Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Burn


__ADS_3

🌺


🌺


Arya melirik mobil milik Vania yang tidak biasanya berada dirumah mereka, saat dia tiba di rumah ketika malam telah sangat larut. Pekerjaannya beberapa minggu ini memang sangat menyita waktu, dan banyak hal yang harus dia selesaikan, yang benar-benar membuatnya sibuk tanpa jeda. Dia terkadang pulang pada lewat tengah malam dan melewatkan banyak hal yang biasanya dia lalui bersama istrinya.


Arya meletakan tas berisi perlengkapan kerjanya di meja, kemudian bermaksud naik kelantai atas dimana kamarnya berada. Namun dia tertegun saat melewati ruang tengah, dan mendapati Vania yang tidur meringkuk di sofa di depan televisi tanpa bantal dan selimut, padahal udara cukup dingin malam itu.


"Ck!" dia berdecak, kemudian berjalan menghampirinya.


"Van, ..." pria itu mendekat, kemudian duduk di sisi sofa.


"Pindah, disini dingin." katanya, seraya menyingkirkan sebagian rambut yang menutupi wajahnya.


"Van?" dia menunduk lalu berbisik di dekat telinganya.


"Tidurnya pindah." katanya lagi, berusaha membangunkannya dengan menyentuh wajah perempuan itu.


Vania mengerang dalam tidurnya kemudian merangkul tubuh diatasnya, menarik pria itu dengan keras hingga dia hampir menindihnya.


"Pindah Vania!" bisik Arya lagi yang berusaha melepaskan lilitan tangan Vania dari lehernya.


"Ng... " dia mengerjap, kemudian menatap wajah yang berjarak beberapa senti diatasnya.


"Abang baru pulang?" tanyanya.


"Iya." jawab Arya.


"Kemalaman." ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hmm... ayo pindah?" ajak Arya kepadanya.


"Nggak mau, tanggung." tolak Vania.


"Disini dingin,... " bisik Arya lagi.


"Bisa pelukan." dia mengeratkan pelukan ditubuh hangat suaminya.


"Tapi sempit."


"Dempetan." kemudian dia melingkarkan kedua kakinya di pinggang pria itu, kembali menariknya yang hampir bangkit menjauh dari posisinya.


"Tapi...


Vania menempelkan tubuh mereka berdua, dan berusaha menggapai cumbuan dari suaminya.


"Abang baru pulang, belum mandi...


"Mandinya nanti sekalian,... aku kangen." ucap Vania dengan suara manja, yang berusaha mendapatkan apa yang tiba-tiba diinginkannya begitu mengetahui kedatangan suaminya.


"Van.. " Arya menarik kedua lengan milik istrinya untuk melepaskan diri ketika perempuan itu terus berusaha menggodanya. Pakaiannya bahkan hampir dia lepaskan saat diwaktu yang bersamaan suara dering ponsel menginterupsi kegiatan itu.

__ADS_1


"Ada telfon." ucapnya, dan dia menoleh ke arah meja.


Vania mendengus kesal, lalu dia meraih ponselnya yang terus berdering nyaring.


"Ibu." dia mengerutkan dahi kala menatap layar, kemudian segera menjawab panggilan.


"Ya bu?"


"Vania... " panggil orang di seberang.


"Iya? ibu kenapa?"


"Kafenya... " terdengar suara parau perempuan itu diikuti isakannya lirih.


"Kafenya kenapa?" Vania menegaskan posisi.


"Kafenya, ... kebakaran." ucap Melly, kemudian menangis.


Vania terhenyak, dan dia segera bangkit. Sambungan telfon terputus begitu saja saat benda pipih dengan layar 5,5 inci itu terjatuh ke lantai dengan keras hingga menjadikannya berkeping-keping.


"Ibu kenapa?" Arya bertanya saat melihat wajah istrinya tampak memucat.


Vania bergeming, namun napasnya menderu cepat. Perempuan itu bangkit dari sofa, mencari sesuatu di atas bufet dekat pintu, kemudian berlari keluar.


"Kenapa ibu?" Arya mengejarnya dengan pikiran bingung.


"Kafenya, ..." Vania dengan suara bergetar.


"Nggak mungkin, nggak mungkin. Astaga!!" sementara Vania terus bergumam.


"Ada apa Van? ibu kenapa? ada apa dengan kafenya?" Arya setengah berteriak.


Perempuan itu tak menjawab, kepanikan jelas menguasainya.


"Vania!" Arya berteriak, dan dia menarik lengan perempuan itu untuk menghentikannya.


"I-ibu... kafenya... " Vania terbata, dan dadanya naik turun dengan cepat.


"Kenapa? ada apa?"


"Kafenya kebakaran." ucapnya, dengan tangisan yang hampir saja pecah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka tiba di depan kafe yang sebagian besar sudah terbakar pada hampir dini hari itu. Menatap api yang berkobar di udara, melahap apapun yang dilaluinya. Dua mobil pemadam kebakaran yang sudah berada disana bahkan belum mampu untuk memadamkannya.


Vania membeku pada jarak belasan meter, menatap tempat itu yang tak ubahnya seperti api unggun raksasa yang tampak tak mau berhenti membakar segala apa yang ada. Sementara Melly jatuh terduduk di aspal dengan tangis pilu, menatap satu-satunya harta peninggalan suaminya yang hampir habis terbakar dalam hitungan menit.


Beberapa kali Vania berteriak dan mencoba masuk kedalam Area. Dia hampir saja menerobos barikade keamanan jika saja Arya tak menahannya.


"Jangan, bahaya!" dia memegangi tanganannya.

__ADS_1


"Tapi disana ada banyak barang ayah!" perempuan itu berusaha melepaskan diri dan memaksa menerobos, namun langkahnya terhenti ketika terdengar suara berderak, dan sesaat kemudian sebuah ledakan terjadi.


Hawa panas menyebar ke segala arah, dan getaran kuat menghantam apapun yang di lalui, termasuk beberapa orang yang berada disana, tanpa terkecuali Vania. Tubuhnya terhempas kebelakang dan dia terjatuh diatas aspal, sedikit berguling hingga akhirnya tertelungkup dengan kedua tangan menahan wajahnya.


"Vania!" Arya segera berlari menghampirinya, lalu menarik tubuh semampai itu menjauh, saat kobaran api berubah semakin besar di belakang sana.


"Barang-barangnya ayah abang!" perempuan itu bergumam pelan, lalu mengangkat kepalanya dan menatap kafe milik orang tuanya yang tengah terbakar dengan perasaan sesak.


"Tidak ada yang bisa masuk,...


"Tapi... semuanya ada disana!" tangisnya kemudian pecah seketika.


"Kita tidak bisa masuk, bahaya Van." Arya meraup wajahnya.


"Tapi bang...


"Relakan, tidak ada yang bisa diselamatkan." Arya pun menatap tempat itu, sambil memeluk tubuh istrinya yang terduduk di aspal.


"Ibu... " mereka menoleh ke arah Melly yang masih meraung-raung meratapi musibah yang terjadi di depan matanya. Seorang petugas pemadam kebakaran mencoba menenangkannya.


Vania mencoba bangkit, namun rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menjalar di area perutnya. Membuatnya kembali menjatuhkan diri berbarengan dengan rasa hangat yang mengalir dari dari sel*ngkang*nnya.


Arya mencoba untuk mengangkat tubuh lemas Vania, namun dia tertegun ketika merasakan celana perempuan itu basah, diikuti aroma besi berkarat yang menguar di udara.


Pria itu seketika membeku saat menatap tangannya yang berlumuran cairan merah yang tembus dari celana Vania.


"Kamu terluka Van?" dia menatap wajahnya. Kemudian segera memeriksa semua bagian tubuhnya, memastikan berapa parah luka yang dialami istrinya.


"Sakit." Vania merintih.


"Mana, ... mana yang sakit? bagian mana yang luka?" Arya menyingkap celana tidurnya untuk mencari luka, meskipun tetap tak dia temukan. Namun darah tetap mengalir, malah kini semakin banyak.


"Vania...


"Sakit abang!" rintih Vania lagi, dan dia memegangi bagian bawah perutnya.


"Ap-apa yang sakit?" Arya kembali menatap wajahnya yang mulai memucat. Dia menyentuh tangan yang bertumpu di perut, dan seketika dadanya terasa meledak saat merasakan celana bagian atas perempuan itu yang basah, lagi-lagi karena darah yang keluar dari sana.


"Vania?" panggil Arya saat perempuan itu jatuh tak sadarkan diri.


🌺


🌺


🌺


Bersambung...


dan like komen, hadiah juga votenya Masih aku tunggu gaess.


smoga semuanya baik-baik aja.

__ADS_1


__ADS_2