Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Investasi


__ADS_3

🌺


🌺


"Janin berusia tujuh minggu, keadaannya baik, kandungannya sehat dan keadaan ibunya juga sangat sehat." dokter kandungan menerangkan apa yang dilihatnya didalam layar monitor.


Arya Dan Vania menyimaknya dalam diam, meski jantung mereka berdebar kian kencang.


"Tuh kan udah tujuh minggu aja? kenapa selalu nggak ketahuan sih?" gerutu Vania.


"Itu biasa, kadang ada ibu hamil yang tidak menyadari kehamilannya seperti itu." dokter sedikit terkekeh.


"Tapi apa semuanya baik-baik saja?" Arya menyela.


"Baik, kandungannya baik, dan Seperti yang saya katakan tadi, ibunya sehat." dokter menjawab.


"Syukurlah." Arya menghembuskan napas lega.


"Tapi tetap saja, karena pernah mengalami keguguran, saya sarankan untuk tidak mengerjakan pekerjaan berat, apalagi stres berlebihan. Karena bisa berpengaruh pada janin."


"Iya dokter. Kami akan ingat itu." Arya menganggukan kepala.


"Ini saya kasih obat dan vitamin, harus dihabiskan ya agar kandungannya kuat, ibu dan bayinya juga sehat." ucap sang dokter sebelum mereka pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Melly tak dapat menahan rasa bahagianya ketika mendengar kabar kehamilan sang putri. Dia bahkan menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan.


"Mulai sekarang, fokuslah pada kehamilanmu. Tidak boleh memikirkan banyak hal. Dan tidak boleh bekerja terlalu keras." ucap sang ibu.


"Kalau itu tidak janji, Vania pasti bolak-balik ke kafe, apalagi tahu sebentar lagi kafe akan buka." sela Arya.


"Kalau begitu kamu jewer saja telinganya biar dia menurut. Keras kepalanya harus dikurangi karena sekarang dia tidak lagi sendirian." ucap Melly.


"Baik, kalau ibu mengijinkan."


"Tentu saja, ini demi keselamatan cucu ibu. Kalau dia masih saja keras kepala, mungkin kamu juga harus mengikatnya dirumah."


"Dih, apaan? emangnya aku kambing harus diikat?" Vania menggerutu, membuat mereka tertawa.


***


"Oh iya.... " Vania mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop berwarna coklat berisi lembaran uang yang baru saja mereka ambil dari bank. Yang kemudian dia serahkan kepada ibunya.


"Apa ini?" Melly menatap amplop tersebut.


"Uang."


"Untuk apa?"


"Untuk tambahan, jadi kita nggak usah jual mobil. Se nggaknya untuk sekarang. Nanti aku cabut iklannya."


"Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?"


Vania terdiam lalu menoleh ke arah suaminya.


"Ada rizki Bu." ucap Arya.


"Uang kalian?"


Anak dan menantunya menganggukan kepala.

__ADS_1


"Bukan pinjam?"


"Bukan."


"Tapi mungkin kalian juga perlu. Apalagi kalian akan punya anak, mungkin sebaiknya uangnya disimpan untuk keperluan nanti."


"Nggak apa-apa bu. Itu memang untuk kafenya, kalau yang lainnya masih bisa dicari lagi." ucap Vania.


"Tapi... " perempuan itu kemudian menggeser amplop tersebut ke dekat putrinya. "Ibu tidak bisa menerima ini. Masalah kafe bisa ditunda, tapi kalian lebih butuh uang ini daripada ibu."


"Nggak apa-apa bu. Kami masih bisa."


"Tapi Van...


"Sebaiknya ibu terima, agar bisa lebih cepat membuka kafenya."


"Tapi Arya ...


Kamudian perhatian mereka teralihkan ketika pintu depan kafe dibuka dari luar, dan beberapa orang masuk setelahnya.


"Nah kan pada disini?" Raja yang muncul pertama kali.


"Kalian dari mana? mau apa juga datang kesini?" Arya menatap mereka satu persatu. Anak dari atasannya yang datang bersama ketiga adik iparnya.


"Tadi kerumah, tapi pada nggak ada. Kerumah tante Melly juga sama aja," Hardi menjawab.


"Aku telfon juga nggak diangkat?" sambung Raja.


"Saya nggak bawa hape." Arya merogoh saku celana dan kemejanya.


"Ada apa memangnya?"


"Terus kalian?" Arya bertanya kepada tiga adik iparnya.


"Sama." mereka serentak menjawab.


"Oh, ... aku lupa mau hapus itu," Vania menepuk kepalanya agak keras. "Emangnya mau pada beli ya?"


"Kalian butuh uang? kenapa harus sampai menjual mobil?" Hardi maju lebih dekat lagi.


"Itu... tadinya...


"Kayak nggak punya saudara ih, bilang aja kenapa kalau lagi ada kesulitan? Jangan tahu-tahu mau jual barang aja." omel pria itu, yang lebih ditujukan kepada Arya.


"Nggak gitu."


"Ya terus apa?"


"Papa bilang tante mau buka kafenya lagi?" Raja menyela.


"Ya, begitulah."


"Kapan?"


"Belum tahu."


"Semuanya udah beres emang?" Raja melihat sekeliling, dan dia mendapati bangunan itu masih kosong.


"Udah, tinggal isinya. Itu yang lagi kita omongain dari tadi." Vania menjawab.


"Jadi kalian mau jual mobil untuk beli perabotan?" Hardi kembali bersuara.

__ADS_1


"Tadinya, tapi ...


"Kalau ada kesulitan tuh bilang sama saudara, jangan ditangani sendiri. Biar berat juga kalau sama-sama jadi ringan." lanjut pria itu yang mengikuti langkah sahabatnya meneliti setiap ruangan yang ada.


"Jadi, ... butuh berapa?" ucap Hardi ketika dia kembali ke tempat mereka berkumpul.


"Apanya?" Vania bereaksi.


"Butuh duitnya berapa, biar kafenya selesai dan cepet dibuka." lanjut pria itu.


"Maksudnya gimana?"


"Kalian butuh uang kan buat beresin kafenya? terus butuh modal lagi untuk pembukaan, makanya sampai jual mobil kan?" Raja kembali menyela.


"Iya sih, tapi udah ada kok."


"Udah, gini aja deh ... tante buka invest nggak buat kafe, biar ada yang ikut nanam modal gitu? " Hardi tahu kakak iparnya tidak akan meminta bantuan walau mereka mengalami kesulitan, jadi setelah pembicaraan panjang lebar dengan dua iparnya yang lain setelah melihat postingan iklan penjualan mobil di akun sosial media milik Vania, maka mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu.


"Invest?" Melly mengerutkan dahi.


"Investasi tante, untuk penambahan modal dan yang lainnya." jelas Raja.


"Tante tidak mengerti masalah seperti ini, apakah bisa... " perempuan itu menoleh ke arah putrinya yang tampak berpikir.


"Kalian mau investasi di kafe?" Vania menyahut.


"Sebut aja gitu."


Vania pun menoleh kepada suaminya, kemudian Raja dan ketiga adik iparnya. Rasya dan Renda bahkan bersamaan menganggukan kepala.


"Kalian mau, Padahal kafe ini baru mulai lagi, dan nggak ada jaminan kalian akan dapat untung banyak disini." jepas Vania.


"Kita bisa usahakan biar kafenya ramai. Kan sebelumnya udah cukup terkenal juga, karena kebakaran aja kita stop beroperasi kan? tapi aku yakin setelah ini kita bisa kayak dulu, atau mungkin lebih." Hardi meyakinkan.


"Kita bikin iklan, dan promo secepat mungkin. Bisa di pasang di media sosial masing-masing atau di media elektronik. Bisa juga kita taruh di laman online untuk iklan dan promosi." Rasya ikut berpendapat.


"Aku bikin flyer dan selebaran dan kita kirim ke seluruh kota. kebetulan Bandung suka macet kalau akhir pekan, nah kita bisa manfaatkan keadaan itu." Rendra pun bersuara.


"Fix, kita semua bisa usahain biar kafenya naik lagi."


"Idenya bagus kan? aku yakin ini akan berhasil."


"Kalian sudah merencanakan ini semua kan?" Arya akhirnya buka suara.


"Itu nggak penting lah." Hardi mengibaskan tangannya, "Jadi mau buka investnya di kisaran berapa?" dia menoleh ke arah Vania.


Vania terdiam, dan dia kembali menatap suaminya.


"Kalian mau ngeluarin berapa?" ucapnya kemudian.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


nah, jadinya bareng-bareng kan? cus...


like komen sama votenya jangan lupa.

__ADS_1


__ADS_2