Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Jadi Keluarga


__ADS_3

🌺


🌺


"Apaan? papa bercanda ya?" Raja bereaksi begitu sang ayah selesai berbicara. Pria itu tiba-tiba saja mendatangi rumahnya pada tengah malam, ketika dirinya hampir saja terlelap.


"Tidak. Papa serius." Harlan menjawab.


"Pah, yang bener aja? masa mau nikah cepet-cepet begitu? mana mintanya besok lagi? emang beli nasi box, Pesen malam ini besok bisa dikirim?" pria itu meracau.


"Ya, ... mau menunggu apa lagi? kami sama-sama sendiri, dan yang terpenting adalah kami sama-sama dewasa."


"Bukan lagi, pada udah bangkotan." Raja dengan gusarnya.


"Kamu tidak setuju papa menikahi tante Melly?"


Raja terdiam.


"Tapi tidak ada pengaruhnya juga untuk papa, karena kami tetap akan menikah besok. Lagipula papa sudah janji kepada Vania."


"Vania? Emang ya, tuh anak pinter bener ngerayunya? bikin orang nggak bisa nolak apa maunya." Raja menggerutu.


"Terserah apa katamu, yang penting papa sudah bicara kepadamu." Harlan bangkit dari tempat duduknya.


"Mau kemana?"


"Pulang, biar besok bisa siap-siap."


"Dih, semangat bener?"


Sang ayah tak menjawab.


"Pah? nikah bukan cuma akad lho? ada hal lain juga yag harus di persiapkan." Raja menghentikan langkahnya, kemudian Harlan berbaklik.


"Kamu lupa ya? sebelum kamu menikah, papa sudah lebih dulu mengalami apa yang kamu alami, jadi kalau soal itu papa sudah memikirkannya."


"Masa?"


"Papa bisa sendiri kalau kamu tidak mau mendampingi papa. Lagi pula, Hardi juga pasti mau kalau Papa minta dia mengurus administriasi dan menemani papa sebagai saksi. Dan ada Arya juga yag pasti mau kalau papa menyuruh dia menyiapkan semuanya."


"Terus aku papa anggap apa?" Raja menunjuk dirinya sendiri.


"Memangnya kamu mau mengurusi papa?"


"Ya masa papa mau menikah aku nggak terlibat? anak macam apa aku ini?"


"Kamu setuju?"


"Papa maunya aku nggak setuju gitu?"


"Entahlah, karena ...


"Udah, nanti aku telfon Vania biar di atur baiknya gimana."


"Benarkah?" Harlan mengulum senyum.


"Iya, ... udah nggak usah pulang. Tidur disini aja, udah malam juga." ucap pria itu, yang kemudian memerintahkan asisten rumah tangganya untuk membereskan kamar tamu untuk sang ayah.


🌺


🌺


"Abang pikir aku keterlaluan nggak?" Vania duduk di tepi ranjang, dan dia masih mengenakan handuknya ketika menerima panggilan telfon dari Raja pagi-pagi sekali.

__ADS_1


"Soal apa?"


"Soal nikahannya ibu."


"Menurut kamu?"


"Nggak. Aku pikir lebih cepat lebih baik. Tapi nggak tahu juga kenapa aku tiba-tiba minta gitu sama Om Harlan." perempuan itu tertawa.


"Ya kalau bisa di percepat kenapa harus menunggu lama kan?" lanjutnya.


"Mereka bukan abege lagi yang harus nunggu beberapa hal untuk di siapkan. Selebihnya, kayaknya mereka memang saling membutuhkan. Ibu udah menjanda sejak aku SMP, sementara Om Harlan juga begitu. Ya apa salahnya kan?" Vania meletakan ponsel diatas nakas.


"Ya kalau hal baik memang bagusnya di segerakan." Arya duduk di sampingnya.


"Barusan kak Raja minta akadnya sore, soalnya da beberapa hal yang harus di urus. Dia maunya pernikahan mereka legal, makanya mau urus-urus ke KUA dulu."


"Ya memang harusnya begitu juga."


Vania tertawa lagi.


"Senangnya yang mau punya ayah dan kakak baru?" Arya tergelak.


"Dih, apaan? sebelum itu juga aku udah seneng."


"Masa?"


"Iyalah, gimana Nggak senang? hidup Aku udah sangat lengkap. Punya suami kayak abang, terus sebentar lagi bakalan punya anak, apa bisa lebih baik lagi dari ini?" dia merangkul pundak suaminya.


Arya tersenyum dengan pipi merona.


"Belum lagi sekarang, ibu punya suami lagi. Kayaknya aku nggak akan terlalu khawatir lagi, ibu punya teman berbagi segala hal sekarang, nggak akan sendirian lagi. Aku udah tenang."


"Yakin tenang?"


"Yakinlah, apa lagi?"


"Apaan?"


"Seyakin itu kamu merasa tenang?" pria itu menarik handuk yang terlilit di dada Vania hingga terlepas.


"Ish abang!" dia menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Jangan harap ya?" Arya kemudian mendorongnya hingga dia terjungkal ke belakang, kemudian segera mengungkungnya dia bawah tubuhnya.


"Udah pagi bang?" Vania mengingatkan.


"Siapa bilang masih malam?"


"Ng ...


Pria itu menyeringai, kemudian menggigit bibir bawahnya keras-keras saat dia memasukinya, dan seketika rasa panas menguar di sekujur tubuhnya. Perasaan indah menyebar ke segala arah, dan dia segera menghentak. Kemudian diikuti erangan dan des*ahan yang mengudara hingga beberapa saat, mengisi pagi yang masih dingin itu.


🌺


🌺


"Sah??" penghulu mengakhiri ijab kabul begitu Harlan berhasil mengucapkan kalimat tersebut, kemudian menoleh ke arah beberapa pria di sampingnya.


"Sah... " saksi menjawab dengan lugas dan tegas, kemudian ucapan syukur terdengar diantara khalayak yang hadir sore itu.


Sang penghulu melafalkan doa dan sedikit petuah di akhir, yang diamini oleh mereka yang menyaksikan pernikahan dua sejoli yang cukup mengharukan tersebut.


Dimana masing-masing dari keduanya yang sama-sama hampir berusia senja, dan menjalani hidup sendirian sejak lama. Kemudian saling menemukan karena perjodohan gagal diantara anak mereka.

__ADS_1


Seringnya berkomunikasi dan intensya pertemuan membuat keduanya terbiasa, dan sering membicadakan banyak hal. Saling bertukar pendapat dan bertukar pengalaman yang juga justru malah lebih mendekatkan keduanya.


"Nah, kalau gini aku nggak akan terlalu khawatir lagi. Ibu nggak sendirian lagi, mau apa-apa ada teman bicara kan?" Vania datang menghampiri.


"Titip ya Om, eh... papa?" katanya lagi, lalu tergelak.


Pria itu mengangguk sambil tersenyum.


"Dikiranya anak TK pake titip-titip segala?" Raja menyahut, "Hati-hati tante, papa ini orangnya keras kepala, nggak bisa dibilangin. Semoga kalau sama Tante, ... eh sama ibu bisa nurut." dia menyalami perempuan itu yang kini telah menjadi ibu sambungnya.


"Baik."


"Dih, situ juga keras kepala? tapi jadi jinak setelah punya istri, ya pasti sama lah?" sambung Vania.


"Jinak? kamu pikir singa apa?"


"Gitulah, ...


"Kalian kenapa sih akhir-akhir ini kalau ketemu sukanya berantem?" Alena datang menengahi.


"Siapa juga yang berantem? aku cuma ngomong. Kak Raja yang reaksinya suka berlebihan?" Vania membela diri.


"Apaan? abisnya omongan kamu ngeselin?" jawab Raja.


"Dih? ngeselin sebelah mananya? situ lebay."


"Ish, ... kenapa kalian jadi bertengkar?" Arya merangkul pundak Vania kemudan menariknya untuk menjauh.


"Kalian kayak abege labil yang baru ketemu?"


"Dia kali yang labil? aku nggak." sahut Vania.


"Kalian aneh?"


"Sudah, kalian sekarang kakak adik, sudah jadi keluarga, tidak boleh bertengkar." Arya menengahi.


"Aku nggak, kak Raja yang kayak gitu? kayaknya dia nggak suka saudaraan sama aku?"


"Tidak begitu."


"Dia cuma lagi kena efek kehamilannya Cindy." jelas Hardi yang menyimak dari tadi.


"Oh ya?"


Sang adik ipar menganggukan kepala.


"Kok bisa?"


Pria itu kemudian menggendikan bahu.


"Sepertinya hari-hari kita akan di warnai pertengkaran kakak beradik ini mulai sekarang?" Harlan bergumam.


"Mungkin..."


"Anak remaja kita bertambah lagi kan?" kemudian mereka tertawa karena ulah kakak adik sambung tersebut.


🌺


🌺


🌺


Bersambung....

__ADS_1


like, komen, hadiah nya selalu aku tunggu.


kalau Vote biasa, kasih ke dedek Dim aja 😘😘


__ADS_2