lewat? aku baru inget pas bangun tidur ngecek kamarnya kamu Van, kamunya nggak ada."
"Kalian nggak denger kejadian tadi?" tanya Vania.
"Nggak." Alena menggelengkan kepala. "Baru juga sampai di dekat tenda udah ketahuan abang. Emangnya lagi ngapain? aku cuma denger abang ngomong mau serius." perempuan itu tertawa.
"Masa?" Vania seakan tidak percaya.
"Suwer."
"Ya udah, seriusin aja sekalian." sambung Anna.
"Apaan?"
"Udah dewasa ini, nunggu apa lagi sih?"
"Baru juga ...
"Nggak apa-apa. Kan udah kenal lama." sahut Alya.
"Hu'um, ..." Alena mengamini ucapan kedua kakak perempuannya.
"Ini yang aku hindari, kalian pasti bakalan bahas soal ini." keluh Vania.
"Ya apalagi?"
"Tidak usah membahas masalah itu sekarang, biarkan dulu seperti ini."
"Tapi bang ..." Alena menahan kata-katanya ketika merasa Anna menyikut lengannya agak keras.
"Ya udah, terserah abang aja. Nggak usah buru-buru juga." ucap Anna.
"Memang, ...
🌺
🌺
Arya menyisir seluruh Villa untuk mencari keberadaan Vania, ketika tak dilihatnya gadis itu selepas sarapan mereka yang masih terasa canggung setelah tertangkap basah pada hampir subuh tadi.
Namun gadis itu dia temukan di halaman samping villa, tengah duduk sendirian di pinggir kolam.
"Ternyata kamu disini?" Arya datang menghampiri.
"Duh, abang mau ngapain lagi?" keluh Vania, dia masih merasa malu untuk berdekatan dengan kekasihnya di sekitar adik perempuannya.
__ADS_1
"Abang cari kamu kemana-mana, tahunya disini?"
"Iya, terus mau apa?"
"Tidak ada, ... " pria itu duduk disampingnya, memasukan kedua kakinya kedalam air seperti Vania.
"Orang-orang pada kemana? tumben sepi." Vania melihat kebelakang.
"Pergi."
"Pergi?" Vania membeo.
Arya menganggukan kepala.
"Kemana?"
"Floating Market."
"Kok aku nggak diajak?" Vania meninggikan suaranya.
"Kamu tadi tidak ada."
"Kan bisa dicari?"
"Tidak tahu."
"Kok abang nggak ikut?"
"Sengaja."
"Kenapa?"
"Kan kamu juga nggak ikut." pria itu menyeringai.
"Dih, kenapa nggak cari aku dulu? kan bisa ikut." Vania bersungut-sungut.
"Biar sajalah mereka pergi." Arya sedikit merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan yang menopang di belakang. Kedua kaki panjangnya bergerak-gerak di dalam air, menimbulkan riak pelan hingga ke pinggiran dan membasahi celana pendeknya.
"Dih, ... liburannya cuma di Villa doang? nggak , asik."
"Buat abang asik." pria itu kemudian bangkit.
"Asik apanya?" Vania kembali menoleh.
"Kita jadinya ada waktu berdua, kalau ada mereka kan tidak bisa. Pasti selalu di repotkan entah dititipi anak-anak, atau membuat makanan?" Arya tergelak.
"Nah, kita ngapain cuma diam dirumah? cuma berdua lagi? nantibada setan lewat."
Arya terdiam sambil mengulum senyum.
"Abang bilang kalau kita dua duaan, yang ketiganya setan?" Vania kembali menoleh saat dia merasakan pria itu mendekat kepadanya.
"Ng ..."
"Tidak tahu." Arya semakin mendekat, gadis itu sepertinya memiliki daya tarik yang kuat sehingga membuatnya selalu ingin mendekat akhir-akhir ini.
Vania memundurkan tubuhnya.
Pria itu berhenti, kemudian dengan cepat melepaskan kaos oblong yang dipakainya.
"Abang mau apa?" ucapnya dengan wajah memucat, menatap wajah Arya yang terlihat serius, kemudian beralih pada dada bidangnya yang tel*njang.
"Mau renang." jawab Arya, yang kemudian menjatuhkan dirinya sendiri kedalam air.
"Dingin bang ..."
Dia tak mendengar, malah menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam air kolam yang dingin itu.
"Segar, ..." Arya muncul ke permukaan, mengusap wajah dan menyugar rambutnya yang basah.
"Kamu tidak mau turun?" ucap Arya yang kembali mendekat.
"Nggak mau, dingin" Vania menggendikan bahu.
Pria itu terus mendekat, sehingga dia berada di pinggir kolam dimana Vania berada. Merangsek diantara kedua kaki gadis itu yang terbuka.
"Sekarang abang mau apa?" Vania mengerutkan dahi.
Tingkah pria ini kenapa jadi aneh begini? batinnya.
"Mau kamu." Arya mengulum senyum.
"Dih, ... abang jadi aneh? sejak ketahuan kita pacaran jadi lebay." Vania mengingat beberapa hal yang terjadi sejak pagi tadi. Ketika Arya dengan terang-terangan menunjukan perhatian kepadanya di hadapan ketiga saudara dan ipar-iparnya. Dan dia belum terbiasa.
"Masa?" Arya menghapus jarak diantara mereka.
"Hu'um, ..." gadis itu mengangguk.
"Apa salah?" Arya mendongak, dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Nggak sih. Tapi ...
Arya bertumpu pada pinggiran kolam, dengan kedua tangan basahnya berada di sisi kiri dan kanan Vania.
"Aku nggak terbiasa."
"Belum."
"Apa abang suka gitu sama pacar-pacar abang?" Vania bertanya.
__ADS_1
"Pacar yang mana? abang kan jomblo lama." dia tergelak.
"Kak Hana?"
Arya terdiam, dan dia mengingat banyak hal.
"Tidak." jawabnya kemudian.
"Mmm ... bohong!" Vania mencibir.
"Baiklah, sedikit." ucapnya.
"Dih?"
"Kenapa malah bicara soal Hana? tidak ada hubungannya tahu?"
"Cuma mau tahu."
"Itu masa lalu."
"Hmm ..."
Mereka semakin dekat, dan Arya merapat, berusaha meraih hal menggoda yang berada tepat di depan wajahnya. Kedua tangannya bahkan sudah melingkari pinggang Vania.
"Dingin bang." gadis itu dengan suara pelan, namun tetap bertahan disana.
"Hmm ... makanya abang mau pelukan." jawab Arya, yang kemudian meraih bibir kemerahan milik Vania, lalu memagutnya dengan perlahan.
"Mmm ..." gadis itu menggumam, namun dia segera mambalas.
"Setannya siang-siang juga ada ya?" dia mendorong dada Arya untuk menjeda cumbuannya.
Pria itu hanya tertawa kemudian melanjutkan kegiatan yang kini mulai menjadi candu baginya.
"Abang, ..." Vania kembali mendorong dada Arya untuk menghirup udara sebanyak mungkin, karena cumbuan ini mulai tidak terkendali. Pria itu melakukannya dengan menggebu-gebu, seolah ingin menghabisinya hingga tak bersisa.
Arya menulikan pendengarannya, dan dia memperdalam ciumannya, menyesap belahan lembut milik Vania ketika dia merasakan hal tersebut semakin menyenangkan saja. Kedua tangannya bahkan sudah menyelinap di bagian belakang gadis itu, merayap dibalik tanktop dan menyentuh punggungnya yang lembut.
Tubuh Vania mengejang, dan kedua tangannya melingkar erat di leher Arya, membuat tubuh mereka semakin rapat dan tak berjarak. Debaran di dada keduanya jelas sama-sama bergejolak, dan mereka hampir kehilangan kesadaran.
"Abaaaaanng? abang dimana?" suara teriakan mengema di bagian depan villa, seriring dengan suara langkah kaki yang tergesa.
Dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu seketika saling melepaskan diri saat kesadaran mereka tiba-tiba kembali.
"Vania? kalian dimana sih?" suara Alena semakin dekat.
Mereka tertegun, namun Vania segera menjatuhkan dirinya kedalam air setinggi dada orang dewasa itu.
"Bilang aku nggak ada!" ucap gadis itu yang menghirup napas sebanyak mungkin sebelum menenggelamkan diri di depan Arya.
"Apa yang ...
"Abang?" Alena muncul diambang pintu. "Lihat Vania? aku cari nggak ada. Aku telfon juga nggak di angkat."
"Ng ..." Arya merasakan gadis itu mencubit lengannya dibawah air.
"Aku lupa, mau ngajak dia jalan." ujar Alena.
"Ng ... nggak tahu."
"Beneran?" adik bungsunya itu menatap sekeliling untuk mencari keberadaan sahabatnya.
Arya hanya mengangguk.
"Ah, ... kemana sih tuh anak?" Alena mondar-mandir di dekat kolam.
Sementara Vania dibawah sana mati-matian menahan napas, entah mengapa dia merasa harus bersembunyi dari sahabatnya. Gadis itu berpegangan erat pada pinggang Arya untuk mempertahankan dirinya dibawah air. Wajahnya menghadap perut berotot pria itu begitu dekat, dan dia berusaha untuk tetap tenang.
Begitupun Arya, yang berusaha menahan diri dari apa yang telah bangkit, saat tanpa sengaja Vania yang berada di dalam air menyentuh area pribadinya.
"Ng ...
"Aku pergi deh, bilangin kalau nanti dia balik ya?" ucap Alena.
"Ooke, ..." Arya terbata, kemudian dia segera menarik kepala Vania setelah yakin adik bungsunya telah pergi.
Gadis itu megap-megap, lalu menarik napas dan menghembuskannya dengan cepat.
"Alenanya udah pergi?" katanya setelah dirinya tenang.
"Sudah." Arya menjawab, dia pun berusaha menenangkan diri, terutama adik kecilnya yang mulai bangkit.
"Ah, ... dasar. Bikin kaget aja?" gerutu Vania.
"Kenapa juga kamu harus sembunyi?" Arya dengan suara pelan, dan dia masih mengumpulkan kesadrannya.
"Ng ... " Vania tertegun. "Iya ya, kenapa? kan mereka udah tahu?" kemudian Vania tertawa.
Sabar-sabar!. gumam Arya dalam hati.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
jangan lupa like komen sama hadiah, vote juga kalau masih ada 😂😂
__ADS_1
buruan naik, dingin!! 🤣🤣