Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Pantai Dan Kenangan


__ADS_3

🌺


🌺


"Abaaaang!!" Vania dengan suara serak khas bangun tidur, saat merasakan pria di sampingnya tak berhenti menjahilinya. Setelah tak berhasil semalam karena mereka berdua kelelahan, pria itu malah mengusiknya di pagi hari sejak dia bangun tidur.


"Ayo, cepatlah bangun!" Arya sambil tertawa.


"Abang rese! aku masih ngantuk, badan aku capek bang!" namun Vania pun bangkit, dengan rambut kusut dan wajah masih mengantuk dia paksakan untuk menghentikan kejahilan suaminya.


"Sudah pagi, kita melewatkan sunrisenya, padahal dari sini pemandangan pagi tadi bagus sekali." ucap Arya, yang pagi itu sudah siap. Dengan celana pendek dan kemeja santainya, namun dia terlihat mempesona.


"Abang mau kemana?" Vania mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat. Tidur semalaman rasanya masih belum cukup baginya.


"Pembukaan resortnya sebentar lagi. Apa kamu tidak mau ikut?"


"Hum?"


"Cepatlah bersiap, setelah sarapan kita pergi." dia melirik meja di tengah ruangan yang sudah penuh dengan bermacam makanan.


*


*


"Nggak salah ini, baru pembukaan pengunjungnya udah sebanyak ini?" mereka berjalan diantara tamu undangan dan pengunjung resort yang menuju area tersebut.


Pinggiran pantai yang di ubah menjadi tempat pesta bagi pengunjung yang hadir hari itu. Yang sebagian besarnya mulai menikmati acara tersebut. Diiringi musik yang mengalun dari mini stage di sisi lainnya.


"Tempat ini memang sudah dibuka dari seminggu yang lalu, dan hari ini pembukaan resminya." jawab Arya, yang tak melepaskan genggaman tangannya dari Vania.


"Yang punya siapa? pasti orang terkenal makanya bisa begini."


"Nanti kita ketemu." lalu mereka berbaur dengan yang lainnya.


Beberapa orang yang mengenali Arya sempat menyapa pasangan ini, yang dikenal pria itu lewat berbagai kesempatan. Pekerjaannya sebagai arsitek memang membawanya pada lingkungan pergaulan yang cukup luas di kalangan pengusaha properti seperti sekarang ini.


"Arya, ternyata kamu yang datang?" seorang pria tinggi datang menghampiri.


"Pak Arfan?" Arya segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Pak Harlan meminta maaf tidak bisa hadir, begitu juga Raja. Ada urusan yang tidak bisa ditinggal." katanya.


"Tidak apa-apa, terimakasih sudah datang." ucap pria itu. Dan dia pun mengangguk ke arah Vania yang terdiam disamping Arya.


"Kenalkan pak, istri saya." dia mengenalkan Vania kepadanya.


"Oh ya? saya kira asisten kamu?" Arfan tertawa. "Sepertinya hampir seumuran dengan istri saya?" lalu dia menunjuk seorang perempuan hamil di belakangnya. "Itu Dygta, istri saya."


"Oh, ...


"Dan itu anak-anak saya." kemudian dia menunjuk tiga anak tak jauh dari istrinya, satu berumur delapan tahun, dan dua lagi sekitar satu tahunan.


Pasangan ini tertegun.


"Dua lagi akan lahir dalam beberapa bulan." Arfan tertawa lagi.


"Ah, ... iya pak." Arya dengan raut terkejut sekaligus canggung.


"Baiklah, silahkan menikmati caranya, saya harus menemui tamu lainnya." pria itu pamit.


"Baik pak. Terimakasih." jawab Arya, disertai anggukan.


"Serius itu semua anaknya? mau lima?" Vania bereaksi setelah Arfan berlalu.


"Kamu dengar sendiri tadi." Arya masih menatap pria itu yang tengah beramah tamah dengan tamu lainnya.


"Istrinya kayaknya seumuran aku?"


"Seperti yang kamu dengar juga."


"Produktif amat tuh om-om?" Vania tertawa.


"Bagus kan? rajin." sahut Arya, yang juga tertawa setelahnya.


"Hmm... kita kapan?" Vania kemudian mendongak.


"Apa?"


"Aku juga mau punya anak."


"Ya kalau kita juga rajin, tapi kan sekarang ini belum bisa serajin itu." jawab Arya, lebih seperti sebuah sindiran.


"Ng... sekaramg udah bisa belum ya?"


"Mm.. tidak tahu, menurut kamu?"


Vania kemudian tersenyum.


"Senyum kamu aneh, Van."


"Mumpung lagi di Pangandaran, ....


"Apa?"


"Ayo kita memulainya lagi? siapa tahu yang ini berhasil?" lanjut perempuan itu.

__ADS_1


"Ng ...


"Tapi nanti bang, sekarang kan masih pagi." Vania tergelak.


"Kita ini aneh sekali, membicarakan hal seperti ini sekarang. Disini lagi?"


"Nggak apa-apa, cuma kita kok, yang lain nggak dengar." Vania sedikit berbisik.


"Mm...


Kemudian perempuan itu tertawa lagi.


*


*


Acara pembukaan berlangsung meriah. Setelah sang pemilik berbicara sebentar memberikan sambutan di depan para tamu dan pengunjung, kemudian dilanjutkan dengan sesi hiburan yang cukup menyenangkan.


Alunan musik terus menggema sepanjang hari, dan semua orang menikmatinya dengan suka cita.


"Kita kayaknya udah jalan kejauhan bang?" Vania melihat kebelakang, dimana pantai dan hotel yang mereka diami berjarak ratusan meter jauhnya. Namun suara musik masih sayup-sayup terdengar di kejauhan.


"Masih di pangandaran kan?" Arya menariknya terus masuk ke area cagar alam di sepanjang pantai. Dimana pohon-pohin tinggi menjulang, dan berbagai macam tanaman endemik tumbuh subur disana.


"Nanti kalau tersesat gimana?" Vania sedikit menarik lengannya dan berhenti berjalan.


"Tidak akan, abang tahu tempat ini." Arya memutar tubuhnya.


"Masa?"


"Iya, dulu waktu kuliah abang sering kesini." jawab Arya. "Kalau tidak salah, disana ada tempat yang sangat bagus. Dulu masih sepi, tidak tahu kalau sekarang." katanya lagi, yang menunjuk ke arah depan sana.


"Abang sukanya petak umpet ya? orang-orang ramai pesta disana, abang malah nyari tempat sepi?" Vania bergumam.


"Begitulah, ..." pria itu tersenyum.


"Mencurigakan."


"Apanya?"


"Senyum abang."


"Ck!" Arya berdecak. "Cepatlah, nanti keburu sore,... " dia kembali meraih tangan istrinya untuk ditariknya ke tempat yang dia maksud.


Mereka tiba setelah berjalan beberapa menit, sebuah area kecil di balik hutan cagar alam di sisi lain pantai. Sebuah kubangan dengan batu karang di tengahnya. Dengan air laut jernih yang mengalir terbawa arus pantai dan ikan-ikan kecil yang benang kesana kemari.


"Benarkan masih sepi?" ucap Arya, dengan senyumnya yang mengembang sempurna.


"Tempatnya bagus tahu? dan dari sini kita bisa lihat ke sekeliling pantai." pria itu terus berjalan hingga ke ujung, lalu berhenti. Menatap sekeliling tempat itu yang terlihat menakjubkan.


Lautan membentang di depan sana, kemudian pohon bakau dan kelapa yang berjejer rapi di sisi lainnya. Perahu-perahu nelayan terapung, dan sebagian berlayar membawa penumpang mengarungi pantai terkenal di Jawa Barat itu.


"Masa?" Vania mengikutinya kesana, dan dia melakukan hal yang sama. "Pemandangan dari sini bagus."


"Iya kan? apalagi waktu sunset."


"Hum?"


"Kita tunggu sebentar lagi." dia merangkul pundaknya.


"Baiklah Pak, kita tunggu sampai matahari terbenam disini." mereka kemudian duduk di tempat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu bergulir kian sore, dan dua sejoli ini mengisinya dengan melakukan banyak hal, berkeliling melihat sekitar, mencari hal-hal yang tak mereka temukan dirumah, lalu kembali ke tempat itu kala sore menjelang. Mereka kembali membicarakan banyak hal, sesekali bercanda dan saling menggoda, kemudian sedikit bermesraan.


"Lihat!" Arya menunjuk ke arah barat dimana matahari mulai tenggelam. Semburat orange kemerahan menghiasi lagit Pangandaran menyamarkan awan kelabu yang mulai turun tanda petang hampir tiba.


"Bukankah ini bagus?" Arya kembali merangkul pundak Vania.


"Hu'um, ... indah." perempuan itu tersenyum, dia menggunakan ponsel pintarnya untuk mengambil beberapa gambar, juga wajah suaminya yang tengah tersenyum ceria.


"Dan keindahannya tidak pernah berubah walau setelah bertahun-tahun." ucap Arya.


Vania terus menatap kesana, sama seperti pria disampingnya.


"Abang tahu, abang cukup romantis kalau lagi gini." Vania menoleh lagi, dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.


"Sedikit. Mungkin efek tempat." jawab Arya, yang juga terus tersenyum.


"Abang senyum terus?" dia menyentuh wajah suaminya.


"Bukankah itu bagus?"


"Bagus kalau cuma untuk aku, tapi jangan sama orang lain ya?"


"Tidak akan."


"Beneran ya?"


"Hmm.. " Arya menempelkan kening mereka berdua.


"Udah magrib Bang." ucap Vania ketika mereka hampir saja bercumbu disana.

__ADS_1


Arya berhenti saat bibir mereka hampir bersentuhan.


"Ayo kita kembali ke cotage?" dia bangkit lalu menarik tangan suaminya.


Arya menurut.


"Ini akan jadi salah satu kenangan yang baik buat kita, kan?" Vania menautkan jari-jari mereka berdua, dan berjalan bersisian.


"Iya, tentu... sama seperti kenangan-kenangan indah lainnya."


"Hum? emangnya abang punya kenangan lainnya disini?" Vania bertanya.


"Mm ... " Arya berpikir. "Tidak."


"Masa? abang bilang dulu waktu kuliah abang sering kesini?" perempuan itu mengingatkan.


"Ya, ... memang. Kalau liburan."


"Sama siapa? sendiri?"


"Mm... teman-teman." jawab Arya, namun dia mulai merasa berdebar saat satu wajah dari masa lalu melintas dalam ingatan.


"Teman-teman?" Vania mengulang kata-katanya.


"I-iya...


"Teman yang mana?" perempuan itu terus bertanya.


"Teman kuliah."


"Siapa?" Vania memutar tubuh, dan dia berjalan mundur. Entah mengapa hal ini membuatnya merasa penasaran.


"Ck! Kamu tidak akan kenal lah." ucapnya. "Hati-hati Van, kalau berjalannya seperti itu nanti kamu jatuh." dia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya? kalau ada yang aku kenal gimana?" Vania memiringkan kepalanya, dan dia malah semakin penasaran.


Arya tertegun, dia tak tahu apakah hal ini pantas untuk dibahas saat ini, atau hanya harus menutupinya saja dari istrinya itu. Karena menurutnya bukan merupakan hal penting.


"Tidak ada." jawabnya kemudian.


"Abang yakin?" ucap Vania lagi.


"Yakin. Kamu tidak mungkin mengenal teman-teman kuliah abang, kan?" pria itu terkekeh.


"Kalau ada gimana?"


"Tidak ada."


"Misalnya, ...


"Tidak ada."


"Kak Hana?"


Arya terdiam, lalu menghela napas dalam-dalam. Perasaannya mulai terasa tak enak.


Pasti terjadi sesuatu setelah ini. Batinnya.


"Ada Kan?"


Arya tak menjawab.


"Beneran ya? pernah kesini sama kak Hana?"


Pria itu hampir saja membuka mulutnya untuk berbicara, namun Vania melepaskan genggaman tangannya.


"Pantesan ngajak aku kesini, tahunya mau mengenang masa lalu sama mantan." katanya, lalu memutar tubuh, kemudian berjalan tergesa keluar dari area tersebut.


🌺


🌺


🌺


Bersambung...


Nah lu, apaan coba?


eh, ada yang inget Pak Arfan? 🤭🤭 kok nongol? mau nyapa yang kangen ya katanya?


Biasa like komen sama hadiahnya jangan lupa ya, selalu di tunggu


lope lope selautan 😘😘


kebetulan juga kalau mau krnang2an kang jahe, aku ipen po kaosnya juga


kuy yg mau Pesen bisa pc Atw dm


di



__ADS_1


__ADS_2