Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Bekal


__ADS_3

🌺


🌺


Dua bulan kemudian ...


"Oh, ... astaga!" des*ah Arya saat perempuan itu bergerak diatasnya, rambut panjangnya berkibar-kibar ke segala arah, terkadang mengenai wajahnya, dan punggung mulusnya terpampang nyata.


Perempuan itu menoleh dan menatapnya dengan mata sayu, namun senyum menggodanya terus terukir di bibir tipisnya. Menatap pria di bawahnya terus meracau dibawah kendalinya.


Arya meremat kepalanya dengan keras ketika rasa nikmat menjalar di pangkal paha lalu menyebar ke segala arah, dan dia sudah takntahan lagi. Namun pria itu mencoba untuk tetap bertahan untuk menunggu Vania untuk mendapatkan hal yang sama.


Arya membiarkannya memegang kendali dan mencoba banyak hal baru, yang bahkan tak pernah ada dalam bayangannya.


"Vania?" dia berbisik saat perempuan itu masih asyik berpacu diatas tubuhnya.


Arya bangkit lalu menyingkap rambut yang berkibar-kibar mengenai wajahnya. Sebelah tangannya bertumpu di belakang untuk menahan tubuhnya yang duduk setengah berbaring.


"Sayang?" bisiknya lagi ketika Vania tak kunjung berhenti dan merubah posisi, membuat Arya merasa gemas sendiri. Kesabarannya sudah di ujung ketika hasrat di dalam diri hampir saja meledak.


Tangannya kemudian menyelinap untuk kembali menyentuh tubuh Vania, menggapai buah dadanya yang membusung di atas sana dalam posisi membelakanginya seperti itu. Kemudian merematnya dengan lembut.


Perempuan itu terdengar merintih.


Lalu sentuhannya dia lanjutkan turun ke bawah. Mengusap perutnya secara perlahan, kemudian semakin turun untuk mencari titik paling sensitifnya. Dan dia segera mempermainkannya begitu menemukannya.


"Ngg ... abang ..." Vania kembali mend*sah, dan kedua tangan yang bertumpu di tubuh suaminya meremat sedikit keras. Dia juga merasa hampir meledak.


Arya terus menyentuhnya sehingga Vania berpacu semakin cepat saat pelepasan hampir menggulung tubuh mereka berdua. Dengan des*han dan geraman yang saling bersahutan.


Tiba-tiba saja pria itu mendorong tubuh Vania untuk melepaskan tautan, dan dia segera membalikan posisi.


"Abangh?" Vania hampir menjerit ketika suaminya melepaskan dan membenamkan kembali miliknya dengan cepat dan tanpa aba-aba. Kemudian kembali menghentaknya dari belakang.


Arya mengambil alih kendali dan dia segera berpacu, mempercepat gerakannya untuk mendaki ke punca asmara. Diiringi napas yang kian menderu, des*han dan erangan yang kian mengudara, hingga keduanya tiba di ujung pergumulan. Yang diakhiri dengan hujaman keras nan dalam.


"Aaarrrrggghh ... Vaniaaaa!!!" geramnya, dan dia membenamkan wajahnya di tengkuk perempuan itu yang juga meneriakan namanya.


"Abaaaanngnghhh...."


🌺


🌺


"Abang yakin mau balik kerja?" Vania duduk di tepi ranjang memperhatikan suaminya yang tengah bersiap. Mengenakan celana berwarna hitam dan kemeja putih yang di padukan dengan jas tanpa dasi. Membuatnya terlihat rapi namun terkesan santai.


"Iya, sudah terlalu lama abang cuti." jawab Arya yang mengenakan jam tangan miliknya di akhir persiapan.


"Kamu hari ini ke kedai?"


"Hmm ..." Vania menganggukan kepala kemudian bangkit dan menghampiri pria itu yang masih berdiri di depan cermin.


"Aku yang bawa mobil abang ya? aku antar abang ke kantor, pulangnya aku jemput." Lalu memeluk tubuhnya dari belakang dan menempelkan wajahnya di punggung kokoh itu.


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa, biar kita pergi sama pulang kerjanya bareng. Lagian tangan abang emang udah bisa dipakai nyetir? kaki abang juga emang udah kuat untuk nginjak pedal gas sama kopling?"


"Belum tahu, kan baru mau di coba." jawab Arya.


"Sama aku aja nyetir nya." Vania berujar, dan dia masih menempel di punggung suaminya.


"Kamu kenapa?" Arya meraup kedua tangannya yang memeluk dadanya.


"Nggak kenapa-kenapa. Cuma mau peluk aja."


Arya tersenyum.


"Tadi subuh aku pakai testpack." Vania berbicara lagi.


"Testpack?" Arya menjengit.


Vania mengangguk di belakang sana, seolah suaminya itu dapat melihatnya dengan jelas.

__ADS_1


"Alat tes kehamilan?" tanya Arya.


"Iya." Vania mendongak, kemudian menatap ke arah kaca, dimana wajah pria tegas itu terpampang nyata.


"Terus?"


"Negatif." perempuan itu tertawa.


Arya menghela napas pelan.


"Tidak apa-apa, tidak usah terlalu terburu-buru." pria itu melepaskan lilitan tangan Vania kemudian memutar tubuh hingga mereka berhadapan.


"Aku nggak buru-buru, cuma penasaran aja."


"Mungkin belum saatnya."


"Hmm ..." Vania mengangguk lagi.


"Baru juga dua bulan?" Arya tersenyum, dan dia meraup wajah perempuan itu dengan kedua tangannya kemudian menempelkan kening mereka berdua.


"Kita masih punya banyak waktu." Arya setengah berbisik.


Vania kembali mengangguk sambil tersenyum.


"Mau mencoba lagi?" dia sedikit tertawa.


"Apaan?" tubuh Vania menegang.


"Proses agar kamu cepat hamil." pria itu menarik dagu Vania hingga dia mendongak.


"Udah pagi bang, ..." perempuan itu menghindar.


"Kata orang kalau melakukannya di pagi hari malah bagus." Arya menahan senyum.


"Masa?"


"Iya."


"Bisa datang agak telat."


Vania terdiam sejenak, dan mereka saling tatap.


"Nggak ah, ... nanti-nanti aja." dia melenggang keluar dari kamar mereka di lantai dua.


"Biar positif Van." Arya menarik lengannya agar dia kembali.


"Nanti lagi bang." tolak Vania, dan dia berlari menuruni tangga ke lantai bawah sambil tertawa.


🌺


🌺


🌺


🌺


"Yakin tidak mau gantian nyetir?" Arya menawarkan diri, saat mereka tiba di tengah kota Bandung dan menghadapi kemacetan yang menguras emosi.


"Nggak usah, udah tanggung juga sebentar lagi nyampe kantor. Lagian nanti tangan sama kaki Abang sakit lagi gara-gara nyetir nya di jalan macet kayak gini." tolak Vania, dan dia fokus pada jalan raya yang padat merayap pada awal minggu itu.


"Menyetir mobil di jalan macet sepertinya lebih mudah daripada mengendalikan kamu?" pria itu bersedekap.


"Hah? maksudnya?" Vania mengerutkan dahi.


Arya hanya tersenyum dengan pandangan ke arah luar.


"Ish ... malah senyum?" Vania menepuk pundak suaminya agak keras.


"Duh, kenapa akhir-akhir ini kamu suka sekali memukukul?" keluh Arya sambil mengusap pundaknya yang terasa sakit.


"Habisnya abang jadi nyebelin." perempuan itu mendelik.


Arya tergelak.

__ADS_1


"Lebih nyebelin juga kamu?"


"Nyebelin apanya?"


"Tidak ..." pria itu tersenyum lagi.


Akhirnya mobil bisa melaju setelah melewati titik kemacetan dan mereka tiba di depan gedung tempat Arya bekerja.


"Nanti makan siang aku kesini ya?" ucap Vania sebelum Arya turun.


"Boleh."


"Abang mau aku bawain makanan apa?"


"Apa saja, asal kamu yang datang, abang pasti makan." pria itu hampir saja membuka pintu, namun dia tertegun sejenak.


"Apaan?" Vania bergumam.


Namun Arya kemudian tergelak, menyadari ucapannya sendiri yang akhir-akhir ini sering terdengar aneh.


"Sudahlah, abang turun. Lama-lama di dekat kamu membuat abang samakin kacau saja." pria itu keluar.


"Dih, ... dia yang sukanya bikin kacau?" Vania bergumam lagi.


"Jangan ngebut-ngebut ya? kerjanya yang rajin." Arya menunduk di dekat kaca pengemudi yang terbuka. Dia mengusap kepala perempuan itu seperti biasa.


"Hmm ... abang juga." Vania mengangguk.


"Itu pasti." Arya tersenyum.


"Ya udah, sana masuk!" Vania berucap.


"Abang nunggu."


"Nunggu apa?"


"Bekal."


"Bekal?"


Pria itu mengangguk.


"Bekal apa? abang minta uang jajan? emang semua uang yang abang kasih ke aku nggak di sisain buat abang sendiri?" Vania mengerutkan dahi.


"Bekal biar abang semangat kerja sampai siang nanti."


"Maksusnya apa sih?"


Tanpa aba-aba pria itu menundukan wajahnya, tangannya menarik tengkuk Vania dan dia segera meraih bibir kemerahan perempuan itu untuk dia sesap sepuasnya.


"Mmm ..." Vania menggumam, kemudian dia mendorong wajah suaminya agar menjauh.


"Di tempat kerja tahu!" dia menggerutu.


"Memangnya kenapa?" pria itu menegakan tubuh sambil tertawa.


"Pergi dulu lah, ... semenit lagi disini bisa bikin ribut satu gedung!" Vania bersungut-sungut, sementara Arya terus tertawa sambil menggelengkan kepala.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Dih, dasar pasangan bucin baru!! 🙈🙈


biasa atuh gaes, like komen sama hadiahnya jangan lupa.


lope lope saBandungeun!! 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2