Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Bunga


__ADS_3

🌺


🌺


Arya dengan setia menunggui Vania memeriksa beberapa hal di kedai. Dia bahkan ikut melihat-lihat kios kosong di sebelahnya yang direncanakan akan disewa juga oleh perempuan itu.


"Aku mau dindingnya dibuka, jadi dua ruangan ini menyatu, pokoknya nggak boleh ada sekat yang bikin ruangan ini terpisah." Vania menunjukan beberapa hal kepada seorang pria kenalan Arya yang dibawa suaminya itu dari penyedia tenaga pekerja yang sudah dikenalnya sejak lama.


"Langit-langitnya juga kalau bisa sedikit dibuka, dan diganti sama genteng kaca, atau semacamnya. Jadi tempat ini lebih terang. Dan sudut ini aku maunya gini..." dia terus berbicara dengan pria itu yang mencatat semuanya dalam buku yang dia bawa.


Merinci alat dan bahan yang dibutuhkan, kemudian memperkirakan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh perempuan itu untuk mewujudkan apa yang dia inginkan.


"Baik, semuanya bisa dimulai sekitar satu atau dua hari lagi, dan kami akan mulai bekerja begitu kedainya tutup, jadi tempat ini bisa terus beroperasi tanpa ada siapapun yang terganggu." pria itu menutup buku catatannya.


"Ake serahkan semuanya, gimana baiknya aku percaya aja." ucap Vania, dan dia kembali ke sisi Arya yang berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling kios yang tidak terlalu besar itu.


"Baik, nanti kami hubungi lagi, saya pamit." pria tersebut kemudian pergi.


***


"Gimana menurut abang?"


"Ide kamu bagus. Tidak terlalu jauh juga dari apa yang sudah abang buat."


"Oh ya?"


"Ya, dan mungkin detil-detil kecilnya nanti akan membuat tempat ini lebih baik."


"Abang yakin mereka akan cepat ngerjain semuanya?"


"Yakin. Abang sudah kenal mereka dari dulu, dan itu memang keahlian mereka."


"Beneran ya? nanti kalau nggak sesuai aku tagih sama abang." Vania mengarahkan ujung telunjuknya kepada Arya.


"Kamu mengancam?" pria itu meraih telunjuknya, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Baru mau mulai sudah berani mengancam abang? padahal dalam hal ini kamu tergantung keputusan abang lho?"


"Keputusan apa?"


"Acc kredit."


"Dih, emang bener-bener rentenir?" Vania mencibir.


Arya tertawa agak keras, dan dia menarik perempuan itu untuk merapat kepadanya.


"Di kios bang." Vania mengingatkan saat suaminya terlihat akan bertingkah konyol lagi, seperti yang sering dia lakukan kepadanya dirumah.


"Memangnya apa? Abang cuma mau menunjukan kalau langit-langit sebelah sini yang dibuka akan kelihatan lebih bagus." Arya menengadahkan wajahnya keatas.


"Ini pusat ruangan, dan kalau cahaya masuk dari sini, maka akan menyebar ke semua bagian kios, menjadikannya cukup terang dan kamu tidak akan memakai terlalu banyak lampu di siang hari. Efisien dan penghematan energi juga biaya listrik. Dan kamu pasti sangat senang dengan itu." pria itu menjelaskan.


"Oh, ... Kirain?" Vania terkikik sambik menutup mulut dengan tangannya. Entah kenapa pikirannya menjadi tak karuan. Setiap kali mereka berdekatan seperti itu, otaknya selalu mikiran hal lain.


"Pikiran kotornya di simpan dulu dirumah, jangan dibawa ke tempat kerja." Arya mengacak rambut bagian atasnya.


"Ish, ... kebiasaan!" Vania menghindar, namun pria itu kembali menarik tubuhnya.


"Diamlah, mau abang acc kreditnya tidak?"


"Dih, abang jadi kang kredit sekarang?"


"Terlanjur, kan kamu yang mengajukan kredit duluan?"


"Aku kan nggak punya pilihan lain, daripada ngajuin kredit ke bank, berat bayarnya. Aku takut nggak mampu dan malah menghancurkan usahaku nanti."


"Memangnya kamu mikir kredit di abang tidak berat?"


"Nggak."

__ADS_1


"Yakin?" Arya memiringkan kepala.


"Yakinlah, kalau nggak kebayar mah gampang."


"Gampang?"


"Iya, bisa aku bayar pakai cara lain kan?"


"Apa?"


"Dih, abang pura-pura nggak ngerti? padahal itu juga yang abang pikirin?" cibirnya lagi, dan dia mundur beberapa langkah ke belakang.


"Apa?" Arya tergelak.


"Bisa aja ngelesnya? sama aku bilang nyuruh tinggali dulu pikiran kotornya dirumah, nah abang sendiri mikirin itu melulu?"


Arya tertawa terbahak-bahak.


"Sekarang abang yakin kalau kamu sudah sembuh." Katanya kemudian.


"Apaan?"


"Kamu sudah bisa mengomel, mengejek abang, dan membicarakan banyak hal."


"Hmm ... bagus kan? terlalu lama sedih itu nggak baik, lagian aku capek nangis terus. Nggak bakalan bikin anak kita kembali, yang ada dia tersiksa kali tahu ibunya sedih."


"Itu benar." Arya mendekat lagi. "Jangan lama-lama sedihnya, nanti abang juga ikut sedih."


"Nggak akan, asal abang cepetan acc kreditnya, biar aku ada kerjaan lagi."


"Dasar mata duitan!" Arya memutar bola matanya.


"Ayo cepetan, biar aku bisa cepet juga cicilnya."


"Apa?"


"Sudah." Arya menatap layar ponselnya yang baru saja berbunyi. "Abang sudah melakukan pembayaran, dan mereka akan bekerja dalam satu atau dua hari lagi." dia menunjukan layar ponselnya, sebuah bukti transfer uang dalam jumlah yang cukup banyak kepada pihak yang akan menangani renovasi kios sebelah.


"Banyak amat?" Vania bergumam, dan dirinya tak menyangka akan secepat itu.


"Kan kamu yang minta? lagipula sekalian sama beli bahan, jadi kamu tidak usah memikirkan hal lain lagi. " Arya menyeringai.


"Hmmm... " perempuan itu mencebikan mulutnya, dia tahu ada yang dipikirkan oleh suaminya yang terus tersenyum kepadanya.


"Emang duit abang masih ada?" dia kemudian bertanya.


"Ada lah kalau untuk itu." jawab Arya, dan dia masih saja tersenyum.


"Kok aku nggak tahu?"


"Tidak usah tahu, yang penting uang bulanan kamu lancar, dan kita bisa mengembangkan usaha kamu."


"Aaa...abang baik banget deh?" Vania menghambur ke pelukannya. "Makasih, ..." dia membingkai wajahnya, kemudian memberikan kecupan bertubi-tubi kepadanya.


"Ng ... ini di kios tahu, kamu jangan suka mancing-mancing ya!" Arya bergumam.


"Eh, ...


"Kalau mau, nanti dirumah saja. Biar nggak tanggung kalau mau kasih bunga." pria itu menyeringai.


"Dih... bunga? Beneran rentenir nih abang?" Vania melepaskan tangannya, kemudian menjauh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pengantin lawas masih berdua-duaan aja nih?" ucap Raja yang tengah duduk di kursi, melihat pasangan itu yang baru saja keluar dari kios di sebelah dan berjalan beriringan.


"Pengantin baru gimana kabarnya?" sahut Vania setelah jarak mereka hanya beberapa langkah.


"Baik, ..." jawab Raja. "Kamu udah sehat?"

__ADS_1


"Udah."


"Syukurlah, jangan kelamaan sedihnya. Kasihan suaminya jadi nggak bisa ngapa-ngapain." ejeknya, lalu dia tertawa.


Vania hanya mencebikan mulutnya, kemudian duduk di seberang pria itu, diikuti Arya yang melakukan hal yang sama.


"Kak Cindynya mana? nggak ikut makan?"


"Nggak, dia lagi males. Ini juga cuma sebentar, Pesen makanan doang."


"Lah, tumben? kenapa nggak order dari kantor aja? kan nanti bisa dianterin?"


"Maunya Cindy kayak gini, dia lagi rese nih. Sukanya nyuruh-nyuruh nggak jelas." jawab Raja, dan dia menyandarkan punggungnya pada kursi.


"Masa?"


"Hu'um. Kayaknya efek ngidam nih." Raja mengangguk.


"Ngidam?" Arya sejenak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Kak Cindy lagi hamil?" sela Vania.


"Iya, baru tahu seminggu ini. Tapi resenya nggak nahan." keluh pria itu.


"Berapa bulan?" Vania bertanya.


"Baru lima minggu." pria itu menjawab.


"Lima minggu?" Vania mengulang kata-katanya.


"Iya, dan harus nyiapin stok sabar nih, dia jadi nyebelin." ucap Raja.


Arya tergelak, "Bayinya sedang balas dendam tahu!"


"Balas dendam apaan?"


"Kamu yang dulu sering mengerjai dan bersikap menyebalkan kepada ibunya, sekarang giliran dia yang begitu."


"Mana ada begitu?"


"Itu buktinya?" ucap Arya lagi.


"Aku juga dulu lima minggu, tapi nggak nyadar kalau lagi hamil ..." Vania kembali teringat saa-saat dimana dirinya mengetahui keadaannya, dan disaat yang sama pula dia kehilangan buah hatinya.


"Cindy juga nggak nyadar. Kalau aja dia nggak pingsan waktu lagi kerja, nggak akan ketahuan kali. Ini kan baru ketahuan seminggu."


"Hmm... kalian beruntung, tahu kehamilannya dari awal." Arya meraih tangan istrinya, kemudian menautkan jari mereka berdua, dia tahu Vania kembali merasakan kesedihan itu lagi.


"Mm... maaf, aku bikin kamu sedih lagi ya?" Raja baru saja menyadari.


"Jangan khawatir, kalian pasti akan punya anak lagi setelah ini. Berusaha terus!!" Raja menyemangatinya.


Vania terdiam.


"Yang rajin usahanya, pasti cepet jadi." Raja tergelak.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


hari Senin udah waktunya vote nih gaess, jangan lupa like komen sama hadiahnya juga.


lope lope segudang 😘😘


selamat buat kak Raja, yang adonannya berhasil 😜😜

__ADS_1


__ADS_2