
🌺
🌺
"Abang hari ini nggak lembur?" Vania menyuguhkan secangkir kopi panas di meja. Cuaca memang terasa dingin pada hampir petang itu, ditambah hujan deras yang kembali mengguyur kota Bandung sejak setengah jam yang lalu.
"Tidak. Sepertinya pindahnya Raja kesini berdampak positif juga." pria itu meniup permukaan kopi yang mengepulkan uap panas.
"Masa?" Vania kembali duduk di sampingnya dengan satu bungkus es krim.
"Hmm ... sebagian pekerjaan dia ambil alih, dan itu lumayan meringankan beban abang sedikit." dia terkekeh.
"Kak Raja rajin juga ya?"
"Ya, ... maklum, karena anak owner, tanggung jawabnya besar, dan dia seperti ingin membuktikan sesuatu." dia menyesap minuman berwarna hitam pekat itu.
"Apa?"
"Kalau dia juga mampu melakukan apa yang kami lakukan. Walau kenyataannya dia masih butuh banyak belajar."
"Hmm ...
"Apa dia macam-macam sama abang?"
"Macam-macam soal apa?"
"Soal pekerjaan mungkin? kayaknya dia mau menyingkirkan abang?"
"Kamu berburuk sangka."
"Sikapnya dia mencurigakan."
"Tidak mungkin, dia tidak akan bisa melakukannya. Lagipula kenapa dia harus menyingkirkan abang?"
"Nggak tahu, mungkin ada hubungannya sama hubungan kita?"
"Kegeeran kamu." guma Arya, kemudian tertawa.
"Ya kali aja, soal makan siang aja dia berani rebut di depan mata, apalagi soal kerjaan. Mana dia anaknya bos lagi?"
"Tidak ada pengaruhnya buat abang. Memangnya kenapa kalau dia anaknya bos?"
"Kali dia akan menyalahgunakan kekuasannya."
"Untuk apa?"
"Untuk mengusik kita." Vania membuka kemasan eskrim berukuran kecil itu, lalu mengeluarkan isinya sebagian, kemudian menggigitnya sedikit.
"Kenapa dia mau mengusik kita?"
"Nggak tahu lah, kan ini cuma perkiraan aku." dia mengunyah kudapan manis itu dengan ekspresi lucu.
"Jangan berburuk sangka, kita tidak tahu apa yang sedang dia alami." Arya menopang kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada meja. Menikmati pemandangan di depan matanya yang akhir-akhir ini sangat dia sukai.
"Emang abang tahu?"
"Tidak." pria itu tertawa.
"Kirain ...?" Vania kembali menikmati makanan itu.
"Oh iya, dia tahu kalau abang udah ngobrol sama Om Harlan?"
"Mungkin tahu."
"Jadi harusnya dia nggak bersikap kekanakan gitu kan?"
"Mungkin karena dia sudah tahu jadinya bersikap seperti itu."
"Hmm ... bingung deh kalau gini." Vania menggaruk kepalanya.
"Kenapa harus bingung?"
"Mau bersikap kayak gimana nanti kalau ketemu dia? kalau bersikap baik, takutnya dia baper. Mau aku judesin tapinya nggak enak."
"Tidak usah, ... biasa saja."
"Aku kalau nggak suka sama orang biasanya males." dia meletakan es krim di diatas meja.
"Kalau suka?" Arya mengulum senyum.
"Ya ... biasa aja."
"Misalnya?"
"Kayak sikap aku sama abang." Vania dengan cueknya.
"Oh ya?"
"Hmm ..."
"Ke semua orang kamu bersikap begitu?"
"Nggak. Cuma sama abang aja." Vania tersenyum lebar.
Dan obrolan konyol tak berfaedah pun mengalir dari mulut keduanya, diselingi canda dan tawa, hingga malam mulai merangkak naik dan keadaan sudah tak seramai sebelumnya.
"Kamu mau tutup jam berapa?" Arya mulai menyadari keadaan yang sudah sepi.
"Kalau udah sepi." jawab Vania yang melihat sekeliling.
"Sudah sepi." ucap Arya.
"Iya, ... nggak ngeuh ya?"
"Hmm ... tapi masih hujan?" dia menatap keluar dimana rintik hujan masih turun namun tak sederas tadi.
__ADS_1
"Ini mau clossing apa gimana?" seorang pegawainya muncul.
"Clossing aja Mi. Udah sepi juga kan?"
"Oke."
"Kursi yang di depan nggak usah di beresin, masih hujan. Besok aja sekalian." ucap Vania.
"Baik."
"Abang mau pulang?" dia bertanya kepada Arya.
"Nanti, kalau kamu juga pulang."
"Aku sebentar lagi, nunggu hujan reda. Kan bawa motor."
"Mau abang antar pulang?"
"Nggak usah, aku harus bawa motor, soalnya besok pagi harus belanja. Kalau pakai mobil kena macet parah."
"Ya sudah, abang juga sebentar lagi, kita pulangnya sama-sama." ujar Arya.
"Nggak apa-apa gitu?"
"Nggak apa-apa, abang bebas."
"Ciee, ... yang bebas? nggak ada yang nunggu dirumah."
"Hu'um, ... nggak ada yang interogasi kalau pulang telat." pria itu kembali tertawa.
"Nggak ada yang curiga ya?"
"Iya."
"Van, kita pulang duluan nggak apa-apa?" dua pegawainya Vania bersiap untuk pulang.
"Nggak apa-apa. Aku sebentar lagi."
"Oke. Kami pamit."
"Iya, ..
***
"Yah, ... cair?" Vania meraih es krim miliknya yang sudah mencair dalam kemasannya.
"Sebentar, aku mau ambil lagi." gadis itu bergegas masuk kedalam pantri, kemudian kembali dalam beberapa menit dengan dua buah eskrim di tangannya.
"Abang mau?" Vania menyodorkan salah satunya kepada Arya.
"Tidak salah? malam-malam begini makan es krim, mana hujan lagi?" namun pria itu meraih benda tersebut dari tangannya.
"Kebiasaan, heheh ..." Vania tertawa.
"Kamu sepertinya sangat suka makanan seperti ini?" Arya membuka kemasannya.
"Kamu seperti Dilan."
"Apanya?"
"Suka es krim."
"Dari kecil aku suka eskrim. Enak tahu bang, ... manis."
"Tapi dingin." Arya mulai memakan es krim miliknya.
"Iya, kayak abang."
"Hah?"
Vania tersenyum, "Makan eskrim waktu hujan itu sama kayak kita kalau lagi sama-sama."
"Maksudnya?" Arya menjengit.
"Manis tapi dingin." gadis itu tertawa, kemudian menutup mulut dengan tangannya.
"Apa?"
"Nggak ngerti ya? nggak apa-apa kalau nggak ngerti, jangan maksain untuk ngerti." dia tertawa lagi.
"Kamu kalau kita sedang ngobrol suka mengucapkan kata-kata aneh."
"Bukan aneh bang, abang aja yang nggak ngerti."
"Memang ..." Arya kembali mencoba memakan es krim miliknya, walau rasa manis yang tidak terlalu disukainya menjalar memenuhi rongga mulutnya, begitu juga rasa dingin yang seketika membuat lidahnya terasa kebas. Tapi dia paksakan untuk mengerti maksud gadis di hadapannya.
"Abang tetap tidak mengerti maksud kamu." katanya, ketika dia hampir menghabiskan eskrim miliknya.
"Hum?"
"Ah, ... ini yang abang nggak suka dari eskrim." dia menggeser wadah kosong ke tengah meja.
"Apa?"
"Mulut abang jadi mati rasa!" keluhnya.
"Dih, ... lebay."
"Memangnya kamu tidak?"
"Nggak. Biasa aja, kan aku sering makan es krim. Nggak kayak abang."
"Hmm ...
"Obrolan kita absurd ya?"
__ADS_1
"Memang."
Vania tertawa hingga kepalanya terdongak.
"Kalau nggak berantem, ya obrolan absurd."
"Hmm ...kadang kamu sering ngelantur."
"Iya, ... kalau lagi sama abang suka gitu."
Arya mencebik.
"Mungkin bukan karena abang."
"Terus karena apa?"
"Karena kebanyakan makan es krim."
"Masa?"
"Kamu tahu, terlalu banyak memakan makanan manis kadang bisa membuat kita tidak bisa mengontrol emosi."
"Dih, apa hubungannya?"
"Lihat saja, contohnya kamu."
"Gimana?"
"Kamu selalu ekspresif, dan spontan. Sangat ceria dan ...
"Manis." Vania menatap wajah pria itu sambil tersenyum.
"Ng ...
"Aku bahagia, makanya ekspresif, dan spontan, dan ceria ...
Arya balik menatapnya dalam diam.
"Makanan manis bisa membuat bahagia bang," lanjut Vania.
"Terlalu bayak juga nggak baik."
"Bisa overdosis ya?"
"Hmm ... diabetes."
"Kayak aku sama abang."
Lalu mereka terdiam.
"Dia ... betes." Arya mendekatkan wajahnya perlahan, agak ragu karena dia mengira gadis itiu akan menghindar, namun dia masih tetap disana, menunggu.
"Manis." lalu bibir mereka bertemu, dan tanpa menunggu lama saling menyesap lembut. Kehangatan seketika menjalar ke segala arah. Arya bahkan merasa kebas yang tadi menguasai rongga mulutnya menghilang begitu saja.
"Ng ..." Vania mengikuti apa yang dilakukan pria itu, merasakan hangat dan lembutnya sentuhan bibir Arya pada miliknya, yang membuat dia terhanyut dan membiarkan dia melakukan lebih.
Arya mengulurkan tangannya untuk meraih pinggang gadis itu, kemudian menariknya agar tubuh mereka merapat. Dan membuat cumbuan itu semakin dalam, dan semakin menghanyutkan.
"Van, kunci motor aku kayaknya ketinggalan?" Mimi muncul dengan tergesa, menerobos masuk kedalam kedai yang remang dan hampir tutup. Membuat kedua tubuh yang saling merapat itu secara bersamaan saling menjauhkan diri.
"Mm ... kalian ... belum mau pulang?" gadis itu tertegun tak jauh dari pintu, tempat terakhir yang dia ingat meletakan kunci motornya diatas meja setelah membereskan pekerjaannya.
"Eee ... sebentar lagi, ... mungkin."
"Oh, oke ....kalau gitu aku ... duluan." Mimi memutar tubuh dan segera keluar dari tempat itu, dengan wajah yang memerah dan dia menepuk kepalanya dengan keras.
Bodoh! gumamnya, dan dia menyesali dirinya karena telah melihat hal yang tak seharusnya dilihat.
Suasana kembali hening, dan mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Kan abang bilang juga apa? makanan manis membuat kita tidak bisa mengontrol emosi." Arya memecah kecanggungan diantara mereka.
"Hmm ... gara-gara es krim."
"Iya." kemudian mereka berdua tertawa.
"Kalau begitu ayo kita pulang? lama-lama disini bahaya." ucap Arya.
"Bahaya kenapa?" Vania menjengit.
"Kalau kita berduaan di tempat sepi, pasti yang ketiganya setan." pria itu bangkit dari duduknya.
"Abang ih, ... bikin aku takut." Vania melompat ke dekat Arya, merangkul tubuh pria itu sambil melihat sekeliling ruangan yang hampir gelap karena sebagian lampu sudah dipadamkan.
"Nah kan, setannya mulai beraksi." ucap Arya lagi.
"Abang! jangan ngomongin setan, nanti aku nggak bisa kerja sampai malam karena takut!" Vania semakin mengeratkan pelukannya pada pria itu, membuat tubuh mereka semakin menempel.
"Ng ..."
"Abang harus tanggung jawab!"
"Hah? tanggung jawab?" Arya terperangah.
"Antar aku pulang, aku takut."
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Hadeh, itu modus atau apaan ya? 🙄
__ADS_1
biasa genks, like, komen sama hadianya. untuk nemenin ke absurdan mereka.